Putu Wijaya

Masukan dari Agustus 2008

Pahlawan

27 Agustus 2008 · & Komentar

Seorang seniman mendapat penghargaan. Tetapi tidak seperti di masa-masa yang lalu, hanya berupa piagam dan uang seupil. Ia ditimpa doku yang lebih besar dari yang diterima Susy Susanti ketika menggondol emas untuk bulutangkis di Olimpiade Dunia. Lima milyar.

Rakyat terpesona. Tak menyangka seni bisa menelorkan rizki sehebat itu. Sudah cukup bukti dunia seni kering, banyak seniman mati sebagai kere. Menjadi seniman sudah dicap semacam kenekatan. Lebih dari 90 persen lamaran seniman ditolak oleh calon-mertuanya, kecuali ada komitmen mau banting stir cari pekerjaan lain yang lebih produktif.

Masyarakat seniman berguncang. Angin segar itu membuat profesi seniman naik daun. Tapi berbareng dengan itu hadir pula dengki. Mengapa baru sekarang terjadi? Dan mengapa jatuhnya kepada Dadu, yang langganan ngutang di warung tapi ogah bayar itu?”

“Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? Masak pemalas begitu dikasi hadiah. Ntar juga habis dipakai minum dan nyabo. Itu kan tidak mendidik. Cari dong kandidat yang lebih layak. Masak di antara 220 juta jiwa ini tidak ada yang lebih keren?”

“Jurinya ada main!”

Dadu tidak peduli. Dengan tenang-tenang saja, ia menyiapkan penampilannya yang layak pada malam penerimaan hadiah. Ia ngutang beli jas dan dasi. Langsung itu jadi bahan omongan.

“Sialan, dulu ngaku alergi sama hadiah dari pemerintah. Sekarang baru diuncal duit gede ngibrit tak peduli nasib rakyat! Dasar penjilat! Pengkhianat! Mata duitan!”

Dadu sama sekali tidak goyah oleh sindiran itu.. Ia malah menganggapnya sebagai publikasi gratis. Hadiah itu diterimanya dengan senyum lebar. Wajahnya terpampang di halaman depan koran. Kelihatan bangga dan yakin pantas menerima kehormatan. Suara-suara penentangnya menjadi bertambah lantang.

“Kita sudah dibeli semua! Tidak ada lagi yang punya harga diri! Banci!”

Di situ Dadu baru naik darah.

“Bangsat!” teriaknya mencak-mencak. “Sejak kapan mereka berhak mengkomando siapa aku ah? Sejak kapan aku harus jadi budak dan menyerah dicocok-hidung oleh setan-setan yang mau menjadikan aku pahlawan itu! Aku ini si Dadu, anak miskin yang tidak mampu beli celana dalam. Makan juga nembak melulu! Aku bukan pahlawan kemiskinan yang menentang kemapanan. Aku bukan tentara bayaran yang mau bertempur untuk memuaskan mereka yang mau mengadu aku dengan pemerintah! Aku milik diriku yang yang akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan. Aku tidak akan terpancing oleh segala hasutan, provokasi, gerpol dan teror itu. Aku lakukan apa yang aku yakin baik aku lakukan. Persetan sama kalian semua! Jangan ganggu kemerdekaanku anjing! Kalian binatang semua!”

Nyamuk pers senang sekali Dadu kalap. Mereka segera merubung untuk memancing Dadu mengumpat lebih liar. Kalau ada yang berkelahi berita akan laku keras. Untung pacar Dadu mengingatkan.

“Sabar Bang. Hadiah baru diterima, darah abang jangan naik. Kalau struk atau kena serangan jantung, lima milyar tidak ada gunanya.”

Dadu tertegun.

“Tapi aku marah. Kenapa aku dipancing jadi pahlawan. Kenapa bukan mereka saja yang menjadikan dirinya pahlawan. Aku berhak menikmati hadiah ini.”

“Memang.”

“Coba dia yang jadi aku. Tidak usah lima milyar, lima juta juga sudah akan menyembah!”

“Tidak usah ngomong begitu!”

“Kenapa?”

“Sebab itu yang memang mereka mau!”

“Jadi mereka senang kalau aku marah?”

“Persis!”

“Kalau begitu biar aku marah saja terus supaya mereka puas dan berhenti mengganggu kita!”

“Tak mungkin!”

“Mengapa tidak?”

“Sebab mereka menginginkan kamu menjadi seorang pahlawan!:

Dadu tercengang.

“Itu dia yang aku tentang!”

“Jangan. Itu jangan ditentang. Jadilah seorang pahlawan!”

“Aku tidak sudi!”

“Dengerin dulu! Mau denger tidak?!!”
Suara pacar Dadu mulai keras sehingga Dadu terpaksa diam. Tapi dia masih menggumam.

“Aku tidak mau jadi pahlawan kesiangan!”

“Tidak usah. Tapi jadilah pahlawan, dengan cara kamu!”

“Maksudmu?”

“Jadilah pahlawan tetapi tidak dengar cara seperti yang mereka mau. Jadilah pahlawan menurut cara kamu sendiri!”

“Memang itu yang aku lakukan!”

‘Tidak! Dengan marah kamu masih menjadi pahlawan dengan cara yang mereka mau!”

Dadu menyimak.

“Maksudmu bagaimana?”

“Terima penghargaan itu, karena itu sebuah pengakuan yang terhormat, tetapi kembalikan hadiahnya, karena lima milyar itu sudah membuat banyak orang merasa dirinya begitu miskin, sehingga mereka mengaum meminta kamu menolaknya!”

Dadu terdiam.

“Bagaimana?”

Dadu memejamkan matanya.

“Bagaimana?”

Dadu membuka mata dan menatap pacarnya sambil berkata lirih dan tenang.

“Ternyata kita berbeda.”

“Berbeda?”

“Ya. Aku mengingin penghargaan itu karena mereka sudah memberikannya. Dan aku juga menginginkan duit 5 milyar itu sebab aku memang berhak mendapatkannya! Aku sama sekali tidak tertarik menjadi pahlawan, sebab aku manusia biasa! Aku tetap akan menerima sebab aku berhak menjadi diriku!”

Mereka berpandangan. Tiba-tiba pacar Dadu memeluk erat sambil berbisik.

“Kamu benar-benar seorang pahlawan!”

Kategori: cerpen
Ditandai: ,

Ada Tak Ada

24 Agustus 2008 · & Komentar

Sajak buat peringatan Cak Nur

Kucari sebuah kata untuk mengungkapkan cintaku

Tak ada

Kucari sebuah jalan untuk memacu seluruh hasratku

Tak ada

Kucari sebuah baskom untuk menampung seluruh inginku

Tak ada

Kucari sebuah makna untuk mengosongkan kandungan hatiku

Tak ada

Kucari wajahmu di mana-mana

Tak ada

Kucari nama yang tepat untukmu

Tak ada

Kucari ucapan yang layak untukmu

Tak ada

Kucari tempat yang pantas untukmu

Tak ada

Kucari rumah yang cocok untuk memenjarakan

Tak ada

Kucari hari ruang baik untuk mengabadikanmu

Tak ada

Kucari segala-galanya yang tak ada

Tak ada

Tak ada

Kau tak ada

Kau tak bisa dicari

Kau selalu di sana di lubuk batin yang paling jauh

Kategori: sajak
Ditandai:

Kebebasan

23 Agustus 2008 · & Komentar

Ada anak perempuan yang tiba-tiba mengurung dirinya. Dia sama sekali tidak mau keluar rumah. Bahkan di dalam rumah ia lebih banyak mendekam di kamar. Hal ini mencemaskan keluarga dan menimbulkan curiga tetangga.

“Kalau tidak bunting tetapi tidak ketahuan siapa lakinya, mungkin itu tanda-tanda mau gila,”analisa seorang tetangga.

Keluarga langsung mengadu kepada yang berwajib..

“Kami sudah difitnah, Pak. Kami bersumpah anak kami masih perawan. Dia siap membuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tidak mungkin anak kami melakukan tindakan bejat. Jiwa-raganya sehat. Anak kami waras, bahkan IQ-nya tinggi sekali. Dia hanya memutuskan tidak mau keluar rumah lagi sebab dia mau merdeka.”

Petugas yang mencatat pengaduan itu bingung.

“Mau merdeka?”

“Ya.”

“Tapi kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945!”

“Itu kemerdekaan politik, Pak. Anak saya mau merdeka di dalam berekspressi.”

Petugas berhenti mencatat. Dia berpikir, lalu permisi ke belakang. Di belakang ia berunding dengan teman-temannya. Petugas lain, lebih senior, lalu muncul, menggantikan bertanya.

“Bapak tadi mengatakan bahwa kita belum merdeka?”

“Bukan begitu, Pak. Saya mengatakan bahwa anak saya tidak keluar rumah, karena dia ingin merdeka di dalam berekspresi.”

“Silakan. Kita kan sudah merdeka.”

“Tapi itu tidak akan bisa dilakukan di luar rumah, Pak, sebab akan dituduh mengganggu kebebasan orang lain. Kami bisa diswiping.”

Petugas itu berpikir. Akhirnya bertanya dengan curiga.

“Tergantung dari apa yang mau Bapak lakukan!”

“Berekspresi saja, Pak.”

“Ya apa itu?”

“Berbicara, berbuat, berpikir, bertingkah-laku, berpakaian, mengeluarkan pendapat dan sebagainya, Pak.”

“Silakan. Selama itu tidak mengganggu ketertiban dan hak-hak orang lain, Bapak bebas melakukannya. Bahkan mengganggu pun silakan, asal itu hanya terjadi di dalam pikiran Bapak saja.”

“Bukan saya, Pak. Anak saya. Saya melaporkan apa yang menimpa anak saya.”

“Di mana dia sekarang?”

“Di rumah, Pak.”

“Sakit?”

“Sama sekali tidak, Pak.”

“Kenapa tidak datang sendiri melapor ke mari?”

“Sebab dia konsisten dengan pendapatnya, Pak. Di luar rumah tidak bisa merdeka lagi berekspressi sekarang, karena akan dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Jadi dia sudah beberapa bulan ini berkurung rumah. Tapi itu pun tidak bisa, karena dia difitnah dikatakan bunting atau gila. Belakangan saya dengar ada yang menghasut, kalau gila harus dimasukkan ke Rumah Gila, kalau tidak akan mengganggu masyarakat.”

“Jadi ada pihak-pihak yang menekan Bapak supaya memasukkan anak Bapak ke Rumah Sakit Gila?”

“Arahnya pasti ke situ, Pak.”

“Konkritnya Bapak kemari mau mengadukan ……. ?”

“Fitnah, Pak!”

Petugas itu melihat ke mesin ketik. Setelah membaca ia mengeluarkan kertas dari ketikan itu sambil ngedumel.

“Kalau begitu ini salah. Jadi Bapak sudah ditekan oleh massa untuk mengirimkan anak bapak ke Rumah Sakit Gila!”

“Bukan, bukan begitu, Pak.”

Petugas tertegun.

“Jadi bagaimana?”

“Saya datang untuk meminta perlindungan. Berikanlah hak pada anak kami yang tidak ingin keluar rumah. Sebab dia ingin bebas mengekspresikan dirinya di dalam rumah. Dengan tidak keluar rumah, sebenarnya anak saya kan mau memelihara kebebasan orang lain di luar rumah? Mestinya mereka berterimakasih, tetapi kenapa anak saya malah difitnah?”

Petugas itu menarik nagas panjang. Mengeluarkan rokok. Setelah beberapa kali hisap, ia meletakkan rokoknya, lalu permisi, masuk ke kamar atasannya. Tak berapa lama kemudian, atasannya muncul. Masih muda dan cakap.

“Selamat pagi, Pak, ada persoalan apa?”

Senyum dan keramahan petugas yang rupanya orang nomor satu di pos meluluhkan. Bapak yang mengadu itu. Ia langsung berpikir, kalau ada pemuda semacam itu melamar putrinuya, dia akan menyerah tanpa syarat.

“Ada masalah apa?”

“Anak saya difitnah, Pak.”

“Difitnah bagaimana?”

“Difitnah bunting dan gila karena tidak keluar rumah, Pak.”

“Kenapa tiak keluar rumah?”

“Sebab dia merasa sekarang kemerdekaan sudah diartikan seenaknya oleh orang lain, sehingga kemerdekaan itu membuat orang lain tidak merdeka. Padahal kita kan sudah setengah abad merdeka, Pak. Anak saya merasa kebebasan berekspresinya terancam di luar rumah, jadi dia berkorban, tidak mau keluar rumah. Malah diserang oleh massa. Saya datang untuk mendapatkan perlindungan.”

Pejabat muda itu mengangguk.

“Putri Bapak itu seniman?”

Bapak yang mengadu itu mengeluarkan dompetnya, lalu menarik foto anak gadisnya.

“Anak saya ini, Pak.”

Semua tercengang melihat foto seorang gadis yang cantik dan sensual.

“Wah putri Bapak cantik sekali. Wajar masyarakat protes, kenapa orang secantik itu tidak mau keluar rumah lagi.”

Muka Bapak yang melapor itu tiba-tiba pucat. Ia lama terdiam. Kemudian dia seperti baru bangun tidur, buru-buru permisi dan membatalkan pengaduannya.

“Ternyata kita selalu bisa melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Itu sebenarnya makna kebebasan,”bisiknya dengan sungguh-sungguh pada putrinya.

Kategori: cerpen
Ditandai:

Kekerasan

22 Agustus 2008 · & Komentar

Warga menyerbu rumah Afandi. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil, kontan diseret ke lapangan. Lalu sambil berteriak-teriak lukisan dibakar beramai-ramai.

Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Rumahnya nyaris dibakar. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa.

“Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam, kamu harus minggat dari sini. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis, sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!”

Istri Agandi menangis tersedu-sedu. Itu dianggap sebagai persetujuan.

Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. . Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi, Afandi tetap saja diam.

Pelukis itu kemudian pindah ke kota. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi.

Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya, selalu menghindar. Dia bukan jenis pahlawan atau pemberontak. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Publikasi berbahaya. Karena itu akan mengundang malapetaka. Ia ingin banting stir, berhenti menjadi seniman. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol, karena anak-anaknya masih kecil.

Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil, sebaliknya. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan, tendangan dan pukulan. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya.

“Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Suami saya juga sudah berhenti melukis.”

“Kenapa?”

“Sebab dia tidak bisa melukis yang lain.”

“Tidak bisa atau tidak mau?”

“Tidak bisa dan tidak mau.”

“Kenapa?”

“Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang.”

“O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?”

Istri Afandi terkejut. Wartawan cepat-cepat menjelaskan.

“Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing.

Istri Afandi masih belum selesai terkejut.

“Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?”

“Gambar anak-anak saya.”

“Hanya itu?”

“Gambar suami saya sendiri.”

“Yang tiga lagi?”

“Gambar saya.”

“Yang lain?”

“Gambar orang tua.”

“Siapa dia? Pemimpin kita?”

“Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara.”

“Terus yang lain?”

“Yang kelima?”

“Saya tidak tahu.”

“Laki atau perempuan?”

“Seperti laki-laki seperti perempuan.”

“Banci?”

“Bukan.”

“Mirip siapa?”

“Tidak tahu. Kata suami saya sih, itu hati nurani.”

Wartawan terkejut.

“Tuhan?”

Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan.

“Tuhan dibakar!”

Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. Para pembaca koran marah. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya.

“Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Habisi saja!”

Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru, mereka hanya menemukan puing-puing. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok.

“Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar.

Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam, langsung diamankan. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Mereka menolak dan melawan. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa.

“Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat.

Kategori: cerpen
Ditandai: ,

Pilkada

21 Agustus 2008 · & Komentar

Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu, dua atau tiga? Amat bimbang. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik.

“Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami..

“Itu rahasia, Ami.”

“Terus-terang saja, Bapak bingung!”

“Kenapa mesti bingung?!”

“Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai pemilih, Bapak tidak mau salah pilih, kan?!.”

“Betul!”

“Jadi?”

“Ya Bapak bingung.”

Ami tersenyum.

“Kalau begitu Bapak akan jadi golput?”

“Ya!”

Ami terkejut.

“Jadi bapak tidak akan memilih?”

Amat berpikir sebentar lalu menjawab.

“Tidak!”

Ami kontan marah.

“Bapak sadar tidak, dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Dengan mematikan satu suara, berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Itu berarti tanpa Bapak sadari, Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak, meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!”

“Maksumu apa?”

“Golongan putih itu tidak ada. Itu hanya teori. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!”

Amat tertawa.

“Bapak mau jadi orang biasa saja, Ami, ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!”

“Bukan itu maksud Ami. Sebagai warga yang bertanggungjawab, Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. Pilih satu. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami, itu jauh lebih baik, daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan, Pak. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini, tidak mau menentukan sikap, tidak berani mengambil resiko. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! “

Amat terdiam. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat.

“Anakmu itu menuduh aku ini pengecut.”

Bu Amat terkejut.

“Masak?”

“Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada.”

Bu Amat tambah terkejut lagi.

“Masak?”

“Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.”

“Ah masak?”

“Lho jelas!”

“Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali, Pak. Pilih yang paling ganteng saja!”

Amat kaget.

“Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?”

“Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya.”

Amat tercengang.

“Wah, itu kebangetan. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua, kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Jangan begitu, Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita, boleh dipilih. Kalau tidak, meskipun bagus jangan dipilih. Jadi dikacaukan!”

“Itu kan pilihan Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!”

Amat bingung.

“Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?”

“Itu rahasia!”

“Jangan begitu, Bu. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya, tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin, melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. Ibu jangan hanya pakai perasaan, enaknya sendiri, harus pakai pikiran! Kalau salah pilih, berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!”

Bu Amat terkejut.

“Wah kalau begitu, baiknya pilih yang mana?”

“Nah kalau sudah begitu, berarti sebelum main coblos akan mikir, jangan asal coblos, apalagi ikut-ikutan. Harus pakai perhitungan!”

Bu Amat terdiam. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami.

“Ami, Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!”

Ami tercengang.

“Lho, memilih itu memang ukurannya bagus. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?”

“Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna.”

“Yang bagus itu, ya, yang berguna. Dan yang berguna itu, ya, yang bagus!”

“Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?”

“Terserah Ibu.Tapi kalau boleh menyarankan, sebaiknya yang bagus dan berguna. Yang berguna tapi bagus.”

“Yang mana?”

Ami tak menjawab. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik.

“Pemilihan itu bebas rahasia, Pak, Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu.”

Amat menatap Ami.

“Bagaimana bisa memilih Ami, kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak, kan?”

Ami terseyum.

“Kalau begitu Bapak akan memilih?”

“Ya!”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Nguping

20 Agustus 2008 · & Komentar

Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.

“Sudah tinggal saja!” kata Ami, “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Tampangnya juga jelek, miskin lagi. Kamu kok mau-maunya sama dia. Tinggal saja. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Cinta boleh, tapi terlalu cinta itu berbahaya. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!”

Bu Amat langsung kaporan pada suaminya.

“Bapak harus mengambil tindakan tegas!”

“Tindakan apa?”

“Ami tidak boleh bicara begitu!”

“Kenapa?”

“Itu kan bukan urusan Ami!”

“Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?”

“Itu bukan nasehat, itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?”

“Ya itu hukum alam!”

“Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.”

“Ya apa salahnya?”

“Salahnya, kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah, nanti Ami juga yang kena getahnya. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!”

Amat ketawa.

“Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!”

“Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Bapak juga dulu begitu kan?”

“Tapi buktinya, Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Coba dengan lelaki bejat itu, entah bagaimana nasibmu sekarang!”

“Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!”

“Biarin. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. Kalau tidak, nanti kita yang akan dikejami sama dia. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Lihat saja, bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Kalau teleponnya tidak disadap , bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. Jadi mesti dipancaing, dipergoki biar kapok, biar tahu rasa!”

Bu Amat termenung. Ia nampak tak senang.

Malam hari Ami menyapa ibunya.

“Kenapa Bu?”

“Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang.”

“Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?”

“Bukan. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Tapi Ibu tidak setuju. Menurut Ibu, perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Baik kepada orang baik, maupun kepada orang jahat.”

Ami mengangguk.

“Ibu lembut sekali.”

“Bukan begitu. Kalau kita mau melawan kejahatan, tidak boleh dengan kejahatan. Itu sama saja,”

‘Maksud Ibu?”

“Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Kejahatan itu akan gagal. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan.”

Ami bingung.

“Aku tidak mengerti, sebenarnya maksud Ibu apa?”

Bu Amat tidak menjawab.

Ami penasaran, lalu mengadu kepada Amat.

“Ada apa dengan Ibu, Pak?”

Amat berpikir.

“Ada apa?”

“Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.”

“O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun, bahkan kepada penjahat pun tidak boleh.”

“Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?”

Amat terdiam.

“Kenapa?”

“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya.”

Ami terkejut.

“Ah yang benar?”

“Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya, meskipun orang itu jahat. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran, sebab demi kebaikan, orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .. .”

Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam, lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.

“Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba.

Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk.

“Ya. Maafkan Ibu Ami, tapi Ibu minta, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Tak baik.”

“Tapi itu bukan urusan pribadi.”

“Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng.”

“Kejahatan apa?”

“Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik.”

“Tapi memang harus begitu!”

“Jangan!”

“Harus!”

“Jangan, Ami!”

“Lho ibu ini bagaimana, naskahnya memang begitu!”

Bu Amat tertegun.

“Naskah? Naskah apa?”

Ami tertawa.

“Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Karena waktunya tidak ada, kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Komunitas Budaya

19 Agustus 2008 · & Komentar

Ketika seseorang mulai kaya, nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Rumah idandani, iperbesar, diperlebar, ditingkatkan. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Kendaraan juga sama, jumlahnya bertambah, jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir.

Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya, juga muncul berbagai ciri. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Kehadirannya juga semakin jarang. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Sosoknya lebih sering di tempat lain, hotel, restoran, mall, tempat peristirahatan dan kota-kota wisata.

Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan.

“Pendapatan, “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. Fasilitas, kesejahteraan, perlindungan, kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta.!”

Ia menikah dengan seorang super model.

“Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang, apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Bayangkan ada 10 rumah, tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. Istri cantik dan terkenal, tapi satu minggu belum tentu bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?”

Edy tertawa.

“Itu matematika kuno. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama.”

“Lalu apa?”

“Pencapaian. Prestasi.”

“Ukurannya?”

“Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Aku ingin di atas. Aku baru merasasenang, puas kalau sudah paling atas. Itu berarti kita berarti. Apa itu kebahagiaan atau bukan, tai kucing. Yang konkrit saja. Nomor satu dan paling depan!”

Pada suatu kali, Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol, Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya, untuk menghajar para pemuda itu.

Mula-mula ia pura-pura bertanya.

“Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?”

Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab.

“Karena Bapak orang yang sukses, bahkan sangat sukses. Kalau Bapak bisa membantu kami, kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Selama ini, kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru, yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka, sebab keuntungannya tidak kelihatan, namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Apa sebenarnya nomor satu itu. Apa sebenarnya menang itu. Dan pada akhirnya, apa sebenarnya bahagia itu.”

Edy tertawa.

‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?”

Kelima pemuda itu tersenyum.

“Wah, jangan memakai kata-kata itu, Pak Edy, sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Ini bukan revolusi, Pak. Ini hanya kebangkitan, yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Bukan dengan gedung, mobil tetapi dengan buah-budi, dengan budaya. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya, karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol.”

Edy ketawa lagi

“Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu, jangan dijawab dulu, saya belum selesai. Orang bilang mobil satu itu cukup. Saya bilang keliru. Mobil sepuluh juga belum cukup. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan, karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung, dari dusun, dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris, London, New Yotk, Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif, meskipun sudah bangun jangan layang, mono rel, dan punya bus way. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Terus-terang, saya tidak tertarik. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja, berhenti berambisi. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Maaf, selamat siang.”

Pertemuan berakhir.

Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu, gagal. Tetapi mereka tidak menyerah.

Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Mereka lalu turun ke rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Menyumbangkan apa saja, untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi.

‘Terimakasih, penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin, teguh dan percaya, komunitas budaya ini harus dilahirkan,”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu.

Kategori: cerpen
Ditandai:

Merdeka

18 Agustus 2008 · 1 Komentar

Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63, karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar.

Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu, karena ia hanya ingin ada dua warna, merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi.

“Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Bendera-bendera lain, kecuali bendera-bendera negeri sahabat, mesti tahu diri, mundur dulu. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas.

Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Karena kalau itu dibiatkan lepas, bisa menimbulkan perkara.

“Kita mesti sadar kepada situasi sekarang, Pak,”kata Bu Amat, “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!”

Amat mengerti.

“Memang, aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik, tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama, perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu, karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!”

Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat, menghampiri.

“Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh..

Amat terpesona. Ia memandang Ami tajam.

“Kamu bilang apa?”

“Saya dengar Bapak sudah menyerah!”

“Siapa bilang?”

“Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik.”

“Betul!”

“Kalau betul, kenapa sekarang adem ayem?”

“Adem ayem bagaimana maksudmu?”

“Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?”

“Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?”

“Ya.”

“Ya itu hak dia.”

‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah, sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!”

“Masak?”

“Coba Bapak lihar!”

Amat tergugah. Meskipun sudah hampir jam 10 malam, ia keluar dari rumah. Dengan bernafsu ia pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Dan betul. Di depannya nampak bendera partai. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Warnanya pun sudah lusuh.

Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Darahnya mendidih. Tanpa perhitungan lagi, lalu dia memujit bel di gerbang.

“Selamat malam, pak Amat.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah.

Amat memasang muka seribu.

“Selamat malam.”

“Silakan masuk, Pak Amat.”

“Terimakmasih, saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malam-malam begini, tetapi hanya mau bertanya.”

Orang itu tertegun.

“Menanyakan apa Pak Amat?”

“Ini bukan protes. Bukan juga kritik. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak, sebab kita hidup di alam demokrasi. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan.”

Orang kaya itu tersenyum.

“Tentu saja pak Amat.”

“Saya tidak bermaksud untuk merecoki, tapi hanya sekedar bertanya saja. Sama sekali bukjan menyindir. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh?”

Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti.

“Tentu saja boleh, Pak Amat.”

“Bapak jangan tersinggung.”

“Kenapa mesti tersinggung, kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya.”

“Persis, hanya sekedar bertanya. Saya penasaran, saja ingin tahu. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan, atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Betul tidak?”

Orang kaya itu terdiam. Lalu menarik nafas dalam. Kemudian mengubah suaranya lembut.

“Pak Amay, begini. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Tetapi karena waktunya semakin mendesak, momentumnya nanti bisa hilang, saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Tetapi Pak Amat harap mengerti, segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Tidak ada motivasi apa-apa. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur.”

Amat terkejut.

“Ikhlas dan jujur? Masak?”

“Betul.”

“Maaf, saya tidak percaya!”

“Betul Pak Amat. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar, agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. Jadi begitu. Tak ada maksud apa-apa. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Begitu, Pak Amat.”

Amat tertegun. Kepalanya pusing. Ia melirik ke samping. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Ia menoleh ke samping yang lain. Terlihat sang saka, meskipun kecil, belel, tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Ia mati langkah.

Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:.

“Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.”

Kategori: cerpen
Ditandai:

Kemerdekaan

17 Agustus 2008 · & Komentar

Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu, ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Tentu saja semua menyambut gembira.

Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras, ditarik dari tempat shooting film barunya, untuk mempimpin.

“Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler, kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya,”kata Gubernur.

Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta, ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu.

“Saudara-saudar hadirin, para tamu, undangan yang saya muliakan,”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut, menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa, karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman, tidak lagi hanya sibuk mengurus seni, tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis besar kita ini, menunjukkan langkah konkrit, sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Silakan dibuka!”

Semua berkeplok tangan. Lalu sorot menyala. Seorang penari muncul. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Tetapi gagal. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Mereka menggebrak. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Mereka mengangkat lukisan itu. Cahaya lampur berpedar-pedar. Asap mengepul. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi:

“Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak, satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Kemerdekaan adalah persatuan. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai.”

Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Nampak lukisan itu. Tetapi belum jelas. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Panggung pun sepi.

Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa, Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Lampu menyorot. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Tetapi semua orang terkejut.

Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain.

“Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat.

Gubernur pun bengong. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Gubernur terlambar mengangkat tangan.

” Stop! Stop! Jangan dipotret!”

Para petugas muncul dan mengamankan. Terjadi keributan, karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Tetapi kemudian ia berpidato panjang.

“Saudara-saudara, lukisan ini, adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Kata orang, semakin jauh orang, sebenarnya ia semakin pulang. Dari luar negeri, wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Inilah salah satu gambarannya. Kita boleh tidak suka,. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Tetapi atas nama kemerdekaan, inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?”

Tidak ada yang menjawab. Mungkin sekali tidak berani.

“Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa.

“Selaku pribadi, saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Tetapi selaku gubernur, pejabat pilihan saudara-saudara sendiri, saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. Jadi bukan perasaan saya yang penting, namun perasaan kalian semuanya. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini, kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?”

Tidak ada yang menjawab.

“Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?”

“Telanjang bulat bagaimana, Pak,”tanya seorang Ibu.

“Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar, belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil; tanpa selembar kain pun di depan orang. Betul tidak?”

“Maksud Bapak porno?”

Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas.

“Ya, porno!!”

Semua terdiam.

“Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini, di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya, selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain, ya pasang saja. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno, saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?”

Tak ada yang menjawab.

“Bapak sendiri bagaimana?”

“Lho, saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Kalau saudara-saudara setuju, baik akan saya gantung. Tapi kalau tidak, buat apa digantung?”

Semuanya terdiam. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju..

“Lebih baik jangan dipajang, Pak Gubernur!”

Gubernur mengernyitkan dahinya.

“Kenapa? Karena porno?”

“Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung, hati saya berontak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. Karena kalau sudah diobral begini, akan jadi porno, kita akan cepat sekali lupa!”

Kategori: cerpen
Ditandai: ,