Putu Wijaya dilahirkan di Tabanan, Bali, 11 April 1944.
Karya-karya dramawan dan penulis cerita pendek paling produktif di Indonesia yang atas undangan Fulbright pernah mengajar di Amerika Serikat antara 1985-89 antara lain:
Telegram (1972; novel yang memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971),
Stasiun (1977; novel pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971),
Dar-Der-Dor (1996),
Aus (1996),
Zigzag (1996),
Tidak (1999).
Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Pada tahun 1991, atas prestasi dan pencapaiannya dalam bidang kebudayaan, ia menerima Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
39 tanggapan so far ↓
Inna // 5 Desember 2007 pada 4:41 pm |
Mas Putu, dulu pernah ngajar olah tubuh di IKJ kan?. Sayangnya baru beberapa bulan saya kuliah di jurusan teater IKJ, mas Putu keluar, nggak ngajar lagi. Itu tahun 1981/82. Apa khabar mas?.
aRuL // 18 Desember 2007 pada 8:06 pm |
Salam kenal pak…
salut atas kapabilitasnya.
salut juga udah ngeblog
hanna // 26 Desember 2007 pada 6:13 pm |
Prestasi yang membanggakan. Patut dicontohi.
pelanggar // 30 Desember 2007 pada 7:06 am |
Pendekar teror… kekeke… beberapa kisah Mas Putu begitu kuat mengenang… gayanya khas… setelah merasa bebas dari segala macam tekanan… tiba-tiba dicekam rasa bersalah dan perenungan…
ENIEK // 5 Januari 2008 pada 7:10 am |
Mas Putu, permisi ya. Tulisan-tulisan di blog ini saya pakai (copy-paste) buat bahan ajar pelajaran sastra ke murid-murid saya. Terima kasih atas izin yang diberikan. Hehehehe….
dave // 9 Januari 2008 pada 6:13 am |
Mas putu… moga tentram.
Aku mau tau nih kelanjutan fiksi PUTRI, ada buku ketiganya gak mas ?
Mohon pencerahannya. Thx
rakoes // 23 Januari 2008 pada 2:52 pm |
tuh beneran…dahsyat!!!
bli, saya mohon doa restunya…walaupun saya 7 tahun kuliah teater di stsi bdg…mungkin sekarang saatnya saya memecah jagad teater…!!!
eeeh…terlalu congkak ya? maksudnya berkiprah sendiri sebagai pratisi…imajimime teater namanya, baru brojol kemaren…pementasan pantomim “sang guru & buku pintar” salut kami juga untuk sang guru putu wijaya…selamat atas prestasinya…semoga menjadi inspirasi bagi kami yang baru lahir…!!!
viva teater!!!
Robert Manurung // 26 Januari 2008 pada 4:39 am |
Kenapa ya “about-nya” terkesan berjarak, dingin, formal dan seperti pengumuman ?
Kesan yang timbul : blog ini dikerjakan oleh seseorang untuk dan atas nama Putu Wijaya, tapi bukan oleh Putu Wijaya sendiri. Benarkah ?
btw aku tetap menyampaikan salam kenal padamu, siapapun engkau yang mengerjakan blog ini.
Horas
RM
http://ayomerdeka.wordpress.com/
Advokat Listiana // 15 Februari 2008 pada 5:54 am |
lho…emang ini blognya Putu Wijaya dramawan itu?….. salam kenal
Alfin Anak ku // 15 Februari 2008 pada 5:55 am |
kapan pak putu baca puisi lagi?
djunaedird // 22 Februari 2008 pada 10:58 am |
He-he-he. Mas Putu Ngevlog


Saya jadi tintiye-nya. 

Saya baru tahu saat saya nengok posisi blog saya di Indonesia Matter’s di peringkat 313.
Kalau di bidang Sandiwara sampeyan jagonya. Kalau di blogsphere, saya (maaf) masih mengungguli Anda – paling tidak untuk sementara.
Dulu (tahun 80-90-an, di Teater Melarat Malang (asuhan Pak Hasyim alm.) karya-karya Putu sering dipentaskan. Yang favorit dan paling saya suka saat mementaskan Aduh
Susah memerankannya, soalnya jalan ceritanya amat lucu. Saya, karena sejak jadi mayat, tak boleh ketawa. Jangankan ketawa. Mesem pun nggak boleh. Jadi saya harus mengadu gigi sekuat-kuatnya
Akhirnya selamat ngeblog, deh.
Ruang Embun // 8 Maret 2008 pada 2:27 pm |
Horas pak sastrawan…! Izinkan aku belajar di sini!
qnewt // 2 April 2008 pada 11:13 pm |
salam kenal pak putu
senang pak putu ngeblog, jadi bisa baca karya yang di blog setiap saat.
emokillme // 3 April 2008 pada 4:23 am |
Hay, lam kenal…
umm, ku baru belajar bikin blog ney,…
numpang mampir….
wah, salutz de buat karya”na…
Salam, makasih…
________________________
http://emokillme.wordpress.com
________________________
dadap // 7 April 2008 pada 6:01 am |
kapan pulang?
daincredible // 23 April 2008 pada 6:47 am |
wahh.. pak putu wijaya..
yang namanya sudah tidak asing lagi di indonesia
apalagi di Bali..
salam kenal ya Pak,,
Monas Junior // 3 Mei 2008 pada 12:02 pm |
Serius ini situs resmi Putu Wijaya???
Donny Perdana // 5 Mei 2008 pada 1:09 pm |
Mohon informasi untuk menghubungi Pak Putu Wijaya kemana? Thanks
Silly // 11 Mei 2008 pada 11:40 am |
Salam kenal Pak Putu…
How nice of you, masih menediakan waktu untuk menulis diblog, dunia yang bisa diakses oleh semua orang, sehingga semua orang bisa membaca tulian bapak.
Ijin nge-Link bolehkah? Boleh yach…
Terima Kasih,
Silly (this is not my real name actually, but people use to call me this way)
masykoor // 18 Mei 2008 pada 2:42 pm |
sudah lama (lama sekali malah) saya mencari naskah drama AUM nya mas Putu. Ada yang bisa bantu?
Roy Thaniago // 2 Juni 2008 pada 8:19 am |
Saya tau nama Putu sejak SD. Waktu itu membaca Bobo yag memuat profilnya. Dan saya suka dgn cerpennya yg berjudul ‘Guru’. Karena itu, saya jd menulis cerpen dgn semangat!
Salam kenal Pak Putu!
mifka // 5 Juni 2008 pada 8:09 am |
Senang bisa terjerumus ke sini he…Penuh inspirasi. Salam kenal
greenfaj // 26 Juni 2008 pada 3:07 pm |
wah.. salut..
pak Putu punya arsip sampe tahun 1980..
dari mana itu pak?
salam dari Parepare
greenfaj // 26 Juni 2008 pada 3:09 pm |
sy link blogx di dunia saya ya, pak?
dunia “CARI-ENAKNYA-SAJA”
Manik // 6 Agustus 2008 pada 8:10 am |
Karya siapa maksudnya, mbak/bu/mas/pak..??
salam kenal, makasih telah mengunjungi kost-an saya
Horas..!!
tofa // 22 Agustus 2008 pada 1:04 pm |
saya tofa
mas putu aku sangat berterima kasih setelah saya membaca beberapa artikel mas, saya menjadi mengerti dan paham serta sangat penting bagi diri saya sendiri bahwa teater itu tidak selalu di pandang sebelah mata tapi punya arti khusus terutama untuk kehidupan
salam kenal
deni // 1 September 2008 pada 2:41 pm |
Salam,
Kami dari lembaga IACI yang memberikan perhatian kepada perlindungan budaya nusantara dengan membuat situs dengan konsep perpustakaan digital (terbuka) budaya nusantara (www.budaya-indonesia.org) ingin memperkenalkan diri kepada mas putu wijaya. Semoga suatu saat kita dapat berkenalan ‘kopi darat’.
thx
Pak zaM // 17 September 2008 pada 8:12 am |
Bapak Putu Wijaya, skripsi saya yang berjudul “Konflik dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya” berikut alamat skripsi online saya: http://skripsi.dagdigdug.com
panah hujan // 14 Desember 2008 pada 10:10 am |
berkunjung..
Pa-eng // 22 Januari 2009 pada 5:21 am |
Jokpin pernah menyinggung bahwa sastrawan yang kerjaannya menggilas kata, akan menggilas bahasa dunia maya yang pada tahun 90-an hanya digeluti pada peminat cyber sastra. E.. setelah saya iseng-iseng cari artikel dan situs para sastrawan saya menemukan Putu Wijaya dan Joko Pinurbo… Matur suwun… moga yang ada di sini tak kalah kayanya dengan yang dibuku.
sjasman // 22 Januari 2009 pada 6:27 am |
Wah kebetulan sekali nih aku nyasar ke blogmu Mas Putu. Jadi senang juga. Kami tunggu tulisan-tulisanmu yang terbaru
taufik santosa // 22 Januari 2009 pada 1:12 pm |
maaf, mohon bantuannya.
kalau menilai pembacaan naskah drama apa saja yang harus dinilai?
buat skripsi
Benny // 31 Januari 2009 pada 7:03 am |
Bang, kita pernah ketemu di Univ.Muh.Malang tahun 1999. Saya aktivis teater disana kala itu. Bang, bolehkah saya minta kirimin naskah-naskah abang. alamat saya Jl.semeru XV / W-8. Judul terserah, 5 aja bang, berapa biayanya.Saya sekarang pelatih teater di Jember di SMP 11 jember. makasih bang.contact saya 08124930968
piko // 14 Februari 2009 pada 7:38 am |
pak, bisa berikan email anda? saya ingin sedikit berkirim surat dengan anda.
yogi // 22 Februari 2009 pada 1:59 am |
Salam kenal,
Saya sepertinya selalu tersindir saat baca cerpen anda. Teraduk-aduk rasanya. Mbok sekali-kali bikin cerita yang happy-ending, biar ada sedikit mimpi indah…
teater getar salatiga // 23 Februari 2009 pada 1:29 pm |
kenapa pertunjukan butet selalu dibilang bagus?
kenapa pertunjukan Rendra selalu dibilang bagus?
kenapa pertunjukan Putu selalu dibilang bagus?
mungkin karena emang bagus…..
Mungkin juga karena sudah bagus terus dibilang bagus, juga bisa lhoooo
tapi SBY bagus Tidak dibilang bagus oleh YUSUF KALA
jawaban yang paling benar dan bagus tolong kirim ke E-mail aku ya…. thank’s
tapi bagus menurut siapa??????????
echy // 27 Maret 2009 pada 4:43 am |
hy lam knl ya,,,,
Haris \Sayoko // 3 April 2009 pada 5:16 am |
Salam
Mas Putu,
kami sedang mencari naskah nya
yang ber judul Dag-Dig-Dug Bagaimana kami bisa mendapatkan
trimakasih
hormat kami
satyacipta // 26 Mei 2009 pada 8:32 am |
salam kenal…
prestasi mas putu memang membanggakan…