Yearly Archives: 2007

Selamat Tahun Baru 2008

Happy New Year 2008

Keputusan Dewan Juri FFI 2007

Penyerahan keputusan dari Dewan Juri  FFI 2007 Kepada Panitia.

Ngamen di Untirta

Ngamen di Untirta pada 8 Desember 07, sambil membawakan monolog KEMERDEKAAN dan SETAN, muncul pertanyaan:

  1. Apakah lomba baca puisi dapat dislenggarakan tanpa ada batas perbedaan usia?
  2. Anda mungkin kenal dengan 200 orang tetapi dikenal oleh 40 orang, bagaimana perasaan Anda terhadap itu?
  3. Jadi sastra tidak hanya menghibur tetapi menyuruh berpikir.
  4. Apa sumber penulisan Anda yang paling memotivasi Anda untuk menulis?
  5. Mengapa judulnya Anda hanya satu kata?
  6. Apa yang menyebabkan di Banten tidak lahir banyak sastrawan?

 

Yumelda Chaniago: FFI 2007

Wawancara oleh Yumelda Chaniago (Suara Pembaruan) melalui email.

1. Dalam list nominee kategori tata musik 4 di antaranya merupakan musisi yg telah dikenal, hanya satu yaitu Bobby Surjadi yg kurang dikenal.

Dgn komposisi spt itu terkesan juri ffi thn ini berusaha mencari jalan aman, agar tdk tertipu spt juri thn lalu dlm kasus ekskul, shg lebih memilih musisi2 yg punya nama. Bagaimana tanggapan mas Putu?

JAWAB:

Juri dalam menilai film-film itu di Studio 5 , XXI, Planet Hollywood, tidak membedakan jenis film, tidak melihat siapa produsernya dan tidak melihat latar belakang personal dari pendukungnya.

Setelah kami sepakat pada pilihan kami, yang kami lakukan dengan terus-menerus berdiskusi, baru kami lihat siapa-siapa pilihan kami itu untuk membuat laporan.

2. Boleh tau mas pertimbangannya apa, juri memilih para nominee di tata musik tersebut?

JAWAB:

Pertimbangan untuk unsur film, termasuk musik, dalam pemilihan nominasi, adalah seberapa jauh unsur-unsur itu mendukung film itu, sehingga menjadi bagian yang integral dengan film, bukan berdiri sendiri.

Untuk musik khususnya, walaupun materinya bagus sebagai musik yang berdiri sendiri, tetapi kalau kaitannya dengan film bila tidak mendukung, malah mengganggu, kami sisihkan.

3. Apa langkah antisipasi yg telah dilakukan juri untuk menghindari kembali terjadinya kasus ekskul?

JAWAB:

Panitia Festival, dalam menerima film untuk diikutsertakan dalam festival memberi persyaratan, adanya pernyataan tertulis bahwa itu karya asli. Itu pun ditambah dengan kemungkinan bila ada keraguan atau ada bukti bahwa itu bukan karya asli, tidak akan dinilai.

4. Panitia penyelenggara ffi thn ini bertekad akan menyelenggarakan ffi thn ini scr ideal, krn ffi merupakan penghargaan film tertua di Indonesia. Ideal yg spt apa yg diinginkan penyelenggara khususnya dlm penjurian thn ini?

JAWAB:

Itu mesti Anda tanyakan pada panitia. Bagi kami para juri, ini adalah tugas kehormatan. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memilih yang terbaik. Alhamdulillah, ternyata kelima juri tidak menemukan banyak kesulitan dalam memilih nominasi.

5. Bedanya dgn penjurian ffi di thn2 sebelumnya apa mas?

JAWAB:

Setahu saya bedanya, karena FFI 07 pesertanya kurang dari 40, menurut peraturan (Bab II Mekanisme Penjurian FFI, Pasal 3, Komite Seleksi) , tidak diadakan babak selesi. Jadi kami Dewan Juri langsung memilih nominasi (sudah diumumkan) dan kemudian memilih yang terbaik yang nanti diumumkan di Pekanbaru.

6. Katanya akan ada kategori film berbhs indonesia terbaik?

JAWAB:

Itu sebaiknya Anda tanyakan pada panitia. Yang saya tahu, itu akan merupakan pilihan dari penyelenggara setempat, bukan kami juri.

7. Apa aja nominasinya? Kok ga ada di pengumuman.

JAWAB:

Tugas itu tidak diberikan kepada kami.

8. Apa wewenangnya di pemda riau? Bagaimana ceritanya mas?

JAWAB:

Sebaiknya Anda tayakan ke Panitia: Mas Labbes Widar atau Mas Wina Armada

AIDS

“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.

Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain, menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”

“Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,”lanjut Ami menyambung ceramahnya, “karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi.

Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu?”

Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level.

“Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi.

Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan, juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati.

Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah jatuh.

Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa, 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Terimakasih!”

Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu.

Semuanya mengucapkan selamat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara, juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu.

Dengan loyo Ami pulang ke rumah.

“Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. “Apa ceramahmu gagal, Ami?”

” Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi.”

Amat terkejut.

“Kamu bilang begitu?”

“Ya.”

Mata Amat semakin membelalak.

“Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?”

“Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!”

Amat bengong.

“Aduh. Kenapa jadi bisa begitu?”

“Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!”

Amat terhenyak.

“Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?”

“Bukan hanya itu, tetapi kehilangan otak, karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!”

Amat memandang tajam Ami.

“Ami!”

“Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!”

“O ya?”

“Ya! Malah ada yang menyindir, dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!”

Muka Amat bersemu merah.

“Mereka bilang begitu?”

“Ya. Ami kan jadi malu!”

Amat mengangguk-ngangguk. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya.

“Wah, itu sangat dalam Ami!”

“Apa?”

“Bagaimana mereka tidak akan memujimu, kalau dalam usia semuda kamu, yang belum menikah, cantik lagi, kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!”

Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Lalu bergegas keluar, hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah, untuk mendengar sendiri secara langsung, pujian mereka kepada Ami.

Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu.

“Kenapa Ami. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri.

Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu sakit?”

“Ya. Ternyata benar. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja, Bapak juga sama saja. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang.

AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?”

Bu Amat tersenyum.

“Kalau begitu, benar juag komentar ibu-ibu itu, isi ceramahmu bagus sekali.”

“Apa?”

“Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan, bukan yang kamu katakan Ami. Hanya saja karena orang sederhana, mereka tak mampu mengucapkannya, atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan, ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik.”

Merdeka

Di penghujung 2007 Amat bingung. Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancauan kebenaran, ketidakadilan dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan?

Amat terkenang pada peringatan hari kemerdekaan yang lalu. Memang sudah usang karena sudah 62 kali diulang-ulang dengan jawaban yang juga bulukan. Merdeka berarti tidak lagi disuapi, dilindungi, dijaga dan diasuh oleh negara penjajah.

Merdeka berarti harus cari makan dan bertahan hidup di atas kaki sendiri. Merdeka sama dengan tidak lagi ditindas, tidak diinjak-injak, tidak lagi dikadali oleh sang penjajah di bawah ancaman senjata, tetapi atas kemauan kita sendiri.

Amat terkejut.

Dengan kemauan sendiri? Kemauan siapa? Siapa yang masih mau diinjak, ditindas, dikadali hari gini?

Ya kalau sudah merdeka, berarti seluruh perbuatan adalah atas kehendak diri sendiri. Atas pilihan yang bersangkutan. Tidak karena diperintah. Bukan akibat tekanan. Bahkan mana mungkin akibat disuruh-suruh oleh orang lain. Pastilah itu kehendak sendiri yang sudah bebas bersuara, lepas bertindak, yang sudah merdeka dalam merasa dan berpikir.

Jadi kemiskinan. Keterpurukan. Perpecahan. Gontok-gontokan dan kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita sekarang itu, adalah kehendak sendiri? Gila!

Habis kehendak siapa lagi, kan kamu sudah merdeka?!

Amat kaget.

Mana mungkin! Tidak ada orang yang ingin membuat dirinya miskin, terpuruk apalagi bejat moral. Itu semua pemutar-balikkan fakta!

Terserah, kamu sudah merdeka jadi bebas untuk menuduh dan mencari kambing hitam! Kamu juga boleh seenak perut kamu mengeluarkan apa saja dari mulutmu yang merdeka. Tapi ingat, yang tidak benar walau pun keluar dari mulut yang merdeka tetap saja salah.

Amat marah sama renungannya sendiri. Tapi waktu ia hendak membentak,
istrinya muncul.

“Kok ngomong sendiri, Pak?”
“Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.”
“Mikiran apa? Mau kawin lagi?”

Amat tertawa.

“Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.”
“O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!”
“Bukan begitu!”

“Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!”

Amat tertegun.

“Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini!”

Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.

“Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada?”
“Itu warnanya sudah belel!”
“Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!”
“Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!”

Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di
depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti
yang baru.

Seorang tetangga menghampiri.

“Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.”

Amat menggeleng.

“Kan tidak dipakai?”
“Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru.”
“Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.”

Amat menolak tegas.

“Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.”

Tetangga ketawa.

“Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!!”

Amat tersenyum.

“Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!”

“Ah bilang saja pelit!

Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir.

Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat!

Amat kaget.

Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami.

Memahami apa?

Memahami apakah kita benar sudah merdeka?

Apakah kita sudah merdeka?

Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.

Pahlawan

Setelah membaca berita, Amat termenung sehari penuh. Makannya kurang. Suaranya hilang. Ia tidak membalas senyum, walau pun Bu Amat sudah cengar-cengir mengajak berbaikan setelah semalam agak tegang. Bahkan ketika tetangga mengundangnya untuk makan duren, ia menolak.

Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak.

“Bapak kelihatannya keki ya. Kenapa?”

Amat terkejut. Tetapi kemudian berterimakasih.

“Kok terimakasih?”

“Habis itu berarti kamu memperhatikan Bapak. Bapak memang kesal sekali.”

“Jangan begitu Pak, Ibu kan kelihatannya sudah mau ngajak baikan. Dimasakin segala macam. Hargai dong!”

“O, ini bukan masalah aku dan ibumu.”

“Lalu masalah apa lagi?”

Amat memandang Ami tajam-tajam.

“Denger Ami, ini serius. Bapak senang sekali sebab kamu sudah bertanya. Bapak tidak usah capek-cepak lagi mencari kesempatan bicara. Begini. Nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih, pokoknya kalau Bapak sudah tidak ada, jangan sama sekali kamu biarkan ada orang yang berbicara tidak benar tentang Bapak.”

“Ah itu sudah pasti! Kalau ada yang menjelek-jelekkan Bapak, Ami akan langsung saja jawab tidak peduli di mana tempatnya. Maksud Bapak tetangga kita yang pernah menuduh Bapak itu korupsi, kan?”

“Bukan!”

“Lalu siapa?”

“Kalau ada yang mau menjelek-jelekkan Bapak biarkan saja. Kalau kamu bela, malah nanti orang akan semakin percaya. Biarkan kenyataan itu berbicara sendiri. Tapi kalau ada yang berbicara tidak benar tentang Bapak, kamu harus bertindak dan menolak!”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mengatakan aku ini pahlawan, bahkan kalau pemerintah mengangkat aku menjadi pahlawan, kamu harus cepat, tegas dan berani menolak. Sebab aku bukan pahlawan!”

“Lho, tapi kan Bapak sudah berjuang dulu waktu revolusi?”

“Ah mengantongi lencana merah-putih dan bersimpati pada para pejuang itu, namanya belum berjuang. Bahkan membantu para gerilya dengan ketupat waktu mereka masuk hutan juga belum bisa dikatakan berjuang. Kalau sampai memanggul senjata, tertembak dan gugur, seperti Letkol IGN Rai itu baru pejuang. Kalau hanya salah tangkap dan dipukuli atau dimaki-maki, itu belum pejuang. Bapak bukan pejuang. Jadi tidak pantas menerima sebutan pahlawan, mengerti?”

Ami tak menjawab.

“Kok tidak menjawab?”

“Habis Bapak egois! Buat bapak sebutan pahlawan itu mungkin tidak penting, tapi buat Ami dan buat Ibu penting sekali. Kemungkinan untuk dapat posisi akan lebih gampang sebagai anak pahlawan. Apalagi kalau nantinya ada santunan uang, rumah dan sebagainya.

Masak kita terus-terusan harus tinggal di rumah tua seperti ini, sementara semua teman-teman Ami sudah pindah ke real estate? Boleh dong Ami dan Ibu merasakan kenikmatan. Masak berjuang dan menderita terus. Kita kan sudah merdeka?!”

Amat kontan mau menjawab, tetapi Ami sudah berdiri.

“Bapak boleh merasa kepahlawanan Bapak itu bukan apa-apa, tapi jangan memaksa saya berbohong. Itu namanya penggelapan sejarah!” kata Ami sambil pergi.

Amat termenung. Ia teringat masa-masa perjuangan. Puluhan teman-teman sekolahnya lenyap di dalam rimba. Mereka pejuang-pejuang sejati. Tetapi ia sendiri, hanya memainkan peran kecil yang tidak penting. Ia malu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berjuang. Tetapi ia tak sanggup menolak ketika teman-temannya mendaulat agar ia menjadi ketua perhimpunan bekas pejuang.

Bu Amat mendekat, lalu menyapa.

“Bapak masih marah?”

Amat mengangguk.

“Ya. Tapi bukan karena yang tadi malam.”

“Karena apa?”

“Karena sekarang semakin rancu mana yang pahlawan, mana yang tidak. Aku jadi bingung, sejarah kok bisa ditulis lagi. Tadi aku bilang pada Ami, kelak kalau ada yang mau mengangkatku sebagai pahlawan, dia harus berani mengatakan tidak. Sebab aku bukan pahlawan.”

Bu Amat kaget.

“Jadi kalau begitu, semua cerita itu tidak betul?”

“Cerita yang mana?”

“Bapak kan dulu mengatakan bahwa Bapak pernah tertembak dua kali. Bapakku dulu sangat kagum dan hormat melihat bekas luka peluru itu. Ami juga selalu mencantumkan dalam riwayat hidupnya, bahwa Bapak pernah berjuang. Itu di dalam lamaran untuk menjadi asisten dosen, dia juga bilang bahwa dia adalah putri pejuang kemerdekaan, putri seorang pahlawan.”

“O ya?”

“Ya! Tapi apa semua itu bohong? Apa semua itu hanya cerita yang Bapak karang-karang supaya Bapakku mengizinkan aku kawin dengan Bapak dulu?”

Amat terkejut. Ia hampit saja hendak berterus-terang bilang ya, tetapi mata istrinya begitu serius. Bahkan terlalu serius.

“Jadi semua itu bohong, Pak????”

“Bukan bohong! Tapi untuk apa sih menceritakan soal-soal kepahlawanan yang sudah lewat,. Yang penting kan apa yang kita perbuat hari ini.”

“Tapi sejarah itu tidak boleh dihapuskan, Pak. Pahlawan harus tetap pahlawan. Apa salahnya orang jadi pahlawan. Ya tidak? Itu kan membuat keluarga jadi bangga dan kita dihormati? Ya tidak!”

Amat mengangguk.

“Lho ya tidak?!!!!”

“Ya.”

Malam-malam setelah istrinya tidur, Amat mendekati Ami.

“Ami, soal pahlawan tadi ada perubahan.”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mau menjadikan Bapak pahlawan, biar sajalah.”

Ami tertegun.

“Tidak keberatan kan?”

“Sangat keberatan. Kalau ada yang hendak menjadikan Bapak pahlawan, padahal Bapak bukan pahlawan, Ami yang pertama akan mengatakan: bohong!”