Putu Wijaya

Surat Pada Gubernur

11 Juli 2008 · 2 Komentar

“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.

Surat itu diperlihatkan pada tetangga.

“Bagaimana?”

Tetangga manggut-manggut.

“Hebat.”

“Hebatnya apa?”

“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”

“Lho, apa salahnya?”

“Pak Amat kenal dengan beliau?”

“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”

“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”

“Apa?’

“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”

Amat ketawa.

“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”

“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”"

Amat tesenyum.

“Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!”

“Kalau itu benar.”

“Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segala-galanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat.”

Amat ketawa.

“Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!”

“Kenapa tidak?”

“Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!”

“Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?”

“Ya mau!”

“Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!”

Amat tertawa.

“Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin!”

“Ya, ya, nanti ditambahin,”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang.

Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.

“Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!”

“Jadi usulan itu ditolak?”

“Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?”

“Apa salahnya?”

Amat tercengang.

“Itu kan tugas bawahan Bu?”

“Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang!”

“Jadi Ibu setuju?”

“Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?”

“Ya tidak .”

“Makanya!”

“Makanya apa?”

“Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!”

Amat ketawa.

“Ya sudah, nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan.

Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi.

Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki, jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar.

Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.

“Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!”

“Kenapa?”

“Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak!”

“Kenapa?”

“Mereka mau nitip.”

“Nitip apa?”

“Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang …. “Su

→ 2 CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan:

Dekrit

5 Juli 2008 · 1 Komentar

Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya.

“Sawah, tegalan, kebun kelapa, hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita,”katanya. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau dipaksa bertani, kita akan bangkrut. Jual semua, kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Sekarang kita tidak hanya butuh makan, tapi hidup layak di atas garis kemiskinan!

“Tapi itu warisan leluhur, anakku!”

“Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. Sawah dan tegalan itu hanya wujud, bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Bapak jangan memberhalakan barang. Kalau warisan diartikan sempit, anak-cucu kejepit. Kuper, tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. Jangan mensakralkan warisan, itu hanya benda mati untuk menolong hidup, bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati”

Anak yang keuda mendebat.

“Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Satu senti pun tidak bisa digeser, sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Warisan bukan benda tetapi sabda, di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. Kalau sampai warisan diabrak-abrik, berarti bunuh diri. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah, tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!”

“Jadi kamu tidak mau dibagi?”

“Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak, kita berbagi kewajiban mengawal!”

Anak ketiga tidak peduli.

“Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan, sama saja. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. Kalau tidak, itu namanya bukan warisan tapi penindasan. Segala sesuatu yang menindas, apa pun namanya, tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Sebaliknya, segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik, apa pun namanya, dari mana pun datangnya, harus diwarisi.”

Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu, membuat Pak Tua tidak jadi mati. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Lalu dia bertapa. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca.

Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Mereka merayu dengan segala macam cara.

“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga, supaya semua anak-anak senang, bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!”

“Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. Itu zalim. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing, karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu, kamu mencintai dirimu sendiri!”

Orang tua itu marah sekali. Ia kontan buka mata dan membentak.

“Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. Mewarisi itu bukan memiliki, tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan, mengembangkan dan meneruskan. Kalau warisan ini dibagi tiga, satu generasi lagi harus dibagi lima, dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!”

Serta-merta tapanya gagal. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Naun ia sudah punya tekad bulat. Lalu anak-anaknya dipanggil.

“Kalian semua sudah besar. Sudah waktunya untuk mandiri. Kalian tidak perlu warisan, cari sendiri kehidupanmu. Warisan ini tidak jadi diwariskan, karena ini bukan kue, ini bukan barang tetapi cita-cita. Boleh tidak setuju, boleh marah bahkan boleh menentang, aku akan mempertahankannya. Boleh menyerang, itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata, di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. Tenaga, suara dan urat-uratku sudah lapuk, aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!”

Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Tetapi ajaib. Walau pun putra-putranya semula begitu galak, mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin, tak ada yang beranjak. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai, ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita.

“Ayah,” bisik salah seorang mewakili yang lain,.”hasrat kami untuk membagi warisan, bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita, sebagaimana yang dituduhkan orang. Itu fitnah. Sebaliknya dari ketidaksetiaan, ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran, bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan, keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!”

Kini lebih dari setengah abad berlalu. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang, dalam badai dan taufan. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka, sementara anak-cicitnya, duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki, berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Kembali terjadi keos.

Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Semuanya sedang meletus. Panah Pasupati pun tidak cukup handal, karena yang diperlukan sekarang adalah duit, hukum dan wibawa. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. Apa daya?

Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi, tetapi sebagai cita-cita, juga sudah terlalu klise. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung, mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. Apa daya?

Masihkah keberanian, kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan?

Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata:

“Keberanian, ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?”

→ 1 CommentKategori: cerpen
yang berkaitan:

Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008

4 Juni 2008 · 2 Komentar

Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

ZERO

SINOPSIS:

Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang, masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Dengan dalih menciptakan perdamaian, manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil.

ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan.

Pada 10 Juni, Teater Mandiri akan berangkat ke Praha, Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003, telah dimainkan di Tokyo, Taipeh, Hong Kong, Cairo, Singapura dan beberapa kota di Indonesia.

PEMAIN:

Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP - Tanggela - Putu Wijaya.

MUSIK:

Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB)

Pimpro:

Dewi Pramunawati

SUTRADARA:

Putu Wijaya

Teater Mandiri

TEATER MANDIRI

Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi, kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo, Kyoto, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Cairo, Hamburg, Brunei, New York, Middle Town. L.A dll.

Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban, tempat mengembangkan jati diri. Teater bukan tujuan, tetapi alat untuk mengembangkan, menumbuhkan dan menemukan diri. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”.
Mohon dukungannya.

→ 2 CommentsKategori: undangan
yang berkaitan: ,

Tiada Lagi Bang Ali

3 Juni 2008 · 2 Komentar

Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Pertama, dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Kedua, almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan.

Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Dengan keras, tegas dan penuh desiplin, Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Bandit-bandit dihalau. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat, menyebabkan keamanan mulai pulih. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria.

Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat, lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa, karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur.

Betul sekali. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Bang Ali menjadi sebuah contoh,

Warga ibukota di masa Bang Ali, menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Pimpinan dan rakyat lebur. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti, tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata, tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968, adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Tidak ada sensor dan kekangan, sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara, bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik.

TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang, karena setelah dua decade, hasilnya nyata. Dia melahirkan “tradisi baru”. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat, untuk kembali membumi pada akarnya. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi, tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM, yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi, melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti.

Memang keberadaan TIM kini, tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Tetapi apa yang sudah terjadi, sudah tercatat dan akan bekerja terus. Pada setiap kesempatan yang baik, tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi.

Bang Ali kini tiada lagi. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang, melahirkan busway, bikin mono reel, mencetak mall, membanjiri jalanan dengan motor, menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar, tetapi lebih dari itu, adalah menyehatkan kehidupan budaya. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani, tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan.

Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit, sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional.

Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng, tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Mata mereka mengatakan, seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar, alangkah indahnya. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik, ekonomi, teknologi.

Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan, memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih, menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Saya dengar sendiri semuanya itu. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah,”katanya.

Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Itu masa ketika desiplin benar-benar tegak di TIM. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk, ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus.

Saya sendiri sempat kena getahnya. Pada 1975, saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO, di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM, saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan dilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah.

Koran meributkan pertunjukan itu. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak, bagaimana pendapat saya. Saya katakan pada waktu itu, seandainya saya Gubernur, saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin, memaki-maki saya.

Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya, karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa, sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan, tetapi karena sayang.

Walau kini Bang Ali sudah tak ada, tapi ia tetap hidup di hati. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Kalau belum nampak mesti kita cari. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Kalau tidak ada juga, mesti kita jadikan.

→ 2 CommentsKategori: catatan
yang berkaitan:

Panca Sila

2 Juni 2008 · 4 Komentar

Amat minta dibuatkan nasi kuning.

“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.

“Merayakan kelahiran Panca Sila.”

“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”

“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”

Bu Amat tercengang, kontan membentak.

“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”

Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.

“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!!”

Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan ,

Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.

Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.

Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik.

“Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”

Ami mengangguk tenang.

“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”

“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”

“Tenang saja, Pak.”

“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”

“Memang.”

“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”

Ami mengernyitkan dahinya.

“Masak begitu?”

“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”

“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”

“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”

Ami nampak beringas.

“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”

“Ya kan?!”

Ami tiba-tiba tertawa.

“Kok ketawa?”

“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”

Amat tercengang.

“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”

“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”

Amat terkejut.

“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”

“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”

Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.

Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.

Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.

“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”

Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”

“O ya?”

“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.

Ami tersenyum.

“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.

Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.

→ 4 CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan:

Bung Karno

1 Juni 2008 · 3 Komentar

Ami bertemu dengan Bung Karno.

“Pak!”

“Ya? Ada apa Ami?”

“Kenapa Bapak tidak pernah kembali?”

“Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi.”

“Tapi kami perlu Bapak.”

“Memang. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna, kalau tetap ada mungkin sia-sia.”

“Tidak. Kalau Bapak ada, tidak akan begini jadinya.”

“Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi, yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.”

“Kami sudah mencoba, Pak, tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak.”

Bung Karno tersenyum.

“Kamu kurang sabar saja.”

“Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami sudah menunggu. Kami memberikan kesempatan, kepercayaan bahkan juga dukungan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi.”

“Itu namanya kurang sabar.”

“Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan, bukan menjadi lebih perih. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah, Pak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!”

“Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu.”

“Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik, seperti pidato Bapak, kami juga perlu demokrasi ekonomi.”

“Kan sudah banyak sekali ahlinya.”

“Memang. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Yang kami dapat hanya pertentangan.”

“Itu namanya demokrasi.”

“Tidak Pak, bukan itu. Kami ingin makmur, sejahtera, aman supaya kami tenang. Seperti kata dalang dalam wayang, kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi.”

Bung Karno tertawa.

“O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?”

“Tidak, Pak. Bapak saya yang suka wayang. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi.”

Bung Karno tertegun.

“Apa itu? Aku belum pernah dengar.”

“Lho Bapak katanya kutu buku. Masak Bapak tidak pernah baca?”

“Belum.”

“Baca dong Pak. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Beda sekali dengan dulu, Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup, tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung, Pak.”

” O begitu?”

“Ya! Makanya Bapak harus kembali. Kami memerlukan Bapak!”

Bukan Karno mengangkat tangannya.

“Tidak mungkin!”

“Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?”

“O kalau itu, lebih dari cinta.”

“Kalau cinta kembali dong!”

“Tidak bisa. Karena cinta Bapak tidak akan kembali, supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya, Bapak harus pergi, ada undangan untuk bicara di depan PBB!”

“Pak!!!!”

Tapi Bung Karno sudah pergi. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar, tangannya dipegang oleh Pak Amat.

“Ami!”

Ami terkejut dan membuka matanya.

“Sudah siang kok ngelindur. Ayo bangun!”

Ami mengusap matanya.

“Saya mimpi ketemu Bung Karno.”

“Ya siapa yang tidak. Juni kan bulan ulang tahunnya. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Orang besar itu tidak pernah pergi.”

“Tapi beliau bilang, tidak bisa kembali.”

“Ya tidak perlu karena dia masih di sini!”

“O masih di sini?”

“Ya masih.”

“Di mana?”

“Panca Sila itu apa?!”

Ami mengangkat tangannya.

“Bukan itu. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang, supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Baru kalau kita bangga, kita akan bisa bangkit. Kalau tidak ada kebanggaan, tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma.”

Amat tertawa.

“Kamu masih ngelindur!”

Ami menggosok matanya.

“Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda.”

Amat tertawa.

“Kalau kamu benar-benar memikirkan realita, jangan hanya mimpi, itu lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!”

Amat membuka jendela kamar Ami. Sinar matahari menerobos masuk. Ami menutup matanya karena silau. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur.

“Ayo bangun!”

Ami berdiri kesal. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Tetapi ketika dia berbalik. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum.

“Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Tapi waktu kembali ke mari, lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan, seperti di masa lalu. Ternyata tidak ada yang berubah, Ami. Gedung, kendaraan dan keadaan memang sudah lain, tetapi hati mereka masih sama. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya, seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Coba lihat!”

→ 3 CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan:

Nasionalisme

31 Mei 2008 · 1 Komentar

Ary, guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah, gunung dan matahari. Kadangkala ada tambahan gubuk, kerbau dan burung atau pohon kelapa. Tapi hanya itu.

Selama 20 tahun dia mengajar, menghadapi 20 angkatan murid, tapi hasilnya sama,. Dia jadi kesel, lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Semua anak diberi angka lima.

Anak-anak mengadu. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah.

“Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?”

Ary, guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Itu yang dia tunggu-tunggu.

“Sebenarnya begini Bu, :”kata Ary menumpahkan perasaannya, “sejak saya mulai mengajar di sini, gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Dari dulu sampai sekarang, sama saja.. Sejak listrik belum masuk, ke desa kita ini, sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer, yang digambar tetap itu-itu saja. Tidak berkembang. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!”

Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru, hanya menanggapi sambil lalu.

“Sudahlah Pak Ary, biar saja. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Itu juga sudah bagus.”

‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya.”

“Maksud Pak Ary?”

“Ya sekarang kan sudah zaman reformasi, Bu. Sudah banyak perubahan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Harga bensin naik. Banyak korupsi. Ada isu pemanasan global. Ada pilkada. Kerusuhan di mana-mana …….”

“Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung.”

“Nah itu dia, Bu. Mestinya kan itu yang digambar.”

Ibu Direktur mengangguk.

“Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas, supaya melihat kenyataan.”

“Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.”

“Terus!”

“Tapi yang digambar sawah lagi, sawah lagi. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Semua sudah jadi perumahan dan mall.”

Ibu Kepala Sekolah tercengang.

“O ya?”

“Ya!”

“Coba mana gambar-gambarnya?”

Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Setelah dilihat satu per satu, Ibu Kepala Sekolah tercengang. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah, gunung dan matahari.

Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Mereka berdiri di sepanjang pintu, memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Aneh sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Belum ada real estate. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi.

“Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah,”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. “Mereka kebanyakan anak petani, jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Kalau mereka menggambar begini, saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur, Pak Ary. Betul tidak?”

Ary tersenyum sinis.

“Maaf, Bu. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah.”

“Betul. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Ini adalah hasil percakapan itu. Saya kira ini baik sekali. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme, cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Dan sebagai guru wajib kita mengerti.”

Ary ingin membantah, tetapi guru-guru lain mendukung.

“Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini, Pak Ary. Saya dapat ide bagus. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang, dipamerkan di dinding sekolah, pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.”

“Tapi Bu, saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.”

“Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!”

“Maaf. Bu,”

“Jangan membantah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!”

Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya, untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota, kandas. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah, gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu.

Sehari sebelum tamu datang, semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi malamn-malam, semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Ibu kepala Sekolah puny aide baru.

“Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hati saya langsung terketuk, teringat kepada masa lalu. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam, sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Saya minta malam ini juga, lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor, sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!”

Semua guru tercengang. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dengan bergairah kemudian gambar sawah, gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Pak Ary pun terpaksa ikut.

Ketika tamu dari Diknas Pusat datang, muka Pak Ary kelihatan muram. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat, dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah, sementara ia sendiri dan murid-,muriod serta guru lain menunggu di luar.

Setengah jam kemudian para tamu keluar. Mereka mengangguk senang. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat.

“Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat, masih bisa dipergunakan. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!”

Semua bertepuk tangan gembira. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal.

“Jadi menurut hemat kami, “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya, ” kira sampai 5 tahun ke depan, gedung sekolah ini masih layak pakai, masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!”

Ibu Kepala Sekolah terkejut. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tapi waktu dia melirik ke koridor, hatinya menjerit. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu, berantakan diinjak-injak. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu.

→ 1 CommentKategori: cerpen
yang berkaitan:

Harkitnas

20 Mei 2008 · Tidak ada Komentar

Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Lalu ia mulai memoles. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis, garis mata, hidung, bibir dan kemudian pipi.

Dua jam kemudian ia siap..Di cermin nampak muka baru. Rapih dan terkendali. Ketika Anna senyum, kemudian tertawa, melirik, terbelalak, terkejut, kaget, heran dan sebagainya, semuanya beres. Lalu ia menguji mulutnya berbicara..

Tiba-tiba anaknya muncul.

“Mama ngomong dengan siapa?”

Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu.

“Dengan dia.”

“Siapa dia?”

“Teman baik Mama.”

“Kenapa bibirnya merah sekali?”

“Karena baju yang dipakainya juga merah.”

“Kenapa alisnya kecil sekali?”

“Karena dia cantik.”

“Kenapa dia cantik?”

“Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.”

Anak itu berpikir.

“Mama ikut?”

“Ya dong. Mama kan harus memberikan sambutan.”

“Kenapa?”

“Sebab Harkitnas itu sangat istimewa.”

“Kenapa istimewa?”

“Karena Harkitnas itu sejarah.”

“Sejarah itu apa?”

“Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.”

“Bagaimana kalau tidak betul.”

“Harus betul. Kalau tidak betul bukan sejarah.”

Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.

“Dia juga betul?”

“Ya tentu saja.”

“Mana?

Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.

“Ini dia.”

Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.

“Kamu cantik sekali.”

“Memang.”

“Kamu teman Mamaku?”

“Ya.”

“Tapi Mamaku tidak cantik.”

“Jangan hanya lihat muka, hati Mama cantik kan?!.”

“Bibirnya tidak merah.”

“Nanti kalau Mama pakai baju merah, pasti bibir Mama juga akan merah.”

“Tidak.”

“Kok tidak?”

“Aku tidak suka bibir merah.”

“Kenapa?”

“Sebab ……. .”

Anak itu kehabisan kata, lalu berpaling untuk mengingat-ingat. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya, ia kembali memandangi ibunya.

“Kenapa aku tidak suka bibir merah?”

Anna mengelus kepala anaknya.

“Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu, kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor, kan?”

“Betul. Aku tidak suka pipiku kotor.”

“Makanya, kalau sudah selesai dandan, Mama tidak akan mencium kamu lagi. Memeluk juga tidak, karena nanti dadanannya bisa rontok. Ya?”

“Ya.”

“Baik, kalau begitu Mama berangkat sekarang. Jangan nakal di rumah ya?”

“Ya.”

“Kasih da-da sama teman Mama.”

Anak itu menggeleng.

“Lho kenapa?”

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.”

Anna tertawa.

“O tidak. Bukan dia yang membawa Mama pergi. Dia justru yang Mama ajak pergi. Kalau tidak ada dia, nanti Mama kesepian di situ. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Di situ orangnya suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Kalau Mama sendiri yang datang, mereka akan bosan. Makanya Mama selalu bawa dia, supaya pekerjaan Mama beres. Kalau pekerjaan beres, nanti Mama bisa beliin kamu …. apa?”

Anak itu menggeleng.

“Aku tidak mau dibeliin lagi.”

“Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?”

“Nggak.”

“Donat?”

“Nggak.”

Anna terdiam.

“Habis apa dong?”

“Aku nggak mau apa-apa.”

“Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?”

“Nggak. Aku mau Mama di rumah.”

Anna ketawa.

“Tapi hari ini Harkitnas sayang, Mama harus ke sana memberikan sambutan.”

“Suruh dia saja. Kan orangnya cantik.”

“Tidak bisa. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan.”

“Katanya itu sejarah.”

“Memang.”

“Kenapa dia tidak tahu?”

Anna menarik nafas dalam.

“Karena dia cantik, karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.”

→ No CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan:

Hardiknas

2 Mei 2008 · Tidak ada Komentar

Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei), ia ke sekolah memakai pakaian daerah.

Beberapa hari pertama, ia sempat menarik perhatian. Para murid tercengang. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Guru-guru lain hanya pandang-pandangan. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani, guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung.

Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu, Kepala Sekolah, kontan memanggil.

“Pak Ali, apa sebenarnya missi Pak Ali, mengajar dengan memakai pakaian daerah?”

Ali terkejut. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Tetapi setelah satu minggu, ia lupa itu pakaian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Baru ketika Kepala Sekolah menegur, ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah.

“Maaf Pak, saya tidak ada missi apa-apa. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa, dipaksa oleh orang tuanya.”

“Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?”

“Betul, Pak.”

“Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?”

“Ya kalau diperkenankan, untuk seterusnya, Pak.”

Kepala Sekolah terkejut.

“Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?”

“Sama sekali tidak, Pak..”

“Kalau begitu, saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Di luar sekolah terserah Pak Ali.”

Ali tidak menjawab. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti, ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Tapi karena dilarang, tiba-tiba ia ingin melawan.

“Maaf Pak, “kata Ali kemudian dengan sopan, “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?”

Kepala sekolah ketawa.

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah, Pak?”

“Tidak ada.”

“Tapi kenapa saya dilarang?”

“Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Kalau di luar jam pelajaran, Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar, Pak Ali, nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid, Pak Ali.”

Ali terdiam. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Tapi esoknya, Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Tentu saja ia kembali dipanggil.

“Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya, silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras.

“Saya sudah mencoba, Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali.”

Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. Kepala Sekolah, lalu menaikkan suaranya.

“Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah, lebih baik jangan mengajar!”

“Kenapa Pak?”

“Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Kita pintar membuat aturan, tetapi tidak mampu melaksanakannya, sehingga semua aturan itu mubazir. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pak Ali mengerti maksud saya?”

“Saya mengerti. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat.”

“Bukan.!”

Ali tercengang.

“Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar, tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk, melanggar desiplin! Paham?”

Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang, sehingga guru-guru yang lain mendengar. Meskipun tidak menjawab, esoknya, Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah.

Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah, satpam langsung menahan.

“Maaf Pak Ali, kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah.”

“Tapi ini pakaian daerah, ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah.”

“Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan perintah.”

“Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi, dihormati oleh yang pangkatnya di bawah.”

“Tapi ini sekolah, Pak!”

“Sama saja. Kalau mau belajar desiplin, militer adalah biangnya. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!”

Satpam itu bingung. Tapi ketika Ali mau masuk, satpam cepat menghalangi.

“Aku guru, aku mau mengajar!”

“Saya hanya menjalankan tugas, Pak!”

Terjadi ketegangan. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Kedua belah pihak ditenangkan. Setelah semuanya reda, lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya.

“Anak-anakku semua para pelajar, itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan, sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Keplok tangan buat Pak Ali, Bapak Kepala Sekolah dan Satpam yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!”

Semua murid berikut para guru berkeplok riuh.

→ No CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan:

Kartini

23 April 2008 · 7 Komentar

Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar.

“Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat.”

Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.

“Bagus! Selamat! Anak pertama kan?!

“Betul Pak Amat. Tolong!”

“Tolong?”

“Kasih nama. Saya belum punya nama.”

Amat cepat berpikir. Hari Kartini baru saja lewat. Ia langsung menggapai.

“Beri nama Kartini!”

Bapak muda itu terpesona. Amat langusng cepat mengguncang tangannya.

“Tak usah nama yang muluk-mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri uang mengubah namanya,. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Selamat!”

Anak muda itu masih bengong, tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi, langusng menutupkan pintu lagi.

“Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang ganggu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala, “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. “Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, Nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai di mana kita tadi, Bu?”

Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Amat kecewa berat.

Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah.

“Bapak keterlaluan!”

“Lho, bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!”

“Masak ngasih nama anak orang Kartini.”

“Lho, memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah. Nama itu bukan soal sepele. Memberi nama anak harus dengan cita-cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat, Bu!”

“Memang. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!”

“Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama tok. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cumakusir dokar.”

“Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini!”

“Lho tidak bisa dibandingkan begitu, Bu. Sebesar-besar Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!”

“Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini, itu namanya sudah sinting!”

Amat terkejut.

“Lho, jadi anaknya laki-laki?”

“Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini?”

Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya.

“Terimakasih Pak Amat.”

Amat jadi salah tingkah. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf.

“Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu!”

“Tidak apa Pak Amat. What is a name. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Namanya bagus.”

Amat bingung.

“Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!”

“Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini.”

“Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!”

“Itu kan pemberian dari Pak Amat?”

“Jabis aku kan tidak tahu,. asal nyeplos saja!.”

Anak muda itu tertawa.

“Nama Kartini itu bagus, Pak!”

“Jangan!”

Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi..

“Aku kira dia tersingung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan,” curhat Amat malam hari di meja makan.

“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,”kata Bu Amat, “anak itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.”

Amat terperanjat.

“Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?”

“Iya iyalah!”

Amat tak jadi makan. Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Ketika anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa.

“Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak.”

Anak muda itu terkejut.

“Siapa Pak?”

“Raden Ajeng Kartini.”

Anak muda itu tersenyum. Amat langsung mencecer.

“Boleh lanjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku!”

Anak muda itu mengangguk

“Saya mengerti maksud Pak Amat.”

“Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!”

“Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.”

“Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!”

“Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.”

→ 7 CommentsKategori: cerpen
yang berkaitan: