Putu Wijaya

Masukan dari April 2008

Kartini

23 April 2008 · & Komentar

Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar.

“Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat.”

Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.

“Bagus! Selamat! Anak pertama kan?!

“Betul Pak Amat. Tolong!”

“Tolong?”

“Kasih nama. Saya belum punya nama.”

Amat cepat berpikir. Hari Kartini baru saja lewat. Ia langsung menggapai.

“Beri nama Kartini!”

Bapak muda itu terpesona. Amat langusng cepat mengguncang tangannya.

“Tak usah nama yang muluk-mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri uang mengubah namanya,. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Selamat!”

Anak muda itu masih bengong, tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi, langusng menutupkan pintu lagi.

“Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang ganggu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala, “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. “Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, Nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai di mana kita tadi, Bu?”

Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Amat kecewa berat.

Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah.

“Bapak keterlaluan!”

“Lho, bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!”

“Masak ngasih nama anak orang Kartini.”

“Lho, memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah. Nama itu bukan soal sepele. Memberi nama anak harus dengan cita-cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat, Bu!”

“Memang. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!”

“Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama tok. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cumakusir dokar.”

“Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini!”

“Lho tidak bisa dibandingkan begitu, Bu. Sebesar-besar Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!”

“Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini, itu namanya sudah sinting!”

Amat terkejut.

“Lho, jadi anaknya laki-laki?”

“Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini?”

Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya.

“Terimakasih Pak Amat.”

Amat jadi salah tingkah. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf.

“Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu!”

“Tidak apa Pak Amat. What is a name. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Namanya bagus.”

Amat bingung.

“Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!”

“Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini.”

“Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!”

“Itu kan pemberian dari Pak Amat?”

“Jabis aku kan tidak tahu,. asal nyeplos saja!.”

Anak muda itu tertawa.

“Nama Kartini itu bagus, Pak!”

“Jangan!”

Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi..

“Aku kira dia tersingung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan,” curhat Amat malam hari di meja makan.

“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,”kata Bu Amat, “anak itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.”

Amat terperanjat.

“Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?”

“Iya iyalah!”

Amat tak jadi makan. Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Ketika anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa.

“Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak.”

Anak muda itu terkejut.

“Siapa Pak?”

“Raden Ajeng Kartini.”

Anak muda itu tersenyum. Amat langsung mencecer.

“Boleh lanjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku!”

Anak muda itu mengangguk

“Saya mengerti maksud Pak Amat.”

“Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!”

“Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.”

“Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!”

“Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Sejarah

3 April 2008 · & Komentar

Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah.

“Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.

Penulis itu mendebat.

“Sejarah harus diperbaiki kalau salah, Oom!”

“Sejarah tidak bisa salah!”

“Bisa Oom!”

“Tidak!”

“Bisa!”

“Tidak bisa!”

“Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. Dan manusia tidak ada yang sempurna. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!”

“Itu bukan sejarah!”

Penulis itu tercengang.

“Sejarah itu bukan yang ditulis, tetapi apa yang sudah kejadian!”

“Memang. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?”

Amat menggeleng.

“Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!”

Penulis muda tertawa. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu, jadi pikirannnya sinting. Sambil senyum-senyum, Pak Amat ditinggalkan. Amat merasa keki. Ia masih penasaran.

“Sejarah itu memang ditulis,”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. ” Tetapi berdasarkan fakta. Kalau faktanya terbukti salah, penulisan harus dilakukan kembali, mengganti yang salah dengan yang betul. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali, pantas dicurigai, mungkin faktanya ada yang keliru. Yak an Ami?!”

Ami mengangguk.

“Atas dasar pikiran itu,” lanjut Amat,”aku berpendapat, sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain, apalagi bertolak-belakang, terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah, akan sulit untuk dikembalikan lagi. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu, bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak, Ami?!”

“Betul.”

“Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar, jadi aku dianggap keliru?”

“Tidak.”

“Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Bukan apa yang ditulis. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. Sekarang bilang begini, besok bisa bilang begitu. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja. Buat apa percaya itu. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!”

Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu..

“Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga, kalau yang dia tulis ini tidak betul, ini bukan sejarah. Sejarah itu, adalah yang benar-benar kejadian, bukan yang ditulis!”

Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api.

“Soal apa lagi ini?”

Amat langsung menurunkan suaranya, sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat.

“Nggak apa-apa, hanya itu lho, keponakan kita itu, professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali.”

Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu.

“Ya dia rajin. Bapak sudah baca?”

“Ya sudah.”

“Bagus?”

“Ya, namanya juga sejarah. Semuanya yang itu-itu juga.”

“Masak? Tidak ada yang baru?”

Amat tertawa.

“Ibu ini bagaimana. Sejarah itu tidak ada yang baru. Semuanya sudah terjadi.”

“Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya.”

Amat langsung main mata sama Ami. Tapi ketahuan.

“Kok malah main mata. Bapak tidak setuju?”

Amat tersenyum.

“Kalau bicara tentang sejarah, kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Kalau kita mau mengubah-ubah, itu namanya bukan sejarah, tapi mau merusak sejarah.”

Bu Amat mengernyitkan keningnya.

“Maksud Bapak, ponakanku ini sudah merusak sejarah?”

Amat tak bisa langsung menjawab. Dia mencoba minta bantuan pada Ami, tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk, dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet.

“Jadi menurut Bapak, buku ini bukan sejarah?”

Amat tertawa.

“Bukan begitu, Bu. Ponakan kita itu, dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan.”

“Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah, karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!”

“Bukan begitu, Bu. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali, dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin, dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Jadi ….. .”

“Jadi keliru?”

“Bukan keliru. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. Kita hanya tahu separuh-separuh. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu.”

“Maksud Bapak, ini pengacauan sejarah?”

“Bukan begitu .. “

Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. Jantung Amat hampir copot.

“Kalau dia keliru, meskipun keponakanku sendiri, tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!”

Kategori: cerpen

FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan

2 April 2008 · & Komentar

Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia) di Teater Studio TIM, di atas panggung, Didi Petet bertanya, apa gunanya teater, apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan, mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an, menyuarakan hati nurani rakyat?

Saya ingin berdiri dan menjawab. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan, terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebih-kurang teater. Walau Jakarta lagi banjir, macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport, mereka hadir. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya.

Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Tak berani ngomong apa-apa. Bukan saja karena takut, sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater, tetapi juga karena ada kemungkinan, jangan-jangan mereka benar. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater, karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film, ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang.

Cintalah yang membuat orang sayang, tetapi juga sekaligus benci. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan, tanda sesuatu itu masih bergerak, mengalami pasang-surut, berdegup, walhasil hidup.

Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir, karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik, mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Itu sudah seni laku.

Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. Mereka begituj sibuk di tempat lain, tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. Langkah kecil pun menjadi kunci. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar.

Sebelum TIM berdiri pada 1968, teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Teater tradisi, teater rakyat, memiliki seluruh wilayah tontonan. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh, tetapi banyak kendala yang harus dihadapi.

Tak ada gedung khusus untuk teater. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Teater hanya hobi. Sampai kemudian ATNI berdiri. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). Kemudian TIM berdiri. Ada gedung pementasan teater. Ada fasilitas. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Naskah-naskah teater mulai lahir. Semuanya itu langkah besar.

Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain, level dan tata lampu. Ketika Teater Populer membangun p;ublik teater. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Ketika STB menggali idiom Sunda. Ketika Teater Mandiri, Teater Sae, Teater Kubur, mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Ketika Teater Gandrik, mengangkat citra ketoprak. Ketika Teater Payung Hitam, Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Dan sebagainya.

Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan, perhatian masyarakat pun terpecah. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi, apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat, bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing.

Langkah-langkah itu baru akan kelihatan, kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Itu memerlukan waktu. Memerlukan kesabaran. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu, satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan, semua penonton terpukau. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini, karena itu memang bukan diskusi.

Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat, sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Tapi walau tanpa persiapan, keduanya melakukannya dengan bagus. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Bukan saja karena keduanya tampil bagus, tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi.

Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Tetapi ketika itu sudah terlaksana, orang lupa menilainya. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan, karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu.

Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Tiga dasa warsa yang lalu, dua orang yang diminta untuk membuat sambutan, mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet, kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain.

Saya mungkin sudah mendramatisir. Tetapi bagaimana tidak, agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Tetapi sebaliknya, teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan, yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan.

Dalam keadaan yang tak kelihatan, ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Karenanya perlu perhatin, referensik dan interpretasi. Teater sering memberikan PR. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik, pada kehidupan tater kita lemah. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak.

Tetapi rasa cinta, tak harus dimulai dengan penampakan. Dia adalah rasa. Dan itu suka tidak suka, disadari atau tidak, akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet, atau setiap orang yang hadir pada malam itu. Kalau tidak, tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh.

Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda.

Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. Masing-masing orang, kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya.

Seperti terhadap makanan, pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. Dan sebaliknya. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri, 1990), misalnya. Melihat Yel di Washington State, seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran, apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah.

Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu, perbedaan selera itu sudah ada. Teater Populer dengan Teguh Karya, sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Apalagi Bengkel Teater dengan W.S. Rendra, membetuk model selera yang lain lagi. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing, Pramana Pmd, Djajakusuma). Serta berbagai kelompok teater dari Medan, Surabaya, Banjarmasin.

Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Situasi tertekan, langkanya kebebasan berekspresi, menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam, memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan.

Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi, penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Tak hanya kegaduhan, ketegangan, tetapi juga terselip penjarahan, kekejian dan korban nyawa manusia.

Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini, demikian tulis salah seorang pengamat. Teater yang keras, kasar, frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil, kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Bukan hanya di TIM dan GKJ, di mana-mana, di media massa, televisi, radio, ceramah, diskusi, peradilan, olahraga, kehidupan selebriti lewat infoteinmen, sidang-sidang wakil rakyat, bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond, teater sudah digelar.

Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa, di samping tak punya penyandang dana, teater kembali kepada hiburan, perenungan, penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. Suaranya pun masih ada. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata, menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta.

Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ, adalah sebuah suara. Sebagai sebuah suara, memang bila harus diukur dari kehebohannya, teater jelas kalah. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele, teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik, angklung dan reog yang dicaplok, teater tak akan berdaya. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto, tak akan mampu disaingi oleh teater.

Tapi jangan lupa, semua yang membungkam teater itu, adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Walhasil sebuah teater juga. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas, kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. Khususnya sesudah reformasi, ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Apa yang mendorong itu terjadi, kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif.

Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan, pemaknaan dan penikmatan seni rupa. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Jalanan pun bisa. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata, itu karyaku, asal Anda mampu meyakinkan orang. Konsep tentang apa itu karya, telah merangkul seni pertukangan, sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep, kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari, musik). Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”.

Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM, 1968.

Di dalam teater, menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. Barat dengan seluruh pencapaiannya, tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini.

Sebagai contoh: pementasan Mini Kata, Odipus, Barjanji, Hamlet dari Bengkel Teater; pementasan Kapai-Kapai, Mega-Mega dari Teater Kecil; pementasan Jayaprana, Perkawinan Darah, Machbet dari Teater Populer; pementasan STB, pementasan Dongeng Dari Dirah, Metha Ekologi oleh Sardono W. Kusumo, pementasan Aduh, Lho, Ngeh dari Teater Mandiri, pementasan Bom Waktu, Opera Kecoak, Sampek Engtai dari Teater Koma, pementasan dari Teater Kubur, Teater Sae, Teater Payung Hitam, Teater Garasi, Teater Gandrik dan lain sebagainya. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan, tetapi referensi.

Memang sayang sekali, dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karya-karya tersebut. Sebagai akibatnya, segala yang pernah dicapai, tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya.

Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah detemukan, jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah.

Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja, terbengkalai. Hidup tak hendak, mati tak ingin. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban?

Wahyu Sihombing, dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) , mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer, Teater Kecil, Bengkel Teater. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. PKJ TIM hanya pelaksana, kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ.

Dalam kenyataan, lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”, lalu menjadi FTJ. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin, karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani Gelanggang-Gelanggang Remaja.

Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan, lalu diganti dengan kegiatan baru, saya melakukan pembelaan. FTJ harus direbut dan dipertahankan. Sebagai sebuah sejarah, FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman, tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Antara lain yang amat penting, bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim.

Setelah 35 tahun, banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi, tetapi mereka terus setia mengikuti festival. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu, bergaul dan berbagi pengalaman. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian, festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu, volume dan angka. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan, ada maupun tak ada musafir yang akan lewat, festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta, yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”.

Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan, pengembangan, pembelajaran, perenungan, selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru, dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. Dalam dua kali gebrakan, hasilnya konkrit. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006, meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007.

Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Dalam sebuah keramaian festival, kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Tak mungkin hanya kwalitas. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater, tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri, tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya.

Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. Di samping ada kompetis, juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan.

Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun, diolah kembali. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan, tetapi kompetisi yang terbuka. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. Di Jakarta sendiri, festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final.

Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu, FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah, karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Ini sebuah langkah yang sangat penting, untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival.

Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi, akan-akan karena masih remaja, kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Padahal sejak awal festival, Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono, misalnya, telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh.

Kata remaja kemudian menjadi racun yang, sadar tidak sadar, menghambat penjelajahan. Kedalaman pun tak terjadi. Komitmen ala kadarnya. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anak-anak sekolah. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah.

Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua, tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. Usahanya pun menjadi terbatas. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan, seperti interpretasi, pengemasan pertunjukan, pengemasan produksi, menjadi terus remaja.

Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ, masih ada riak-riak suasana tersebut. Kendati kehadiran Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode, sudah menunjukkan kecendrungan professional, ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka, kompetisi akan lebih keras. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah, kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta.

Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang, festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior, tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai, FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri, para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional.

Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Dalam kualitas, puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja yang professional. Tetapi dalam kenyataannya, belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia.

Teater Koma dan Bengkel Teater, dua kelompok yang memiliki penonton ribuan, dan sanggup main berhari-hari, namun tetap sebuah peguyuban. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma, misalnya, sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film, produksi tidak mulai dengan kontrak. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotong-royong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium.

Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Solidaritas, rasa kekelompokan, gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini, mungkin tidak lagi akan terjadi. Yang ada adalah pekerjaan. Teater akan hadir sebagai professi. Tantangan itu akan membawa suasana baru, yang memerlukan pembelajaran. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ.

FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Di satu sisi, akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. Uang akan menjadi sangat penting. Penonton menjadi raja. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater.

Di sisi lain, teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. Uang bukan tujuan. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban, mengabdi dan mungkin dimaki-maki.

Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan), juga gagasan dan wawasan (ilmu), sebuah seni pengelolaan (menejemen), sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri.

Untuk kerja besar dan berat itu, FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Bahkan kalau perlu menghindarkannya, apabila itu menghambat. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang, FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri, kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat, tanpa suatu ikatan yang ketat, agar gerakannya semakin lincah, jitu, bebas tetapi terkendali.

Kategori: teater
Ditandai: ,

Misteri Maaf dan Lupa

1 April 2008 · & Komentar

Di Channel Asian News televisi Singapura, seorang pengamat mengatakan: “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan (forgive) kesalahan Pak Harto tetapi tidak melupakannya (forget).”

Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. Diberikan kepada kesalahan, karena didorong oleh perasaan kasih, cinta , sayang maupun tak tega. Ketika menjadi kata kerja memaafkan, maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi.

Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan, mengandung makna melumpuhkan diri sendiri, sehingga seseorang menjadi alpa, tidak lagi ingat kepada sesuatu.

Dalam praktek pergaulan, memaafkan dan melupakan seperti kucing-kucingan. Seseorang mungkin memaafkan, karena dia dapat melupakan kesalahan yang terjadi atas dasar kemanusiaan. Tetapi mungkin sekali dia memaksakan untuk memberikan maaf, untuk menyudahai perkara, tetapi belum tentu bisa menghapus apa yang sudah terjadi, apalagi kalau ditegaskan tidak bisa.

Dengan melupakan, seseorang praktis seperti memaafkan sebuah kesalahan, meskipun atau padahal, belum tentu begitu maksudnya. Mungkin ia sama sekali tak bisa memaafkan, jadi lebih baik melupakan saja, seakan-akan semua itu tidak pernah terjadi, sehingga ia bebas, tidak lagi terbebani..

Memaafkan mengandung rasa mengampuni, tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah, namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Peristiwa tersebut dilirihkan, dikendorkan, digemboskan, dikerjain agar tak mampu menyentuh perasaan lagi.

Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. Tak hanya menghapus dari kenangan tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Tapi di pihak lain, melupakan tak pernah mengampuni, tapi hanya ingin melenyapkan. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan, bila tak ada pernyataan secara formal, sebenarnya secara diam-diam memaafkan.

Memaafkan dan melupakan adalah upaya mengganggu, membelokkan dan kemudian membatalkan apa yang sudah terjadi. Semuanya dilakukan demi menjaga harmoni yang hendak dipelihara sebagai aturan hidup bersama. Karena hidup adalah sebuah bebrayatan, hubungan kekeluargaan. Masyarakat adalah sebuah peguyuban.

Di dalam peguyuban, individu bukan lagi pribadi, tetapi satu paket dengan orang lain. Melindungi diri berarti juga melindungi orang lain Setiap orang berkewajiban melindungi hak orang lain yang adalah keluarganya. Dan sebagai konsekuensinya, hak seseorang tidak dijaga dan diperjuangkan oleh masing-masing, tetapi oleh orang lain.

Kita mengenal asas gotong-royong. Bahkan disepakati sebagai perasan dari kelima sila Panca Sila. Bergotong-royong, berarti mengangkat dan memboyong segala sesuatu bersama-sama. Kesalahan pribadi pun diangkat dan diboyong, sehingga tidak lagi menjadi tanggungan individu tapi tanggungan bersama. Dan karena sudah dikeroyok bersama, apa yang salah, dilupakan sumber sebenarnya. Individu pun boleh merasa bahwa ia sudah dimaafkan.

Ini cocok dengan sifat bangsa kita yang terkenal dan kita banggakan sebagai gampang memaafkan dan mudah melupakan. Berbagai kejadian di dalam sejarah juga sudah membuktikan bangsa Indonesia dengan gampang memaafkan dan melupakan. Nestapa yang pernah dialami sebagai koloni Belanda, konon adalah penderitaan berat 3,5 abad. Masa pendudukan Jepang, walau hanya 3 tahun juga lebih dari neraka. Tetapi hubungan kita dengan Belanda dan Jepang sekarang sama baiknya dengan negara-negara lain. Demi persaudaraan, semuanya sudah kita maafkan dan lupakan.

Apakah itu menunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi? Bangsa yang menempatkan kemanusiaan sebagai primadona? Atau itu pertanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran sejarah?

Apakah kita bangsa yang terlalu mudah memberikan reinterpretasi dan reposisi terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. Di satu pihak reinterpretasi dan reposisi adalah kiat unggul yang mengandung tujuan untuk selalu memperbarui diri sehingga tetap aktual hingga selaras dengan zaman. Tetapi di belahan yang lain, keduanya juga bisa jadi racun yang membelokkan kita menjadi bangsa yang dengan mudah mengubah arti segala-galanya demi tujuan yang mau dicapai. Walhasil menghalalkan cara demi acara.

Dengan mudah kita telah membongkar bangunan-bangunan bersejarah, misalnya dan menggantikannya dengan monumen-monumen baru untuk mall, tanpa ada perasaan rugi, risih apalagi bersalah. Tujuan yang ada di dalam agenda kita yang menjadi utama. Usaha untuk menyelamatkan warisan sejarah berupa dokumen, prasasti, benda-benda penemuan arkeologi pun jadi tak perlu, padahal harganya tak ternilai.

Dokumentasi tak diurus. Gedung Arsip Negara dan Museum terbengkalai. Kita selalu mau melihat ke depan sambil melupakan masa lalu. Pada ujung-ujungnya, sejarah pun kita tulis berkali-kali kembali. Bukan untuk lebih mencocokkannya dengan fakta, tetapi lebih meyesuaikannya dengan kebutuhan kita yang ada di depan mata.

Kita tak peduli akan kehilangan sejarah. Karena sejarah setiap kali dapat ditulis lagi menurut kemauan kita. Sejarah adalah kita sendiri. Peduli amat kalau itu membuat kita kehilangan karakter.

Memaafkan dan melupakan dengan demikian mengandung arti yang berbeda lagi. Memaafkan berarti berpura-pura menerima yang salah, tidak sebagai kesalahan. Dan melupakan berarti memotong semua yang tidak kita perlukan, meskipun itu adalah fakta. Memaafkan dan melupakan dengan begitu jadi tindakan berbohong, menolak kehidupan nyata, untuk menjelmakan apa yang kita inginkan.

Baik memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama membelajarkan kita jadi penipu. Membohongi diri sendiri, gemar cipoa pada orang lain. Mengingkari sejarah dan yang paling parah tak bermoral.

Apakah memaafkan dan melupakan, masih bisa disebut sebagai perbuatan yang terpuji, kalau ujungya sudah membuat manusia menjadi tak sehat jiwanya? Pertanyaan ini tidak boleh tidak dijawab. Dan jawaban yang terbaik mungkin dengan tidak memberi harga mati pada setiap kata.

Kamus sudah selalu menyediakan beberapa arti, pada semua kata. Kadangkala artinya bertentangan satu sama lain, tergantung dari konteksnya. Sebuah kata, tidak hanya mengandung pengertian, tetapi juga bertaburan rasa. Artinya tergantung dari iktidak manusia bersangkutan ketika mempergunakannya. Sangat berhubungan dengan: oleh siapa dan untuk siapa, dalam keadaan bagaimana, juga di mana, kapan, kata-kata itu dipergunakan.

Memaafkan dan melupakan.tetap mengandung misteri.

Kategori: sosial
Ditandai: