Putu Wijaya

Masukan dari Juni 2008

Damai

27 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur, Renon Sabtu lalu.

Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu, menjawab dengan pertanyaan.

“Kalau tidak perlu kenapa?’

Amat terkejut.

“Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian.”

“Jadi sebaiknya bagaimana?”

“Damai itu tidak dideklarasikan, tetapi dilaksanakan saja.”

“Caranya?”

Amat berpikir.

“Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai, bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak, karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Karena mau melindungi ketakutannya, lalu mereka ikut berteriak, untuk mengatasi rasa cemasnya. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!”

“Masak?”

“Habis, meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?”

Amat tiba-tiba berteriak.

“Damai! Damia! Damai!!!!!!”

Bahkan kewmudian mengaum.

“Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”

“Stttt! Bapak!”

“Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Kalau sudah begitu, nanti yang terjadi bukan damai, tetapi perang, dengan dalih damai. Jadi karena dideklarasikan, damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!”

“Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?”

“Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?”

“Karena Bapak tidak ikut?”

“Betul. Aku berada di luar, jadi aku bisa melihat apa jeleknya!”

Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar.

“Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya.

Amat dan Ami tercengang.

“Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!”

“Cepat tolong, Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!”

Ami terlebih dahulu keluar. Amat masih berpikir.

“Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!”

Karena Amat masih bengong, Bu Amat menyeret suaminya keluar. Benar saja. Di rumah tetangga, sudah banyak orang berkerumun. Tapi hanya menonton. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Ketika melihat Amat datang, Para tetangga menyisih memberikan jalan. Amat jadi gentar. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Alangkah sialnya jadi orang tua. Kalau lagi senang-senang disisihkan, dianggap sudah jadi besi tua. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah.

“Ayo Pak Amat, suruh mereka damai!” bisik para tetangga.

“Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol,”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut.

Perlahan-lahan Amat maju. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Kalau salah satu bergerak, akan terjadi pertempuran segitiga. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Mungkin keris atau pisau. Yang jelas, itu saat yang amat sulit.

Amat maju setapak-setapak, agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya, karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Kelewangnya berkelebat. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat.

“Maaf, Bapak tidak ikut campur.”

Ketiganya mundur, tetapi mengangkat kelewang, seperti siap menebas. Sekujur badan Amat gemetar. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian, membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan.

“Bapak hanya mengingatkan bahwa, kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Rumah ini tidak bisa dibagi. Rumah ini memang milik kalian bertiga. Tapi kalau dibagi akan hancur. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama, tempat kita semuanya berkumpul. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi, sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga, karena kalian mau memakainya sendiri. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela, karena kalian juga adalah warga kami …….”

Suara Amat hilang. Pikirannya sudah mengatakan, tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Beberapa detik lagi, ia akan roboh. Tetapi aneh. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar.

Disaksikan oleh seluruh tetangga, ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Mereka mundur, lalu berbalik dan pergi. Waktu Amat nyaris hambruk.

Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Tetapi situasii sudah terkendali.

“Untung polisi cepat datang, kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada.

Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga.

“Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat, ” Tadi bukannya memberikan peneduhan, malah membuat mereka tadi tambah marah. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi, kalau tidak, entah apa jadinya tadi. Bapak sih tadi ngomong begitu, ketiga-tiganya malah mengangkat kelewang!”

Di rumah esoknya, setelah pikirannya tenang, Amat baru menjawab.

“Bukan karena polisi itu, tiga bersaudara itu berhenti berkelahi, Bu.”

“Karena apa?”

“Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Kekerasan

6 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.

“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”

Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.

“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”

“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”

“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”

“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”

“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”

“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”

“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”

“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”

“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”

“Nah makanya!”

“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”

“Betul?”

“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”

“Bagaimana dengan poligami?”

“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”

“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”

“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”

“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”

Amat termenung.

“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”

“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”

“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”

“Salah!”

“Salahnya di mana?”

“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”

Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.

“Kok diam saja,”tanya Amat.

“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”

“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”

“Kekerasan apa?”

“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”

“Foto apa?”

“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”

Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.

“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”

Ami menjawab polos.

“Betul.”

“Kenapa?”

“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”

“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”

“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”

Bu Amat menggeleng-geleng.

“Ami kamu salah!”

“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”

“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”

“Bagaimana?”

“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”

Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.

“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”

Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

Kategori: cerpen
Ditandai: ,

Undangan ZERO di GKJ 7 Juni 2008

4 Juni 2008 · & Komentar

Pertunjukan 7 Juni di GKJ, sebelum ke Praha dan Bratislava ZERO, sebuah usaha untuk tidak menyengketakan perbedaan bersama melangkah dengan tulus membina hidup yang lebih baik menghargai, menghormati serta memulyakan kehadiran orang lain.

ZERO

SINOPSIS:

Perang yang dikutuk hanya membawa kesengsaraan bagi yang kalah mau pun yang menang, masih terus saja berlangsung di mana-mana dengan berbagai alasan. Manusia membenci perang dan memimpikan perdamaian. Namun jalan yang ditempuh untuk mencapai perdamaian satu sama lain berbeda bahkan bertentangan. Dengan dalih menciptakan perdamaian, manusia pun akhirnya berkelahi untuk memenangkan upaya perdamaian yang dianggapnya paling benar dan adil.

ZERO adalah sebuah esei visual yang mencoba mengajak setiap orang untuk kembali ke wilayah nol tanpa keinginan tertentu kecuali menghormati dan mencintai sesama dengan berpegangan dari hati ke hati untuk mengakhiri peperangan.

Pada 10 Juni, Teater Mandiri akan berangkat ke Praha, Republik Ceko membawa pementasan ZERO dalam rangka: “50 let Kulturni dahoda mezi Indonesii a Cekoslovenskem”.(50 tahun kerjasama kebudayaan RI-Ceko) Pementasan yang diikuti oleh workshop untuk mengenalkan teater Indonesia di mancanegara itu akan diteruskan ke Bratislava. ZERO yang diciptakan pada tahun 2003, telah dimainkan di Tokyo, Taipeh, Hong Kong, Cairo, Singapura dan beberapa kota di Indonesia.

PEMAIN:

Yanto Kribo – Alung Seroja – Ucok Hutagaol – Wendy Nasution – Fien Herman – Bei – Kardi – Agung Wibisana – Umbu LP – Tanggela – Putu Wijaya.

MUSIK:

Moro (dan musik Harry Roesly & DKSB)

Pimpro:

Dewi Pramunawati

SUTRADARA:

Putu Wijaya

Teater Mandiri

TEATER MANDIRI

Teater Mandiri didirikan pada 1971 di Jakarta. Mula-mula hanya membuat pertunjukan untuk televisi, kemudian mulai main di TIM sejak 1974 dengan naskah ADUH. Pada 1989 mulai main di GKJ dengan naskah WAH. Sejak 1991 Teater Mandiri lebih memusatkan penampilannya ke mancanegara. Pementasan sudah dilakukan di Tokyo, Kyoto, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Cairo, Hamburg, Brunei, New York, Middle Town. L.A dll.

Teater Mandiri bukan organisasi tetapi sebuah komunitas peguyuban, tempat mengembangkan jati diri. Teater bukan tujuan, tetapi alat untuk mengembangkan, menumbuhkan dan menemukan diri. Teater Mandiri mendasarkan kerjanya pada “Bertolak Dari Yang Ada” untuk menciptakan “Teror Mental”.
Mohon dukungannya.

Kategori: undangan
Ditandai: ,

Tiada Lagi Bang Ali

3 Juni 2008 · & Komentar

Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Pertama, dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Kedua, almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan.

Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Dengan keras, tegas dan penuh desiplin, Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Bandit-bandit dihalau. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat, menyebabkan keamanan mulai pulih. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria.

Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat, lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa, karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur.

Betul sekali. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Bang Ali menjadi sebuah contoh,

Warga ibukota di masa Bang Ali, menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Pimpinan dan rakyat lebur. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti, tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata, tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968, adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Tidak ada sensor dan kekangan, sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara, bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik.

TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang, karena setelah dua decade, hasilnya nyata. Dia melahirkan “tradisi baru”. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat, untuk kembali membumi pada akarnya. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi, tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM, yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi, melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti.

Memang keberadaan TIM kini, tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Tetapi apa yang sudah terjadi, sudah tercatat dan akan bekerja terus. Pada setiap kesempatan yang baik, tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi.

Bang Ali kini tiada lagi. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang, melahirkan busway, bikin mono reel, mencetak mall, membanjiri jalanan dengan motor, menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar, tetapi lebih dari itu, adalah menyehatkan kehidupan budaya. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani, tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan.

Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit, sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional.

Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng, tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Mata mereka mengatakan, seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar, alangkah indahnya. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik, ekonomi, teknologi.

Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan, memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih, menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Saya dengar sendiri semuanya itu. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah,”katanya.

Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Itu masa ketika desiplin benar-benar tegak di TIM. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk, ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus.

Saya sendiri sempat kena getahnya. Pada 1975, saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO, di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM, saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan dilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah.

Koran meributkan pertunjukan itu. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak, bagaimana pendapat saya. Saya katakan pada waktu itu, seandainya saya Gubernur, saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin, memaki-maki saya.

Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya, karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa, sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan, tetapi karena sayang.

Walau kini Bang Ali sudah tak ada, tapi ia tetap hidup di hati. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Kalau belum nampak mesti kita cari. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Kalau tidak ada juga, mesti kita jadikan.

Kategori: catatan
Ditandai:

Panca Sila

2 Juni 2008 · & Komentar

Amat minta dibuatkan nasi kuning.

“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.

“Merayakan kelahiran Panca Sila.”

“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”

“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”

Bu Amat tercengang, kontan membentak.

“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”

Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.

“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!!”

Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan ,

Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.

Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.

Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik.

“Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”

Ami mengangguk tenang.

“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”

“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”

“Tenang saja, Pak.”

“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”

“Memang.”

“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”

Ami mengernyitkan dahinya.

“Masak begitu?”

“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”

“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”

“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”

Ami nampak beringas.

“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”

“Ya kan?!”

Ami tiba-tiba tertawa.

“Kok ketawa?”

“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”

Amat tercengang.

“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”

“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”

Amat terkejut.

“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”

“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”

Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.

Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.

Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.

“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”

Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”

“O ya?”

“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.

Ami tersenyum.

“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.

Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.

Kategori: cerpen
Ditandai:

Bung Karno

1 Juni 2008 · & Komentar

Ami bertemu dengan Bung Karno.

“Pak!”

“Ya? Ada apa Ami?”

“Kenapa Bapak tidak pernah kembali?”

“Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi.”

“Tapi kami perlu Bapak.”

“Memang. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna, kalau tetap ada mungkin sia-sia.”

“Tidak. Kalau Bapak ada, tidak akan begini jadinya.”

“Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi, yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.”

“Kami sudah mencoba, Pak, tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak.”

Bung Karno tersenyum.

“Kamu kurang sabar saja.”

“Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami sudah menunggu. Kami memberikan kesempatan, kepercayaan bahkan juga dukungan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi.”

“Itu namanya kurang sabar.”

“Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan, bukan menjadi lebih perih. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah, Pak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!”

“Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu.”

“Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik, seperti pidato Bapak, kami juga perlu demokrasi ekonomi.”

“Kan sudah banyak sekali ahlinya.”

“Memang. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Yang kami dapat hanya pertentangan.”

“Itu namanya demokrasi.”

“Tidak Pak, bukan itu. Kami ingin makmur, sejahtera, aman supaya kami tenang. Seperti kata dalang dalam wayang, kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi.”

Bung Karno tertawa.

“O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?”

“Tidak, Pak. Bapak saya yang suka wayang. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi.”

Bung Karno tertegun.

“Apa itu? Aku belum pernah dengar.”

“Lho Bapak katanya kutu buku. Masak Bapak tidak pernah baca?”

“Belum.”

“Baca dong Pak. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Beda sekali dengan dulu, Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup, tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung, Pak.”

” O begitu?”

“Ya! Makanya Bapak harus kembali. Kami memerlukan Bapak!”

Bukan Karno mengangkat tangannya.

“Tidak mungkin!”

“Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?”

“O kalau itu, lebih dari cinta.”

“Kalau cinta kembali dong!”

“Tidak bisa. Karena cinta Bapak tidak akan kembali, supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya, Bapak harus pergi, ada undangan untuk bicara di depan PBB!”

“Pak!!!!”

Tapi Bung Karno sudah pergi. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar, tangannya dipegang oleh Pak Amat.

“Ami!”

Ami terkejut dan membuka matanya.

“Sudah siang kok ngelindur. Ayo bangun!”

Ami mengusap matanya.

“Saya mimpi ketemu Bung Karno.”

“Ya siapa yang tidak. Juni kan bulan ulang tahunnya. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Orang besar itu tidak pernah pergi.”

“Tapi beliau bilang, tidak bisa kembali.”

“Ya tidak perlu karena dia masih di sini!”

“O masih di sini?”

“Ya masih.”

“Di mana?”

“Panca Sila itu apa?!”

Ami mengangkat tangannya.

“Bukan itu. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang, supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Baru kalau kita bangga, kita akan bisa bangkit. Kalau tidak ada kebanggaan, tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma.”

Amat tertawa.

“Kamu masih ngelindur!”

Ami menggosok matanya.

“Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda.”

Amat tertawa.

“Kalau kamu benar-benar memikirkan realita, jangan hanya mimpi, itu lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!”

Amat membuka jendela kamar Ami. Sinar matahari menerobos masuk. Ami menutup matanya karena silau. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur.

“Ayo bangun!”

Ami berdiri kesal. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Tetapi ketika dia berbalik. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum.

“Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Tapi waktu kembali ke mari, lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan, seperti di masa lalu. Ternyata tidak ada yang berubah, Ami. Gedung, kendaraan dan keadaan memang sudah lain, tetapi hati mereka masih sama. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya, seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Coba lihat!”

Kategori: cerpen
Ditandai: