Putu Wijaya

Masukan dari Desember 2007

Selamat Tahun Baru 2008

27 Desember 2007 · & Komentar

Happy New Year 2008

Kategori: Uncategorized
Ditandai:

Keputusan Dewan Juri FFI 2007

9 Desember 2007 · & Komentar

Penyerahan keputusan dari Dewan Juri  FFI 2007 Kepada Panitia.

Kategori: film
Ditandai:

Ngamen di Untirta

9 Desember 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ngamen di Untirta pada 8 Desember 07, sambil membawakan monolog KEMERDEKAAN dan SETAN, muncul pertanyaan:

  1. Apakah lomba baca puisi dapat dislenggarakan tanpa ada batas perbedaan usia?
  2. Anda mungkin kenal dengan 200 orang tetapi dikenal oleh 40 orang, bagaimana perasaan Anda terhadap itu?
  3. Jadi sastra tidak hanya menghibur tetapi menyuruh berpikir.
  4. Apa sumber penulisan Anda yang paling memotivasi Anda untuk menulis?
  5. Mengapa judulnya Anda hanya satu kata?
  6. Apa yang menyebabkan di Banten tidak lahir banyak sastrawan?

 

Kategori: Uncategorized
Ditandai: , , ,

Yumelda Chaniago: FFI 2007

5 Desember 2007 · 1 Komentar

Wawancara oleh Yumelda Chaniago (Suara Pembaruan) melalui email.

1. Dalam list nominee kategori tata musik 4 di antaranya merupakan musisi yg telah dikenal, hanya satu yaitu Bobby Surjadi yg kurang dikenal.

Dgn komposisi spt itu terkesan juri ffi thn ini berusaha mencari jalan aman, agar tdk tertipu spt juri thn lalu dlm kasus ekskul, shg lebih memilih musisi2 yg punya nama. Bagaimana tanggapan mas Putu?

JAWAB:

Juri dalam menilai film-film itu di Studio 5 , XXI, Planet Hollywood, tidak membedakan jenis film, tidak melihat siapa produsernya dan tidak melihat latar belakang personal dari pendukungnya.

Setelah kami sepakat pada pilihan kami, yang kami lakukan dengan terus-menerus berdiskusi, baru kami lihat siapa-siapa pilihan kami itu untuk membuat laporan.

2. Boleh tau mas pertimbangannya apa, juri memilih para nominee di tata musik tersebut?

JAWAB:

Pertimbangan untuk unsur film, termasuk musik, dalam pemilihan nominasi, adalah seberapa jauh unsur-unsur itu mendukung film itu, sehingga menjadi bagian yang integral dengan film, bukan berdiri sendiri.

Untuk musik khususnya, walaupun materinya bagus sebagai musik yang berdiri sendiri, tetapi kalau kaitannya dengan film bila tidak mendukung, malah mengganggu, kami sisihkan.

3. Apa langkah antisipasi yg telah dilakukan juri untuk menghindari kembali terjadinya kasus ekskul?

JAWAB:

Panitia Festival, dalam menerima film untuk diikutsertakan dalam festival memberi persyaratan, adanya pernyataan tertulis bahwa itu karya asli. Itu pun ditambah dengan kemungkinan bila ada keraguan atau ada bukti bahwa itu bukan karya asli, tidak akan dinilai.

4. Panitia penyelenggara ffi thn ini bertekad akan menyelenggarakan ffi thn ini scr ideal, krn ffi merupakan penghargaan film tertua di Indonesia. Ideal yg spt apa yg diinginkan penyelenggara khususnya dlm penjurian thn ini?

JAWAB:

Itu mesti Anda tanyakan pada panitia. Bagi kami para juri, ini adalah tugas kehormatan. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memilih yang terbaik. Alhamdulillah, ternyata kelima juri tidak menemukan banyak kesulitan dalam memilih nominasi.

5. Bedanya dgn penjurian ffi di thn2 sebelumnya apa mas?

JAWAB:

Setahu saya bedanya, karena FFI 07 pesertanya kurang dari 40, menurut peraturan (Bab II Mekanisme Penjurian FFI, Pasal 3, Komite Seleksi) , tidak diadakan babak selesi. Jadi kami Dewan Juri langsung memilih nominasi (sudah diumumkan) dan kemudian memilih yang terbaik yang nanti diumumkan di Pekanbaru.

6. Katanya akan ada kategori film berbhs indonesia terbaik?

JAWAB:

Itu sebaiknya Anda tanyakan pada panitia. Yang saya tahu, itu akan merupakan pilihan dari penyelenggara setempat, bukan kami juri.

7. Apa aja nominasinya? Kok ga ada di pengumuman.

JAWAB:

Tugas itu tidak diberikan kepada kami.

8. Apa wewenangnya di pemda riau? Bagaimana ceritanya mas?

JAWAB:

Sebaiknya Anda tayakan ke Panitia: Mas Labbes Widar atau Mas Wina Armada

Kategori: wawancara
Ditandai: , ,

AIDS

1 Desember 2007 · & Komentar

“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.

Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain, menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”

“Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,”lanjut Ami menyambung ceramahnya, “karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi.

Dulu siapa yang mengidap AIDS, akan dikucilkan bahkan ditembaki kalau mau berhubungan dengan masyarakat. Sekarang malah diundang berceramah, agar masyarakat sadar bahwa orangnya tidak berbahaya, kecuali berhubungan badan atau darah kita kecipratan darahnya. Yang paling ditakuti sekarang sudah ganti dengan wajah baru. Ibu-ibu tahu apa itu?”

Para ibu yang mendengarkan ceramah tidak menjawab. Ami curiga sebagian besar nampaknya tidak mendengarkan apa yang sudah ia provokasikan. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencicil pel penghambat ketuaan yang ditawarkan oleh seorang ibu yang gencar menawarkan produk multi level.

“Sekarang yang paling berbahaya, yang nomor satu ditakuti, yang paling mengancam kita, bukan lagi HIV, bukan lagi AIDS, bukan lagi kehilangan kekebalan tubuh tetapi kehilangan kedudukan. Semua orang Indonesia sekarang takut kehilangan kursi.

Kehilangan jabatan bukan hanya berarti kehilangan kehormatan dan kekuasaan, juga kehilangan kesejahteraan. Kedudukan sekarang sudah identik dengan uang. Tanpa kedudukan, orang akan bangkrut dan mati.

Karena itu mereka yang sedang menjabat dengan berbagai cara berusaha untuk mempertahankan kursinya. Bila perlu dengan cara melawan hukum. Moral kita sudah jatuh.

Itulah penyakit yang lebih membunuh dari kehilangan kekebalan, karena bukan hanya satu orang akan mati akibat tidak kebal, tetapi tetapi seluruh bangsa, 220 juta manusia akan lenyap karena tidak punya rasa yang bersih lagi. Terimakasih!”

Ibu-ibu bertepuk tangan gembira dan gegap gempita. Seakan-akan mendapat siraman kesejukan setelah lelah dihajar muntahan kata-kata Ami yang hampir satu jam itu.

Semuanya mengucapkan selamat. Mereka memuji-muji kepasihan Ami dalam berbicara, juga karena dadanan dan rambutnya yang menarik. Tapi setelah itu mereka merubung ibu yang membawa pel penghambat ketuaan itu.

Dengan loyo Ami pulang ke rumah.

“Kenapa keok seperti itu?” tanya Amat menyambut. “Apa ceramahmu gagal, Ami?”

” Dari awal saya tahu akan gagal. Tetapi yang paling menyakitkan adalah karena tidak seorang pun yang memprotes ketika Ami bilang bahwa AIDS itu tidak berbahaya lagi.”

Amat terkejut.

“Kamu bilang begitu?”

“Ya.”

Mata Amat semakin membelalak.

“Kenapa? Apa kamu kesleo? Kalau ucapan salah kan bisa diralat waktu itu juga?”

“Bukan kesleo! Ami mengucapkan secara sadar bahkan berapi-api!”

Amat bengong.

“Aduh. Kenapa jadi bisa begitu?”

“Karena nyatanya memang begitu! HIV, AIDS memang nomor satu sebagai pembunuh manusia. Tetapi kemerosotan akhlak yang menyebabkan seluruh bangsa kita kehilangan karakter, tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu, tidak peduli kepada kemanusiaan, seenaknya saja melakukan pelanggaran hukum demi keuntungan diri dan golongannya, adalah pembunuh yang akan menghancurkan 220 juta manusia sekaligus. Itu lebih berbahaya seribu kali daripada AIDS!”

Amat terhenyak.

“Maksudmu bangsa kita sudah kehilangan harga diri?”

“Bukan hanya itu, tetapi kehilangan otak, karena semuanya ingin hidup enak! Itu sudah melumpuhkan kita seribu kali lebih cepat dati AIDS!”

Amat memandang tajam Ami.

“Ami!”

“Dan mereka semuanya percaya lalu bertepuk tangan memuji-muji!”

“O ya?”

“Ya! Malah ada yang menyindir, dasar anak Pak Amat! Apa nggak sakit!”

Muka Amat bersemu merah.

“Mereka bilang begitu?”

“Ya. Ami kan jadi malu!”

Amat mengangguk-ngangguk. Seperti membayangkan bagaimana para ibu kampung itu menyalami anaknya.

“Wah, itu sangat dalam Ami!”

“Apa?”

“Bagaimana mereka tidak akan memujimu, kalau dalam usia semuda kamu, yang belum menikah, cantik lagi, kamu kok menyadari penyakit apa yang sedang mengancam keselamatan kita sebagai bangsa! Kamu hebat. Bapak bangga kamu sudah mengatakan itu! Selamat!”

Amat langsung menepuk-nepuk pundak Ami. Lalu bergegas keluar, hendak menemui para ibu yang mengikuti ceramah, untuk mendengar sendiri secara langsung, pujian mereka kepada Ami.

Ami kebingungan. Ia memandangi Amat seperti melihat hantu.

“Kenapa Ami. Bapakmu ngomong apa?” tanya Bu Amat menghampiri.

Ami menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa? Kamu sakit?”

“Ya. Ternyata benar. Semua orang sekarang sudah mengkaitkan segala-galanya dengan politik. Bukan hanya ibu-ibu itu saja, Bapak juga sama saja. Masak Bapak senang sekali waktu saya katakan bahwa AIDS dan HIV tidak lebih berbahaya dari krisis moralitas yang sedang menimpa bangsa kita sekarang.

AIDS sudah dianggap enteng, yang paling penting sekarang bagaimana mencari kedudukan, karena itu berarti duit! Bagaimana kita akan memberantas AIDS yang semakin merebak bahkan di Bali ini, kalau pikiran kita sudah dikacaukan oleh politik terus?”

Bu Amat tersenyum.

“Kalau begitu, benar juag komentar ibu-ibu itu, isi ceramahmu bagus sekali.”

“Apa?”

“Mereka umumnya menangkap apa yang ingin kamu katakan, bukan yang kamu katakan Ami. Hanya saja karena orang sederhana, mereka tak mampu mengucapkannya, atau memberi komentar seperti yang kamu inginkan, ya paling banter mereka hanya bilang kamu cantik.”

Kategori: cerpen
Ditandai: ,