Yearly Archives: 2007

Selamat Tahun Baru 2008

Happy New Year 2008

Keputusan Dewan Juri FFI 2007

Penyerahan keputusan dari Dewan Juri  FFI 2007 Kepada Panitia.

Ngamen di Untirta

Ngamen di Untirta pada 8 Desember 07, sambil membawakan monolog KEMERDEKAAN dan SETAN, muncul pertanyaan:

  1. Apakah lomba baca puisi dapat dislenggarakan tanpa ada batas perbedaan usia?
  2. Anda mungkin kenal dengan 200 orang tetapi dikenal oleh 40 orang, bagaimana perasaan Anda terhadap itu?
  3. Jadi sastra tidak hanya menghibur tetapi menyuruh berpikir.
  4. Apa sumber penulisan Anda yang paling memotivasi Anda untuk menulis?
  5. Mengapa judulnya Anda hanya satu kata?
  6. Apa yang menyebabkan di Banten tidak lahir banyak sastrawan?

 

Yumelda Chaniago: FFI 2007

Wawancara oleh Yumelda Chaniago (Suara Pembaruan) melalui email.

1. Dalam list nominee kategori tata musik 4 di antaranya merupakan musisi yg telah dikenal, hanya satu yaitu Bobby Surjadi yg kurang dikenal.

Dgn komposisi spt itu terkesan juri ffi thn ini berusaha mencari jalan aman, agar tdk tertipu spt juri thn lalu dlm kasus ekskul, shg lebih memilih musisi2 yg punya nama. Bagaimana tanggapan mas Putu?

JAWAB:

Juri dalam menilai film-film itu di Studio 5 , XXI, Planet Hollywood, tidak membedakan jenis film, tidak melihat siapa produsernya dan tidak melihat latar belakang personal dari pendukungnya.

Setelah kami sepakat pada pilihan kami, yang kami lakukan dengan terus-menerus berdiskusi, baru kami lihat siapa-siapa pilihan kami itu untuk membuat laporan.

2. Boleh tau mas pertimbangannya apa, juri memilih para nominee di tata musik tersebut?

JAWAB:

Pertimbangan untuk unsur film, termasuk musik, dalam pemilihan nominasi, adalah seberapa jauh unsur-unsur itu mendukung film itu, sehingga menjadi bagian yang integral dengan film, bukan berdiri sendiri.

Untuk musik khususnya, walaupun materinya bagus sebagai musik yang berdiri sendiri, tetapi kalau kaitannya dengan film bila tidak mendukung, malah mengganggu, kami sisihkan.

3. Apa langkah antisipasi yg telah dilakukan juri untuk menghindari kembali terjadinya kasus ekskul?

JAWAB:

Panitia Festival, dalam menerima film untuk diikutsertakan dalam festival memberi persyaratan, adanya pernyataan tertulis bahwa itu karya asli. Itu pun ditambah dengan kemungkinan bila ada keraguan atau ada bukti bahwa itu bukan karya asli, tidak akan dinilai.

4. Panitia penyelenggara ffi thn ini bertekad akan menyelenggarakan ffi thn ini scr ideal, krn ffi merupakan penghargaan film tertua di Indonesia. Ideal yg spt apa yg diinginkan penyelenggara khususnya dlm penjurian thn ini?

JAWAB:

Itu mesti Anda tanyakan pada panitia. Bagi kami para juri, ini adalah tugas kehormatan. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memilih yang terbaik. Alhamdulillah, ternyata kelima juri tidak menemukan banyak kesulitan dalam memilih nominasi.

5. Bedanya dgn penjurian ffi di thn2 sebelumnya apa mas?

JAWAB:

Setahu saya bedanya, karena FFI 07 pesertanya kurang dari 40, menurut peraturan (Bab II Mekanisme Penjurian FFI, Pasal 3, Komite Seleksi) , tidak diadakan babak selesi. Jadi kami Dewan Juri langsung memilih nominasi (sudah diumumkan) dan kemudian memilih yang terbaik yang nanti diumumkan di Pekanbaru.

6. Katanya akan ada kategori film berbhs indonesia terbaik?

JAWAB:

Itu sebaiknya Anda tanyakan pada panitia. Yang saya tahu, itu akan merupakan pilihan dari penyelenggara setempat, bukan kami juri.

7. Apa aja nominasinya? Kok ga ada di pengumuman.

JAWAB:

Tugas itu tidak diberikan kepada kami.

8. Apa wewenangnya di pemda riau? Bagaimana ceritanya mas?

JAWAB:

Sebaiknya Anda tayakan ke Panitia: Mas Labbes Widar atau Mas Wina Armada

AIDS

“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.

Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain, menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”

“Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,”lanjut Ami menyambung ceramahnya, “karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi.

Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu?”

Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level.

“Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi.

Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan, juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati.

Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah jatuh.

Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa, 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Terimakasih!”

Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu.

Semuanya mengucapkan selamat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara, juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu.

Dengan loyo Ami pulang ke rumah.

“Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. “Apa ceramahmu gagal, Ami?”

” Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi.”

Amat terkejut.

“Kamu bilang begitu?”

“Ya.”

Mata Amat semakin membelalak.

“Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?”

“Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!”

Amat bengong.

“Aduh. Kenapa jadi bisa begitu?”

“Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!”

Amat terhenyak.

“Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?”

“Bukan hanya itu, tetapi kehilangan otak, karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!”

Amat memandang tajam Ami.

“Ami!”

“Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!”

“O ya?”

“Ya! Malah ada yang menyindir, dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!”

Muka Amat bersemu merah.

“Mereka bilang begitu?”

“Ya. Ami kan jadi malu!”

Amat mengangguk-ngangguk. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya.

“Wah, itu sangat dalam Ami!”

“Apa?”

“Bagaimana mereka tidak akan memujimu, kalau dalam usia semuda kamu, yang belum menikah, cantik lagi, kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!”

Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Lalu bergegas keluar, hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah, untuk mendengar sendiri secara langsung, pujian mereka kepada Ami.

Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu.

“Kenapa Ami. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri.

Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu sakit?”

“Ya. Ternyata benar. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja, Bapak juga sama saja. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang.

AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?”

Bu Amat tersenyum.

“Kalau begitu, benar juag komentar ibu-ibu itu, isi ceramahmu bagus sekali.”

“Apa?”

“Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan, bukan yang kamu katakan Ami. Hanya saja karena orang sederhana, mereka tak mampu mengucapkannya, atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan, ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik.”

Merdeka

Di penghujung 2007 Amat bingung. Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancauan kebenaran, ketidakadilan dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan?

Amat terkenang pada peringatan hari kemerdekaan yang lalu. Memang sudah usang karena sudah 62 kali diulang-ulang dengan jawaban yang juga bulukan. Merdeka berarti tidak lagi disuapi, dilindungi, dijaga dan diasuh oleh negara penjajah.

Merdeka berarti harus cari makan dan bertahan hidup di atas kaki sendiri. Merdeka sama dengan tidak lagi ditindas, tidak diinjak-injak, tidak lagi dikadali oleh sang penjajah di bawah ancaman senjata, tetapi atas kemauan kita sendiri.

Amat terkejut.

Dengan kemauan sendiri? Kemauan siapa? Siapa yang masih mau diinjak, ditindas, dikadali hari gini?

Ya kalau sudah merdeka, berarti seluruh perbuatan adalah atas kehendak diri sendiri. Atas pilihan yang bersangkutan. Tidak karena diperintah. Bukan akibat tekanan. Bahkan mana mungkin akibat disuruh-suruh oleh orang lain. Pastilah itu kehendak sendiri yang sudah bebas bersuara, lepas bertindak, yang sudah merdeka dalam merasa dan berpikir.

Jadi kemiskinan. Keterpurukan. Perpecahan. Gontok-gontokan dan kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita sekarang itu, adalah kehendak sendiri? Gila!

Habis kehendak siapa lagi, kan kamu sudah merdeka?!

Amat kaget.

Mana mungkin! Tidak ada orang yang ingin membuat dirinya miskin, terpuruk apalagi bejat moral. Itu semua pemutar-balikkan fakta!

Terserah, kamu sudah merdeka jadi bebas untuk menuduh dan mencari kambing hitam! Kamu juga boleh seenak perut kamu mengeluarkan apa saja dari mulutmu yang merdeka. Tapi ingat, yang tidak benar walau pun keluar dari mulut yang merdeka tetap saja salah.

Amat marah sama renungannya sendiri. Tapi waktu ia hendak membentak,
istrinya muncul.

“Kok ngomong sendiri, Pak?”
“Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.”
“Mikiran apa? Mau kawin lagi?”

Amat tertawa.

“Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.”
“O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!”
“Bukan begitu!”

“Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!”

Amat tertegun.

“Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini!”

Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.

“Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada?”
“Itu warnanya sudah belel!”
“Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!”
“Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!”

Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di
depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti
yang baru.

Seorang tetangga menghampiri.

“Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.”

Amat menggeleng.

“Kan tidak dipakai?”
“Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru.”
“Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.”

Amat menolak tegas.

“Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.”

Tetangga ketawa.

“Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!!”

Amat tersenyum.

“Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!”

“Ah bilang saja pelit!

Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir.

Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat!

Amat kaget.

Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami.

Memahami apa?

Memahami apakah kita benar sudah merdeka?

Apakah kita sudah merdeka?

Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.

Pahlawan

Setelah membaca berita, Amat termenung sehari penuh. Makannya kurang. Suaranya hilang. Ia tidak membalas senyum, walau pun Bu Amat sudah cengar-cengir mengajak berbaikan setelah semalam agak tegang. Bahkan ketika tetangga mengundangnya untuk makan duren, ia menolak.

Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak.

“Bapak kelihatannya keki ya. Kenapa?”

Amat terkejut. Tetapi kemudian berterimakasih.

“Kok terimakasih?”

“Habis itu berarti kamu memperhatikan Bapak. Bapak memang kesal sekali.”

“Jangan begitu Pak, Ibu kan kelihatannya sudah mau ngajak baikan. Dimasakin segala macam. Hargai dong!”

“O, ini bukan masalah aku dan ibumu.”

“Lalu masalah apa lagi?”

Amat memandang Ami tajam-tajam.

“Denger Ami, ini serius. Bapak senang sekali sebab kamu sudah bertanya. Bapak tidak usah capek-cepak lagi mencari kesempatan bicara. Begini. Nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih, pokoknya kalau Bapak sudah tidak ada, jangan sama sekali kamu biarkan ada orang yang berbicara tidak benar tentang Bapak.”

“Ah itu sudah pasti! Kalau ada yang menjelek-jelekkan Bapak, Ami akan langsung saja jawab tidak peduli di mana tempatnya. Maksud Bapak tetangga kita yang pernah menuduh Bapak itu korupsi, kan?”

“Bukan!”

“Lalu siapa?”

“Kalau ada yang mau menjelek-jelekkan Bapak biarkan saja. Kalau kamu bela, malah nanti orang akan semakin percaya. Biarkan kenyataan itu berbicara sendiri. Tapi kalau ada yang berbicara tidak benar tentang Bapak, kamu harus bertindak dan menolak!”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mengatakan aku ini pahlawan, bahkan kalau pemerintah mengangkat aku menjadi pahlawan, kamu harus cepat, tegas dan berani menolak. Sebab aku bukan pahlawan!”

“Lho, tapi kan Bapak sudah berjuang dulu waktu revolusi?”

“Ah mengantongi lencana merah-putih dan bersimpati pada para pejuang itu, namanya belum berjuang. Bahkan membantu para gerilya dengan ketupat waktu mereka masuk hutan juga belum bisa dikatakan berjuang. Kalau sampai memanggul senjata, tertembak dan gugur, seperti Letkol IGN Rai itu baru pejuang. Kalau hanya salah tangkap dan dipukuli atau dimaki-maki, itu belum pejuang. Bapak bukan pejuang. Jadi tidak pantas menerima sebutan pahlawan, mengerti?”

Ami tak menjawab.

“Kok tidak menjawab?”

“Habis Bapak egois! Buat bapak sebutan pahlawan itu mungkin tidak penting, tapi buat Ami dan buat Ibu penting sekali. Kemungkinan untuk dapat posisi akan lebih gampang sebagai anak pahlawan. Apalagi kalau nantinya ada santunan uang, rumah dan sebagainya.

Masak kita terus-terusan harus tinggal di rumah tua seperti ini, sementara semua teman-teman Ami sudah pindah ke real estate? Boleh dong Ami dan Ibu merasakan kenikmatan. Masak berjuang dan menderita terus. Kita kan sudah merdeka?!”

Amat kontan mau menjawab, tetapi Ami sudah berdiri.

“Bapak boleh merasa kepahlawanan Bapak itu bukan apa-apa, tapi jangan memaksa saya berbohong. Itu namanya penggelapan sejarah!” kata Ami sambil pergi.

Amat termenung. Ia teringat masa-masa perjuangan. Puluhan teman-teman sekolahnya lenyap di dalam rimba. Mereka pejuang-pejuang sejati. Tetapi ia sendiri, hanya memainkan peran kecil yang tidak penting. Ia malu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berjuang. Tetapi ia tak sanggup menolak ketika teman-temannya mendaulat agar ia menjadi ketua perhimpunan bekas pejuang.

Bu Amat mendekat, lalu menyapa.

“Bapak masih marah?”

Amat mengangguk.

“Ya. Tapi bukan karena yang tadi malam.”

“Karena apa?”

“Karena sekarang semakin rancu mana yang pahlawan, mana yang tidak. Aku jadi bingung, sejarah kok bisa ditulis lagi. Tadi aku bilang pada Ami, kelak kalau ada yang mau mengangkatku sebagai pahlawan, dia harus berani mengatakan tidak. Sebab aku bukan pahlawan.”

Bu Amat kaget.

“Jadi kalau begitu, semua cerita itu tidak betul?”

“Cerita yang mana?”

“Bapak kan dulu mengatakan bahwa Bapak pernah tertembak dua kali. Bapakku dulu sangat kagum dan hormat melihat bekas luka peluru itu. Ami juga selalu mencantumkan dalam riwayat hidupnya, bahwa Bapak pernah berjuang. Itu di dalam lamaran untuk menjadi asisten dosen, dia juga bilang bahwa dia adalah putri pejuang kemerdekaan, putri seorang pahlawan.”

“O ya?”

“Ya! Tapi apa semua itu bohong? Apa semua itu hanya cerita yang Bapak karang-karang supaya Bapakku mengizinkan aku kawin dengan Bapak dulu?”

Amat terkejut. Ia hampit saja hendak berterus-terang bilang ya, tetapi mata istrinya begitu serius. Bahkan terlalu serius.

“Jadi semua itu bohong, Pak????”

“Bukan bohong! Tapi untuk apa sih menceritakan soal-soal kepahlawanan yang sudah lewat,. Yang penting kan apa yang kita perbuat hari ini.”

“Tapi sejarah itu tidak boleh dihapuskan, Pak. Pahlawan harus tetap pahlawan. Apa salahnya orang jadi pahlawan. Ya tidak? Itu kan membuat keluarga jadi bangga dan kita dihormati? Ya tidak!”

Amat mengangguk.

“Lho ya tidak?!!!!”

“Ya.”

Malam-malam setelah istrinya tidur, Amat mendekati Ami.

“Ami, soal pahlawan tadi ada perubahan.”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mau menjadikan Bapak pahlawan, biar sajalah.”

Ami tertegun.

“Tidak keberatan kan?”

“Sangat keberatan. Kalau ada yang hendak menjadikan Bapak pahlawan, padahal Bapak bukan pahlawan, Ami yang pertama akan mengatakan: bohong!”

Kota Seribu Pahlawan

Pada tahun 50-an, Indira Gandhi, putri Nehru berkunjung ke Bali. Ia bersikeras ingin pergi ke Tabanan. Di Makam Pahlawan Pancaka Thirta Tabanan, ia tertegun melihat 1000 buah nisan. Dalam pidatonya kemudian ia berterus-terang menyatakan rasa kagum dan haru, tak menyangka dalam sebuah kota kecil ada begitu banyak pahlawan.

Saya merinding mendengar langsung pidatonya itu di antara ribuan pendengar. Puluhan tahun berlalu, kata-kata itu terus mengendap dalam hati. Membuat saya merasa malu. Begitu dahsyat perjuangan Tabanan dalam mengusung kemerdekaan.

Termasuk di antaranya Puputan Margarana yang menewaskan habis ratusan pejuang yang dipimpin oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai (sekarang menjadi nama bandara internasional Tuban). Tapi saya sendiri, apa yang sudah saya perbuat?

Ketika Makam Pahlawan didirikan di Tabanan, terjadi pemindahan besar-besaran jenazah yang ditanam dikuburan ke makam. Sekolah saya di SR 1 (sekarang jadi pasar Tabanan) di tempat yang ketinggian memberikan sudut pandang yang bagus untuk menonton upacara di setra Tabanan yang juga tinggi lokasinya di sebelah Timur. Setiap hari kami para murid duduk berjajar dan menyaksikan prosesi pemindahan itu sebagai sebuah tontonan yang menggetarkan.

Kemudian setiap 17 Agustus, sebagai murid SMP, bersama ribuan warga lain, saya juga ikut menabur bunga ke makam. Dari nisan ke nisan saya terpesona melihat nama-nama yang berasal dari berbagai pelosok wilayah Tabanan. Mereka kebanyakan bukan kasta kesatria, tetapi telah menunjukkan perbuatan yang mulia.

Ada perasaan “bersyukur” karena saya tidak hidup di zaman mereka. Saya yakin apabila saya ada dalam pergolakan revolusi, tubuh saya tidak akan terbaring bersama mereka, sebab saya seorang penakut. Hal itu membuat saya mersa semakin malu.

Kadang-kadang saya kembali ke makam bersama teman-teman sekolah, tetapi bukan untuk menyatakan rasa hormat. Saya hanya berburu burung puyuh yang jinak dan mudah ditangkap di antara tanaman peneduh di antara makam itu. Hanya yang tidak bisa saya lupakan adalah perasaan tenteram dan tanpa sama sekali rasa takut di antara seribu nisan itu.

Sangat berbeda dengan rasa ngeri kalau lewat di pekuburan biasa. Saya maknakan itu sebagai bukti kebesaran jiwa kepahlawanan itu tidak lenyap karena hancurnya jasad, tetapi tetap hidup bersama yang tinggal. Saya semakin merasa tak berarti.

Kemudian kalau harus memperkenalkan diri di mancanegara, setelah mengidentivikasi diri sebagai orang Bali (terus-terang saja, banyak orang lebih kenal Bali daripada Indonesia), saya sulit untuk menggambarkan lokasi Tabanan. Umumnya orang hanya mengenal Denpasar.

Akhirnya saya akan menjelaskan kota saya adalah kota seribu pahlawan yang pernah membuat seorang Indira Gandhi terpana. Tetapi sebelum orang itu berdecak kagum, saya cepat menambahkan bahwa saya sendiri bukan keturunan pahlawan.

Tapi pahlawan agaknya tidak lagi menjadi “penanda” yang mujarab lagi. Sejarah sudah dipenuhi oleh begitu banyak pahlawan dari berbagai peperangan di seluruh dunia. Di masa damai pun sudah berderet-deret pahlawan-pahlawan baru. Bahkan di antaranya juga banyak kemudian yang terbukti pahlawan gadungan, pahlawan karbitan dan pahlawan kesiangan.

Dalam keadaan seperti itu, saya masih punya andalan untuk mengenalkan Tabanan. Saya akan bilang bahwa Tabanan adalah wilayah Bali yang belum terjamah turis, tetapi sesungguhnya adalah kerajaan “subak” dengan sebuah museum subak di Sanggulan.

Tabanan terkenal sebagai gudang beras yang berkualitas tinggi. Perempuan Tabanan tersohor cantik-cantik (malangnya tak seorang pun yang sudi menikah dengan saya). Ada pantai Tanah Lot dengan sebuah pura di atas karang dengan “sun-set” yang termasuk salah satu paling cantik di Bali. Dan kalau itu masih belum juga mengesankan, saya akhirnya akan mengatakan bahwa, Tabanan telah menjadi kota kelahiran I Mario, penari kebyar duduk yang telah menciptakan tari Oleg Tamulilingan yang menjadi salah satu legenda dalam seni tari Bali.

Namun terus-terang, semua itu hanya cerita masa lalu. Bagaimana nyatanya sekarang? Apa yang bisa saya katakan tentang Tabanan. Mario hanya tinggal sebuah nama gedung yang juga tidak representatif sebagai Gedung Kesenian. Kemasyuran beras Tabanan sudah lampau sejak aturan pemerintah di masa Orde Baru, yang mewajibkan petani menanam varitas yang tahan hama.

Kota Tabanan yang beberapakali mendapat hadiah adhipura ini, memang masih bersih, tenang dan nyaman. Banyak pengunjung yang mengatakan cocok untuk dihuni setelah masa pensiun. Ada beringin raksasa di jantung kota yang menjadi salah satu ciri Tabanan yang membedakannya dengan Denpasar yang sudah terpolusi oleh semangat “pembangun gedung, wilayah pertokoan dan hotel”. Tabanan masih alami. Wilayah Tabanan di lereng Gunung Batukau masih sejuk.

Tetapi cepat atau lambat berbagai perubahan yang membetot Bali, nanti pada akhirnya juga akan menggerus Tabanan. Petak-petak sawah dengan subak yang masih molek di wilayah Pupuan mungkin tak lama lagi hanyan tinggal cerita, sebab Bali perlahan-lahan sudah mulai ingin bercerai dengan pertanian.

Rakyat semuanya lebih senang menunggang motor di jalanan daripada bergaul dengan lintah di sawah. Tabanan tak akan mungkin bisa bertahan dengan sawah, apalagi tidak didukung oleh pemerintah, sementara wilayah lain bergelimang dollar oleh arus wisatawan.

Kalau semua itu akan terjadi, yang bisa saya lakukan tinggal satu. Tabanan adalah saya. Akulah Tabanan.

Zoom dan Zero

Veronita Agnez telah menulis pertanyaan mewawancarai saya lewat email dalam rangka penulisan skripsi. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya, seperti tidak menyimak wawancara langusng sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu tipikal pertanyaan mahasiswa yang malas, yang menyuruh orang lain menceritakan segalanya. Akhirnya saya minta dia menyimak dulu hasil wawancaranya sendiri sebelumnya serta melihat VCD pertunjukan, lalu beropini dan kemudian baru bertanya sehingga terjadi dialog. Syukurlah dia mengerti maksud saya.

Lalu dia memperbaiki pertanyaannya dan memberikan daftar pertanyaanbaru yang membuat saya gembira. (Vero, sekarang pertanyaannmu sudahbagus. Oke kemajuan pesat.

Kalau menulis skripsi, khususnya tentangsaya, jangan takut berpendapat, karena saya merayakan perbedaan).Banyak kejadian yang saya alami, para mahasiswa sudah dibikin sepertirobot oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpola, khususnya bagiyang ingin cepat-cepat lulus saja (termasuk yang saya lakukan sendiri waktu mahasiswa) – mudah-mudahan di masa mendatang hal tersebut bisakita musnahkan.


Vero:
Bagaimana pola penyutradaraannya Zoom dan Zero? Yang saya perhatikan dalam pertunjukan Zero dan Zoom, pertunjukannya selalu mengunakan layar, gerak, eksplorasi tubuh dan sangat minim sekali dialog yang keluar dari pemain, kalau pun ada hanya bahasa-bahasa simbol yang ingin menyatakan sesuatu. Seperti dalam zero para pemainnya hanya mengeluarkan suara yang mengeram seperti binatang.

Yang saya ingin tanyakan karena mas putu dalam setiap pertunjukantidak pernah memakai konsepsi dramaturgi, bagaimana cara mas putumengatur pemain yang ada di panggung, sehingga para pemain itu bisa menampilkan sebuah pertunjukan yang utuh, dan tidak terlihat sekali adanya kesalahan walaupun mungkin dari para pemain banyak melakukan improvisasi.

Apakah dalam setiap pertunjukan yang mas lakukan, mas Putu membebaskan pemain untuk mengeksplorasi apa saja, tanpa adabatasan?

PW:
Saya memberikan kebebasan pemain saya dengan satu pesan: Jangan merusak Kebebasan, dengan cara mengormati Kebebasan Orang lain. Dalam latihan-latihan saya selalu mengajak pemain menerima, menghargai dan kemudian memanfaatkan kehadiran orang lain, sehingga mereka menjadisebuah komplotan, bagaikan jari-jari yang semula terpisah lalu mengepal dalam tinju, dalam sebuah tim kerja. Kekompakan, kepaduan buat saya penting sekali.

Mandiri kalau sudah di atas panggung tidak hanya main, tetapi mereka melakukan apa saja untuk menyelamatkan pertunjukan. Mereka adalah prajurit sekaligus jendral. Setiap pemainmenjadi sutradara/pemimpin yang harus bisa membuat keputusan dalam keadaan apa pun juga. Saya selalu mengajak mereka melihat pentas sebagai sebuah pertempuran.


Vero:
Dalam pertunjukan Zero dan Zoom, khususnya, saya kurang bisamemahami pola pengadeganan dari pertunjukan mas. Karena waktu sayamenonton Zero di dvd, saya tidak menangkap alur cerita yang pasti,jalinan ceritanya tidak lurus, tapi patah-patah., misalnya habisa dengan perempuan yang sedang menari, ditarik masuk kedalam layar, semua pemain bergumul didalam layar, kemudian tiba-tiba perempuanmengeluarkan kepalanya dan tubuhnya seperti raksasa, diamenjerit-jerit, merintih kesakitan, sperti meminta pertolongan.

Semua apa yang saya lihat membuat saya tercengang, hampir bisa dibilang kaget, karena belum mengerti maksud dari adegan itu., ketika saya jadikembali teringat apa yang mas Putu katakan, bahwa mas selalu melakukan pembelokan-pembelokan, yang seakan-akan ingin mematahkan suatu empatiyang sudah terbangun. Yang saya ingin tanyakan bagaimana alur penceritaan dan pola pengadeganan dari Zero dan Zoom?

PW:
Tidak ada cerita dalam pertunjukan ZOOM dan ZERO. Yang adahanya rasa. Jadi jangan mencari arti dan sambungan, semuanya mengaliruntuk menyentuh rasa. Apa yang kamu rasakan itulah dia.

Pertunjukansaya tidak penting, yang penting adalah apa yang kemudian terjadi didalam dirimu (penonton) sesudah menonton. Teater seperti itu (terormental) , konsepnya sudah lain sekali dengan teater realis (mapan)yang ingin meniru atau menampilkan kehidupan nyata. Kami ingin mengajak penonton masuk ke dalam roh kenyataan kasat mata itu.


Vero:
Kemudian mas Putu sendiri selalu melakukan pengembangan terhadap semua pertunjukan, sehingga dari pertunjukan yang satu danyang lainnya selalu berbeda.

Apakah hal itu tidak menyulitkan mas Putu sebagai sutradara untuk mempertahankan konsep pertunjukan yang sudah jadi, dan juga apakah hal itu tidak menyulitkan pemain, karena dari setiap pertunjukan yang dilakukan semuanya berbeda-beda?

PW:
Kesulitan adalah berkah. Bahaya adalah tantangan. Kegagal;anadalah janji dan kesempatan. Itu bagian dari pelafalan konsepBERTOLAK DARI YANG ADA. Takut? Ya, siapa yang tidak takut.

Tetapi ituberarti manusiawi sekali. Dengan takut dan cemas, kita akan terangsang/termotivikasi/terstimulasi untuk berbuat lebih jauh. Hidup adalah upaya yang tak habis-habisnya menyelamatkan diri dari berbagai ketakutan yang mengejar-ngejar kita. Pertunjukan saya tidak pernah selesai, tumbuh dan memang dibiarkan berkembang terus.


Vero:
Dalam setiap Pertunjukan itu sendiri, kalau yang sayainterpretasikan, mas kemas dalam bentuk teater seni rupa. Saya mengirabahwa layar mempunyai substansi sebagai idiom mas Putu dalamberekspresi.

Layar sendiri dijadikan seperti kanvas dan media visual yang berupa cahaya, slide proyektor, gelombang kain, mas jadikan sebagai media atau alat untuk membuat sebuah lukisan di atas layar,yang akan membuat bentuk, garis, warna, tekstur, dan lain-lain.

Seperti dalam hasil wawancara kemarin mas mangatakan bahwa peranan ligthing, make-up, kostum, properti dan artistik seperti cat dalam lukisan dan seperti peranan sinar dalam lukisan impresionis. Saya mengira bahwa mas ingin melukiskan panggung teater atau sebuah peristiwa teater dengan media tersebut, dan mas Putulah pelukisnya,yang dengan idiom yang mas Putu pakai membuat sebuah lukisan hasildari ekspresi mas, dan maslah sang pemegang kuas, yang mempunyai peranan sangat penting (sutradara) dalam membentuk lukisan tersebutingin dibuat seperti apa. Apakah hal ini sudah menjadi teater yang masinginkan?

PW:
Benar. Pentas adalah kanvas saya. Kadangkala ya memuaskan,kadangkala tidak. Saya memang membuat lukisan dan patung-patung yang bergerak. Jadi teater adalah gabungan antara seni rupa dan seni sastra,tetapi bukan tempelan, sudah meluruh dalam sebuah kesatuan yang hidup.

Bagi saya teater bukan peniruan pada kehidupan, tetapi kehidupan itusendiri. Ia tumbuh, bergerak, liar dan kadangkala tak terkuasai olehbahkan kami para pelakunya.

Kadangkala saya berdialog, berdiskusi dan bantah-bantahan sendiri dengan apa yang sedang tercipta di atas pentas/layar. Jadi seakan-akan pertunjukan itu sendiri berjiwa,berekemaiuan dan mau memilih jalannya sendiri.

Kadang-kadang padasuatu malam, terjadi sesuatu yang sangat berbeda. Kalau kebetulan terlibat di pentas (sejak tahun 2000 saya aktif ikut main) saya bisa langsung mengarahkan.

Kalau tidak, pemain sendiri harus mengambilkeputusan. Tetapi sering berakhir berbeda/di luar dari apa yang sudahdirencanakan (meskipun selamanya bagus). Itu sebabnya saya berani bahwa sutradara/kreator/saya bukan dewa, bukan dictator.

Sutradara/kreator hanya salah satu partisipan. Sutradara hanya sebagaistarternya/pencerusnya, kemudian semuanya mengalir sendiri. Pementasan sering berjalan liar dan bisa tak terkendali lagi.

Namun karena kamisudah terbiasa oleh perilaku itu, semuanya akhirnya selesai denganbaik. Kalau direnungkan dalam, sebenarnya keliaran itu karena tontonan tumbuh.

Khususnya bentuknya berkembang, tetapi nhyawanyatetap datang dari hati kami yang paling dalam. Itu sebabnya sayabilang teater itu adalah peristiwa spiritual. Namun, pendapat lainyang percaya teater itu hiburan, atau apa pun, saya hormati, saya tidak ingin membuat idiologi teater.


Vero:
Mas Putu saya masih bermasalah dengan makna dari penggunaan bandot “boneka besar” yang selalu dipakai dalam setiap pertunjukan? Karena bandot besar itu kadang-kadang menganggu pikiran saya, saya mengira bahwa penggunaan bandot besar itu selain bisa menyimbolkan pada suatu tokoh penguasa yang besar yang bisa menindas rakyat kecil dengan kekuasaannya, bisa juga menjadi monster aneh yang besar, yang mengganggu pikiran dari penonton yang melihatnya, terkadang bisamenjadi sebuah boneka biasa, kadang bisa jadi alien, atau boneka wayang apabila tangannya di beri tongkat… saya jadi binggung mas…

PW:
Bandot itu anggota kelompok kami. Kedudukannya sama dengan anggota Mandiri yang lain. Ia ikut bermain. Ia memainkan salah satuperan. Ia sama dengan Alung atau Wendy. Kadang dapat peranan besar,kadang peranan kecil. Kadang hanya bengong jadi pajangan, tidakkebagian peran.

Ia hanya menjadi set, barang mati, properti yang dipergunakan untuk apa saja. Kadang-kadang hanya untuk komposisi. Bukan hanya bandot. Semua properti saya yang lain juga posisinyaseperti itu.

Ia sudah menjadi keluarga teater Mandiri. Kadang-kadangsaya tidak mau memakainya lagi, tapi ada saja pemain yang membawannya masuk. Dan begitu dia masuk, langusng dilibatkan oleh semua pemian.

Anehnya peristiwa masuknya kembali prop yang sudah lama, selalukemudian ada alasannya di kemudian hari. Hal itu menyebabkan saya bersikap terbuka dalam proses latihan.

Seringkali saya/kamimenggelinding dulu tanpa konsep, belakangan baru kami renungkan lagi,seleksoi dan susun lalu dikembalikan pada konsep pertunjukan/ide pokok pertunjukan sehingga pernik-pernik itu tidak berserakan — itulah peran sutradara. Sutradara bukan saja mencipta, tetapi adakalanya/pada saatnya dia berhenti menumbuhkan dan hanya menajamkan pertunjukan supaya siap menusuk penonton — walhasil mengemas.Pengemasan di dalam berekspresi (baca:teater ) sangat penting.


Vero:
Mas Putu, yang saya lihat dari pertunjukan Zero, adabeberapa adengan yang pemainnya menggunakan topeng, ada juga pada saattopeng itu di simbolkan sebagai wajah yang diapit oleh layar atau kainmenjadi seperti roh atau arwah penasaran yang membuat bulu kuduk saya merinding, kalau yang saya tangkap dari pertunjukan itu arwah ituingin mencari tempat atau keberadaannya, arwah itu seperti inginmembalas dendam.

Lebih-lebih pada saat perempuan yang menari dan dibelakangnya diikuti oleh dua orang yang dibalut dengan kain dan menggunakan topeng, hal itu seperti menunjukan sesuatu, seperti suatu upacara ritual pemanggilan roh….yang saya ingin tanyakan sebenarnya topeng itu bermakna apa ya mas, apakah untuk menandakan wajah-wajah seseorang yang teraniyaya, yang ingin mencari kebenaran, atau sepotong wajah mengawang kemana-mana menjadi roh penasaran…? dan juga kenapa make-up yang digunakan seperti orang yang ingin melakukan pantomim,yaitu hanya flat putih, seperti wajah yang hanya dimake-up dengan pidi putih?

PW:
Properti dan khususnya topeng yang kami pakai, dibuat sendiri olehpara pemain. Ada yang bagus, ada yang jelek. Saya tidak peduli bentuknya, asal itu dibuat oleh mereka sendiri. Jadi kami tidak pernah menyerahkannya kepada art director yang canggih.

Justru kesederhanaannya sering menjadi kelebihan. Penggunaannya juga tidak sama dengan cara penggunaan topeng pada pertunjukan orang lain. Kamitidak membuat topeng itu jadi karakter lalu pemain menghidupkannya.Tidak.

Tetapi topeng itu, didekati secara personal, oleh setiappemain. Setelah lama berkenalan, pemain dan topeng akan bersatu dan menunjukkan kehidupannya sendiri, menurut yang dia yakini, yang diciptakan oleh pemainnya.

Jadi bukan hanya sutradara, pemian jugapencipta dalam Teater Mandiri. Tentu saja sebagai sutradara sayamengarahkan dan menempatkan ciptaan-ciptaan itu agar tidakberseliweran sehingga menjadi satu jurus yang ampuh.

Itu dilakukan langusng di dalam latiahn. Artinya proses latihan menentukan. Ketika sedang berlatih saya dan semua partisipan melakukan penciptaan.Tentang artinya, pada setiap orang bisa beda-beda.

Latar belakangpenonton, akan mewarnai apa yang terlihat. Jadi kalau mau menikmati ZERO, nikmati saja apa yang terjadi dalam dirimu, itulah dia. Tentangkonsep saya, sebagaimana saya ceritakan dalam wawancara langsung anggap sebagai bandingan.


Vero:
Dalam hasil wawancara yang kemarin mas Putu mengatakan bahwadi teater Mandiri hanya mas Kribo dan mas Wendy yang dapat disebut sebagai aktor, sedangakan yang lainnya hanya orang biasa. Kalaupertunjukan Zoom dan Zero, yang saya tonton memang hanya segelintir orang saja yang mendapatkan peran yang cukup besar. Tetapi saya merasa bahwa karakter pemain pemain yang lain jadi tidak jelas bermain sebagai apa, kadang-kadang bisa dikatakan terlihat sebagai crew.

Apalagi pertunjukan Zoom yang banyak memakai banyak pemain. Saya ingin menanyakan bagaimana cara mas Putu menciptakan watak para pemain dalam pertunjukan Zero dan Zoom, dengan kondisi yang seperti itu, apakah penciptakan karakter watak itu hanya merupakan proses kreativitaspemain yang melakukan pencariannya sendiri, atau mas Putu juga turut berperan dalam penciptaan karakter watak tersebut?

PW:
Dalam “tontonan” seperti yang saya lakukan, tidak ada karakter.Yang ada adalah suasana. Kadang-kadang seseorang pemain memainkan sesuatu, tetapi kemudian dia keluar dan memainkan yang lain di saat penonton sedang asyik. Patahan itu bagi penonton teater realis yang snang “empathi” memang akan terasa menyakitkan. Tapi biasanya, kalausudah terbiasa, akan jadi kenikmatan. pertunjukan Mandiri adalah peristiwa, bukan tuturan.

Tidak ada cerita. Yang ada hanya kesan-kesan, imij dll seperti kalau kamu mimpi. Mimpi umumnya tidak bisa diartikan. Kalau mau diartikan boleh saja. Kasrena meloncat-loncat, mimpi lebih kaya bila dinikmati dengan rasa.Interpretasi sangat penting untuk memahmi mimpi.

Dengan teater saya mengajak – ingin mengajak penonton untuk mengembara ke dalam imajinasi dan melakukan penafsiran-penafsiran. Itu akan membawa mereka ke dalam dirinya sendiri. Jadi teater sebenarnya adalah sebuah pertualangan untuk mengenal lebih mendalam diri sendiri.

Karena itulah, di sekolah teater tidak harus diartikan sebagai usaha untyuk mencetak murid jadi pemain drama. Teater membelajarkan manusia untuk mengenal dirinyasendiri, agar lebih sempurna dalam menghadapi orang lain.


Vero:
Dalam setiap pertunjukan saya selalu merasa bahwa ritme pertunjukannya, dan ketukan dari para pemain dan musik sangat cepat,kadang-kadang membuat shock jantung, saya menyimpulkan bahwa inilah yang disebut mas Putu sebagai teror mental.

Menteror setiap orang darimusik dan kecepatan bermain aktor-aktor teater Mandiri. Tetapi apakah mas Putu tidak pernah mencoba menurunkan ritme itu? Agar para penontonbisa menarik nafas dulu…

PW:
Betul. Saya berguru dari tukang copet, tukang obat di pinggirjalan dan tukang sulap. Dalam sulapan, pesulap harus cepat. Kecepatan itulah yang membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Jadi apayang ada dipentaskan bukan tiruan hidup sehari-hari, tetapi adalah pancingan, adalah teror saja, yang membuat orang kembali kepadakehidupan nyata lewat pengaman batinnya.

Itu sebabnya saya tidak takutkalau penonton tidak percaya dengan apa yang terjadi di pentas –hubungkan dengan empathi berarti keterlibatan emosional. Bagi kamipenonton bahkan selalu diingatkan untuk melihat apa yang di pentas ituhanya “fake” bohong . Namun kebohongan itu justru mengajak merekamengintai lebih dekat kebenaran.


Vero:
Mas Putu, Musik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesly, dalam hasil skiripsi Mba Lousy yang saya baca, sudah mengiringi setiap pertunjukan yang mas lakukan, sejak tahun 1980-an.

Saya belum memperhatikan secara detail mengenai musik itu mas, dan saya juga belum tahu nadanya seperti apa. Tapi yang ingin saya tanyakan apakah musik itu juga mengiringi atau digunakan dalam pertunjukan zoom dan Zero?

PW:
Lagu Jangan Menangis Indonesia, seperti Bandot, juga salah seorang anggota Mandiri. Lagu itu salah seorang pemain saya. Kalau Harry ada, lagu itu pasti dimainkan. Saya tidak tahu kenapa kenapa dia katut terus. Saya tidak merasa lengkap kalau tidak memberinya peran.

Waktu Zero main tanpa Harry di Taipeh (2003), lagu itu juga tidak iokut main. Dan setelah 2004 (sesudah pertunjukan ZOOM) dia pergi bersama Harry Roesly.


Vero:
Mas Putu, saya sudah bertemu dengan mba Lousy, di dalam skripsinya, tertulis bahwa dalam pertunjukan JMI, penciptaan naskah JMI terdiri dari beberapa proses, seperti adanya naskah awal, yang hanya berupa konsep-konsep seperti sinopsis, ada naskah proses, dan terakhir naskah utuh sebuah naskah yang ada setelah pertunjukan.

Apakah dalam Zero dan Zoom, juga terdapat pembagian penciptaan skenario atau naskah seperti yang terjadi dalam JMI, ataukah pertunjukan Zero dan Zoom hanya memiliki konsep/fragmen saja, dan tidak memiliki naskah seperti JMI ?

PW:
Sebenarnya hampir sama. Ada proses latihan phisik. Ada proses pencarian. Ada proses pembentukan. Kemudian ada proses pemantapan. Kemudian tinggal pengembangan dan pertumbuhan dalam setiap pementasan.

Tetapi ZERO dan ZOOM tidak memakai dialog seperti JMI jadi tidak ada dokumen tertulisnya. Setiap saat bisa kami mainkan kembali tetapi sudah beda-beda. ZERO yang di TUK lain dengan yang di TIM dan lain dengan yang di GOETHE, lain dengan yang di Taipeh, juga lain dengan yang di CAIRO.


Vero:
Saya melihat dalam pertunjukan Zero lebih banyak bergumul di kain, para pemain lebih banyak mengeksplor gerak-gerak tubuh mereka, sedangkan pada Zoom yang saya tonton dulu, para pemain juga ada yang bergumul di layar besar yang sama persis dengan di Zero.

Kalau diperhatikan secara sepintas pertunjukan Zero dan Zoom hampir sama, misalnya tetap menggunakan layar besar, musik keras, efek-efek pencahayaan yang mendukung situasi pengadeganan dan untuk membangun emosi, ada juga adegan perempuan yang diperkosa, dan disiksa. Hanya pada pertunjukan Zoom lebih banyak dialognya meskipun hanya berupa kata-kata yang diulang-ulang seperti war is war, fredom is fredom.. Yang mau saya tanyakan apa yang membedakan pertunjukan Zero dan Zoom selain dari ide cerita yang ingin disampaikan?

PW:
Layar itu juga salah seorang anggota Teater Mandiri sejak 1991. Jadi ia selalu ikut main. Pada ZOOM layar masih digantung, tetapi dalam ZERO layar turun dan bergerak horisontal ke mana-mana di seluruh pentas – Perbedaan itu konsekuensinya sangat banyak dalam kinerja pemain.

Sdetiap pemain, termasuk pembawa lampu harus belajar bagaimana caranya jkeluar masuk layar. Ukuran layar sangat penting – harus pas dengan jumnlah pemain. Bahan layar juga harus tepat, karena kami pernah terjebak memakai bahan parasut yang menyebabkan pemain di dalam layar bisa semaput karena kurang O2. Dalam ZERO lampu mulai menjadi PEMAIN.


Vero:
Mas Putu, setelah saya membaca beberapa artikel koran yang meliput pertunjukan Zero dan Zoom, saya melihat adanya hubungan yang terkait atau persamaan mengenai tema yang coba diangkat oleh mas Putu. Zoom adalah sebuah esai visual yang mengambarkan mengenai perang dan permusuhan yang terjadi di antara manusia, yang tidak pernah ada habisnya.

Sedangkan Zero adalah sebuah esai visual mengenai gagasan yang coba mas Putu tawarkan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dari kedua karya tersebut, secara tidak langsung, mas Putu ingin mengatakan menolak pada peperangan dan permusuhan, dan kemudian mas Putu mencoba untuk mencari jalan keluar dari pemasalahan tersebut, tanpa membuat suatu permasalahan yang baru. Zoom dan Zero, merupakan karya yang mampu mencerminkan keadaan sosial-politik yang sedang terjadi di dunia sekarang ini.

Dimana Chaos (kekacauan), sedang melanda dunia.Apakah kedua pertunjukan itu benar memiliki hubungan terkait, apa seperti mata rantai pertunjukan yang saling menyambung, Kalau saya bisa dikatakan seperti trilogi, mulai dari War, ke Zero, lalu ke Zoom?

PW:
Kamu betul. Dalam konsep ZOOM DAN ZERO adalah esei tentang perang dan usaha untuk menjawabnya, walaupun saya tahu itu bukan jawaban yang paling tepat bahkan mungkin jawaban yang gagal. Minimal lami sudah berusaha menjawabnya agar ada jawaban lain datang


Vero:
Mas Putu sebenarnya apa yang melatar belakangi sehingga memilih judul Zero dan Zoom, kenapa tidak memilih judul lain yang bisa lebih menarik perhatian masyarakat awam misalnya seperti…. aduh mas saya jadi binggung mau kasih contoh apa, soalnya saya ngga jago bikin judul, ya tapi maksud saya itu ?

PW:
Bagi saya kata yang pendek itu mengandung misteri dan kepadatan arti, sehingga bila dia menjadi judul, maka yang saya lakukan baik dengan tulisan atau pementasan terhadap kata itu adalah membuat disertasi.

ZOOM berarti penggandaan ukuran. Bila kamu melihat kulit kamu dengan mikroskop maka kulit kamu menjadi gambar yang mengerikan, penuh lubang dsbnya. ZERO adalah nol adalah kosong. tetapi dalam tradisi Bali disebutkan bahwa kosong itu penuh dan penuh itu kosong.

Bagi saya itu sebuah gua pertapaan yang akan mengantarkan kita kepada makna yang beragam dan dalam. Judul satu kata buat saya jauh lebih seksi dan menteror dari judul yang puitis yang sudah biasa dipakai orang.


Vero:
Mas Putu, singkat saja pertunjukan Zero dan Zoom pernah dimainkan dimana saja mas, dan siapa saja pemainnya yang terlibat didalamnya selain mas Wendy, mas Kribo, Mr. Chung, mas Bei?

PW:
Pemain (jumlahnya tergantung desa-kala-patra) yang sering terlibat: Chandra, Kardi, Rino, Kleng, kadang-kadang Diyas (sekarang jadi istri bei), Fien (istri Wendy), Agung (pegang proyektor slide) dan Ucok (pegang lampu – dulu anak IKJ). Di Goethe pernah 125 peserta workshop ikut main (2004) .


Vero:
Mas Putu, kalau saya boleh tahu, berapa jam durasi tiap kali mas putu latihan, dan apakah pada saat mas Putu ingin memainkan Zero dan Zoom, mas Putu mempunyai schedule latihan yang pasti, dan latihan untuk itu bertempat dimana ya mas, selain di rumah mas Putu

PW:
Saya berlatih sekitar 3 atau 4 jam. Jam 10 malam atau sebelumnya sudah selesai, sebab kami latihan di dalam kompleks perumahan, di samping itu khawatir anak-anak ketinggalan bus. Kami latihan di Cirendeu di rumah saya sekarang, setiap kali produksi ada uang transport 10 ribu per kepala plus makan sebelum atau sesudah latihan.

Kalau sudah perlu tempat luas, kami menyewa di Jl. Kimia. Sekarang gedung milik departremen Budpar itu sudah terlalu tua, berbahaya dipakai. (Salah satu ruangan latihan yang kami pakai menyiapkan NGEH pada 1998, sempat runtuh, menghancurkan ptroperti kami). Jadi saya latihan di rumah.


Vero:
Mas Putu kalau saya boleh tahu, bagaimana dengan budget produksi dalam pertunjukan Zoom dan Zero, kira-kira berapa dana yang dikeluarkan untuk produksi pertunjukan Zero dan Zoom? dan berapa harga tiket untuk masing-masing pertunjukannya ya mas?

PW:
Dengan konsep Bertolak Dari Yang ADA, produksi saya selalu dimulai dengan melihat berapa uang yang ada. Setelah itu saya pisahkan untuk transport dan pembuatan properti. Sekitar 80 persen untuk honor pemain. Honor pemain Mandiri antara 750 (anak baru) sampai 3 juta (senior). Karcis urusan TIM biasanya 30 dan 50 ribu


Vero:
Mas Putu, saya kalau yang saya perhatikan pemain dari teater Mandiri hanya yang itu-itu saja, dan usia mereka juga sudah cukup tua, padahal sepengetahuan saya teater Mandiri sangat mengutamakan Fisik dari para pemain, dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk dapat melakukan semua hal yang ada di panggung, apalagi setiap teater Mandiri mentas, semua pemainnya kan harus berada dipanggung semua.

Saya saja yang masih muda kadang-kadang kelelahan atau capek kalau melakukan hal yang seperti olah tubuh. Sebenarnya bagaimana dengan energi dari para pemain di Teater Mandiri? Dan bagaimana dengan regenerasi dari pemain teater Mandiri. Apakah tidak terjadi regenerasi pemain dalam teater Mandiri, apa alasannya ya mas?

PW:
Pertanyaanmu pernah ditanyakan okleh seorang professor di Taipeh setelah melihat pertunjukan ZERO. Saya jawab memang mengherankan, pada kami usia tidak menjadi ukuran. Kribo misalnya yang ikut Mandiri sejak tahun 1974, sampai sekarang tetap bisa melakukan apa yang saya minta.

Bahkan dia jauh lebih kuat sekarang dibandingkan dengan 34 tahun yang lalu. Pengalaman dan kematangannya membuat ia tetap kuat. Sedangkan anak-anak muda jarang yang mau bergabung, jadi saya tidak bisa memaksa,. Dalam Mandiri sekarang ada generasi KRIBO sejak tahun 1974, ada generasi WENDY dan UCOK, sejak tahun 1980 dan generasi Chandra 1991, lalu generasi Bei (1995) Kemudian generasi Agung, Kleng dan Diyas (2004). Pada Mandiri regenerasi itu tidak bisa dibuat/dipacu, mereka melahirkan dirinya sendiri.


Vero:
Mas Putu, hanya untuk menambah informasi saya saja, dalam setahun mas Putu bisa menghasilkan berapa karya, baik dalam drama, teater, maupun novel?

PW:
Minimal satu atau dua untuk masing-masing jenis. Tapi saya menulis setiap hari. Saya punya kolom setiap minggu di berbagai penerbitan yang merupakan gabungan esei dan cerpen. Menulis buat saya sudah pekerjaan.


Vero:
Mas Putu, apakah pertunjukan Zero yang mas Putu lakukan di GBB sama dengan apa yang dilakukan di TUK? Karena menurut informasi yang saya dapatkan dari mba Lousy pertunjukan yang di GBB menggunakan bandot, menunjukan gambar-gambar dari beberapa tokoh politik yang teraniyaya seperti Munir dan Marsinah, sedangkan apa yang saya tonton dari hasil dokumentasi yang di TUK, sangat berbeda sekali, meskipun dalam segi penceritaan dan makna yang diusung hampir sama.

Apakah mas Putu punya dokumentasi pertunjukan Zero yang di GBB. Kalau ada saya mau minta dicopykan untuk bahan perbandingan saya dalam menulis nanti. Kemudian saya juga belum mendapatkan hasil pertunjukan Zoom.

PW:
Beda. Pementasan itu tumbuh. ZERO yang di GBB itu hanya demo untuk membuka Festival Teater 2006, dokumentasinya ada di DKJ dibuat oleh ZOEL.


Vero:
Mas Putu bolehkan saya meminjam Booklet pertunjukan Zero dan zoom, dan beberapa foto-foto latihan teater mandiri, yang memuat tentang pertunjukan Zoom dan zero, sebagai referensi saya….

PW:
Dalam dokumentasi kami brengsek. Coba lihat di DVD yang saya berikan.

Pahlawan Sejati

Seperti kerlip bintang di tengah lautan bagi nelayan, yang kita perlukan hanya cahaya kecil di dalam gelap. Tetap setia menyala dalam badai dan hujan, membentuk jiwa manusia supaya berjuang mengalahkan nasib, membawa seluruh cita-citanya menjadi kenyataan.

Bahkan ketika tidak seorang pelaut pun memandang ke langit, ketika tidak seorang pun manusia bimbang kehilangan peta, cahaya itu harus terus berkobar untuk dirinya sendiri

Pahlawan sejati adalah cahaya yang menuntun rakyat ke tujuan. Menemani langkah setiap orang menembus kemelut hidup menuju terang. Membisikkan pesan agar selalu memenangkan kebenaran. Dia jadikan hidup sebuah pertempuran panjang dengan pengabdian, pengorbanan demi kebahagiaan bersama.

Direbutnya kemerdekaan, dituntunnya perbedaan menjadi kelebihan, hingga negeri puluhan ribu pulau, ratusan bahasa, berbagai suku bangsa- dan panutan hidup, serta keyakinan ini, damai berdampingan dalam keragaman.

Pahlawan sejati adalah sebuah peta, orang tua, guru, teman bermain dan lawan bertengkar. Tak jarang ia menjadi musuh manakala kita khinati nurani, hilang akal, lalu brutal, melupakan diri sebagai bagian keutuhan.

Padahal di dalam kemerdekaan, kita selalu akan berhadapan dengan orang lain yang persis sama merdekanya seperti kita, hingga arti kemerdekaan adalah tidak merdeka.

Pahlawanlah yang meyakinkan kita untuk memaknakan ketidakmerdekaan dalam kemerdekaan, sesungguhnya sebuah keindahan yang dahsyat.

***

Kita hidup dalam rimba-raya kesulitan, tempat matahari dan bulan hadir berbareng, hingga tak kenal malam tak ada siang, semua luluh dalam kerja yang tak pernah putus.

Kita dikepung oleh berbagai ketakberdayaan yang membuat kita terjerat lingkaran setan. Udara beracun, ledakan penduduk, kemacatan, banjir, letusan gunung, tsunami, kemiskinan, korupsi, judi, narkoba, bentrokan, kebakaran, hantu flue burung serta momok demam berdarah.

Belum lagi di antara gedung jangkung, hotel, mal dan mobil mewah, puluhan ribu anak jalanan tak pernah makan sekolahan.

Tak hanya dalam revolusi, pada saat mengisi kemerdekaan pun kita memerlukan pahlawan sejati, tangan kuat, hati baja, pengorbanan tulus dan tindakan-tindakan cepat-tepat-ketat yang dahsyat berpihak kepada rakyat tak berdaya.

Maka pada Hari Pahlawan ini, dari lubuk hati terdalam, perkenankan kami bangsa pasang tabik, haturkan hormat padamu Kusuma Bangsa. Sampai akhir hayatmu engkau menjadi cahaya yang tak henti-hentinya berpedar menerangi persada Nusantara hingga jiwa kami bergelora.

Tak hanya lorong gelap, seluruh wilayah Tanah Air yang terang mendambakan sinar yang memancar dari seluruh gebrakanmu untuk membangun, membetot dan mencintai. Apimu mendorong langkah kami ke depan agar semakin berlimpah pencapain.

Di tanganmu yang perkasalah, bangsa dan negara akan menjadi keren, nyaman dan asyik. Di gebrakanmu yang pantang menyerah, kami semua diingatkan bahwa kerja adalah ibadah.

Nasib bangsa ini ditentukan oleh dengus nafas kita sendiri dalam merebut kehidupan yang lebih sempurna. Kita semua pengisi kemerdekaan, berkewajiban bertindak berani tapi terkendali, cepat tetapi tepat, total tetapi tidak brutal, agar menjadi teladan, hingga terpahat di dinding hati para penerus kita di masa depan nanti, sebagai pahlawan sejati.