Putu Wijaya

Masukan dari Mei 2008

Nasionalisme

31 Mei 2008 · & Komentar

Ary, guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah, gunung dan matahari. Kadangkala ada tambahan gubuk, kerbau dan burung atau pohon kelapa. Tapi hanya itu.

Selama 20 tahun dia mengajar, menghadapi 20 angkatan murid, tapi hasilnya sama,. Dia jadi kesel, lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Semua anak diberi angka lima.

Anak-anak mengadu. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah.

“Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?”

Ary, guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Itu yang dia tunggu-tunggu.

“Sebenarnya begini Bu, :”kata Ary menumpahkan perasaannya, “sejak saya mulai mengajar di sini, gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Dari dulu sampai sekarang, sama saja.. Sejak listrik belum masuk, ke desa kita ini, sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer, yang digambar tetap itu-itu saja. Tidak berkembang. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!”

Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru, hanya menanggapi sambil lalu.

“Sudahlah Pak Ary, biar saja. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Itu juga sudah bagus.”

‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya.”

“Maksud Pak Ary?”

“Ya sekarang kan sudah zaman reformasi, Bu. Sudah banyak perubahan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Harga bensin naik. Banyak korupsi. Ada isu pemanasan global. Ada pilkada. Kerusuhan di mana-mana …….”

“Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung.”

“Nah itu dia, Bu. Mestinya kan itu yang digambar.”

Ibu Direktur mengangguk.

“Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas, supaya melihat kenyataan.”

“Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.”

“Terus!”

“Tapi yang digambar sawah lagi, sawah lagi. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Semua sudah jadi perumahan dan mall.”

Ibu Kepala Sekolah tercengang.

“O ya?”

“Ya!”

“Coba mana gambar-gambarnya?”

Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Setelah dilihat satu per satu, Ibu Kepala Sekolah tercengang. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah, gunung dan matahari.

Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Mereka berdiri di sepanjang pintu, memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Aneh sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Belum ada real estate. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi.

“Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah,”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. “Mereka kebanyakan anak petani, jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Kalau mereka menggambar begini, saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur, Pak Ary. Betul tidak?”

Ary tersenyum sinis.

“Maaf, Bu. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah.”

“Betul. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Ini adalah hasil percakapan itu. Saya kira ini baik sekali. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme, cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Dan sebagai guru wajib kita mengerti.”

Ary ingin membantah, tetapi guru-guru lain mendukung.

“Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini, Pak Ary. Saya dapat ide bagus. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang, dipamerkan di dinding sekolah, pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.”

“Tapi Bu, saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.”

“Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!”

“Maaf. Bu,”

“Jangan membantah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!”

Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya, untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota, kandas. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah, gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu.

Sehari sebelum tamu datang, semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi malamn-malam, semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Ibu kepala Sekolah puny aide baru.

“Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hati saya langsung terketuk, teringat kepada masa lalu. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam, sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Saya minta malam ini juga, lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor, sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!”

Semua guru tercengang. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dengan bergairah kemudian gambar sawah, gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Pak Ary pun terpaksa ikut.

Ketika tamu dari Diknas Pusat datang, muka Pak Ary kelihatan muram. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat, dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah, sementara ia sendiri dan murid-,muriod serta guru lain menunggu di luar.

Setengah jam kemudian para tamu keluar. Mereka mengangguk senang. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat.

“Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat, masih bisa dipergunakan. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!”

Semua bertepuk tangan gembira. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal.

“Jadi menurut hemat kami, “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya, ” kira sampai 5 tahun ke depan, gedung sekolah ini masih layak pakai, masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!”

Ibu Kepala Sekolah terkejut. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tapi waktu dia melirik ke koridor, hatinya menjerit. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu, berantakan diinjak-injak. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu.

Kategori: cerpen
Ditandai:

Harkitnas

20 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Lalu ia mulai memoles. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis, garis mata, hidung, bibir dan kemudian pipi.

Dua jam kemudian ia siap..Di cermin nampak muka baru. Rapih dan terkendali. Ketika Anna senyum, kemudian tertawa, melirik, terbelalak, terkejut, kaget, heran dan sebagainya, semuanya beres. Lalu ia menguji mulutnya berbicara..

Tiba-tiba anaknya muncul.

“Mama ngomong dengan siapa?”

Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu.

“Dengan dia.”

“Siapa dia?”

“Teman baik Mama.”

“Kenapa bibirnya merah sekali?”

“Karena baju yang dipakainya juga merah.”

“Kenapa alisnya kecil sekali?”

“Karena dia cantik.”

“Kenapa dia cantik?”

“Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.”

Anak itu berpikir.

“Mama ikut?”

“Ya dong. Mama kan harus memberikan sambutan.”

“Kenapa?”

“Sebab Harkitnas itu sangat istimewa.”

“Kenapa istimewa?”

“Karena Harkitnas itu sejarah.”

“Sejarah itu apa?”

“Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.”

“Bagaimana kalau tidak betul.”

“Harus betul. Kalau tidak betul bukan sejarah.”

Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.

“Dia juga betul?”

“Ya tentu saja.”

“Mana?

Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.

“Ini dia.”

Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.

“Kamu cantik sekali.”

“Memang.”

“Kamu teman Mamaku?”

“Ya.”

“Tapi Mamaku tidak cantik.”

“Jangan hanya lihat muka, hati Mama cantik kan?!.”

“Bibirnya tidak merah.”

“Nanti kalau Mama pakai baju merah, pasti bibir Mama juga akan merah.”

“Tidak.”

“Kok tidak?”

“Aku tidak suka bibir merah.”

“Kenapa?”

“Sebab ……. .”

Anak itu kehabisan kata, lalu berpaling untuk mengingat-ingat. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya, ia kembali memandangi ibunya.

“Kenapa aku tidak suka bibir merah?”

Anna mengelus kepala anaknya.

“Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu, kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor, kan?”

“Betul. Aku tidak suka pipiku kotor.”

“Makanya, kalau sudah selesai dandan, Mama tidak akan mencium kamu lagi. Memeluk juga tidak, karena nanti dadanannya bisa rontok. Ya?”

“Ya.”

“Baik, kalau begitu Mama berangkat sekarang. Jangan nakal di rumah ya?”

“Ya.”

“Kasih da-da sama teman Mama.”

Anak itu menggeleng.

“Lho kenapa?”

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.”

Anna tertawa.

“O tidak. Bukan dia yang membawa Mama pergi. Dia justru yang Mama ajak pergi. Kalau tidak ada dia, nanti Mama kesepian di situ. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Di situ orangnya suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Kalau Mama sendiri yang datang, mereka akan bosan. Makanya Mama selalu bawa dia, supaya pekerjaan Mama beres. Kalau pekerjaan beres, nanti Mama bisa beliin kamu …. apa?”

Anak itu menggeleng.

“Aku tidak mau dibeliin lagi.”

“Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?”

“Nggak.”

“Donat?”

“Nggak.”

Anna terdiam.

“Habis apa dong?”

“Aku nggak mau apa-apa.”

“Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?”

“Nggak. Aku mau Mama di rumah.”

Anna ketawa.

“Tapi hari ini Harkitnas sayang, Mama harus ke sana memberikan sambutan.”

“Suruh dia saja. Kan orangnya cantik.”

“Tidak bisa. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan.”

“Katanya itu sejarah.”

“Memang.”

“Kenapa dia tidak tahu?”

Anna menarik nafas dalam.

“Karena dia cantik, karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Hardiknas

2 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ali mendapat inspirasi dari Elvira supir trans Jakarta Blok M-Kota yang memakai pakaian daerah Palembang pada hari Kartini. Semingggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan nasional (2 Mei), ia ke sekolah memakai pakaian daerah.

Beberapa hari pertama, ia sempat menarik perhatian. Para murid tercengang. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Semuanya hanya senyum-senyum menganggap guru itu mau sok nyentrik. Guru-guru lain hanya pandang-pandangan. Mereka pikir Ali sedang berusaha untuk menarik perhatian. Ada kabar burung ia jatuh cinta pada Bu Ani, guru baru yang selalu mengajar dengan memakai baju kurung.

Tetapi ketika Ali masih terus memakai pakaian daerah selama seminggu, Kepala Sekolah, kontan memanggil.

“Pak Ali, apa sebenarnya missi Pak Ali, mengajar dengan memakai pakaian daerah?”

Ali terkejut. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakaian daerah merasa kikuk. Tetapi setelah satu minggu, ia lupa itu pakaian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Baru ketika Kepala Sekolah menegur, ia sadar kembali ia sudah memakai pakaian daerah.

“Maaf Pak, saya tidak ada missi apa-apa. Saya hanya mencoba menyambut Hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa, dipaksa oleh orang tuanya.”

“Tapi kan hari Pendidikan sudah lewat?”

“Betul, Pak.”

“Berapa lama Pak Ali mau pakai pakaian daerah begini?”

“Ya kalau diperkenankan, untuk seterusnya, Pak.”

Kepala Sekolah terkejut.

“Tapi kita kan sudah punya seragam sekolah. Pak Ali tidak suka seragam kita? Ini protes?”

“Sama sekali tidak, Pak..”

“Kalau begitu, saya minta supaya Pak Ali kembali mengenakan seragam sekolah saja kalau sedang mengajar. Di luar sekolah terserah Pak Ali.”

Ali tidak menjawab. Sebenarnya kalau tidak disuruh berhenti, ia memang sudah merencanakan untuk kembali mengajar dengan pakaian seragam guru. Tapi karena dilarang, tiba-tiba ia ingin melawan.

“Maaf Pak, “kata Ali kemudian dengan sopan, “apa memakai pakai daerah kalau sedang mengajar itu membuat ilmu yang kita ajarkan kepada murid-murid jadi cacad?”

Kepala sekolah ketawa.

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu apa salahnya guru memakai pakaian daerah ke sekolah, Pak?”

“Tidak ada.”

“Tapi kenapa saya dilarang?”

“Karena sekolah kita sudah punya seragam untuk guru yang sedang mengajar. Kalau di luar jam pelajaran, Pak Ali memakai pakaian apa juga terserah. Kesepakatan sebaiknya tidak dilanggar, Pak Ali, nanti jadi preseden yang buruk Kita guru harus menjadi teladan murid-murid, Pak Ali.”

Ali terdiam. Kepala Sekolah merasa Ali sudah setuju. Tapi esoknya, Ali tetap saja mengajar dengan memakai pakaian daerag. Tentu saja ia kembali dipanggil.

“Pak Ali kelihatannya belum mengerti maksud saya, silakan memakai seragam guru kalau sedang mengajar.” Kata Kepala Sekolah dengan nada mulai keras.

“Saya sudah mencoba, Pak. Tapi badan saya tidak mau berangkat kalau pakai seragam. Jadi saya terpaksa memakai pakaian daerah kembali.”

Kepala Sekolah hampir saja tersenyum karena jawaban itu lugu dan lucu. Tapi guru-guru lain yang mendengar percakapan itu sudah terlebih dahulu ketawa. Kepala Sekolah, lalu menaikkan suaranya.

“Kalau Pak Ali tidak mau mematuhi aturan sekolah, lebih baik jangan mengajar!”

“Kenapa Pak?”

“Sebab desiplin adalah salah satu yang lemah dalam pendidikan kita. Kita pintar membuat aturan, tetapi tidak mampu melaksanakannya, sehingga semua aturan itu mubazir. Kita baru saja memperingat Hari Pendidikan. Memegang desiplin adalah salah satu dari usaha yang konkrit kalau mau memperingati Hari Pendidikan dengan sungguh-sungguh. Pak Ali mengerti maksud saya?”

“Saya mengerti. Bapak melarang saya mengajar memakai pakaian adat.”

“Bukan.!”

Ali tercengang.

“Saya melarang semua guru di sini untuk melanggar kesepakatan yang sudah kita sepakati bersama. Guru kalau mengajar harus memakai pakaian seragam guru sebagaimana juga murid kalau masuk harus memakai pakaian seragam murid. Kita tidak hanya mendidik murid menjadi pintar, tetapi kita juga mendidik jiwa murid untuk dewasa dengan memegang tegun desiplin. Dan itu caranya dengan memberikan contoh. Saya tidak memperkenankan guru memberi contoh buruk, melanggar desiplin! Paham?”

Ali terkejut karena suara Kepala Sekolah lantang, sehingga guru-guru yang lain mendengar. Meskipun tidak menjawab, esoknya, Ali tetap saja ke sekolah memakai pakaian daerah.

Ketika Ali hendak masuk gerbang sekolah, satpam langsung menahan.

“Maaf Pak Ali, kami tidak mengizinkan Bapak mengajar tanpa memakai pakaian seragam sekolah.”

“Tapi ini pakaian daerah, ini lebih tinggi dari pakaian seragam sekolah.”

“Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan perintah.”

“Dalam militer yang pangkatnya lebih tinggi, dihormati oleh yang pangkatnya di bawah.”

“Tapi ini sekolah, Pak!”

“Sama saja. Kalau mau belajar desiplin, militer adalah biangnya. Jadi kalau mau menegakkan desiplin harus menghormati yang pangkatnya lebih tinggi! Buka pintunya!”

Satpam itu bingung. Tapi ketika Ali mau masuk, satpam cepat menghalangi.

“Aku guru, aku mau mengajar!”

“Saya hanya menjalankan tugas, Pak!”

Terjadi ketegangan. Tiba-tiba entah siapa mulai terjadi perkelahian. Murid-murid keluar dari ruangan dan kemudian rama-ramai melerai. Kedua belah pihak ditenangkan. Setelah semuanya reda, lalu Bu Ani maju dan berbicara kepada semuanya.

“Anak-anakku semua para pelajar, itulah tadi contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan, sehingga kita tidak perlu berantem karena hal-hal yang tidak perlu. Keplok tangan buat Pak Ali, Bapak Kepala Sekolah dan Satpam yang sudah memerankan peranannya dengan bagus!”

Semua murid berikut para guru berkeplok riuh.

Kategori: cerpen
Ditandai: