Tag Archives: nasionalisme

Nasionalisme

Ary, guru menggambar di Sekolah Dasar 1 itu marah-marah. Anak-anak sudah diajak pergi ke mall untuk melukis. Tetapi hasilnya tetap saja gambar-gambar sawah, gunung dan matahari. Kadangkala ada tambahan gubuk, kerbau dan burung atau pohon kelapa. Tapi hanya itu.

Selama 20 tahun dia mengajar, menghadapi 20 angkatan murid, tapi hasilnya sama,. Dia jadi kesel, lalu mencampakkan gambar itu ke tong sampah. Semua anak diberi angka lima.

Anak-anak mengadu. Lalu Ary dipanggil Kepala Sekolah.

“Saya dengar anak-anak semuanya pintar menggambar. Tapi kenapa semuanya dapat angka lima Pak Ary? Apa dasar penilaian pak Ary sudah mengikuti harga bensin sekarang?”

Ary, guru menggambar itu menjawab dengan bersemangat. Itu yang dia tunggu-tunggu.

“Sebenarnya begini Bu, :”kata Ary menumpahkan perasaannya, “sejak saya mulai mengajar di sini, gambar-gambar mereka saya kumpulkan. Ternyata tidak ada perkembangannya. Dari dulu sampai sekarang, sama saja.. Sejak listrik belum masuk, ke desa kita ini, sampai sekarang sudah ada mall dan di sekolah sudah pakai komputer, yang digambar tetap itu-itu saja. Tidak berkembang. Saya kira kita harus mengambil tindakan sekarang!”

Ibu Kepala Sekolah yang sedang memikirkan bagaimana caranya mencari dana untuk membangun gedung baru, hanya menanggapi sambil lalu.

“Sudahlah Pak Ary, biar saja. Pelajaran menggambar di sekolah kan tidak untuk mencetak pelukis. Hanya membuat mereka tidak buta warna. Itu juga sudah bagus.”

‘Tapi itu kan menunjukkan bahwa anak-anak itu tidak sadar kepada lingkungannya.”

“Maksud Pak Ary?”

“Ya sekarang kan sudah zaman reformasi, Bu. Sudah banyak perubahan. Tidak ada larangan lagi untuk mengungkapkan apa saja asal benar. Harga bensin naik. Banyak korupsi. Ada isu pemanasan global. Ada pilkada. Kerusuhan di mana-mana …….”

“Gedung sekolah kita hambruk karena angin topan beliung.”

“Nah itu dia, Bu. Mestinya kan itu yang digambar.”

Ibu Direktur mengangguk.

“Kalau begitu ajak mereka menggambar di luar kelas, supaya melihat kenyataan.”

“Sudah Bu! Mereka sudah dibawa ke mall.”

“Terus!”

“Tapi yang digambar sawah lagi, sawah lagi. Padahal mana ada sawah lagi di sini. Semua sudah jadi perumahan dan mall.”

Ibu Kepala Sekolah tercengang.

“O ya?”

“Ya!”

“Coba mana gambar-gambarnya?”

Pak Ary terpaksa mengambil kembali gambar-gambar itu dari keranjang sampah. Setelah dilihat satu per satu, Ibu Kepala Sekolah tercengang. Ia seperti lupa pada pembangunan gedung sekolahnya. Gambar anak-anak itu nampak memukaunya. Ia lalu menjejerkannya di lantai. Seluruh lantai kantor tertutup oleh gambar sawah, gunung dan matahari.

Guru-guru lain yang hendak masuk tertegun. Mereka berdiri di sepanjang pintu, memandangi lantai kantor yang menjadi hamparan sawah. Aneh sekali. Tiba-tiba semuanya seakan-akan teringat masa lalu. Saat kota mereka masih hijau dengan jajaran sawah di sepanjang jalan. Belum ada real estate. Burung bangau waktu itu masih banyak. Dan matahari bersinar 12 jam karena tidak ada polusi.

“Ini kerinduan pada sawah-sawah kita yang sudah habis dijadikan rumah,”kata Ibu Kepala Sekolah terharu. “Mereka kebanyakan anak petani, jadi mungkin hati mereka masih tetap hati petani. Kalau mereka menggambar begini, saya kita mereka sudah mengekspresikan diri mereka dengan jujur, Pak Ary. Betul tidak?”

Ary tersenyum sinis.

“Maaf, Bu. Itu mungkin hanya perasaan Ibu. Mereka itu generasi baru yang tidak tahu dulu di sini banyak sawah.”

“Betul. Tapi orang tua mereka pasti setiap malam bercerita tentang masa lalu. Ini adalah hasil percakapan itu. Saya kira ini baik sekali. Saya yakin ini pancaran dari nasionalisme, cinta kepada tanah air yang harus kita kita pupuk. Dan sebagai guru wajib kita mengerti.”

Ary ingin membantah, tetapi guru-guru lain mendukung.

“Saya kira angka lima tidak pantas untuk gambar-gambar yang bagus ini, Pak Ary. Saya dapat ide bagus. Saya minta gambar-gambar ini semuanya dipajang, dipamerkan di dinding sekolah, pasti pejabat dari Diknas Pusat yang akan menjadi tamu kita minggu depan akan tergerak. Siapa tahu beliau akan menyumbang pembangunan sekolah kita! Karena anak-anak ini menampilkan kebangkitan nasionalisme yang sangat kita perlukan sekarang setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini.”

“Tapi Bu, saya sendiri sudah meyiapkan lukisan-lukisan saya yang akan saya pamerkan untuk menyambut tamu-tamu itu.”

“Lukisan pak Ary simpan saja untuk lain kali. Yang dipajang untuk menyambut mereka itu ini. Saya yakin mereka akan tergerak dan akan memberikan kita sumbangan untuk pembangunan gedung yang sangat kita perlukan!”

“Maaf. Bu,”

“Jangan membantah. Kerjakan sekarang juga apa yang saya minta itu. Tolong Bapak-bapak Guru yang lain diatur semuanya ini supaya dipajang sekarang juga!”

Guru-guru lain langsung bertindak. Pak Ary sambil bersunggut-sunggut terpaksa ikut. Kesempatan yang sudah ditunggu-tunggunya, untuk memamerkan lukisan-lukisannya tentang pembangunan kota, kandas. Dengan berat hati ia memajang lukisan-lukisan sawah, gunung dan matahari yang sama sekali tidak punya selera artistik itu.

Sehari sebelum tamu datang, semua lukisan itu sudah berderet rapih di dinding koridor sekolah. Tetapi malamn-malam, semua guru kembali dipanggil ke sekolah. Ibu kepala Sekolah puny aide baru.

“Saya begitu terperanjat ketika melihat lukisan-lukisan anak-anak kita itu berjejer di lantai. Hati saya langsung terketuk, teringat kepada masa lalu. Bagaimana pembangunan yang tidak terencana sudah merusakkan alam, sehingga anak-anak menjadi rindu ke masa lalu. Jadi saya ingin memberikan kesan yang sama pada para pejabat kita. Saya minta malam ini juga, lukisan itu dicopot dari dinding dan dijajarkan di lantai koridor, sehingga dia menjadi sawah-sawah kita di masa lalu!”

Semua guru tercengang. Tetapi mereka nampak menyukai ide tersebut. Dengan bergairah kemudian gambar sawah, gunung dan matahari itu dipasang di lantai berjajar sepanjang koridor. Pak Ary pun terpaksa ikut.

Ketika tamu dari Diknas Pusat datang, muka Pak Ary kelihatan muram. Tetapi Ibu kepala Sekolah dengan sangat bersemangat, dia mempersilakan tamu-tamu masuk ke dalam gedung sekolah, sementara ia sendiri dan murid-,muriod serta guru lain menunggu di luar.

Setengah jam kemudian para tamu keluar. Mereka mengangguk senang. Pimpinannya memberikan pujian dengan bersemangat.

“Ternyata gedung terpelihara begitu rapih. Kuar biasa! Saya tidak menduga sama sekali! Ini hebat! Walau pun kena puting beliung tetapi karena terawat, masih bisa dipergunakan. Ini menunjukkan Sekolah Dasar 1 memang pantas jadi panutanb!”

Semua bertepuk tangan gembira. Hanya Pak Ary menundukkan muka kesal.

“Jadi menurut hemat kami, “kata pimpinan intu melanjutkan sambutannya, ” kira sampai 5 tahun ke depan, gedung sekolah ini masih layak pakai, masih bisa dipergunakan! Belum perlu ada pembangunan baru. Jadi dana pembangunan akan kita prioritaskan pada yang kerusakannya lebih parah!”

Ibu Kepala Sekolah terkejut. Tak sanggup bilang apa-apa lagi karena sudah dipuji setinggi langit. Tapi waktu dia melirik ke koridor, hatinya menjerit. Lukisan anak-anak yang berjajar di lantai itu, berantakan diinjak-injak. Banyak yang belepotan tanah dari sepatu-sepatu para tamu.