Teater Kontemporer

Makalah ini dibuat untuk memenuhi undangan seminar sehari STSI Denpasar 21 Oktober 1993 – dengan tema: KONSEP DASAR DALAM SENI PERTUNJUKAN KONTEMPORER INDONESIA

Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.

Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer.

Menyederhanakan persoalan, biasanya selalu dirasionalisasi dengan alasan-alasan keren yang filosofis atau pun politis. Yaitu: menotok inti persoalannya, sehingga terjadi hantaman yang telak, mendalam dan tuntas menjawab seluruh persoalan.

Sebab dengan hanya dua kategori semacam hitam dan putih, segalanya dengan amat mudah diatur. Itu refleksi khas, spontan, mentalitas birokrat, yang menganggap semua adalah barang, yang harus disusun dengan teratur, agar memudahkan para tuan-tuan untuk memanfaatkannya. Walhasil pendewa-dewaan pada apa yang disebut: efisiensi.

Moderninasi semacam itu, mungkin amat berguna pada masyarakat tertentu, tatkala orang baru belajar untuk mepergunakan akal. Ketika orang berusaha memisahkan rasa dengan pikir. Waktu orang jatuh cinta untuk menguasai alam.

Ketika orang sedang memuja-muja logika/teknologi, sebagai instrumen yang paling menjamin sebagai kendaraan untuk memenangkan masa depan umat manusia. Ketika orang dengan membabi-buta mengaplikasi matematika dan mencoba menerapkannya pada segala sektor kehidupan, tak terkuali juga kesenian dan bahkan masalah-masalah yang sakral.

Maka terjadilah satu keseragaman berpikir, yang dikuntit oleh pemujaan kepada intelektualita, yang percaya bahwa semuanya sudah diberikan kerangka. Mereka yakin tidak ada fenomena yang tidak bisa dianalisa. Tidak ada sesuatu yang baru yang tidak dikenal.

Semua sudah terdeteksi. Semua sudah terangkum dalam sebuah peta agung yang bisa menerangkan segalanya. Semua bisa dilacak dengan struktur berpikir yang sudah ada.

Konsep kontemporer, menolak pembunuhan diri seperti itu. Manusia tidak perlu menciptakan kuburan-kuburan untuk manusia-manusia yang masih hidup. Tidak perlu mendirikan liang-liang mosolium yang tak lebih dari benteng kepala batu yang ngotot karena sudah malas untuk berpikir, mempertimbangkan sekali lagi segala keputusan untuk melihat kemungkinan baru.

Konsep dasar kontemporer adalah pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah — bukan saja kedaluwarsa, akan tetapi juga bisa — berbalik menjadi dehumanisasi, akulturasi dan dekadensi.

Seni kontemporer sebagai bagian dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacatan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir-balik segala-galanya.

Karena semuanya tak tercegah, tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti nafas waktu, ruang, serta kembang-kempis alam pikiran yang tak henti-hentinya, yang tak takut oleh apa pun, untuk terus tumbuh. Pertumbuhan yang abadi. Ketika kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir.

Usaha untuk mengaktualisasi diri, agar jadi sinkron dan menyuarakan zamannya, agar kontekstual dengan konteksnya, agar “menjati diri”, dapat ditempuh dengan berbagai cara. Bisa mengejewantah dalam berbagai variasi bentuk.

Tergantung dari desa-kala-patra (tempat-waktu-kondisi). Tergantung dari bibit-bebet-bobot. Tergantung dari watak-perilaku-lingkungan-peradaban dan pendidikan yang bersangkutan. Tergantung dari derap dharma individu atau kelompok yang berkepentingan.

Bisa keras mengental bagaikan jotosan tangan yang terkepal. Bisa berupa pembrontakan spiritual dan konfrontasi argumen. Dapat juga lemah gemulai seperti tarian oleg tamulilingan atau gesekan rebab. Mungkin juga teror mental.

Berseloroh seperti badut-badut dalam adegan bebagrigan. Juga bukan tak mungkin ngepop seperti di dalam kesenian-kesenian kacangan atau jajanan yang dikemas khusus untuk para turis.

Pertunjukan Indonesia kontemporer, sebagai bagian dari seni Indonesia kontemporer, adalah anak dari konsep kontemporer. Segala tontonan yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup percobaan, untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi; gondelan nilai-nilai usang, mayat-mayat pengembaraan spiritual yang tidak relevan lagi — adalah pertunjukan kontemporer.

Karenanya, pertunjukan kontemporer, bukan hanya tontonan yang diciptakan dan dilaksanakan oleh manusia masa kini, tetapi harus tidak boleh kurang dari pertunjukan yang mencerminkan cita-rasa pembebasan.

Wujudnya bisa pertunjukan eksperimental, yang merupakan usaha untuk pencarian-pencarian idiom dan bahasa pengucapan yang baru/segar. Dapat berwujud pertunjukan konvensional, yang memanfaatkan semua konvensi pertunjukan yang sudah diterima oleh masyarakat, namun memberikan nuansa yang baru atau lain/lebih segar dari sebelumnya.

Dan — ini yang seringkali dilupakan — dapat juga merupakan pertunjukan seni tradisional yang baik karena kemasan-semangat-orientasinya, maupun saat dan tempat penampilannya, memungkinkan ia bersentuhan dengan manusia-manusia masa kini, sehingga menghadirkan pengalaman spiritual yang aktual.

Di masa yang akan datang, apa yang dipersoalkan sebagai perbedaan-perbedaan akan dibunuh atau terbunuh dalam interaksi dan adaptasi. Yang kemudian menonjol adalah nuansa-nuansa yang yang menggantikan istilah perbedaan-perbedaan.

Dan karena perbedaan berarti nuansa, maka perbedaan tidak lagi sesederhana hitam kontra putih, kiri versus kanan, buruk lawan baik, atau tradisi lawan kontemporer saja, tetapi akan hadir ribuan, jutaan atau tak terhingga nuansa yang memerlukan cara berpikir baru — baca kontemporer — untuk menguasainya. Nilai-nilai bertumpukan, tumpang-tindih, nyaris membingungkan, dalam satu susunan harmoni baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Akan diperlukan setiap saat cara memberikan kesaksian yang baru. Cara berekspresi baru untuk mengutarakan kebenaran-kebenaran yang terus tumbuh itu. Akan diperlukan bahasa yang baru, untuk memenangkan dan mengucapkan kenyataan-kenyataan yang terus bergerak itu. Apa pun bentuk, apa pun namanya, itu adalah bahasa kontemporer.

Desa-kala-patra adalah konsep yang mendasari selurup konsep kontemporer, termasuk konsep tontonan Indonesia kontemporer. Sesuatu yang pada dasarnya sudah terpraktekkan secara sehari-hari di Bali.

Desa-kala-patra adalah keterikatan pada desa-kala-patra yang aktual dan sekaligus pembebasan pada desa-kala-patra yang kedaluwarsa. Konsep dasar kontemporer, dengan sendirinya adalah juga konsep dasar pertunjukan Indonesia kontemporer.

Hampir semua penghuni seni tontonan tradisional Bali adalah seni kontemporer. Karena bukan saja dulu ketika ia diciptakan untuk pertama kalinya, ia merupakan ucapan keberadaan orang Bali, tapi sampai sekarang, ia tetap kukuh menjadi pengucapan diri orang Bali kini. Hujan parawisata, telah menolong seni pertunjukan Bali itu, tetap hidup menggebu-gebu.

Sementara kesinambungan seni pertunjukan itu dengan hal-hal yang bersifat sakral, sebagaimana yang ditulis oleh Doktor I Made Madem dalam buku “Kaje dan Kelod”, telah membuat hampir semua jenis pertunjukan itu tak pernah menjadi jerangkong tok. Tapi berdegup hidup. Berdarah, berdaging dan bernyawa.

Semua seni tontonan itu menjadi aktual, relevan dan mewakili zaman. Dia senantiasa bergerak sesuai dengan desa-kala-patra, sejalan dengan manusia-manusia Bali yang sedang ada.

Bahkan seni pertunjukan yang langka digeber, seperti gambuh, seperti topeng pajegan, misalnya, dalam kesepiannya di dalam peti, tetap berinteraksi dengan zaman, melalui/karena orang-orang Bali sendiri selalu bersentuhan dengan nilai-nilai aktual dan universal lewat konsep desa-kala-patra.

Begitu dia dapat kesempatan tampil, kita tidak usah terkejut, karena ia langsung memuncratkan ciri-ciri kontemporer.

Teater tradisi Bali, tak perlu susah-susah mempermasalahkan apa konsep-konsep pertunjukan kontemporer, karena sudah melaksanakannya. Memang orang-orang dari belahan yang menyebut dirinya pulau kontemporer, umumnya justru mempermasalahkan hubungannya dengan tradisi, karena tidak melihat kaitan dirinya secara langsung dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan tradisional.

Sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak menyangkut hal-hal yang konsepsual, tetapi sekedar kemasan, yang dapat langsung diselesaikan dengan mengubah cara melihat “perbedaan” sebagai “nuansa”. Karena tiadanya hubungan yang bersifat phisikal, tidak berarti, ada jurang pemisah.

Justru tidak adanya persamaan-persamaan di dalam bentuk-bentuk pengucapan, sering akan mempertemukan yang saling kontra itu secara spiritual, karena lahirnya kebutuhan untuk saling mengisi. Walhasil, ketiadaan hubungan, otomatis adalah juga hubungan. Itu cara berpikir konsep kontemporer.

Tak pernah sungguh-sungguh ada pertentangan antara hitam dan putih. Tak pernah benar-benar ada konfrontasi antara buruk dan baik. Tak pernah ada jurang antara kawan dan lawan.

Dan tak pernah ada masalah antara tradisi dan ekspresi kontemporer. Yang ada adalah kealpaan untuk mengakui keberadaan nuansa-nuansa di antara kedua kutub tersebut, yang tak terhingga jumlahnya. Keterbatasan untuk menangkap yang ada, dari sesuatu yang selalu dianggap tidak ada, karena adanya usaha untuk membuat penyederhanaan — hitam-putih — yang kadangkala sedemikian keji dan semana-menanya.

Kesalahkaprahan dalam membuat peta, yang kemudian membuat kita menjadi benar-benar buta dan tuli, adalah bencana tetapi sekaligus hikmah yang telah melahirkan konsep kontemporer. Sebuah usaha untuk menangkap dengan lebih jujur, bulat, lengkap dan tuntas apa saja. Alhasil sebuah upaya, tetapi sama sekali bukan tujuan. Karena dia juga akan terus bergerak, sesuai dengan desa-kala-patra.

About these ads

23 responses to “Teater Kontemporer

  1. bli putu. artikel di atas saya kopi yaa ….. buat kebutuhan saya untuk menulis TA.
    thx

  2. pak…bli…putu wijaya,
    salam hormat.

    sungguh sebuah pencerahan tulisan2 anda itu, termasuk tulisan diatas. bila terlalu lancang saya mohon maaf mau meng-copy tulisannya..mohon diijinkan.

    oiya saya sangat tertarik mementaskan lakon2 anda tapi belum cukup keberanian…
    kalau boleh saya mau minta email bli, untuk kebutuhan menuntut ilmu pada bli…

    trimakasih,
    rakoes. bandung 08

  3. tulisan bpk di atas sangat berguna bagi saya. Pak, saya minta izin meng-copy tulisan bpk. mohon izinnya ya pak. terima kasih.

  4. “Konsep kontemporer, menolak pembunuhan diri seperti itu. Manusia tidak perlu menciptakan kuburan-kuburan untuk manusia-manusia yang masih hidup.”

    Saya sedang menggarap sebuah esai tentang teater kontemporer di Indonesia. Definisi untuk ‘teater kontemporer’ memang sesuatu yang susah di definisikan dengan pasti… sama saja dengan mencoba menepuk nyamuk yang lewat… nanti juga ada satu lagi yang datang…

    sebenarnya saya suka merasa tidak sabar ketika mencoba menjelaskan tentang teater kontemporer di indonesia kepadang orang-orang barat, mereka tidak bisa hilang dari bingkai teater modern dan kontemporer mereka yang lama-lama juga menjadi tradisi… bukan sesuatu yang berjalan…

    tapi itu cuma pendapat saya…

    mungkin ada tanggapan lain?

  5. aku ngutip yaaa…

  6. ontheatreindonesia

    Salam hangat dari Jombang-Jatim

    Mas Putu Wijaya kami numpang info.
    Komunitas Tombo Ati akan pentas Lebedinaya Pesna karya Anton P. Chekov pada tanggal 10-11 Mei di Plaza Theatre Jombang Jatim. Juga ada diskusi teater dengan pembicara Halim HD.
    Oya… foto-foto bersama Mas Putu saat Festival Teater Nasional di Bandung masih kami simpan dengan baik.

    Salam,

    Keluarga Kecil Komunitas Tombo Ati

  7. bli…aku dadang dari teater tulungagung.
    boleh minta emailnya bli. guna menuntut ilmu teater pada bli…makasih sebelumnya.

  8. maaf bli.. boleh minta emailnya. saya dari komunitas tetaer tulungagung

  9. enyong wong tegal jawatengah, sangat takzim padamu putu. gempur, teror, tusuk, tunjam sampai luka. aku juga sedang menjalani prosesmenulis, maen naskah monologku. tiapmalam aku latihan, pagi nulis. semangat apakah yang ada dalam diriku. jika kau pernah berak d i TIM, aku pernah bugil full dalam pesta monolog DKJ di teater ketjil tahun 2006 dengan lakon CAI karyaku.tahun 2005 aku pernah main monolog 12 jam dengan 8 naskahku dari jam 10pagi sampai 10malam lebih sedikit, plus diskusi, kritik, komentardari penonton, tidak untuk rekor muri tapi kadoultah ibuku. pekerjaanku sehariku adalah ngamen baca puisi, monolog di tiap rumah, warung. apakah di teater mandiri ada kamar kosong untukku bermonolog? jawablah sekenanyasaja seperti ketika aku main naskahmu sepi di stsi bandung tahun 2003, waktu festival monolog putuwijaya nasional lumayan aku dapat juara 5, dapat angpo 500ribu buat pulang ke tegal.
    kini aku tetepkebelet monolog, aku yakin di akherat juga sutradara akan bikin stage buat aku monolog . oh ya, bagi yang mbaca tulisan ini bisa kontak aku, syukursyukur naggap aku monolog. namaku apitolahire, email: apito_lahire12@yahoo.com. no.hp: 081548077550

  10. artikel Bapak amat berguna bagi saya pecinta teater yang tak pernah belajar formal tentang ilmu teater. saya hanya senang bermain, dalam kategori teater rakyat. Tentang teater kontemporer bahkan saya kerap terpeleset menjadi teater rakyat. terima kasih pencerahannya. Mohon diperkenankan artikel Anda saya jadikan referensi penulisan buku…maturnuwun

  11. Pak Putu yang terhormat, punyakah artikel tentang seni bermain tetaer?yang isinya tentang bagaimana bermain peran dalam dunia teater. jika ada tlng kirim ke email saya yepegtloh@yahoo.co.id. terima kasih&salam.

  12. bli yang terhormat…
    izinkan saya untuk meng-copy tulisan-tulisan maupun karya-karya bli untuk saya pelajari..saya orang yang tidak punya sedikitpun pengalaman tentang teater tapi saya punya kecintaan dan keinginan yang kuat terhadap dunia teater untuk itu saya akan mencoba merintis sebuah teater disekolah tempat saya ngajar, apakah semua itu mungkin bisa saya lakukan smentara saya tidak punya pengalaman cuma dapat pelajaran dari internet?mohon tanggapan dari bli atau dari pengunjung lain. kalau ada saran mohon dikirim ke e-mail saya ujang_husni@yahoo.com terima kasih

  13. mas putu, saya dari Padangpanjang . essaynya saya kutip untuk kebutuhan study analisis teater kontemporer saya. mohon di ijinkan .

    salam

  14. Salam,
    Buat yang ingin meng-copy atau mempergunakan untuk bahan tulisan, silakan, semoga jangan sampai salah interpretasi.

    pw, 24 -8-09

    • Mas, saya Danang -Sanggar Altar, Ciputat- mungkin masih ingat. Saya punya rencana mau undang mas Putu tahun depan untuk berbagi cerita/pengalaman dengan murid-murid SD kelas 4 di sekolahku. mereka sudah menanti.setelah sekian lama hanya memandangi foto Putu Wijaya -sang maestro-yang terpampang di kelas Drama mereka. terima kasih mas.

  15. mhon bantuannya,. saya sedang mencari artikel karya sastra para sastrawan jaman kontemporer ” putu wijaya” mohon rim ke e-mail saya.. untuk kepentingan pembelajaran kuliah. jurusan sastra indonesa. terimakasih.

  16. Aa Sandy Moelyadi

    Salam kenal, maaf Bang saya mau minta tolong masalah seni peran khususnya. Saya salah satu yang menyukai dunia teater dan seni peran. Dengan membaca berbagai sumber tentang dunia teater,ternyata saya masih merasa kurang pemahaman. kalau boleh saya minta tolong untuk penjelasan tentang seni peran khususnya teater

  17. Terus Berkarya!

  18. Kang Putu,,,,

    aku punya impian…
    Tp sepertinya Impian ku gak akan pernah menjadi nyata ( Critanya si lakon patah sebelum Tumbuh ni) Yah karna impianku Thu terlalu Tinggi,,,, Bagi seorang Kerdil tanpa Kursi,,,

    ” Andaikan aku Bisa pentasin Naskah Kang PUTU dan di sutradarai Olehnya , Yang Begitu Teratur dalam Waktu dan Schedule nya.. ”

    salam Budaya ,

  19. Ping-balik: TENTANG TEATER KONTEMPORER « Boomteater's Blog

  20. Trims atas komentarnya, kalau ingin berkomunikasi lebih akrab datanglah ke FB saya: wijaya.putu@gmail.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s