Putu Wijaya

Masukan dari Maret 2008

Dan Atau

31 Maret 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah reformasi, ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir, desentralisasi pun dipacu. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang, digantikan dengan keseragaman dari pusat, kembali dihidupkan. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan.

Dalam alenia di atas, “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama, tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan.

Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Di dalamnya terkandung kiat, resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Tetapi berbeda dengan norma, kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama, kearifan lokal tidak mengandung sanksi. .Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan.

Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja, tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan, sampai ke masa yang akan datang.

Kearifan lokal yang unggul, menjadi semacam falsafah kehidupan. Misalnya saja, apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali, yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktup-suasana. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal, dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan.

Kearifan yang yang tidak unggul, tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan, atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya, sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan, tetapi justru penggganggu. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal.

Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Sementara kearifan lebih pada akal saja.

“Dan atau” di alenia pertama tulisan ini, menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan.

Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, timbul perdebatan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak.

“Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat, juga awam pada umumnya, terhadap pertanyaan tersebut, memang hanya dua. Satu pihak tegas menolak, pihak lain tegas minta diteruskan. Ya dan tidak, ya atau tidak. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas.

Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense), tidak membedakan jenis kelamin pelaku , dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak, “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum.

Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum, tetapi juga secara hukum, dipastikan berstatus tertentu, tak bisa diperdebatkan lagi, “dan atau” dipakai. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian.

Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu, membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Di alam resensi sebuah pertunjukan, misalnya, sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan ; cukup baik sekali; masih belum sempurna sekali; sering sekali masih kurang siap.

Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Atau tidak mampu menilai, sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan?

Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan.

Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia, tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Kalau ini benar, maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap.

Dalam alenia di atas, “dan atau” mengandung keraguan. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia, yang saling bertentangan. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja.

Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu, sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. Karena keterbatasan juga berarti lentur, supel “dan atau” fleksibel.

Kategori: catatan

Indah

30 Maret 2008 · & Komentar

“Jadi walau pun kita sulit makan, kita juga berkewajiban untuk ikut serta, berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan.

Petugas itu menjawab tegas.

“Betul, Pak Alung. Semua orang. Tidak laki tidak perempuan. Tidak kecil dan tidak besar, semua harus ikut!”

“Tidak kaya tidak miskin!”

“Betul, Pak Alung! Tidak kaya atau miskin, semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang, menanam pohon-pohon yang sudah langka, tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka, walau pun itu bukan milik kita. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita, milik kita bersama!”

“Bagaimana dengan pohon bakau, Pak?” cecer Alung.

“Pohon apa itu?”

“Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!”

Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung.

“Yang mana ya?”

“Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Dulu di Ancol banyak. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian karena diuruk. Maka arus air berubah. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Para nelayan kehilangan nafkah. Banjir di pantai lain”

“Apa itu termasuk pohon langka?”

“Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi, pasti akan langka. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah, lama-lama akan jadi pohon langka. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Bayangkan saja, satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup, tapi kami nanti jadi langka, karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu, Pak!!”

Semua orang tepuk tangan. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa.

“Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Dengan memakai humor seperti Srimulat, segalanya bisa masuk dengan ramah. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. Kalau ada banjir, kedele melonjak harganya, semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran, kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Ada pertanyaan?”

Tidak ada pertanyaan. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan, tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Amat sendiri diam saja, seakan-akan sudah puas.

Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan.

“Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah, “aku ini keturunan petani. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi, apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Ini kacau!”

Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Karena sembari ngoceh, lelaki itu terus saja makan, sampai tambah 3 kali. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas.

Ani yang pulang telat, bingung, karena tidak ada sisa makanan.

“Bu, mana makanannya kok habis, Ani lapar ini!”

Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Mukanya menghadap ke layar televisi, tangannya memegang koran, tetapi ia tidur pulas.

“Dihabisin babe ya?”

“Ya. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar.”

“Jajan apaan. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?”

“Ibu juga kira begitu. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Masak sayur lodeh lagi, sayur lodeh lagi, sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek, katanya. Ibu kesel. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Eh tahu-tahunya habis.”

“O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?”

“Ya. Kenapa?”

Ani mencibirkan bibirnya. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur.

“Sudah jangan marah-marah. Masih ada sisanya, Ibu sembunyikan. Ayo makan, nanti masuk angin.”

Ani menggeleng.

“Wah kalau sayur lodeh sih, biarin saja habis. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen.”

Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Bu Ane ketawa.

“Nah bener kan. Begitu kelakuan anakmu itu, Pak. Kalau tidak ada ditanyakan. Kalau ada disia-sia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka, jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!”

Alung membuka matanya.

“Dan kalau aku tidak tidur, aku juga tidak akan tahu, Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane.”

“Makanya belajar mensyukuri sesuatu, jangan cepat marah!”

“Sudah jangan kasih nasehat lagi, sudah malam. Tapi ngomong-ngomong, betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. Ambil Bu, sayur lodehmu sekali ini enak sekali. Ayo ambil!”

Bu Ane ketawa.

“Ambil apaan, kan tadi juga sudah disikat habis!”

“Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan.”

“Habis, tandas!”

Alung meneguk air liurnya. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. Sekarang dia seperti orang ngidam. Bu Ane melirik suaminya. Ia jadi kasihan.

“Ya sudah, kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!”

“Jangan, jangan tidak usah!” potong Alung cepat, “masak tiap hari sayur lodeh. Yang bener aja! Langka itu indah!”

Kategori: cerpen

Ayat Ayat Cinta

29 Maret 2008 · & Komentar

Film Ayat-Ayat Cinta meledak.

“Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton,”kata seorang pengamat. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain, termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta.”

“Jadi?”

“Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!”

“Bagaimana pula itu?”

“Lihat saja siapa penontonnya. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. Mereka adalah lapisan penonton baru, orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu, walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!”

“Begitu ya?”

“Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu, tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya.”

“Memang apa yang baik dibaca, tidak selamanya baik ditonton. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Kendala waktu, biaya, lokasi, seperti yang diakui oleh pembuatnya.”

“Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Kata-katanya yang indah, niknat, sejuk, tidak keluar dalam gambar.”

“Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek.”

“Tidak. Itu tidak betul. Meskipun bukunya keluar duluan, kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Mereka sudah lebih kritis. Mereka ingin yang terbaik.”

“Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. Ya tidak?”

“Ya.”

“Nah, pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Semua orang akan langsung mengopy itu, meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud.”

“Tapi gua bukan jenis itu.”

“Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?”

“Tidak suka saja.”

“Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. Ah, itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri, nggak bisa dipakai ukuran menilai.”

“Lho aku juga tidak suka novelnya!’

“Apa?”

“Biar berjuta-juta orang memuja, biar puluhan kali cetak ulang, tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya.”

“Gile lhu!”

“Gile apaa. Semua bilang itu novel hebat, makanya dibuat film. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?”

“Karena gua tidak doyan!”

“Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!”

“Bukan sok. Memang nggak doyan aja. Bukan mau menentang arus. Apa salahnya nggak demen?”

Mereka berpandangan.

“Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya, tapi menurut gue, novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain, tak bisa dibandingkan!”

‘Terserah!”

“Lho jangan terserah, kita lagi diskusi ini!”

“Memang! Kita sedang diskusi!”

“Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka, tanpa alasan!”

“Kenapa tidak?”

“Ya itu dia yang namanya diskusi, elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah, gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi.”

“Soal selera tidak bisa didiskusi kan.”

“Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz, tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. Mesti pakai otak dalam menilai!”

“Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!”

“Apalagi rasa!”

“Maksud lhu?”

“Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. Kalau tidak ada sebbnya, kamu tidak bakalan punya rasa. Orang bilang bir itu manis, karena dia sudah biasa minum. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. Jadi rasa tidak begitu saja ada, tetapi didorong kebiasaan. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek, kenapa?”

Yang ditanya tidak menjawab.

“Jawab dong. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka, gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. Untuk kelima kalinya!”

“Kelima?”

“Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya, sebab aku diajak oleh bekas pacarku!”

“Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?”

“Nggaklah. Doi juga ikutan. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. Biasa-biasa saja. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Kalau tidak bisa satu, setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?”

“Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!”

“Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!”

Kategori: cerpen