Putu Wijaya

Masukan dari Januari 2008

Pahlawan

30 Januari 2008 · 1 Komentar

“Bung Karno, Bung Hatta, Pak Harto, dimakamkan di luar makam pahlawan, apakah itu tidak akan mengurangi wibawa makam pahlawan?” tanya seorang tetangga.

Pertanyaan itu menyebabkan Pak Slamet, pejuang kemerdekaan, tertegun. Banyak bintang jasa melekat di dadanya. Di dinding kamar bergantungan kenang-kenangan semasa perjuangan. Dharma-bhaktinya kepada negara tak perlu diragukan lagi. Orang yakin kalau Slamet meninggal, tempatnya di peristirahatan paling terhormat itu.

Lalu Slamet berunding dengan istrinya.

“Bu, bagaimana nanti kalau aku jangan dikuburkan di makam pahlawan, tapi di pekuburan umum biasa saja?”

Bu Slamet terkejut. Ia tidak langsung menjawab suaminya, tetapi memanggil anak-anaknya untuk diajak berunding.

“Bapakmu itu makin tua makin aneh. “katanya, “masak sekarang dia mau membuang semua jasa-jasanya yang sudah menyebabkan hidup kita semua menderita. Coba kalau dia tidak menghabiskan waktunya berjuang untuk membela bangsa dan negara, tapi jadi pedagang saja, barangkali dia sudah jadi konglomerat sekarang seperti yang lain-lain. Hidup kita pun tidak pas-pasan dan dihinakan seperti sekiarang ini. Coba kritik bapakmu itu, jangan punya niat macam-macam lagi kalau sudah tua!”

Anak-anak Pak Slamet terbelah dalam dua kutub pendapat. Satu pihak setuju bapaknya, yang lain kontra. Yang kontra lalu maju dan mulai menggerpol.

“Saya dengar Bapak mau melepaskan hak Bapak untuk dimakamkan di makam pahlawan?”

“Itu bukan hak, tetapi penghargaan negara bagi para pejuang.”

“Ya apa pun namanya, tapi itu sebuah kehormatan yang baik untuk kita semua. Jadi berikanlah kesempatan kepada kami untuk berbangga dan berikanlah kesempatan negara untuk menghargai pahlawan-pahlawannya.”

“Tapi aku bukan pahlawan.”

“Pak, tanda jasa dan penghargaan yang setumpuk itu tidak bisa dibohongi. Semua orang tahu Bapak ini pahlawan.”

“Aku bukan pahlawan!”

“Jangan begitu, Pak!”

“Aku tidak pernah merasa diriku jadi pahlawan! Lihat saja, apa akibatnya sekarang karena aku terlalu sibuk berjuang? Akibat tidak memperhatikan nasib keluarga, sekolah kalian semuanya putus. Kita tidak punya rumah sendiri. Kendaraan tidak ada. Di mana-mana kita tidak diterima karena kita tidak pakai dasi dan jas. Akibat bapak tidak punya kedudukan, ibumu dilecehkan oleh keluarganya! Aku orang yang gagal!”

Pak Slamet kemudian menutup mukanya dan menangis. Anak-anak terpaksa menyerah. Untung ibunya datang dan langsung membentak.

“Makanya! Kalau sudah sadar tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan, jangan sok membuang-buang kesempatan, tidak mau dimakamkan di makam pahlawan. Itu namanya tidak tahu diri! Egois! Sudah jangan mewek! Pahlawan kok menangis!”

Pak Slamet terpaksa menghentikann tangisnya. Pada kesempatan yang baik, dia kemudian mengadu kepada anak-anak yang menyetujui sikapnya.

“Meskipun aku ini pahlawan yang dulu selalu berjuang dan pantang menyerah menghadapi musuh yang galak seperti setan sekali pun,” bisiknya supaya jangan sampai terdengar orang lain, ” tetapi kalau menghadapi masalah-masalah keluarga, terutama berhadapan dengan ibu kamu, aku menyerah. Dia tidak mengerti apa mauku.”

Anak-anaknya mendengarkan dengan penuh simpati.

“Jelek-jelek begini, aku juga ingin memberikan kebanggaan kepada kalian semuanya, karena aku tidak mampu memberikan kebahagiaan materi, seperti teman-temanku yang lain. Mereka punya naluri dagang, pintar melihat kesempatan dan berani menanggung resiko dan berspekulasi. Aku tidak. Bapakmu ini selalu ragu-ragu, tidak berani membuat keputusan. Aku ini keturunan abdi dalem. Jadi yang bisa aku lakukan hanya satu, mengabdi. Menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Tetapi untuk hidup di zaman kemerdekaan, ternyata itu tidak cukup. Jadi Bapak sedih. Kamu mengerti jmaksud Bapak?”

Anak-anak Pak Slamet mengangguk.

“Syukurlah kalau masih ada kalian yang mengerti. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi. Menjadi pahlawan pun bukan kebanggaan lagi. Karena sudah terlalu banyak pahlawan gadungan. Pahlawan kesiangan. Pahlawan karbitan. Kamu dengar itu di Bali, katanya ada orang yang resmi diangkat pahlawan, tapi sudah dibantah lagi oleh para pejuang lain yang mengetahui, bahwa yang bersangkutan bukan pahlawan. Dan periksa siapa-siapa sekarang yang dimakamkan di makam pahlawan. Tidak semuanya adalah orang-orang yang setara kelasnya dengan Pak Dirman. Makanya aku mengerti mengapa Bung Karno, Bung Hatta dan Pak Harto memilih dimakamkan di luar. Kamu mengerti sekarang maksudku?”

Anak-anak tak menjawab.

“Jadi sebenarnya dengan menolak dimakamkan di taman pahlawan, aku sebenarnya ingtin memberikan kebanggaan kepada kalian semua. Kepada ibu kamu, kepada keluarga besar kita. Biar orang-orang itu melihat, tidak semua orang sudah jatuh moralnya dan berebut keuntungdan dan kehormatan. Masih ada Bapakmu ini, dengan segala bintang jasa, penghormatan dan pengabdian jiwa-ragaku yang tanpa pamrih dalam mengabdi negara, kok masih mampu menolak kehormatan tinggi untuk diabadikan di makam pahlawan. Jadi dengan tindakanku ini sebenarnya Bapak bukannya ingin memangkas kebanggaan kalian. Tidak! Tetapi justru menambah. Media massa nanti pasti akan heboh. Semua orang akan memuji. Lihat itu Pak Slamet, masih murni dan jujur sementara orang lain sudah tidak bisa dipercaya lagi. Begitu maksudku. Kalian paham?”

Anak-anak mengangguk.

“Aku tidak perlu disebut pahlawan atau tidak. Tidak diabadikan di makam pahlawan pun aku sudah pahlawan. Untuk apa terlalu banyak pahlawan bikin sejarah sumpek saja. Yang kita perlukan sekarang adalah perbuatan kepahlawanan. Ya kan?!!”

Anak-anak diam seribu bahasa. Tetapi bukan lantaran menyimak. Karena salah satu di antaranya diam-diam sudah sempat menyelidiki. Ternyata memang tidak ada kapling untuk Pak Slamet di Taman Pahlawan.

Kategori: cerpen

Surga

29 Januari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemakaman Jendral Besar Soeharto, bekas presiden Indonesia selama 32 tahun, berlangsung spektakuler. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna.

“Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini,”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi.

“Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda.

Amat tertegun.

“Maksudmu siapa? Pak Harto?”

Ami mengulang pertanyaannya.

“Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum, siapa saja, sampai ke tempat yang semestinya di sana?”

“O kalau itu, jawabnya, tidak. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Di sana, urusan di sana. Kita tidak mungkin ikut campur. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Besar kecil upakara, tidak menjadi ukuran. Karma almarhum adalah ukurannya. Dan urusan karma …”

Bu Amat memotong.

“Bapak ini suka bertele-tele. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?”

Ami tertawa.

“Bukan Bu, jangan salah sangka. Ami tidak menanyakan itu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Dan aku menegaskan, karma yang akan menjadi ukuran. Jadi … . “

“Jadi masuk surga atau tidak?”

“Ya tidak tahu, itu kan urusan di sana.”

Bu Amat kecewa.

“Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?”

Amat tertegun, lalu menjawab lirih.

“Aku tidak tahu.”

“Ya sudah kalau tidak tahu, jawab tidak tahu, tidak usah ke sana-ke mari!”

Amat tak menjawab. Setelah istrinya masuk kamar lagi, ia baru menoleh paa Ami.

“Ami, di dalam pewayangan diceritakan, setelah perang Bharatayudha, ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan, tidak masuk surga semua. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Yak kan?”

Ami berpikir.

“Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?”

“Ya karena aku tidak tahu.”

“Bohong!”

Amat terkejut, tetapi kemudian senyum.

“Betul. Sebenarnya aku punya pendapat. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar.”

“Apa?”

“Menurutku Pak Harto akan masuk surga.”

Ami kaget.

“O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?”

“Karena begitulah pendapatku.”

“Jadi Bapak mendukung Pak Harto?”

“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?”

“Karena itu tidak adil!”

Ami langsung bangun, lalu masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu keras-keras, sehingga Bu Amat kaget, lalu keluar.

“Ada apa Pak?”

“Anakmu marah-marah lagi!”

“Kenapa?”

“Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga.”

Bu Amat yang sekarang tercengang.

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kenapa Pak Harto akan masuk surga?”

Amat tertawa.

“Kenapa tidak?”

Bu Amat tercengang. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. Amat hanya tertawa.

“Begitulah kita di dunia ini,”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas , karena tidak dibukakan pintu kamar, “Kita lupa, jangankan dunia sana, yang ada di dunia ini saja, tidak semuanya kita ketahui. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. Apa yang di sana akan berubah kalau, kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja, yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. Pasti tepat. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja, kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!”

“Kecil umpannya, kecil ikannya!”, sambung para petugas spontan, meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat.

“Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!”

Para petugas ketawa.

“Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?”

“Ya sudah, yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan, yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!”

“Setuju pak Amat.”

“Harus setuju. Mau betengkar bagaimana lagi, kita sama-sama tidak tahu, surga itu di mana?!”

Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu.

“Kata orang tua saya, surga itu di dalam hati orang lain, Pak.”

Amat terkejut.

“Orang lain bagaimana?”

“Bila kita bisa membahagiakan orang lain, itu surga.”

Kategori: cerpen

Pemakaman Bekas Presiden

28 Januari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.

Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.

Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.

Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”

Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”

Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.

Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.

Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.

“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”

Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.

“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.

Ibunya hanya menjawab.

“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”

Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.

“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”

Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.

“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”

Istri Franki melotot.

“Maksud Abang apa?”

“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”

“Itu karena Abang tidak setuju!”

“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”

“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”

Franki terkejut.

“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”

Istri Franki melotot.

“Kenapa jadi menuduh begitu?”

“Habis kamu membela!”

“Siapa yang membela? Membela apa?”

“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”

“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”

Kategori: catatan

Kebun

14 Januari 2008 · & Komentar

Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Ibunya setuju.

“Untuk apa lapangan badminton, dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England, hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis.

“Kita harus mendukung program melawan pemanasan global, Pak, dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul.

Amat marah sekali. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Kalau Bu Amat sudah mendukung, apa pun suaranya akan tenggelam. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah.

“Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga,”kata Amat berkali-kali, “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami, ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Dengan berolahraga bersama-sama, tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !”

“Ayo Pak! Bantu Ami!”

Amat terpaksa turun tangan. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu.

Tak sampai satu jam, setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami, wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Ia terduduk kelelahan. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat.

Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu, lalu masuk ke dapur. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya.

Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Sekarang semuanya itu akan berakhir.

“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga.

Amat hanya tersenyum.

“Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda.

Sebelum Amat menjawan, anak muda itu mengangguk.

“Bagus Pak. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat.”

Anak muda yang lain, memandang dengan kecewa.

“Yah, Pak Amat, padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Sekarang batal dah!”

Amat tak berusaha menanggapi. Ia hanya menjadi tambah sedih. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul, karena sudah terlanjur. Sampai sore, ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit.

Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Lebih banyak karena kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga, ketika ia mengalah, anak-istrinya bukannya tahu diri, malahan tambah menjajah.

“Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat, tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri, padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun, kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati.

Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas.

Esoknya, pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Heran sekali, kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan, sekarang dalam tempo dua jam, hampir separuh lapangan sudah tergarap.

“Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan.

Amat pura-pura tak mendengar, malah menambah cepat ayunan cangkulnya.

“Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya.. “Sudah, sudah Pak, jadi rusak dah lapangannya!”

Amat berhenti dann tercengang.

“Apa?”

“Jadi rusak lapangannya!”

“Memang dirusak, kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!”

“Itu nanti saja!”

“Nanti bagaimana?”

“Apa artinya kebun seupil beginji, kalau Amerika, Jepang, Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Dia yang bikin rusak ozon, kita yang disuruh kerja. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!”

“Apa?”

“Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!”

Pak Amat bengong.

“Bapak kembalikan lagi jadi lapangan, sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Kalau tidak, kita bisa malu!”

Amat takjub. Dia tidak bisa ngomong. Tapi mukanya menahan marah. Lalu datang istrinya.

“Sudah Pak, tidak apa. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Tentang pemanasan global, kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Itu lihat aku sudah mulai!”

Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe, tomat, seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga.

“Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita, tetapi di d alam pikiran kita. Kalau pikiran kita hijau, dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!”

Amat melempar pacul, lalu istirahat. Sehariann ia termenung. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi, Amat mengangguk.

“Ya sudah. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Silakan main di situ dengan sepuasnya!”

Kategori: cerpen

Catatan Dewan Juri FTJ 07

11 Januari 2008 · & Komentar

Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota), Jajang C Noer, Radhar Panca Dahana, Danarto. Seno Joko Suyono, mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang.

Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006, telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Penataan panggung, pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah.

Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini, kembali berkobar, sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta.

Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ), baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan, nampak menyelenggarakannya dengan sungguh-sungguh. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan, disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater.

Yang pasti, dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ, antara tanggal 21 s/d 30 Desember, kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta, tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk.

Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007, adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hati-hati. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam.

Kelompok yang sudah hadir gemilang, ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang, tetapi tak urung menjadi tantangan.

Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan, akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta?

Walhasil Jakarta mesti beringas, para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final, harus bertekad untuk tampil maksimal, sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta.

Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan.

DANARTO:

Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”, agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ, agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008

JAJANG C NOER:

Bila sutradara kurang mendalami lakon, tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks, para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi.

Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya, sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. Yang akan tersaji hanya bentuk semata, gesture yang salah, ekspressi yang datar, phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak.

Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk, artikulasi kata-kata tidak jelas, volume suara tidak memadai, keras bahkan berteriak namun tidak jelas.

Pemahaman terhadap naskah, apakah itu naskah realis atau non realis, apakah itu komedi atau tragedi, akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan.

SENO:

Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing.

Realisme ternyata tak pernah mati. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskah-naskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik.

RADHAR PANCA DAHANA:

Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater, dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan, yang antara lain menyangkut pemilihan naskah, pilihan bentuk artistik, pola pemeranan, penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik, sangat menentukan hasil akhir pementasan.

Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai, pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget, kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi, dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni.

Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasar-dasar dramaturgi yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater.

PUTU WIJAYA:

“Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya.

Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan.

Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat

Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok.

Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah.

Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan.

Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival.

Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu.

Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008.

Jakarta, 30 Desember 2007

DEWAN JURI FTJ 07

  • Jajang C. Noer
  • Seno Joko Suyono
  • Radhar Panca Dahana
  • Danarto
  • Putu Wijaya

Kategori: catatan
Ditandai:

Dokter

9 Januari 2008 · & Komentar

Pengantar Wibisono Sastrodiwiryo:
Cerpen ini dibawakan dalam monolog oleh Putu Wijaya pada malam Anugrah FTI Award 2007

Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flue burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.

Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun.

Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke Puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima, manusia tetap mati.

Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di Puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.

“Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga. Hidup-mati kami tergantung pada dia!”

“Tapi sudah terlambat.”

“Terlambat bagaimana, kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!”

“Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!”

“Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!”

“Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal.”

“Makanya keluarkan ular itu cepat, Pak Dokter jangan ngomong terus!”

“Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!”

“Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!”

“Cepat bertindak!”

Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Tetapi di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.

Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.

“Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat.”

“Terlambat bagaimana?!”

“Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Dokter tidak bertanggungjawab!”

“Dokter harus bertindak!”

“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!”

“Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!”

“Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!”

“Makanya kau harus berusaha terus Dokter!”

“Berusaha bagaimana lagi?”

“Panggil! Kejar sekarang!”

“Kejar ke mana?”

“Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasri bisa disusul!”

“Disusul?”

“Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!”

Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.

“Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!”

“Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!”

Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.

Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.

Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.

Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.

“Bagaimana?”

“Tenang!”

“Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!”

“Saya sudah berusaha..”

“Dan hasilnya?”

“Lumayan.”

“Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?”

“Berhasil.”

Mereka tercengang.

“Jadi dia hidup lagi?”

“Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?”

“Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia ke mari!”

“Saya sudah mencoba.”

“Terus hasilnya?”

“Itu, ” kata saya menunjuk pada mayat.

Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.

“Ayo!”

Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.

“Jadi dia hidup lagi?”

Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa..

“Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?”

“Dan mengapa bau?”

“Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur.”

“Tidur?”

“Ya.. Tidur untuk selamanya.”

“Apa?!!!!”

“Tapi dia meninggalkan pesan.”

“Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!”

Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu.

“Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali, puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!”

Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.

Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan.

Saya sama sekali tidak ingin mengatakan, bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.

“Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar.”

Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.

Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah terlanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.

Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.

Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas, minta agar saya mengobatinya.

Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.

Pada suatu malam, muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas

“Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas., “kata putra kepala suku, “Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!”

Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.

Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.

Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.

Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun, agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.

Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya.

“Berhasil Dokter?”

Tubuh saya gemetar.

“Jangan kecewakan kami Dokter!

Saya tidak berani menjawab.

“Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.

Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!”

“Saya paham itu.”

“Kalau begitu hidupkan lagi Bapa.”

“Saya sudah berusaha.”

“Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!”

“Tapi .. “.

“Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?”

“Ya itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!”

“Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?”

“Apa?”

“Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang Dokter!”

“Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin.”

“Tapi kau Dokter kan?!”

“Betul.”

“Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!”

Saya tidak sanggup menjawab.

“Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?”

“Tidak.”

“Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!”

“Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas.”

Anak kepala suku itu kaget.

“Maksud Dokter Bapaku mati?”

Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.

Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.

Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. .

“Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.

Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi, itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.

“Jangan tembak!!!”

Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu.

Anak Kepala Suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalau entah darimana datangnya keberanian, saya berbisik.

“Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!”

Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.

Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.

“Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya.

Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.

Sejak itu bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalau pun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun, saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.

Kategori: cerpen

Kembang Api

6 Januari 2008 · 1 Komentar

Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Begitu jam menunjuk ke waktu 00, langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Dan itu berlangsung lama.

Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan, mungkin akan jauh lebih berguna. Namun Kleng, seorang penduduk di wilayah Ciputat, mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta.

“Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini,”kata Kleng berkoar di jalanan, “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga.. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Masyarakat marah melihat para pemimpin, wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan, daripada membela kebutuhan rakyat!”

Esok harinya, Kleng dipanggil ke pos polisi.

“Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!”

“Betul. Tapi itu bukan teriakan-teriak, Pak.”

“Jadi apa?”

“Itu suara hati!”

“Suara hati?”

“Bahasa populernya protes.”

Petugas mencatat.

“Memprotes apa?”

“Perlakuan kepada rakyat!”

“Perlakuan yang mana?”

“Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!”

“Pemimpin yang mana?”

“Semua.”

“Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?”

“Betul.”

“Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?”

“Tidak bisa!”

“Kenapa?”

“Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!”

“Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?”

“Ya!”

“Kenapa?”

“Karena itu bagian tugas pemimpin. Kalau ada kesalahan, bukan rakyat yang salah, tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau, siapa suruh jadi pemimpin?!”

Petugas mencatat.

“Ada yang perlu saya jawab lagi?”

Petugas berpikir. Kemudian dia berbicara dengan temannya.

“Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?”

“Tidak. Sudah cukup.”

“Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?”

Petugas itu menoleh kepada rekannya. Kemudian dia menggeleng.

“Tidak, sudah cukup.”

“Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab, rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir, kemacatatn jalan raya setiap hari, kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat, kejahatan birokrasi yang semakin licin, korupsi, keanehan perilaku para wakil rakyat dan … “

“Itu kami sudah tahu.”

“O ya?”

Petugas itu mengangguk.

“Ya. Kecuali kalau ada yang lain.”.

Kleng bingung. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang..

“Lho saya boleh pulang?”

“Ya.”

“Berarti saya bebas?”

“Memang.”

“Saya tidak ditangkap?”

“Kenapa msti ditangkap?”

“Kan saya sudah protes!”

“Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!”

“Betul. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!”

“Tidak. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat, agar kalau ada pertanyaan, kami bisa menjelaskannya. Sekarang karena sudah jelas, Saudara boleh pulang.”

Kleng tak bergerak. Ia nampak bengong.

“Silakan.”

Kleng menggeleng.

“Saudara boleh pulang.”

“Ya saya tahu. Tapi saya tidak mau.”

“Tidak mau? Kenapa?”

“Karena semua orang tahu, saya dipanggil, pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas.”

Petugas mau mencatat, tapi Kleng cepat-cepat mencegah.

“Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya, ampas kebencian dari masa lalu!”

Kategori: cerpen
Ditandai:

2008

1 Januari 2008 · 1 Komentar

Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda, Pak Amat ingin menyepi. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara, tidak tidur dan tidak makan dan minum, pendeknya melakukan tapa selama satu hari.

Yang pertama protes adalah Bu Amat.

“Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati, untuk membunuh Niwatakawaca. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?”

“Ya, menghayati kembali apa itu Indonesia.”

“Untuk apa?”

“Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. Kita perlu mengingat cita-cita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.”

“Hanya itu?”

Amat berpikir.

“Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan …….. .”

Bu Amat tak sabar.

“Ah kalau cuma maunya itu, tidak usah susah-susah bertapa, lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan, ada tiga sekaligus hari ini. Nanti jawaban satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan, sebab aku masih ingat, itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD.”

Amat tak bisa membantah, akhirnya ia mengomel pada Ami.

“Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Begitulah manusia, sama saja dengan kendaraan. Makin lama, meskipun dipelihara, tetap saja makin tua makin merongrong.”

“Iiih kebangetan, masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan.”

“Lho ini kenyataan. Ya bukan hanya Ibu kamu, kita semua manusia begitu, Bapak juga.”

“Bapak terlalu sinis!”

“Habis, masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. Kalau semua orang seperti ibumu itu, nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.

Tanpa kepribadian. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi, perpecahan. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif, Ami. Kamu sendiri sering bilang, perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Benar tidak?”

“Kalau itu memang, tapi …….”

“Tidak ada tetapi, kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!”

“Ya.”

“Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!?

“Ah masak! Itu kan kata Bapak!”

“Yakin. Lihat saja ketika hak cipta batik, tempe, keroncong, Rasa Sayange, reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang, pejabat-pekabat kita tidak peduli, seakan-akan itu bukan urusan mereka. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor, kurang waspada. Baru kalau kepalenya sendiri digondol, langsung mencak-mencak mengerahkan massa!”

“Itu pejabatnya saja yang geblek, bukan semua kita!’

“Ah sama juga, pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Coba kritik Ibumu, supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!”

“Maksud Bapak, supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?”

Amat nyengir.

“Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!”

“Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!”

“Lho memang, untuk mendapatkan pencerahan batin!”

“Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?”

“Maksudmu?”

“Kata Ibu, Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Bapak kali mau menikmati itu?”

“Ah dasar, kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!”

Ami tertawa. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tapi ternyata bukan tiga, ada empat acara pernikahan. Tempatnya berjauhan. Dari pagi hingga malam , seperti kambing congek Amat salam-salaman. Pulang ke rumah, badannya rasa hancur digiling. Perutnya gembung karena kebanyakan makan, tetapi kakinya hampir copot.

Sampai di rumah, baru hendak melepas baju batik, tiba-tiba datang tamu. Terpaksa Amat berbasa-basi melayani, karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. Itu bukan silaturahmi lagi, tetapi siksaan.

Begitu tamu pulang, Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi, terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga.

“Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!”

Amat kesal. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Masalahnya sama, kata-katanya juga sama. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga, jadi lebih sering ngelayap. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian, mulai kesal. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah, karena kesal melihat ulah suaminya..

Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Bu Amat tersentak bangun, langsung minta Amat keluar, untuk melerai. Mula-mula Amat tidak mau, tapi ketika terdengar suara perkelahian, apalagi pintu rumah diketok tetangga, Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya, lalu keluar.

Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman, Amat selalu dianggap sebagai kunci. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu, ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat.

Biasanya kalau Amat datang, cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Ia sudah menghunus parang.

Untung Amat tidak terlambat. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu, sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Amat dengan sabar melerai. Ia dengarkan keluhan keduanya. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Tiga jam semuanya baru terkuras. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi, gembos dengan sendirinya, kemudian perdamaian dimulai. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa.

Sudah lewat tengah malam, ketika Amat masuk ke dalam rumah. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Ami juga sudah pulas. Tinggal Amat sendirian.

Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak, sekarang perutnya keroncongan. Tetapi sial, begitu membuka tutup nasi di meja makan, Amat kecewa lagi. Tidak ada apa-apa di situ. Air matang pun habis.

Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Ia marah. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Ia manjakan istri dan anaknya. Ia tidak pernah marah. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri, sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Tidak pernah menuding orang lain. Ia lebih banyak menyesali kekurangannya sendiri. Tetapi ternyata balasannya tak ada.

Amat duduk terhenyak.

“Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Aku ternyata sendirian,”keluh Amat.

Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Tapi tak bisa. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial.

Tiba-tiba mendesak rasa haru. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. Bahkan ketika mulai punya pacar, semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan.

Kasihan pada dirinya sendiri, Amat menangis. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Tanpa seorang penonton, air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan.

Setelah menangis dalam, Amat merasa lebih lega. Kemudian datang malu, sebagaimana biasanya. Setua sekarang usianya, ia masih saja cengeng. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan, untuk dikeluarkan lagi nanti, kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas.

Amat bangkit dari kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Lampu kamar belum dimatikan. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur, seperti seonggok kayu yang tumbang. Ia memandangi istrinya lama. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Kelihatannya sangat nikmat. Ia tidur mati, terhanyut begitu jauh. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar, kesal, sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek.

Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar, keluar ke teras.

Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Sekeliling sepi sekali. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Lalu Amat tersenyum.

“Ya hanya kamu temanku, sepi. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Usiamu bertambah, pengalamanmu semakin banyak. Tetapi setiap kali tahun baru, kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Biarlah tak ada yang mencintaiku, biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya, asal masih ada kamu yang menyapa, aku sudah merasa cukup lega, ” bisik Amat dalam hati.

Malam bagai mendengar. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Amat merasa dinina-bobokkan. Baru beberapa menit duduk, ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi.

Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah.

“Kasihan Bapak, seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa, menahan perasannya, “kata Ami.

“Ya, Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam,” jawab Bu Amat, ” tapi apa boleh buat, bapakmu kan memang maunya bertapa, jadi waktu semalam ia masuk kamar, Ibu terus saja pura-pura tidur.”

Amat membuka mata.

“Apa?”

“Ah nggak, Bapak kok tidur di luar. Tidak dingin?”

Amat menggeliat, merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku.

“Aku bertapa.”

“O ya? Dapat panah Pasopatinya?”

Amat menggeleng.

“Aku tidak lulus. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa.”

“Kenapa!”

Amat tertawa.

“Sebab aku bukan Arjuna. Aku tidak mencari panah Pasopati. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari, mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena cemburu buta.”

Bu Amat nyengir karena merasa tersindir.

“Aku untung kalau begitu.”

“Untung?”

“Ya, karena Bapak bukan Arjuna. Arjuna kan doyan kawin.”

“Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Ibu memang beruntung. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam.”

“Ya?”

“Lama aku perhatikan kamu tidur. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. Kamu nampak lelap sekali. Jadi karena takut mengganggu, aku tidur di luar.”

“O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.

“Ya. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan, bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan, tetapi karena kita tidak tahu, tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu.

Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri, kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan, akibatnya kita jadi tidak peka, buta dan merindukan yang lain, padahal semuanya itu sudah kita miliki!”

Bu Amat tak menjawab. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Tetapi begitu sampai di dalam, ia terkejut. Rumah nampaj berdandan. Meja makan memakai taplak baru, di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Kopi panas, pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Juga ada buah-buahan.

“Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus.

Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng.

“Tidak ada.”

“Itu untuk siapa?”

Ami menjawab.

“Untuk Bapak kan?!”

“Aku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”

“Apa?”

“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”

Amat ketawa malu.

“Ah sudahlah, itu tidak penting lagi. Untuk apa bertapa, kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren, kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.”

Amat hendak terus ke kamar mandi. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Akhirnya ia menghampiri meja, menarik kursi lalu duduk. Bu Amat dan Ami nimbrung.

“Minum saja dulu, Pak.”

“Tapi aku belum mandi.”

“Bapak lupa, bangun tidur, mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan, justru bangun-tidur minum itu sehat.”

“Ya, aku ingat.”

Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. Matanya terpejam karena nikmat.

“Cukup gulanya, Pak?”

Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Kemudian ia meraih pisang goreng.

“Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring.

“Boleh.”

Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar, suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan, pacaran lagi……. .”

Amat bersenandung mengikuti lagu. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik.

“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?”

Ami menggeleng.

“Sudah dibatalkan.”

“Kenapa?”

“Ya dibatalkan saja.”

Amat menggeleng tak mengerti. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.

“Lho bukannya, kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?”

Bu Amat menggeleng.

“Kan sudah kemaren.”

Amat terkejut.

“Bukannya hari ini?”

“Kalau sudah kemaren, hari ini tidak usah.”

Amat mengernyitkan dahinya.

“Tapi kenapa?”

“Ya nggak apa-apa.”

Tiba-tiba Amat terpagut. Lintasan pikiran itu mengagetkannya..

“Astaga,”kata Amat seperti disambar petir, “kalian sengaja melakukan itu, supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?”

Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi.

“Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?”

“Kalau toh ya, apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele.

Tetapi Amat jadi begitu terpukul.

“Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti, apa yang mereka lakukan,”bisik Amat.

Amat menatap anak istrinya dengan takjub.

“Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita, untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?”

BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa.

Amat terpesona. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh, betapa cantiknya hari itu. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini, yang bebal, buta, tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai, sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya.

Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan.

“Terimakasih,”kata Amat kemudian dengan suara lirih, “terimakasih, kalian sudah menolongku kemaren bertapa.”

Kategori: cerpen