Tag Archives: sembilan jurus teror mental

Konsep Menulis

Ini tentang bagaimana saya menulis. Bukan tentang bagaimana seseorang sebaiknya, apalagi seharusnya menulis. Tidak mudah menulis bimbingan menulis yang umum, karena itu segera akan menjadi kiat yang kedaluwarsa.

Perkembangan dalam banyak hal sudah begitu cepat dan dahsyat. Manusia berubah dan sastra pun selalu menjadi baru. Bidang penulisan terus menemukan kiat-kiat terkini, meskipun yang lama tidak dengan sendirinya musnah.

Memang ada yang umum dan mungkin akan masih berlaku. Misalnya teknik menulis. Buku “Teknik Mengarang” yang ditulis oleh Muchtar Lubis sampai sekarang tetap saya anggap sebagai pedoman menulis yang terbaik.

Pertama sarannya untuk membuang dua atau tiga alenia pertama (bahkan mungkin lembar pertama) dari yang sudah kita tulis. Karena itu biasanya bagian-bagian emosional yang tak terkendali.

Kemudian anjurannya untuk pembukaan tulisan yang langsung menggedor dengan masalah. Di dalam buku itu diberi contoh bagaimana Anton Chekov, sudah menabur pertanyaan dalam kalimat pertama. Pembaca jadi penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Dan Chekov memang seorang master dalam “plot” yang selalu memberikan kejutan yang mempesona di akhir cerita.

Yang ketiga, Mochtar Lubis menyarankan untuk tidak berhenti menulis kalau sedang buntu. Kalau itu dilakukan, besar kemungkinan penulis tidak akan pernah kembali melanjutkan. Setiap hendak melanjutkan sudah langsung mumet melihat jalan buntu yang menunggunya.

Berhenti sebaiknya dilakukan justru saat sedang lancar dan berapi-api. Di samping membantu mengendapkan emosi, itu sercara psikologis akan menjaga semangat untuk meneruskan bekerja.

Unsur cerita secara umum juga masih berlaku, walau kehadirannya sudah teracak-acak. Bahkan ada yang sama sekali menjungkir-balik dan memperlakukan berbeda. Dulu cerita memerlukan tokoh, riwayat, alur dan penuturan. Sekarang cerita masih terpakai, tetapi diacak hancur dan tidak harus memakai unsur-unsur tadi.

Pernah keindahan bahasa menjadi tujuan utama. Mengarang jadi kehebohan memberi gincu , memoles dan memasang berbagai asesoris, sehingga yang mau disampaikan jadi berdandan keren. Bahasa Indonesia dalam masa Pujangga Baru, misalnya, seperti menari-nari melakukan gerak indah.

Tetapi kemudian digeser oleh Angkatan 45 yang ceplas-ceplos, kasar kadang cenderung kurang-ajar (Surabaya oleh Idrus), tapi terasa lebih menggigit dan konkrit. Kekenesan dan kegenitan pun ditinggal. Bahasa penulisan menjadi lebih dinamis, padat dan berdarah. Bahasa Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontany dan Mochtar Lubis membuat sastra Indonesia memasuki babak baru.

Mohtar Lubis adalah wartawan terkenal yang menulis dengan mempergunakan kiat dan pengalamannya sebagai wartawan. Bahasa pers yang dulu dianggap bahasa berita yang kering, menjadi lain ketika penulis “Jalan Tak Ada Ujung” ini memberinya muatan.

Tak pernah dipersoalkan sebagai cela lagi, kalau ada pengarang yang menulis fiksi dengan ketrampilan wartawan. Majalah TEMPO yang didirikan pada tahun 70-an bahkan kemudian menggabungkan bahasa sastra ke dalam pemberitaan, sehingga bukan hanya bahasa sastra berkembang, bahasa pers juga berubah, keduanya saling menghampiri.

Pernah tema besar menjadi primadona. Tulisan yang mengangkat tentang nasib manusia, perang, revolusi dan sebagainya menjadi tiket untuk dianggap sebagai karya bergengsi. Kita masih terus mengagumi War And Peace karya Tolstoy dan Dokter Zhivago Boris Pasternak dan Hamlet Shakespearre.

Tetapi cerita kemalangan seorang nelayan kecil dalam The Old Man and The Sea dari Hemingway pun dianggap luar biasa. Juga penantian Didi dan Gogo dalam Waiting for Godot karya Beckett dianggap sebagai sebuah fenomena, setelah pernah lama hanya ditoleh dengan sebelah mata karena seperti dagelan

Pada suatu siang (tahun 70-an) di kantor majalah TEMPO di bilangan Senen Raya, saya pernah bertanya pada Goenawan Mohamad. Apakah tema besar besar itu menentukan nilai sebuah karya. Artinya sebuah karya tulisan tidak akan pernah besar kalau temanya tidak besar. Pemimpin Redaksi Tempo yang juga salah seorang penyair dan eseis Indonesia kelas satu itu dengan tak ragu-ragu menjawab: “Tidak.”

Saat itu saya sedang menulis novel “Telegram” dan naskah drama “Aduh”. Keduanya tidak punya tema besar. Hanya tentang perasaan individu kecil yang gagap dan kebingungan menghadapi komplekasi kehidupan yang semakin jumpalitan.

Rasa kerdil bahkan nyaris “bersalah” (karena tidak seperti Pramudya Ananta Toer yang banyak bicara tentang revolusi) segera mendapat angin segar. Perlahan saya yakini, karya sastra jadinya bukan hanya “tentang apa”, tapi “bagaimana memaparkan apa itu”.

Menceritakan apa yang ada di sekitar, yang mudah diceritakan, karena kita menguasainya, tidak lagi terasa tercela. Lebih dari itu menceritakan dengan sepenuh keberadaan diri kita, dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya, juga bukan sesuatu yang tercela.

Dalam Telegram saya numpang bertanya lewat tokoh utamanya. “Apakah yang berhak bercerita itu hanya para pahlawan dengan tindakan-tindakan besarnya. Apa orang yang bodoh dan tidak tahu, tidak boleh ikut bicara membagikan pikiran-pikirannya?”

Dalam sebuah Telegram, tokoh utama mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya dalam bahasa Arab. Saya tertegun waktu itu. Apakah saya harus menunda tulisan itu sampai saya dapat menuliskan dalam bahasa Arab apa yang diucapkan oleh yang nelpon? Atau tak perlu menyembunyikan kekurangpengetahuan saya, karena seorang penulis tak harus orang yang serba tahu.

Saya mengambil resiko, tidak perlu menunggu. Saya tulis ucapan bahasa Arab itu dengan deretan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca, karena bagi telinga pelaku cerita, dia tidak menangkap makna tapi hanya bunyi.

Dari proses itu saya belajar, menulis adalah “mengambil resiko” . Tanpa keberanian mengambil resiko hasilnya hanya akan menjadi rata-rata saja. Memenuhi persyaratan, tetapi tidak orisinal apalagi unik. Dua hal itulah kemudian yang selalu saya kejar dalam menulis.

Keberanian mengambil resiko tidak datang begitu saja. Pendidikan orang tua untuk menghormati desiplin membuat saya berwatak patuh. Tak berani melawan aturan. Itu membuat saya jadi penakut dan pengecut. Tetapi pengalaman keras di lapangan perlahan-lahan menyeret saya untuk belajar bersikap.

Pada tahun 60-an, saya menulis drama “Dalam Cahaya Bulan” di Yogya. Dalam drama itu ada yang tidak logis. Pelaku utamanya memberikan pengakuan yang menyalahi cerita. Pemain yang memainkan tokoh itu protes, mengatakan ucapan tokoh itu salah. Saya hampir saja tergoda.untuk mengoreksinya.

Tapi kemudian saya bertahan, karena ucapan tokoh tidak harus semuanya benar. Tokoh utama pun bisa saja tidak jujur. Dia hidup dan merdeka mengutarakan pikirannya, tak hanya menjadi corong dari penulis.

Mempertimbangkan pembaca dalam menulis selalu mendua. Bisa menjadi kelemahan, karena itu akan membatasi kebebasan. Tapi dalam keadaan tidak terlalu bebas, kreativitas akan tertantang, lalu kita terpacu meloncat seperti dalam lari gawang sehingga hasilnya bisa mengejutkan. Pada awalnya pembaca menjadi beban, tetapi kemudian ketika beban itu sudah terbiasa, menjadi hikmah.

Saya percaya setiap penulis adalah sebuah dunia mandiri yang menempuh jalannya sendiri. Ia memiliki banyak persamaan dengan orang lain, tetapi itu tidak penting. Yang menentukan adalah perbedaan-perbedaannya.

Keunikannyalah yang akan menjadikan produknya menonjol di tengah karya orang lain. Penulis bukan sebuah pabrik, meskipun produktif. Berbeda dengan kerajinan yang berulang-ulang dibuat, produk tulisan selalu berbeda karena ia menyangkut ekspressi..

Setiap penulis akan menyusun teorinya sendiri. Proses kreatif itu tidak untuk ditiru apalagi diberhalakan, meskipun boleh saja dicoba oleh orang lain. Pengalaman bekerja penulis lain, dapat jadi perimbangan yang mempercepat proses pembelajaran menulis. Tetapi bisa juga jadi bumerang kalau kemudian diterima sebagai sebuah idiologi.

Sastra punya potensi untuk menghibur, namun bukan hiburan. Novel, cerpen, puisi, esei dan sebagainya adalah kesaksian, perenungan, pemikiran dan pencarian-pencarian pribadi tetapi menjadi obyektif ketika berhasil menyangkut kebenaran banyak orang. Akibatnya sastra tidak bedanya dengan bidang yang lain, sastra adalah ilmu pengetahuan. Tak selamanya upaya pencarian sastra berhasil. tetapi setiap kegagalan adalah sebuah janji.

Karenanya “menulis” bukan sesuatu yang mudah. Tidak seperti yang dikatakan oleh Arswendo: Mengarang Itu Gampang, juga tidak sama dengan apa yang dikatakan dosen penulisan di UI, Ismail Marahimin, bahwa “mengarang itu fun”.

Mengarang – bagi saya – adalah sebuah peristiwa yang khusuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi indah dan sakral.

Menulis selalu menjadi sebuah pengembaraan baru yang membuat saya tertantang sehingga tak ada saat untuk tidak menyala. Meskipun saya tak pernah melihat nyala itu, tetapi dari apa yang dilakukan para penulis sebelumnya, jelas betapa jilatan pikiran mereka tetap mengibas ke masa-zaman yang akan datang hingga membuat kehadiran berarti.

Buat saya, menulis adalah menciptakan “teror mental”. Tetapi konsep itu akan saya tinggalkan setiap saat kalau ada kebenaran lain yang membuktikannya salah.

Peranan Sastra

Dengan pembatasan yang ugal-ugalan — “sastra adalah semua bentuk ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya” — wilayah sastra jadi merebak, merengkuh daerah yang sangat luas. Ke dalamnya sudah tercakup sastra lisan maupun tulisan.

Prosa, puisi, lakon, skenario, skripsi, risalah ilmiah, esei, kolom, berita, surat, proposal, catatan harian, laporan, pandangan mata, pidato, ceramah, transkripsi percakapan, wawancara, iklam, propaganda, doa dan sebagainya semuanya jadi termasuk sastra, karena mempergunakan bahasa.

Semua sektor kehidupan, seluruh aktivitas manusia tak bisa membebaskan diri dari bahasa. Bahkan olahraga yang jelas-jelas menitikberatkan pada aktivitas raga, tetap saja membutuhkan bahasa dalam menumbuhkan dan mengembangkan dirinya. Dengan cakupan yang begitu dahsyat, sastra tidak mungkin tidak berguna. Demikianlah mahasiswa yang sedang menekuni berbagai jurusan, akan selalu, suka tak suka berhubungan dengan sastra.

Bagaimana dengan puisi dan prosa yang merupakan bagian dari kesusastraan (baca: sastra yang indah). Apakah puisi dan prosa juga berguna bagi semua mahasiswa, sehingga bukan saja jurusan bahasa dan sastra tapi juga jurusan sosial, ekonomi dan eksakta berkepentingan mengkaji sastra? Apa seorang yang ingin menjadi insinyur, dokter, diplomat, pengusaha, perwira, pemimpin politik, ahli hukum, negarawan dan ulama, perlu membaca sastra?

Di tahun 60-an, pelajaran kesusastraan masih diajarkan di SMA di semua bagian A,B dan C (budaya, eksakta dan ekonomi). Tetapi posisinya memang hanya sebagai pendukung pelajaran Bahasa Indonesia. Tak jarang jam pelajaran kesusastraan dikanibal oleh pelajaran bahasa.

Hal tersebut dimungkinkan, karena pelajaran kesusastraan tak lebih dari hapalan bentuk-bentuk kesusastraan, riwayat hidup pengarang, judul karya dan sinopsis buku-buku wajib baca. Tak pernah ditelusuri secara mendalam (gurunya tak ada yang terdidik ke arah itu) hakekat kesusastraan itu kaitannya dengan berbagai pemikiran yang ada dalam kehidupan. Jadinya pelajaran kesusastraan – lebih popular disebut pelajaran sastra saja – hanya jadi pelajaran tak berguna. Dihapus juga tidak ada akibatnya.

Kesusastraan (prosa dan puisi) sesungguhnya terkait dengan seluruh aspek kehidupan. Hanya saja karena pemaparannya menempuh lajur rekaan imajinasi, sehingga nampak semu. Tapi dalam kesemuannya itu, sastra merefleksikan fenomena hidup beragam dengan mendalam, mengikuti cipta-rasa-karsa penulisnya.

Untuk itu memang diperlukan kesiapan: apresiasi, interpretasi dan analisis, sehingga dunia rekaan di dalam sastra jelas kaitannya dengan seluruh aspek kehidupan. Kritik sebagai perangkat penting yang sesungguhnya berfungsi menunjukkan arti kehadiran sastra, kebetulan sangat parah di Indonesia, sehingga kehadiran sastra semakin tenggelam hanya sebagai hiburan.

Sastra memang memiliki potensi yang hebat untuk menghibur. Dan karenanya sebagai barang komoditi nilainya tinggi. Kaitannya dengan bisnis dan industri juga meyakinkan. Sebuah karya sastra dapat meledak, mengalami ulang cetak setiap tahun dengan oplag raksasa dalam berbagai bahasa.

Namun sastra tidak semata-mata kelangenan, tetapi juga dokumen perjalanan pemikiran yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Uncle Toms’s Cabin karya Beecher Stowe yang melukiskan derita dan nestapa budak kulit hitam di Amerika Serikat, telah diakui sebagai salah satu pemicu perang Saudara di Amerika dalam rangka menghapuskan perbudakan.

Dokter Zhivago karya Boris Pasternak melukiskan hidup pelakunya yang bernama Lara yang melambangkan Ibu Rusia. Pemerintah tirai besi Uni Soviet melarang Pasternak menerima hadiah nobel, karena novel itu dianggap sebagai potret Rusia yang tidak dikehendaki oleh pemerintah komunis.

Ayat-Ayat Setan karya Salman Rusdie menimbulkan kegegeran dunia, karena dianggap penghinaan terhadap Islam, sehingga Ayatulah Khomeini menjatuhkan hukuman mati pada penulisnya yang berlindung di daratan Inggris.

Di Indonesia, Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin, menjadi perkara, sehingga HB Jassin selaku Pimpinan Redaksi majalah Horison yang memuat cerita pendek itu diajukan ke pengadilan dan dinyatakan bersalah. Sementara Iwan Simatupang, sengaja menulis drama “RT 0 – RW 0” (sekalian dipentaskan oleh para mahasiswanya), dalam rangka memberi kuliah tentang filsafat eksistensialis.

Pada 1980 saya menulis sebuah cerpen SEPI.

Sepi sudah saya bacakan di berbagai tempat: Jakarta, Denpasar, Yogya, Bandung, Leiden, New York, Columbus, Ithaca, Madison, Berlin, Tokyo, Afrika Selatan, Caribia. Kesan yang didapat oleh berbagai pendengar bermacam-macam.

Apa yang tertangkap oleh pembaca memang kadangkalam bisa melampaui dari apa yang mendorong dan ingin didapatkan ketika sastra ditulis. Artinya, sebuah karya sastra, setelah jadi dan dilepaskan kaitannya dengan penulis, menjadi sebanyak apa yang terbaca oleh pembaca.

Bahkan seorang pembaca yang membaca sebuah karya sastra berkali-kali, akan menemukan seperti karya baru karena karya itu selalu memberikan nuansa yang lain, sesuai dengan kondisi dan perasaan yang membacanya.

Boen S. Oemarjati menulis disertasi tentang sajak “Nisan” karya Chairil Anwar yang memberikan beliau gelar doktor. Padahal sajak itu amat pendek:

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu seringgi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta

Sementara HB. Jassin menulis esei panjang yang mendalam terhadap sajak Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran. Padahal sajak itu hanya terdiri dari satu baris saja.

Bulan di atas kuburan.

Karya sastra dengan demikian adalah sebuah padatan atau esensi kehidupan yang disampaikan dengan “indah” oleh penulisnya untuk mempertebal rasa kemanusiaan. Membacanya, membahasnya, memerlukan ilmu bantu dari berbagai desiplin, sehingga bila disentuhkan kepada mahasiwa, sastra menjadi semacam “starter”, pemicu pada penjelajahan pemikiran yang tak terbatas ke segala arah.

Sesuatu yang sangat diperlukan oleh para mahasiswa agar tidak terjebak seperti tikus masuk perangkap di dalam ilmu yang ditekuninya.

Sastra akan mengimbangi pematangan, pemantapan serta kedewasaan kepribadian seseorang yang tidak diberikan oleh kurikulum yang hanya ingin mencetak “Manusia Indonesia Yang Cerdas Dan Kompetitif” sebagaimana yang dicanangkan oleh “Cetak Biru” pendidikan Indonesia.

Pelajar dan mahasiswa tak cukup hanya pintar dan menguasai bidang keilmuannya, tetapi juga mesti memahami kehidupan, masyarakat dan realita di mana nanti dia bekerja setelah meninggalkan bangku pendidikan. Kalau tidak, ia bisa menjadi robot yang pintar tetapi sangat berbahaya bagi kemanusiaan.

Zen seorang kandidat doktor dari Indonesia yang sedang belajar phisika murni di Universitas Kyoto (1991) memberikan pengakuan bahwa ia sangat dekat dengan sastra. Dengan sastra ia dibelajarkan untuk melakukan penjelajahan imajinasi yang tak terbatas, sehingga baginya sastra bukan semu atau khayal, tetapi konkrit. Einstein penemu teori relativitas yang juga suka main biola pun pernah berucap:

“Imagination is more important than knowledge”.

Pemberdayaan Sastra Indonesia

Sastra dalam pelajaran kesusastraan ketika saya masih belajar di sekolah menengah, didefiniskan lewat padan katanya. Karena sastra berarti tulisan, maka kesusatraan adalah segala tulisan yang indah. Yang kemudian langsung menjadi khazanah sastra adalah buku-buku karya fiksi dan puisi.

Tetapi sampai kepada istilah sastra lisan, pengertian tersebut menjadi sedikit bingung. Secara harfiah, sastra lisan berarti tulisan yang diucapkan. Mesti ada wujud tulisannya dulu, agar bisa diucapkan. Namun pada prakteknya sastra lisan sejak lahir sudah merupakan tutur yang bukan perpanjangan dari tulisan. Kemudian memang tutur itu ditranskripsikan ketika mulai diposisikan sebagai kekayaan budaya. Namun ketika ekspresi lisan itu dibekukan dalam bentuk tulisan, kenikmatannya berbeda. Ia tak menjangkau seluruh eksistensinya ketika masih lisan.

Sebagai seorang penulis, saya tak memandang sastra sebagai hanya tulisan, tetapi sebagai pengertian, sehingga ia bisa disampaikan dengan tulisan maupun lisan. Tetapi juga bukan pengertian tok. Ia memiliki satu kelayakan yang membedakannya dengan pengertian yang bukan sastra. Sastra mengandung pemikiran dan perasaan kemanusiaan yang erat kaitannya dengan bahasa.

Semua ekspresi yang memakai bahasa sebagai basis kekuatannya bagi saya adalah sastra. Kalau ada pengertian yang lebih bagus dari itu, setiap saat saya bersedia mengkhianati pengertian yang sudah saya anut selama ini.

Karena upaya untuk terus-menerus menyempurnakan penggerebekan ke arah yang lebih sempurna, adalah bagian dari cita-cita sastra. Karena itulah dalam alam pikiran saya, sastra tak mengenal kontrak mati dengan satu isme atau idiologi, apalagi sikap politik. Kalau toh ada aliran dan idiologi sastra, itu adalah kebimbangan dan pengkhianatan kepada kesimpulan yang salah.

Melalui pemahaman tersebut, saya akan mencoba bicara tentang pemberdayaan sastra Indonesia.

Pengertian Indonesia Baru, bagi generasi 28, ketika Sumpah Pemuda (1928) dicetuskan, pasti sesuatu yang asing. Karena pengertian Indonesia sendiri sudah berarti baru. Pengertian itu mengandung cita-cita politik yang merupakan lompatan besar, mengubah teritorial Nusantara menjadi sebuah negara yang merdeka.

Pengertian “baru” dicantelkan kepada Indonesia, sesudah gerakan reformasi pada 1998. Ketika pengertian Indonesia menjadi terkontaminasi oleh kepemimpinan yang membawa Indonesia masuk ke dalam jurang penindasan hak-hak azasi manusia. Pengertian Indonesia baru sebenarnya sama saja dengan pengertian Indonesia dari generasi 28 –hanya saja dulu targetnya merdeka dari kolonialisme, kini merdeka dari penindasan rezim dari dalam sendiri. Pengertian baru mengandung makna scanning ulang, defragmentasi, reinstal dan format ulang terhadap hard disk Indonesia yang sudah eror.

Sastra memiliki kepentingan besar dalam kerepotan yang langsung menyangkut pemulihan terhadap hak-hak azasi manusia tersebut. Dan bagi sastra sendiri, sekaligus juga berarti pemulihan terhadap hak-hak azasinya sendiri. Karena dalam beberapa dekade gelap sebelum reformasi, sastra juga termasuk yang sudah diinjak-injak di bawah kepentingan politik dan ekonomi sekelompok penguasa.

Tak bedanya dengan keadilan dan kebenaran, sastra pun –sebagai bentuk pengucapan pikiran dan perasaan yang memakai bahasa -sudah dihajar habis-habisan. Karena bahasa merupakan bagian dari alat kontrol sosial yang sangat efektif di samping senjata. Bahasa telah menjadi balatentara rezim yang dengan ganasnya mendera rakyat.

Akibatnya sastra pun menjadi bukan saja mandul tetapi terutama sekali: berbalik sesat. Sastra yang indah itu berubah menjadi binatang buas yang mengunyah-ngunyah kemanusiaan itu sendiri.

Dalam keadaan yang terbalik itu, bahasa bukan lagi jembatan untuk mengucapkan pikir dan rasa antara manusia yang merdeka, tetapi polisi-polisi dan mesin virus yang menyebarkan ketakutan dan teror sehingga massa membeku. Ucapan tak bisa lagi dipercaya.

Kalimat bersiponggang dan memekakkan tetapi kosong. Khususnya pidato-pidato para pejabat. Kata-kata dan ungkapan rezim menjadi “safe deposite” yang menyembunyikan kejahatan-kejahatan. Sastra menjadi bromocorah. Sastra adalah bandit yang menguasai alam pikiran.

Karya sastra yang masih menyuarakan ekspresi yang jujur dan dulu dipelajari sebagai kesusastraan, atas nama kelangenan yang membuat orang malas, lantas dimasukkan ke bak sampah. Dianggap perangkat yang kedaluwarsa di tengah dunia yang sudah berteknologi tinggi.

Para pelajar ditipu mentah-mentah untuk lebih percaya kepada angka-angka yang kemudian dengan lihaynya disulap di dalam “dagang” yang membuat pelajar kebingungan. Teknologi pun kotor, karena hanya berisi khayalan, tetapi disembah seakan-akan itulah dewa penyelamat tyang akan membawa bangsa ke mimpi gemah-ripah-loh-jinawi.

Para ilmuwan melarikan diri dan bersembunyi di gua pertapaannya. Para sastrawan juga ikut ngacir berserakan ke sana-ke mari karena merasa hina dan berdosa terus menjadi pabrik tak berguna.

Mereka mengubah seragamnya menjadi politikus, pejabat, wartawan atau amtenar yang terasa lebih konkrit memikirkan realita dan kepentingan rakyat serta masa depan negara. Yang masih setia menjadi sastrawan hidupnya kumuh dan tak dapat tempat, kecuali bila berhasil menjadi “maling-maling” besar, sebagaimana Rendra. Tetapi banyak sekali di antaranya justru “menikmati” keadaan tak berdaya tersebut karena bisa menyembunyikan kemalasan dan ketidakmampuannya.

Sambil pura-pura berteriak kesakitan, sastrawan bersangkutan tidur dan melakukan masturbasi. Mereka mengaum mengaku sudah dipasung rezim yang berkuasa, tetapi setelah reformasi di mana semua orang boleh ngapain saja, mereka juga tetap tak berbuat apa-apa karena memang “dari sononya” sudah tak berdaya.

Kenyataan yang juga harus diakui, adalah di masa jayanya sensor, keberanian saja cukup membuat orang menjadi sastrawan. Dan sastra secara rahasia berubah artinya sebagai seni memaki, seni menghujat, seni menista, seni mencuri. Tak peduli nilai karyanya, asal nampak bersikap menyakiti dan mengganggu penguasa, terasa sebagai karya yang berdarah dan besar.

Sastra yang semestinya punya potensi untuk membangun manusia (baca:bangsa) dari dalam jiwanya, jadi bangkrut. Yang tinggal adalah sastra sebagai barang komoditi. Sastra menyediakan diri sebagai paket-paket hiburan untuk mengeloco anggota masyarakat yang impoten karena kekuasaan sudah mengontrol masyarakat sampai daerah-daerah pribadinya di atas tempat tidur.

Sebagai barang komoditi sastra ternyata cukup berhasil. Jumlah buku, presentasi membaca, serta para penulis, bertambah jumlahnya. Penerbit-penerbit menjamur, sebagian menjadi raksasa yang menghasilkan duit besar. Setiap hari ada saja buku baru yang terbit. Media massa berkembang pesat, sehingga para konglomerat mulai ikut malang melintas di usaha para kuli tinta itu. Jumlah majalah dan koran nasional dan lokal, apalagi sesudah reformasi membludak.

Eskspresi komersial yang mempergunakan bahasa sebagai kekuatannya berkembang pesat. “Sastra” terpacu secara kwantitas. Dalam soal kualitas pun bukan tidak ada karya hebat yang lahir. Banyak sastrawan baru lahir yang tak kalah pamornya dengan sastrawan tua.

Sementara sastrawan senior pun terus produktif. Pramudya masih menulis di samping Rendra, Goenawan Mohammad, Budi Dharma, Umat Khayam, Sutarji C Bachri, Taufiq ismail (sekedar menyebut beberapa nama), ditambah lapisan baru seperti Afrisal Malna, Seno Gumira Aji Darmo, Ayu Utami dan sebagainya.

Memang secara perorangan sastra Indonesia dalam keadaan keos masih normal-normal saja. Artinya di ruang hidupnya yang kecil masih ada satu dua kutu busuk yang terus bekerja dengan setia. Dan hasilnya bagus. Tetapi sebagai potensi kultural, sastra Indonesia sangat tidak berkekuatan.

Jangan mengukur kekuatan dari analisa seorang kritikus yang meskipun berhasil menerbitkan pikirannya ke dalam buku, karena buku itu tidak ada yang membaca. (Rata-rata satu judul buku sastra yang dicetak 1000-3000 eksemplar, tidak habis dalam 5 tahun. Meskipun memang buku Ayu Utami, belum lagi satu tahun sudah mengalami cetak ulang berkali-kali).

Sastra sebagai sebuah batalyon kekuatan, sudah memble, karena dari 200 juta lebih bangsa Indonesia, yang membaca dan memanfaatkan sastra sangat sedikit, nyaris memalukan. Dalam satu usaha informal dan pribadi, penyair Taufiq Ismail, melakukan wawancara pada kelompok pelajar dari seluruh dunia.

Ia menghasilkan tabel yang sangat mengejutkan. Ternyata antara 20 s/d 30 buku yang dibaca oleh setiap pelajar di berbagai dunia selama periodenya sebagai pelajar, pelajar Indonesia mencatat 0 buku.

Tak heran kalau banyak mahasiswa sebagai perpanjangan dari pelajar Indonesia, tak mampu mempergunakan bahasa. Sebagai akibatnya, skripsi sebagai karya akhir di perguruan tinggi juga tidak ada gunanya, karena memang tidak bisa ditulis oleh mereka yang tidak punya pengalaman mengolah bahasa. Karena kalau dipaksakan pun akan menjadi dagelan, sudah banyak kasus terungkap skripsi ditulis oleh para penyedia jasa skripsi.

Taufiq kemudian membuat lobby pada mereka yang berwenang di Bapenas. Dari hasil diskusi tersebut, didapat kesepakatan bahwa kekeliruan besar yang sangat mendasar sudah terjadi bertahun-tahun. Sastra tak mungkin hanya sastra. Sastra adalah perangkat yang berhubungan langsung dengan semua kegiatan. Kalau itu lumpuh, secara tidak langsung akan cacad pula sektor-sktor lain.

Dari peristiwa itulah kemudian mengucur biaya untuk membuat acara temu sastra dengan guru-guru sekolah. Dengan amat entusias para guru bahasa dari berbagai sekolah bertemu langsung dengan para sastrawan, mendengarkan, berdiskusi tentang sastra. Mereka nampak begitu rindu, banyak yang terkejut, melihat sastra begitu dekat dengan berbagai persoalan sehari-hari. Sastra sangat relevan dengan kegiatan mereka dal;am rangka pembelajaran anak-anak bangsa.

Kegiatan temu sastrawan itu semula hanya dilakukan di Jakarta itu kemudian meluas ke kegiatan se-Jawa Barat-jawa Tengah dan diharapkan kelak akan menjadi kegiatan di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut kemudian disambung dengan kegiatan sastrawan masuk sekolah yang mendapat dukungan dari Ford Foundation.

Saya tidak mengatakan bahwa itulah cara yang terbaik untuk mengatasi ketidakberdayaan sastra. Namun itulah salah satu contoh bahwa ketidakberdayaan di samping dibicarakan, harus segera diatasi dengan tindakan. Dan bentuknya bisa bermacam-macam. Mulai dari yang memerlukan biaya sampai yang tidak memerlukan apa-apa bahkan bisa mendatangkan duit.

Dalam pemahaman saya, yang harus menjadi agenda sastra dalam menyongsong Indonesia Baru adalah pemberdayaan sastra. Menjadikan Indonesia –dalam pengertian sastra -kembali memposisikan sastra sebagai alat yang setara dengan peralatan kehidupan lain seperti teknologi, ekonomi, politik dan sebagainya.

Sastra adalah sebuah profesi dengan para sastrawan profesional sebagai kawulanya. Pemberdayaan sastra adalah bagian bagian dari pemberdayaan seluruh sumber daya/potensi Indonesia. Dengan mobilisasi seluruh potensi itu kita mencoba untuk menggarap target besar yang selama ini sudah diformulasikan oleh ucapan: gemah ripah-loh jinawi lewat sektor dan tanggungjawab para profesional.

Pemberdayaan sastra boleh jadi sudah merupakan isyu sangat klise sekarang. Karena itu dengan mudah kemudian bisa ditafsirkan kepada kesempatan untuk menuntut pemerintah memberikan perlindungan berupa subsidi dan penghapusan sensor yang tak lebih dari sedekah atas dasar belas kasihan dan seringkali lebih banyak menguntungkan satu dua individu sastrawan –bukan pada sastra-nya.

Pemberdayaan sastra adalah termasuk upaya membebaskan sastra dari dominasi satu pribadi. Baik dia bernama Rendra, Pramudya, Goenawan, Sutardji, Chairil dan sebagainya. Pemberdayaan sastra ada usaha membebaskan sastra dari berbagai bentuk penindasan dan pengemisan. Sastra bukan saja untuk seluruh sastrawan, bukan saja untuk sastra, tetapi juga untuk seluruh manusia.

Sastra tak mungkin, tak sanggup dan tak akan sudi berdiri sendiri. Sastra tak memerlukan isolasi. Bahkan sastra yang terisolir pun selalu mencoba menerobos untuk memecahkan kerangkengnya. Sastra memiliki kepentingan mutlak untuk bekerjasama dengan seluruh sektor kehidupan dan perangkat negara karena dia ingoin berbicara kepada setiap manusia/warganegara tanpa mengenal batas tingkat sosial, kecerdasan dan kepangkatan.

Bentuk kerjasama itu adalah kerjasama profesional, atas dasar kegunaaan kegunaan timbal-balik, bukan pemerasan atau pencekokan.

Upaya pemberdayaaan sastra dengan demikian adalah upaya menempatkan sastra pada posisi yang tepat dalam simponi kehidupan, sehingga sastra sebagai “sembako batin” jelas garisnya. Sebagai kebutuhan batin hubungan antara sastra dengan masyarakat tidak lagi menjadi ketegangan dan kucing-kucingan tetapi saling membantu, saling mempergunakan dan saling menyempurnakan.

Pemberdayaan sastra, dalam jalan pikiran saya sama sekali bukan pemberantasan potensi sastra sebagai barang komoditi. Karena potensi sastra sebagai apa pun, harusnya tetap dipupuk sebagai bagian dari kekuatan sastra.

Pemberdayaan di sini harus diartikan sebagai upaya penyeimbangan dari berbagai kekuatan sastra tersebut, sehingga ia bisa hadir utuh dalam dalam kehidupan serta berkembang sehingga selalu dapat menjawab tantangan zaman. Dan itu tak perlu disimpulkan sebagai penentangan kepada “penguasa” –selama kekuasaan adalah alat yang menjalankan kedaulatan rakyat.

Pemberdayaan sastra yang dalam benak saya, mau tak mau adalah pemberdayaan sastrawan, untuk sementara. Dengan satrawan yang tak berdaya tak akan mungkin ada sastra yang berdaya. Tanpa keberdayaan sastrawan Indonesia, sastra yang tak berdaya tak akan bisa dibuat berdaya dengan suntikan dan doping macam mana pun. Karena kita tidak berpikir tentang pemberdayaan semu, sebagai slogan atau etalase dalam sebuah pameran. Peberdayaan yang saya maksud adalah bagaimana sastra menjadi hidup dan berkesinambungan.

Dengan sastrawan yang berdaya, tak akan mungkin sastra menjadi lumpuh. Zaman sastra sebagai hasil orang ngelamun sudah lewat. Sastra bukan lagi nina bobok atau ekstasi untuk membuat orang teler. Sastra adalah hasil pikiran yang tak kurang pentingnya dari berbagai percobaan fisika di laboratorium, tak kurang pentingnya dari ekploarasi pencarian sumber-sumber kekayaan bumi di lepas pantai. Tak kurang pentingnya dari disertasi dan seminar-seminar ilmiah tentang bermacam pokok masalah secara mendalam.

Di dalam sebuah pertemuan antara sastrawan Indonesia dan sastrawan Perancis yang diprakarasai oleh Lembaga Kebudayaan Perancis di Bentara Budaya pada tahun 1990-an, terucap perbedaan posisi sastra di Perancis dan Indonesia. Di Perancis kata mereka, sastra sama kedudukannya dengan ilmu pengetahuan. Dengan sendirinra para sastrawan juga setara harkatnya dengan para ilmuwan.

Kedudukan tersebut tentu bukan status sosial. Tetapi status sosial tersebut hanya kesimpulan dari apa adanya sastra dan para sastrawan. Sebagai akibatnya maka satrawan pun memikul tanggungjawab ilmu pengetahuan atas profesinya.

Sastrawan sebagai pabrik sastra, mesti lebih dulu berdaya. Dan itu tak bisa dicapai hanya dengan slogan, teriakan, yel-yel atau demo. Mustahil terjadi dengan surat sakti, besluit atau tekanan satu kekuatan raksasa. Itu harus terjadi dan mulai dari hati pemerdayaan sastrawannya sendiri, sehingga masyarakat memperoleh bukti yang nyata bahwa sastra memang berdaya.

Mobilisasi sastra adalah pemberdayaan sastrawan untuk merebut kepercayaan masyarakat, bahwa sastra adalah penyampung lidah nasib mereka. Dan itu bukan sesuatu yang mustahil, karena kita memiliki tradisi sastra yang tidak memalukan. Kita memiliki Mpu Walmiki, Mpu Kanwa, Prapanca, Ronggowarsito, Hamzah Fansuri, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Raja Ali Aji, Ida Pedande Dau Rauh dan sebagainya.

Reposisi Sastra Indonesia

Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sementara pelajar dari berbagai negara mencatat 10 sampai 30 buku. Dan malangnya keadaan yang amat papa itu masih dianggap sudah lumayan, karena sastra toh masih ditempelkan pada pelajaran bahasa sebagai asesoris. Seakan dengan mempelajari bahasa Indonesia, sudah dengan sendirinya menguasai sastra Indonesia. Walhasil pelajaran sastra Indonesia adalah embel-embel dari pelajaran bahasa dan memang tidak perlu diberikan “otonomi daerah”.

Dalam posisi yang “hina” dan “sepele” tersebut, memberdayakan sastra Indonesia, sebagai potensi untuk membangun Indonesia baru, menjadi absurd. Kecuali kalau kita melakukan reposisi radikal terhadap pengertian sastra itu sendiri. Sebuah upaya akrobatik, yang ambisius dan bombas, untuk memberdayakan kembali lahan yang sudah mati suri itu. Karena kalau tidak dilakukan penyulapan, dari tempatnya yang mati kutu seperti sekarang, sastra jangankan berdaya, bernafas pun tidak mampu.

Dengan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi, harus dipujikan bahwa pelajaran bahasa Indonesia, membuat orang belajar tentang ilmu tata-bahasa. Mengerti tentang bahasa Indonesia sebagai ilmu. Dan mau tak mau juga akan mengerti logika dasar manusia Indonesia dalam merekam dan menyimpulkan berbagai satuan kehidupan ke dalam bahasa. Pelajaran bahasa adalah pelajaran menghapal pengertian kata, menyusun kalimat yang membentuk pengertian untuk dilepaskan dalam lalu-lintas percakapan. Pelajaran bahasa mengantar bagaimana mempergunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi yang memiliki tatanan.

Tetapi, pelajaran tata-bahasa tidak dengan sendirinya bermakna berlatih mempergunakan bahasa untuk membentangkan alam pikiran personal kepada orang lain. Pengetahuan bahasa, belum tentu menjamin yang bersangkutan pasih apalagi lihai mempergunakan bahasa Indonesia untuk mengembangkan renungan-renungannya tentang makna-makna dalam kehidupan. Bahasa Indonesia tidak dengan sendirinya bisa menjadi idiom pengucapan personal, yang secara efektif mampu menolong proses pemikiran dan ekspresi emosional seseorang, kalau tidak disertai latihan-latihan khusus, sebagaimana yang dilakukan oleh sastra. Ilmu tata bahasa hanya sampai sebagai sebuah pengetahuan untuk dapat menganalisa bahasa, bukan sebagai alat mentransver apalagi mengconvert pengertian personal.

Akibatnya, ketika seorang yang ahli bahasa Indonesia berpikir, merasa dan kemudian berbicara untuk mengekspresikan pengalaman personalnya, ia belum tentu berhasil mengembangkan bahasa itu menjadi kausakata yang secara akurat mewakili makna-makna yang hendak diutarakannnya. Apalagi menyangkut pengalaman-pengalaman spiritual yang pelik, abstrak dan penuh dengan asosiasi serta simbol-simbol. Sesuatu yang merupakan kegiatan khusus sastra. Di dalam sastra, ilmu bahasa, tata bahasa, dikembangkan, diaplikasikan, dipergunakan untuk menerjemahkan berbagai pengalaman spiritual seseorang, agar dapat sampai kepada orang lain sevara akurat, dengan berbagai cara.

Sastra sebagaimana yang selalu kita kenal selama ini, selalu diidentifikasi sebagai karya tulis. Karya indah yang tertulis, baik berbentuk puisi maupun prosa. Lebih jauh lagi, yang menon jol adalah faktanya sebagai sebuah fiksi. Ia dibedakan dengan kenyataan faktual. Hubungannya dengan intuisi dan emosi sangat kental. Tetapi kesinambungannnya dengan ratio, pemikiran dan telaah-telaah, sudah dipreteli habis. Maka sastra menjadi penari strip tease. Penyebar keindahan, yang menimbulkan kelangenan, kenikmatan, keasyik-masyukkan dan akhirnya kealpaan dan bencana.

Sastra sebagaimana di atas, kopong dan sama sekali tak ada hubungannya dengan “sastra” lagi. Dia menjadi barang komoditi yang bertuan kepada bisnis. Hidupnya subur dan dilalah didukung oleh lapisan masyarakat yang luas. Dia menjadi barang nyamikan masyarakat, yang menimbun lemak serta kolestrol. Dan pada gilirannya membawa masyarakat ke dalam pendangkalan-pendangkalan sehingga massa menjadi tolol, masa bodoh dan malas untuk berpikir. Sastra pun menjadi kuburan dan pelarian bagi pemalas.

Sastra yang mengisi pasar itu, memiliki kekuasaan dahsyat. Ia masuk ke dalam gubuk-gubuk kecoak sampai ke rak buku masyarakat kelas elit yang menyembahnya sebagai berhala. Sastra semacam itulah yang memiliki kekuatan nyata. Para sosiolog, ahli sejarah dan psikolog, mengenalnya secara baik. Karena lewat sastra itulah ia dapat membedah fenomena masyarakat pada suatu masa. Dari makanan batinnya itulah mereka mengenal isi perut dan lekuk-lekuk otak manusia macam mana yang menghuni suatu dekade. Lalu mereka menulis risalah sejarah, sosiologi, psikologi dan malangnya kadangkala tak tertolak juga menulis risalah sastra. Walhasil, bukan sesuatu yang tidak berguna.

Tetapi kita memang tidak sedang bicara soal kegunaan. Karena apa pun substansinya, apabila dipandang dari sudut kegunaan, tetap akan berbunyi kemanfatannya. Kita mencoba melihat sudah ada penyimpangan nilai-nilai antara kegunaan, kepentingan dan kualitas. Karena fenomena sastra dagangan memiliki kegunaan dan penting dalam mengungkap fenomena masyarakat, ia cendrung dianggap memiliki kualitas. Sementara yang benar-benar berkualitas, karena tidak secara gamblang menunjuk kegunaan dan memerlukan waktu untuk mengidentifikasi arti pentingnya, menjadi sampah.

Khususnya terhadap berbagai peninjau dari mancanegara. Secara berseloroh pernah disindir oleh pemusik Slamet Abdul Syukur, bahwa mereka biasanya melakukan telaah dengan melempar batu ke hutan, lalu mencari-cari batu yang barusan dilemparkannya (anekdot ini saya dengar dari orang lain). Merekalah yang sering memberi label keliru, karena kepentingan mereka berbeda. Namun kekeliruan mereka kemudian menjadi hukum, karena penghargaan kita terhadap peneliti mancanegara demikian tinggi.

Sudah terjadi kerancauan di dalam sastra Indonesia. Kerancauan yang amat mendalam. Karena kiblatnya adalah kepentingan dalam tandakutip “Barat”. Tetapi itu bukan tidak penting. Karena dari kerancauan itu, menjadi semakin terang, sastra apa yang selama ini “tidak” dibicarakan. Sastra itulah yang akan kita bicakan berikut ini.

Yang kita maksudkan dengan sastra, adalah daerah gelap yang belum dijelajah oleh tangan-tangan peneliti yang tak lain dari “pencari batu yang dilemparkannya sendiri itu”. Dan itu harus dimulai dengan tidak lagi hanya memparkir sastra sebagai tulisan yang indah dan menarik saja. Sastra adalah seluruh ekspresi manusia yang diutarakan dengan bahasa. Tertulis ataupun tidak tertulis. Indah atau pun tidak indah.

Apakah itu penting, berguna atau berkualitas, tidak ditentukan oleh mereka yang menilainya. Ia ditentukan oleh eksistensinya sendiri. Selama ia merupakan ekspresi lewat bahasa maka ia adalah penting, berguna dan berkualitas sebagai sastra. Sastra adalah seluruh upaya bahasa untuk mengekspresikan eksistensi manusia-manusia yang diaturnya.

Sastra dengan demikian tidak lagi hanya merupakan barang hiburan. Bahwa ia dapat menghibur, itu besar kemungkinannya, tetapi bukanlah tujuannnya. Sastra adalah seluruh pengucapan manusia. Seluruh pikir rasa dan karsa manusia, lewat bahasa yang mereka kuasai. Sastra adalah pemikiran, perenungan, pencarian, pengembaraan, pengutaraan pengalaman spiritual manusia bersangkutan dengan memakai bahasa sebagai wadahnya.

Sastra adalah sebuah dialog, pencarian spiritual terhadap berbagai makna-makan dengan bahasa sebagai alatnya. Jadi sastra bukan bahasa itu sendiri. Sastra juga bukan sekedar alat dari bahasa. Sastra adalah ilmu bagaimana memanfaatkan bahasa menjadi kausakata untuk menerjemahkan berbagai makna kepada orang lain dengan akurat. Bahasa bagaikan sungai tempat sastra mengalir menuju ke makna yang hendak disergapnya. Bahasa dan sastra adalah dua sekawan yang saling bahu-membahu untuk mengembangkan daya jangkau pikir-rasa dan karsa manusia yang mencari jati dirinya.

Sastra tidak bisa lagi dipelajari hanya sebagai teknik penulisan. Sastra bukan hanya penggolongan jenis-jenis tulisan dengan bentuk-bentuk yang dipakainya. Sastra adalah perkembangan pemikiran di dalam memahami kehidupan dan seluruh fenomenanya. Sastra juga bukan hanya cerita, simbol-simbol, ungkapan-ungkapan dan permainan bahasa. Sastra adalah cara mengidentifikasi, sikap, pilihan sudut padang dalam membelah kenyataan-kenyataan sosial dan spiritual, dengan bahasa sebagai mediumnya.

Pelajaran sastra yang selama ini diwarnai dengan kegiatan penghapalan nama serta tahun-tahun, merupakan kesalahan besar. Pelajaran sastra seyogyanya adalah pelajaran tentang proses pemikiran. Ia bersangkutan bukan hanya dengan masalah-masalah estetika, kendati estetika merupakan bagian yang sangat penting di dalam sastra. Ia memerlukan berbagai ilmu bantu seperti: filsafat, sosiologi, psikologi, sejarah, politik, bahasa itu sendiri dan bahkan juga ekonomi dan teologi.

Mempelajari sastra tidak lagi hanya merupakan upaya untuk menangkap gambar-gambar pengembaraan imajinasi, tetapi struktur pemikiran. Sastra merupakan tesis, telaah, skripsi bahkan disertasi dari pengarangnya terhadap tema yang ia tekuni. Wilayahnya berserak di seluruh wilayah pengetahuan. Sastra tidak mungkin kurang dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan sastrawan adalah ilmuwan dan teknokrat yang berbicara tidak dengan angka-angka dan rumus-rumus mati, tetapi dengan makna-makna yang bergerak terus.

Dengan memposisikkan sastra semacam itu, sastra menjadi memiliki berbagai kekuatan konkrit. Pertama: sastra adalah dokumen perkembangan daya pikir dengan imajinasi sebagai wilayahnya dan yang senantiasa terus bergerak. Ia tidak semata-mata fiksi tetapi juga bukan fakta yang kering. Ia merangkul keduanya, sehingga memiliki wilayah jelajah yang tak terbatas.

Kedua: sastra adalah seminar terbuka yang terus-menerus berproses mengikuti pasang-surut kehidupan. Kesimpulan-kesimpulannnya bertumbuh. Ia mengembangkan budaya interpretasi, melihat segala sesuatu dari segala sudut berbeda dengan hasil yang berbeda, dengan kebenaran yang berbeda namun saling menunjang sebagai sebuah keutuhan. Sastra adalah pendidikan jiwa, yang mengembangkan citra manusia dan kualitas kehidupan dari dalam batin manusia. Sastra mengajak manusia untuk terus menelusuri perkembangan dan kemungkinan-kemungkinan.

Ketiga: sastra adalah senjata yang efektif dan kekuasaan raksasa yang lunak. Dengan sastra dapat dicapai berbagai hal yang tak tergapai oleh kekerasan senjata. Dan pada gilirannnya sastra yang berpotensi, memiliki kekuasaan untuk mengarahkan manusia ke tujuan yang hendak digiringnya dengan dengan pesona bahasa dan makna-maknanya tanpa keterpaksaan dari yang bersangkutan.

Barangkali masih dapat dicari kekuatan sastra yang lain, tetapi tiga hal di atas saja sudah cukup untuk membuat sastra berhenti tak berdaya. Sastra yang diciptakan oleh manusia menjadi potensial untuk membangun manusia. Dalam situasi perpecahan yang kini merebak di mana-mana, sastra juga tidak sedikit kemungkinannya untuk menyumbangkan andil. Karena sastra dapat menembus apa yang tidak tertembus oleh senjata. Sastra dapat menggerakkan apa yang tidak bergerak oleh kekuasaan. Dan sastra dapat menghubungkan apa yang tidak dapat terhubungkan oleh jembatan persatuan. Dan pada puncaknya sastra dapat memberdayakan bahasa itu sendiri agar lebih hidup dan lebih bermakna dalam pergaulan manusia.

Dengan bahasa, manusia dapat bertemu dan merasakan dirinya satu nasib. Membangun dan mengembangkan sastra Indonesia dengan sendirinya juga memposisikan sastra sebagai perjuangan persatuan dan kesatuan bangsa. Tetapi itu tak akan mungkin terjadi sebelum kita mereposisi sastra dalam peta pendidikan kita mulai sekarang. Sastra berhak menjadi bagian dari ilmu pengetahuan, sehingga sastra menjadi baru dan relevan. Sastra harus tak sepantasnya hanya benalu apalagi virus dalam pelajaran bahasa, sebagaimana tersistimkan dalam pendidikan kita selama ini.

Sastra Reformasi

Orde Baru dikibarkan menggantikan Orde Lama sebagai sebuah pesta kemenangan. Para teknokrat bergabung membenah Indonesia yang dinilai sangat rawan kesejahteraan rakyatnya. Maka agenda pun dipalingkan ke perkembangan ekonomi.

Orde Baru mulai membentuk kelas menengah untuk membuat perubahan. Generasi muda didorong bangkit membangun masa depan dengan cara menjadi interprener. Rakyat diajak memusatkan perhatian pada kesibukan mengisi kemerdekaan. Mereka dibimbing menghadapi kenyataan dan mencintai uang.

Kelas menengah yang kemudian lahir, ternyata bukan memelopori penalaran, mereka malah sibuk mengukuhkan status kemapanannya. Rakyat memang menjadi sadar pada kemiskinannya lalu menjadi lapar pada kesuksesan tapi dalam bentuk materi. Orang mulai terbiasa memburu uang dengan menempuh segala macam cara. Kemajuan-kemajuan phisik tidak diimbangi oleh kesiapan batin.

Kesenian yang merupakan salah satu kanal yang bisa mengantarkan manusia ke arah perkembangan batin, amat terpojok. Tempatnya di luar pembangunan, bahkan nampak mengganggu. Karena dianggap tak berguna, kesenian tidak lagi dianggap sebagai aset bangsa, bahkan dinilai sebagai pemborosan. Digeletakkan begitu saja di sudut kecil sebagai pajangan parawisata.

Dan sastra hampir menjadi sampah yang hanya dilindungi oleh belas kasihan. Fungsinya sebagai pendidikan moral untuk menyempurnakan perkembangan batin manusia, menjadi hanya kelanggenan. Sastra berubah menjadi hiburan ringan.

Sastra mengkerut menjadi hanya budaya pop. Hiburan sesaat mengikuti kesemarakkan pasar. Hal ini ditopang lagi oleh budaya hidup enak yang dikampanyekan oleh majalah-majalah wanita yang gemerlapan dan menjual gaya hidup wah. Untuk bertahan sastra pun ikut menjadi alat propaganda hidup pop. Maka perlahan-lahan bangkrutlah sastra Indonesia.

Perjalanan kemanusiaan yang bisa ditempuh antara lain lewat sastra, sebagaimana yang pernah dicanangkan oleh kelompok Manikebu misalnya, kembali gagal. Kemanusiaan sendiri mendapatkan rangking nol di dalam kehidupan. Yang menjadi utama pada era tersebut adalah politik, ekonomi dan teknologi. Tapi itu pun politik kelas yang berkuasa, ekonomi kelas konglomerat dan teknologi mercu suar.

Reformasi mendadak memberikan kesempatan.

Reformasi semacam peluang untuk mereposisi sastra, di dalam kehidupan. Dapat diharapkan bahwa posisi sastra akan kembali. Segala keluhan di masa lalu, mendadak tidak lagi menjadi hambatan. Para penulis bisa leluasa untuk memilih tema dan mengekspresikan pendapatnya terhadap segala macam soal. Sensor yang dianggap sebagai biang kerok kebangkrutan sastra sudah lumpuh. Sastrawan memiliki kemungkinan.

Kita sedang memasuki proses pembebasan sekarang. Membuka pintu dan memulai kerja besar. Tapi benarkah sastra melangkah laju ke depan bila tanpa hambatan, tanpa ditolong oleh siapa-siapa. Beranikah, mampukah, dan berhasilkah sastra membuktikan keberadaannya yang istimewa penting di dalam kehidupan yang lebih bebas?

Di masa lalu, bukan hanya sastra, hampir seluruh sektor kesenian ikut mengeluh terhadap berbagai keterbatasan. Sensor yang garang dan sewenang-wenang merupakan alasan yang empuk untuk membenarkan bahwa layaklah tidak ada hasil besar yang lahir. Padahal pada zamannya, bukan sedikit hambatan yang dihadapi oleh Pramudya Ananta Toer, toh dia berhasil mencetak hasil-hasil monumental. Bahkan pada zaman kensengsaraan Manikebu, tidak sedikit halangan terhadap para Manikebuis karena mereka dilarang berkarya, toh lahir penyair-penyair besar seperti Goenawan Mohamad, misalnya. Sedangkan di era Orde Baru yang dianggap sebagai neraka bagi kebebasan berekspresi, tetap saja melambung karya-karya Rendra, Sutardji, Danarto, Budidharma dan sebagainya, seperti tak tersentuh oleh berbagai hambatan.

Kini, ketika pintu kebebasan sudah dibuka, akan lahirkah sastrawan besar dan karya besar yang lain? Harusnya lahir. Tanpa itu bagaimana mungkin sastra dapat mereposisi dirinya? Tetapi sayang, sudah setahun reformasi bergulir, yang lahir baru novel “Saman” dari tangan Ayu Utami, pengarang wanita yang dipujikan oleh para pengamat sebagai jenius yang membawa cakrawala baru bagi sastra Indonesia. “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”, kumpulan sajak Taufiq Ismail. Novel dari Danarto, Remy Sylado, Titis Basino serta Dono Warkop. Ke mana para pengarang yang lain?

Sedang giat menulis atau ikut kampanye? (Apa karena krismon yang membuat harga kertas membumbung tinggi penerbitan jadi seret? Karena prioritas dikerahkan kepada pada pemulihan ekonomi dan kestabilan politik?) Atau karena tidak terbiasa oleh kebebasan? Apakah kebebasan justru membuat sastra jadi tak berdaya?

Di masa lalu, ketidakbebasan justru menstimulasi sastra menjadi lebih tajam dan produktif. Sementara kebebasan seringkali berakhir dengan kebingungan apabila memang jiwa sastrawannya memang tak bebas. Setelah tuntutannya tentang kebebasan terpenuhi, ia tidak tahu mau mengisi dengan apa?

Mungkin sekali bahwa kebebasan formal tidak hanya memberikan peluang, tetapi juga dapat membunuh. Karena dalam ketidakbebasan yang macam mana pun, selalu ada peluang bagi kreativitas untuk berkelit dan mengucur. Sehingga sastra tidak pernah tidak ada, kalau memang dia ada. Sebaliknya kalau memang tak ada, dibebaskan dengan cara bablas-bablasan pun dia tetap tak akan hadir.

Atau: menjadi bertambah jelas bahwa kebebasan bukan satu-satunya yang diperlukan sastra. Jauh lebih penting dari kebebasan adalah visi. Sastra harus menghidupkan visi. Para sastrawan adalah visoner-visioner yang akan membuat karya sastra menjadi input-input berharga bagi kehidupan dalam aspek masing-masing. Sehingga sastra tidak hanya berhenti sebagai sastra. Tetapi berawal dari sastra dan kemudian berserak ke seluruh sektor kehidupan. Dengan begitu sastra baru akan memiliki wibawa yang setara dengan pengetahuan. Karena ia memiliki akses ke segala arah. Sementara keindahan bahasa adalah bonusnya.

Era reformasi bagi sastra dalam pengamatan saya, bukan berarti “Pembebasan”, yang berarti: bahwa kini adalah saatnya sastra dapat berbuat apa saja. Bahwa kini adalah saatnya sastra dapat menuliskan apa saja. Tidak. Karena sastra selalu komplit. Sastra selalu mendua. Sejak adanya, sastra mengandung kebebasan dan ketidakbebasan. Kenapa? Sastra yang berpihak memang tidak pernah bebas. Dan sastra yang bebas, tidak pernah bisa ditahan oleh apa pun, karena dia memiliki kreativitas untuk mengelak. Keduanya bangga atas keadaannya. Dan suka tidak suka, ternyata saling melengkapi.

Sastra reformasi menurut hemat saya, bukan: “pesta kebebasan dan selamat tinggal ketidakbebasan”, tetapi masalah kesempatan dan agenda. Masalah prioritas apa yang seyogyanya harus dilakukan oleh sastra, baik sastra yang berpihak maupun sastra yang bebas, pada saat ini. Saat ketika Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun dicoba diganti dengan tatanan baru yang kita sendiri juga belum tahu seperti apa jadinya nanti, adalah kesempatan untuk mengembalikan sastra sebagai sembako jiwa.

Dalam bayangan saya, sastra reformasi adalah sastra yang menyadari benar artinya sebagai sembako batin. Namun dia juga mengerti di mana posisinya kini. Idealismenya mengandung strategi. Sastra mesti melakukan tindakan-tindakan yang tepat. Kalau tidak, tujuannya akan terganggu atau terjegal lagi, bukan karena tidak diterima oleh masyarakat, tetapi karena tidak dewasa menyikapi situasi.

Sastra adalah jembatan untuk masuk ke hati manusia di segala sektor kehidupan. Karenanya sastra tidak mungkin tidak, tetap akan menghadapi berbagai halangan. Kesulitan-kesulitan di masa lalu, bukan tidak akan mungkin akan terulang lagi. Kekurangan penerbit, jalinan distribusi tak lancar, aturan main yang tidak mendukung bahkan juga sensor dan sebagainya yang dulu dikeluhkan mungkin masih akan dihadapai lagi. Dan menjadi bertambah berat, karena itu terjadi dalam era reformasi.

Kesempatan sastra di dalam era reformasi adalah ikut campur dalam berbagai aspek kehidupan secara aktif. Membuktikan dirinya bukan hanya semata-mata hiburan. Bukan sekedar “sastra”. Untuk itu sastrawan sendiri harus berkemas, membenah diri, dan belajar. Karena penampilan yang rusak, citra yang kalangkabut, wawasan dan gagasan yang mgawur dan mabok, justru akan dengan cepat membalikkan kesempatan itu menjadi bukti bahwa sastra memang harus dikubur karena memang benar sampah.

Apa yang harus dilakukan oleh sastra? Banyak sekali. Dia harus menunjukkan kwalitas dan sekaligus kwantitasnya. Dia tidak boleh enak-enakan menuntut apalagi mengemis pengakuan. Sastra harus berjuang untuk merebut pengakuan, seperti partai-partai merebut kursi dalam pemilu. Kalau tak berhasil, jangan lagi menuding rakyat tak punya apresiasi, tetapi mungkin perjuangannya masih belum cukup teruji. Karena itu sastra perlu bisa membuktikan dirinya berkaliber, sehingga mau tak mau pantas diakui.

Sastra akan dituntut untuk lentur, lihai, cerdas dan barangkali juga harus bijaksana. Sastra harus mampu membangun imij bahwa ia adalah pekerja pendidikan jiwa yang setara dengan pekerja-pekerja kehidupan lain seperti sejarah, politik dan ekonomi atau teknologi, misalnya. Dalam sastra orang mendapatkan kearifan dan memperkaya pengalaman-pengalaman batinnya.

Sastra dituntut oleh keadaaan untuk bisa menunjukkan, tanpa sastra kehidupan akan berjalan timpang. Dan itu tidak cukup dengan sebuah slogan tetapi kerja nyata sehingga ada bukti. Dengan karya-karya yang berkesinambungan. Dengan usaha-usaha. Dengan percobaan-percobaan dan barangkali juga dengan berbagai penderitaan, frustasi, kegagalan-kegagalan. Walhasil kembali lagi: tekanan.

Sastra harus membebaskan dirinya dari menempatkan kesulitan-kesulitan sebagai pembenaran kemacatan sastra. Ancaman dan tekanan adalah sesuatu yang sudah terbiasa pada sastra. Sering itu menjadi kekuatan sastra sendiri. Kalau tidak berani menghadapi kesulitan, barangkali memang tidak perlu menjadi sastrawan.

Siapkah sastrawan Indonesia menerima sastra sebagai pekerjaan? Menumbuhkan ethos kerja yang lebih kerangsukan? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan disusul dengan pertanyaan: siapkan pemerintah dan masyarakat menerima sastra sebagai sembako? Dan selanjutnya akan melahirkan pertanyaan: siapkah sastra menjadi sembako? Akhirnya akan kembali sebagai pertanyaan: siapkah satrawan menjadikan sastra itu sebagai sembako?

Era reformasi, nampaknya tidak akan menjamin kehidupan sastra Indonesia lebih baik, kalau sastrawannya sendiri tidak bangkit. Sastrawan sendiri harus mereformasi posisi dan perilakunya sebagai sastrawan. Tidak cukup dengan cara menuding, mengelak, memasang label reformasi di kepalanya atau bersilat argumentasi, tetapi dengan karya-karya. Dan itu mutlak memerlukan kerja.

Pengajaran Sastra

Bagaimana sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh seorang guru sastra. Karena mula-mula yang harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Lalu siapa saja yang hendak dibelajarkannya pada sastra.

Mungkin setelah itu seorang guru sastra mendapatkan beberapa pegangan untuk untuk menjawab, walau pun tidak benar-benar tuntas tentang: bagaimana mengajarkan pelajaran sastra. Tetapi sementara itu, pertanyaan lain sudah buru-buru hendak mengejar. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya ada di luar sastra. Apa, siapa dan bagaimana sebenarnya apa yang disebut “guru” itu. Apakah itu sebuah lembaga atau orang?

Sastra menurut etimologinya adalah tulisan. Sedangkan kesusastraan adalah segala tulisan yang indah. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah yang tidak indah tidak termasuk sastra. Apa batas/syarat keindahan itu. Bagaimana kalau ada sebuah karya yang sama sekali tidak indah, tetapi mengandung ekspresi yang sangat penting, sehingga menuntun imajinasi mengembara ke sesuatu yang lain, yang mengantarkan ke pada makna-makna yang mendasar, sehingga menciptakan haru?. Apa itu juga keindahan? Kalau begitu keindahan itu bisa tidak indah?

Lalu bagaimana dengan sastra lisan yang menjadi salah satu kekuatan di dalam tradisi kita, apa itu bukan sastra hanya karena tidak tertulis? Sebuah sastra lisan Bali yang dikenal dengan nama Men Kelodang ( Bu Kelodang), misalnya, (atau ambillah sastra lisan yang mana pun) transkripsinya bila dibaca akan terasa patah dan tak indah.

Tetapi bila dibunyikan, lewat mulut seorang nenek untuk didengarkan oleh cucunya yang sedang tumbuh, ia menjadi sebuah tenung yang mengandung berbagai aspek. Di situ ada pendidikan moral yang diam-diam menjadi kekayaan batin calon penerus generasi itu di masa depan. Sastra lisan adalah sebuah lab, sebuah kepustakaan yang berwujud bunyi yang sangat besar artinya pada tradisi Timur yang menempatkan pembelajaran sebagai proses yang non formal yang disebut magang atau nyantrik..

Sastra dalam pemahaman saya, adalah segala bentuk ekspresi dengan memakai bahasa sebagai basisnya. Dengan membuat kapling yang begitu lebar dan umum, maka kita seperti menjaring ikan dengan pukat harimau. Bukan hanya apa yang tertulis, apa yang tidak tertulis pun bisa masuk dalam sastra. Tidak hanya yang su (indah), catatan-catatan, surat-surat, renungan, berita-berita, apalagi cerita dan puisi, anekdot, graffiti, bahkan pidato, doa dan pernyataan-pernyataan, apabila semuanya mengandung ekspresi, itu adalah sastra.

Dengan memandang sastra dengan kaca mata lebar seperti itu, lingkup sastra mendadak membludak menyentuh segala sektor kehidupan. Tidak ada satu sudut kehidupan pun yang tidak mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Segala hal kena gigit oleh sastra. Teknologi dan dagang pun tak mampu bebas dari sastra.

Dengan kata lain, tak ada bidang yang tak terkait dengan sastra. Karenanya, bila sastra tiba-tiba menjadi sesuatu yang terisolir dalam kehidupan, pasti ada sesuatu yang telah sesat . Termasuk kesesatan dalam mengajarkan sastra itu sendiri.

Bila di masa lalu, pelajaran sastra hanya dikunyah oleh anak-anak bagian A (budaya) di SMA, bahkan kemudian nyaris dibuang, karena jam pelajarannya dikanibal oleh pelajaran tata bahasa, maka sebenarnya sudah terjadi kesalahan besar. Sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alat menyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa. Dan tanpa kehidupan rasa, semua cabang ilmu pengetahuan bukan hanya kering, membosankan, tidak manusiawi, tetapi juga tidak beradab.

Dengan memandang sastra seperti itu, tak ada yang tidak terjamah oleh sastra. Sastra sendiri sebaliknya juga tidak hanya terpatok pada dirinya sendiri. Sastra tak terkunci pada keindahan, kemolekan dan tulisan tok. Sastra tak hanya masturbasi kata-kata, tetapi idiom idiom bahasa, yang menjadi kanal-kanal ekspresi ke segala bidang, baik seni-budaya, teknologi, ekonomi maupun masalah-masalah sosial-politik, pendidikan, pemerintahan bahkan juga agama.

Tak heran, kalau di berbagai kampus yang sudah mapan, pembelajaran sastra, dikaitkan dengan sejarah dan politik. Karya-karya sastra tidak lagi hanya berhenti sebagai bacaan pelipur lara, tetapi juga menjadi dokumen sosial-politik terhadap kurun masa di saat pengarangnya hidup. Dari sebuah cerpen, misalnya, seorang professor pengamat politik di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat, membahas masalah G-30-S.

Guru sastra bertugas untuk membuka semua katup-katup sastra. Dengan keberadaan seorang guru permainan kata-kata itu tidak mampus sebagai teka-teki, tetapi memberikan inspirasi yang membuat sastra berdaya. Sastra akan memotivasi bahkan menstimulasi manusia untuk bangkit, bekerja, berjuang dan mencapai targetnya. Guru sastra adalah seoprang jubir, seorang PR, seorang menejer, seorang agen dan seorang penafsir. Walhasil seorang “:pemain” aktip, bukan hanya makelar apalagi

Pada prakteknya, seorang guru di masa lalu, adalah seorang “penghajar”. Ia memiliki posisi lebih tahu, lebih cerdik, lebih pintar dan lebih berkuasa . Untuk mengoper ilmu yang dikuasainya (padahal sering ilmu yang sudah kedaluwarsa), ia tak segan-segan melakukan kekerasan dengan dalih desiplin. Suasana kelas lebih merupakan pertunjukan monolog dan indoktrinasi tanpa boleh ada yang membantah. Yang terjadi bukan proses pembelajaran tetapi penderaan. Murid-murid disiksa untuk menelan, menghapal, apa yang dimuntahkan oleh guru. Berpendapat lain bisa dicap kurangajar.

Hasil pembelajaran seperti itu memang tak menghalangi anak-anak yang jenius untuk tumbuh terus dan melejit berdasarkan kodratnya. Tetapi secara umum, posisi guru yang menghajar itu sudah menyelewengkan makna pembelajaran menjadi pelajaran mengembik. Murid-murid hapal nama-nama, tahun dan jumlah, tetapi tak mampu memaknakan apa hakekat dari semua pengetahuan yang diterimanya.

Murid yang terdidik bertahun-tahun bukannya menjadi luas wawasannya dan kaya gagasannya, tetapi malah menjadi berkepala keras dan pada gilirannya, mentoladan jejak gurunya, menjadi otoriter.

Mengajar adalah mengantar, membimbing, mengembangkan potensi anak-anak didik dengan berbagai pengetahuan yang harus terus dikembangkan dan diikuti perkembangannya. Pelajaran bukanlah tujuan, tetapi alat untuk mengantar mereka yang diajar agar sampai kepada hakekat dari makna-makna berbagai hal di dalam kehidupan yang terus bergerak, berkembang, bertumbuh bahkan mungkin berubah.

Kadangkala seorang guru bisa lebih bodoh dari muridnya, tetapi ia tetap seorang guru. Ia menjadi guru bukan karena lebih pintar, tetapi karena berkemampuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya berdasarkan kemampuan masing-masing. Mengajar dengan demikian bukanlah mengindoktrinasi, atau menyulap orang bodoh menjadi pintar. Guru bukan seorang dukun, bukan juga tukang sihir dan bukan seorang tiran.

Guru adalah seorang teman yang membimbing yang membagi informasi secara periodik dan sistimatik, sesuai dengan tingkat kemampuan anak didiknya. Sehingga apabila ia menghadapi murid yang sangat pintar, yang lebih pintar dari dirinya, ia tidak perlu merasa terancam akan dipecat. Sekali seorang menjadi guru, ia tetap saja guru, karena itu sebuah fungsi yang tetap diperlukan oleh orang yang pintar sekali pun, karena “guru” lah yang menemani muridnya untuk mengembangkan kepintarannya.

Mengajar lebih cenderung sebagai menemani secara aktip, anak-anak didik dalam memunggut pengetahuan dari berbagai buku. Mengajar lebih kurang adalah menjadi seorang tukang kebun dengan berbagai bibit pohon yang memiliki watak berbeda-beda, di dalam sepetak tanah yang sama.

Kesibukan rutinnya adalah merawat dan mengembangkan. Bagaimana membagi perhatian, bagaimana menyiasati agar pohon-pohon itu berkembang, di tanah yang adanya memang begitu, adalah tanggungjawab guru.

Mengajar sama sekali bukan menghajar, meskipun sekali tempo diperlukan hajaran. Mengajar adalah mempengaruhi kalau perlu “menipu” anak didik untuk mencintai dan melihat kegunaan dari apa yang dibelajarkan. Mengajar berarti membuat siasat. Seorang guru harus belajar bersiasat, tanpa bersiasat, pembelajaran akan kembali menjadi penghajaran.

Seorang guru harus dapat membuktikan bahwa apa yang diajarkannya bermanfaat. Tanpa melihat kemanfaatan dari apa yang dipelajari, tanpa menyadari kaitannya dengan realita, maka pelajaran tetap akan kembali sebagai “penghajaran” yang membuat mereka yang belajar merasa didera/dihukum.

Mengajar bukan menyulap seorang anak yang bodoh menjadi pintar, bukan mendadani murid dengan asesoris ijazah/gelar, tetapi mencoba membuktikan bahwa bahwa anak yang bodoh itu sebenarnya sudah keliru, karena ia lupa bahwa dirinya pintar. Tak ada yang bisa diajarkan kepada orang lain, apalagi sastra.

Sastra tak bisa dan tak perlu diajarkan. Yang bisa dilakukan oleh seorang guru sastra dalam mengajar adalah mengajak anak didiknya untuk melihat kemanfaatan sastra. Memposisikan sastra sedemikian rupa pada tempatnya yang tepat sehingga jelas kaitannya, relevansinya dengan kehidupan dan proses pembelajaran. Dengan lain kata, seorang guru sastra berdiri di depan kelas di hadapan murid-muridnya, bagaikan seorang pembela di dalam sebuah peristiwa pengadilan, untuk membuktikan, untuk menunjukkan, bahwa sastra adalah ilmu.

Apa gunanya sastra. Mengapa sastra terkait dengan hidup setiap orang? Itulah yang harus dijawab oleh setiap guru sastra supaya pebelajarannya tidak menjadi penghajaran.

Ada banyak metode mengajar. Semua metode bagus, tetapi tidak semua yang bagus cocok dengan siapa yang mengajar dan siapa yang diajar. Sementara itu, siapa yang mengajar tidak harus lebih penting dari siapa yang akan diajar.

Bukan pengetahuan pengajar atau apa yang cocok dengan pengajar yang penting, tetapi apa yang akan menjadi pengetahuan yang diajar dan bagaimana membuat yang diajar jadi berpengetahuan, itulah yang menjadi prioritas dan agenda mutlak. Seorang guru sastra memiliki strategi masing-masing sesuai dengan medan dan kondisi orang-orang yang diajarnya.

Pelajaran sastra tak penting diajarkan oleh siapa, tapi siapa yang diajar, itu sangat menentukan. Di masa lalu hal ini diabaikan. Kurikulum yang ingin mensistimatiskan pendidikan, mecoba melihat pembelajaran sebagai membangun rumah. Desainnya yang terlebih dahulu dirancang. Kemudian dirinci pelaksanaannya sesuai dengan waktu dan biaya. Lalu hasilnya ditargetkan. Tapi apa yang terjadi?

Yang muncul adalah satu birokrasi yang rapih. Rumah pun jadi, nampak indah, tepat waktu, sesuai dengan rencana dan tidak ada pembengkakan biaya. Itu sem ua memang cocok buat menyusun laporan, sebab ada rencana, ada hasil, sehingga jelas plus dan minus prosesnya dalam setiap tahun. Persis seperti sebuah pembukuan uang.

Tetapi apa lacur, rumah yang dibangun itu, hasil pembelajaran sastra itu, ketika dihuni, ketika diujicoba hasilnya, yang tinggal hanya dendam, rasa benci dan muak, karena hanya menjadi kenang-kenangan bagi mereka yang sudah dihajar, terhadap tindak kekerasan. Rumah itu bukan dipersiapkan untuk ditinggali tetapi dilihat sebagai maket dal;am sebuah pameran. Pelajaran sastra hanya menjadi pelajaran tidak perlu yang buang-buang waktu dan membuat orang benci pada sastra.

_Pembelajaran sastra telah menghasilkan semacam Rumah Sangat Sederhana yang cocok untuk etalase laporan administrative, bahwa sudah dilaksanakan pembangunan. Namun kalau ditanyakan kepada para penghuninya, tak seorang pun yang dapat hidup tenang di dalam penjara yang mirip kotak-kotak burung dara itu. Berbeda dengan rumah-rumah liar yang tak terencana di tepi sungai atau sepanjang rel kereta api di stasiun.

Walau bentuknya tidak karuan, tetapi rumah-rumah itu benar-benar menjadi sarang bagi pengghuninya. Bentuk dan keindahannya tak direncanakan, tetapi tercipta berdasarkan kebutuhan penghuninya, sehingga cocok dan akrab. Rumah semacam itulah yang lebih diperlukan dalam proses pembelajaran sastra.

Mengajarkan sastra tidak boleh dimulai dengan sastra itu sendiri, tetapi siapa yang akan mempelajarinya. Lingkungan, latar belakang dan kebutuhan mereka yang hendak diberikan pelajaran sastra, tidak boleh kalah penting dari suara karya-karya itu. Tidak seperti pelajaran sejarah, sastra bukanlah masa lalu, karenanya harus mulai dari aksi-aksi yang nyata.

Kerucut sistim pembelajaran yang mengajak guru memulai pelajaran sastra seperti pelajaran sejarah sastra, sehingga harus mulai dengan menghapal apa itu pantun, gurindam, soneta dan seloka, perlu dibalik total. Pelajaran sastra harus hidup, dimulai dengan apa yang nyata di sekitar dalam lingkungan mereka yang diajar.

Sajak-sajak pamflet Rendra, lagu-lagu Bimbo yang liriknya ditulis oleh Taufiq Ismail, misalnya, selama ini tak pernah sempat diajarkan di dalam pelajaran sastra, karena adanya diujung kerucut. Bahkan guru-guru sastra pun banyak yang tidak tahu. Pelajaran sastra harus dimulai digenjot dari masa kini, karena sastra bukan hanya mimpi, bukan cerita masa lampau..

Sebuah sajak, novel, lakon, cerpen, esei dan sebagainya hanya alat untuk menyampaikan/mengekspresikan gagasan dari penulisnya/pengarangnya. Di balik cerita, di dalam kata-kata ada rembukan dan kesaksian. Itulah yang harus ditontonkan kepada mereka yang belajar sastra. Membaca karya sastra seperti menggali tambang mengeruk, memburu makna-makna yang bersembunyi di balik kata-kata.

Sajak “Aku” yang ditulis oleh Chairil Anwar, setiap kali dibaca kembali, seperti sebuah sajak yang baru, karena ia mengandung makna yang seperti tumbuh. Kata-kata memang sesuatu yang mati, tetapi maknanya berkembang, mengikuti interptretasi dari pembaca. Karya sastra tidak membungkam pembaca, tetapi justru menawarkan diri agar pembaca dapat mengembangkan interpretasinya. Sastra menggelorakan kehidupan pikir dan imajinasi pembaca. Permainan itulah yang akan membuat sastra menjadi semacam permainan yang seharusnya menarik dan asyik karena hampir tanpa batas.

Sebuah lakon bernama “Menunggu Godot” karya Samuel Beckett, adalah sumbangan yang monumental terhadap kehidupan. Sebagaimana Thomas Alfa Edison yang menemukan listrik, atau Einstein yang menyumbangkan teori kwantum, Beckett menangkap satu makna besar dari kehidupan bahwa pada hakekatnya manusia, semua manusia harus menunggu. Dengan memahami kesaksian Beckett tersebut, wawasan tentang kehidupan bertambah dan semakin jelas bahwa sastra bukan hanya hiburan, tetapi ilmu.

Sebuah novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin” karya Beecher Stowe yang menceritakan penderitaan budak-budak kulit hitam di Amerika telah mengobarkan rasa kemanusiaan orang Amerika. Buku tersebut dianggap salah satu pencetus dari perang Saudara di Amerika yanbg kemudian membawa kesetaraan perlakuan terhadap kulit hitam di negara yang kini mengakju menjadi pelopor demokrasi itu.

Kita membutuhkan guru-guru pelajaran sastra yang memahami apa sastra dan bagaimana mengajarkan sastra kepada anak didiknya. Untuk itu, sebagaimana juga olahraga, diperlukan pendidikan khusus.

Tapi itu mungkin hanya sebuah mimpi, kecuali kalau pelajaran sastra diberikan posisi yang setara dengan pelajaran tata bahasa, setidak-tidaknya proposional. Lebih lanjut, kerucut kurikulum sebaiknya dibalik agar konteks kekiniannya keluar. Pembelajaran sastra tidak lagi dimulai dari Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, tetapi dari — misalnya – Sutardji atau …….. .

Konsep

Kesenian adalah salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas. Seperti sebuah baskom ia menampung darah yang keluar dari leher seniman yang menggorok dirinya, menggorok orang lain, situasi, problematik, lingkungan, misteri, makna-makna yang berserak, menempel, terapung, bersembunyi di mana-mana.

Ia menolong memaketkan, memberi pigura kadangkala menyamarkan, menggelapkan, menyandi, mengawetkan, membebaskan dari kurun waktu dan ruang, memberikan potensi untuk menembus segala kesulitan, perbedaan, jarak, intelegensia, intelektual, latar belakang, perbedaan ras, bahasa, bangsa dan ideologi.

Sebagai akibatnya makna yang hendak disemprotkan itu mengalami proses, mengembang dan mengempis, masuk ke dalam satu kehidupan yang memungkinkan dia tumbuh, mandiri dan menelorkan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir dan terasakan oleh manusia yang menggarapnya.

Kesenian dengan demikian tidak hanya bentuk-bentuk, bukan hanya satu wadah mati, bukan hanya saluran mati, tetapi adalah tanah untuk menanam, menyimpan, membudidayakan makna-makna untuk diwariskan kepada manusia lain. Ia dapat merupakan ladang, sawah, kebon, tegalan, padang liar, rimba belantara, gurun pasir, bukit, gunung, lembah, ngarai, danau, laut, sumur, bahkan mungkin juga kuburan.

Proses yang terjadi di atas tanah itu selanjutnya sangat menentukan. Lingkungannya, saatnya dan orang-orang yang menyentuhnya, mempergunakannya atau menerimanya merupakan bagian-bagian yang bisa menyebabkan makna semula memiliki kemungkinan yang tak terduga.

Menulis bagi saya adalah menggorok leher. Leher sendiri atau milik siapa saja, tetapi tanpa menyakiti yang bersangkutan, bahkan kalau bisa tanpa diketahui. Ini semacam pencurian, kucing-kucingan, akal-akalan, kadangkala dengan ngumpet-ngumpet, bila perlu menghapus jejak sama sekali.

Sama sekali tidak memiliki pretensi untuk memberikan resep, apalagi melahirkan pahlawan. Hanya menyeret orang untuk melihat begitu banyak alternatif yang ada di sekitar yang bertumpuk, cakar-cakaran dan memecah manusia menjadi individu-individu atau kelompok-kelompok.

Saya memilih anekdot. Hal-hal lucu, remeh, aneh kadangkala tak masuk akal, untuk mengagetkan, mencubit, menarik perhatian, mengganggu, menteror orang supaya terhenti sebentar, lalu berpikir dan mungkin ingat kembali bahwa dia juga manusia seperti orang lain. Dia bukan alat, sistem, aliran, jalan pikiran, tentara, polisi, pedagang, dan sebagainya, tapi jiwa dan raga.

Bahwa terlepas dari kelompok, tingkat kecerdasan, tingkat sosial dan kepentingan, ia juga manusia seperti orang lain yang secara eementer sama. Rata-rata punya rasa suka-duka, cinta, bahagia dan seterusnya.

Pada akhirnya apa yang saya tulis itu, baik merupakan cerpen, novel, esei, resensi, drama, skenario dan sebagainya tidaklah lebih penting dari apa yang kemudian terjadi dalam diri orang. Dengan kecenderungan dan pelbagai latar belakang, setiap orang akan memiliki tanggapan lain, kesan yang lain, reaksi yang lain lalu kesimpulannya sendiri.

Sebagian besar mereka mungkin sekali akan mengatakan bahwa apa yang saya tulis adalah gombal. Menulis tiba-tiba menjadi usaha untuk mengingatkan kepada orang lain yang akan menjadi pembaca, bahwa dia manusia. Mengembalikan ia kembali pada harkat manusianya kalau ia sudah menjadi barang, binatang, dewa atau mayat.

Semacam usaha untuk menyulut, menghidupkan, tapi bukan untuk mengabdi kepada sesuatu apalagi menjadi budak dari suatu tirani pikiran, baik bernama ideologi, kepercayaan bahkan juga agama.

Sebuah karangan dengan demikian menjadi alat saja yang tak pernah lebih penting dari manusia pembaca yang akan dihubungi. Tetapi sebagai alat yang sempurna ia harus memenuhi persyaratan yang bisa menembus ruang dan waktu sehingga dapat dipakai oleh manusia segala zaman, manusia segala tingkatan, manusia dari segala paham, dari segala jenis manusia, yang luhur maupun yang bejat. Dan ia juga mestinya tidak hanya mengandung satu kemungkinan. Ia harus penuh, sesak bagai rimba, bagai Arjuna Sasrabahu dengan seribu muka yang bisa menerjang ke segala arah dengan serentak.

Sebuah tulisan seringkali juga bagaikan bom.

Semua tulisan saya tidak gamblang menunjukkan apa yang sebenarnya sasarannya. Judul, gaya, jalan cerita, lingkungan yang menjadi setting cerita, bahkan juga persoalan yang kelihatannya menjadi benang merah pembahasan, tokoh-tokoh dan sebagainya hanya dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk menangkap apa sebenarnya yang ada. Apalagi saya sendiri sering juga tidak tahu dengan pasti sasarannya itu, karena memang tidak bermaksud untuk mengikat diri pada satu sasaran.

Selama ini pembaca karya sastra sudah sedemikian hormatnya pada para pengarang, sehingga setiap karya dirasa perlu untuk diselidiki apa manfaatnya. Seakan-akan karya memang sudah langsung mengandung arti besar, berguna dan tidak mungkin tidak ada artinya.

Dengan cara begini setiap pengarang sudah dinobatkan menjadi pemikir, cendekiawan, intelektual yang mungkin satu atau beberapa strip di atas derajat orang banyak yang sudah disebut orang awam. Seakan-akan setiap karangan menyimpan suatu misteri yang harus ditelusuri seperti orang mengorek-orek tanah untuk menemukan peninggalan kuno – yang pasti bernilai.

Sekarang sudah masanya untuk berhenti memanjakan para pengarang. Buku dan karya sastra semakin banyak. Yang tak bermutu juga kadangkala sedemikian banyaknya menyemprotkan kebodohan, ketidakarifan atau kesalahan-kesalahan yang lebih tolol dari apa yang bisa dihasilkan oleh yang menyebut dirinya awam.

Usaha menggali dengan rasa khidmat, luhur dan percaya akan menemukan paling sedikit sebutir mutiara, harus diubah, dihentikan. Mungkin sekali sebuah karya sastra tak lebih dari tumpukan kata-kata usang yang merupakan tumpukan pikiran-pikiran rombengan di dalam gudang. Dan ini juga tidak harus disesalkan, karena adalah haknya untuk menjadi apa adanya, kalau memang kualitasnya hanya setingkat itu. Harapan yang terlalu banyaklah yang salah.

Lamunan harus dimatikan. Karya sastra harus dikembalikan sebagai barang biasa yang “mati”. Setumpukan kata-kata yang mungkin sekali telah disusun dengan disiplin keindahan seorang penyair atau penulis fiksi. Mungkin ada beberapa yang memang tiba-tiba memberikan pengalaman, penyegaran, pencarian dan sebagainya yang meningkatkan budi pembaca.

Mungkin ada yang benar-benar merupakan bunyi yang hidup dan memiliki relevansi yang hebat dengan kehidupan kita dan masa kita. Tapi itu pun tetap masih membutuhkan manusia sebagai embacanya, untuk kemudian “mempergunakannya”.

Para pembaca harus kembali kepada kehadirannya sebagai manusia yang lengkap dengan pikiran, perasaan dan kepribadiannya. Dengan cara begini maka bukan karya sastra yang dihidup-hidupkan, tetapi manusia/pembacanya. Mereka yang akan menyentuh karya-karya itu, menerimanya secara gelontongan, menyaringnya, menggemakannya, melanjutkannya dengan pikiran-pikiran lanjutan.

Menyambungnya dengan imajinasi dan asosiasi. Mereka punya peluang untuk menghidupkannya sebebas mungkin, bila perlu tak mempedulikan apa yang sudah diprogandakan atau dikecapkan sebelumnya oleh pengarangnya.

Cara memperlakukan karya sastra seperti ini akan menyebabkan karya itu jadi lahir kembali menjadi karya-karya baru pada setiap orang. Manfaatnya pun segera muncul. Latar belakang dan kecenderungan pembacanya ikut menjadi bagian dari karya itu dan menghasilkan sesuatu yang setidak-tidaknya berguna bagi orang itu. Dengan begini sebuah sajak, atau sebuah cerita pendek dan sebagainya bisa saja menjadi motivasi sebuah tindakan konkrit yang satu sama lain bisa berbeda hasilnya.

Sebuah sajak atau cerita cinta misalnya, bisa saja kemudian dianggap sebagai usaha untuk mengingatkan orang untuk menghargai manusia lain. Dan usaha untuk menghargai orang lain, bisa saja menelorkan tindakan kekerasan untuk menghancurkan segala penghalang yang telah menjebak orang untuk tidak mencintai sesamanya.

Dengan cara berfikir seperti ini, pertanyaan tentang apakah sastra mampu mengubah atau mempengaruhi masyarakat, apakah sastra memiliki peranan untuk perubahan-perubahan sosial – menjadi tidak penting. Pertanyaan itu tidak bisa ditanyakan kepada karya itu sendiri. Karena ia adalah barang “mati”. Jawabannya ada pada manusia pembacanya.

Pertanyaan yang mestinya diucapkan adalah apakah satu masyarakat tertentu, apakah pembaca, sudah dapat memanfaatkan karya sastra ? Pertanyaan yang senada dengan, apakah orang yang sudah bisa memanfaatkan pacul atau tanah ?

Pembaca yang kreatif akan bisa melihat tambang emas di dalam karya sastra jenis sampah. Apalagi kalau ia berjumpa dengan karya-karya kelas satu, hasilnya mungkin lebih hebat lagi. Saya mengatakan kelas satu dan sampah.

Bagaimana saya bisa sampai pada penggolongan kelas, kalau sebelumnya saya menganjurkan untuk menilai semua karya sastra itu sebagai barang mati pasif yang potensinya relatif sama – yakni tergantung dari pada pembacanya ? Dan apa artinya kelas satu kemudian kalau pembacanya mendapat kesulitan untuk memanfaatkan karya sastra itu padahal ia bukannya tidak ingin membuatnya bermanfaat ?

Ini barangkali menyebabkan kita akan sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa kendati pun semua karya sastra itu sama dalam arti membutuhkan partisipasi pemanfaatan dari pembacanya, memang pada akhirnya ada yang kelas satu dan kelas lainnya.

Kelas tersebut dengan gampang akan terbentuk setelah melalui perjalanan yang panjang, melihat banyaknya ia berhasil menarik orang untuk memanfaatkannya maupun karena arah pemanfaatannya sedemikian rupa sehingga menyangkut kepentingan orang banyak atau nilai-nilai universal yang sedang dibutuhkan pada masa hidup manusia.

Usaha memanfaatkan karya sastra apabila dapat menggantikan usaha lama, yakni memuja karya sastra di atas menara gading, alam pertumbuhannya mungkin akan sampai pada saat yang berbahaya. Yakni manakala pemanfaatan itu sudah sedemikian gencar dan luasnya sehingga di luar batas-batas kemampuan karya itu sendiri.

Di sini sebenarnya manusia pembaca sudah menulis karya sastra yang lain. Di sini karya sastra itu dengan sendirinya telah mati tapi serentak waktu itu bertelor dan menetaskan sesuatu. Secara historis ia memiliki kaitan, meskipun secara intrinsik mungkin ia sudah terlepas sama sekali. Tapi ini justru segera membuktikan, bahwa karya sastra merupakan salah satu bagian dari mata rantai yang telah menciptakan sesuatu. Tentang bermanfaat atau tidak itu boleh diperdebatkan.

Karya sastra yang segede apa pun akan tetap menjadi karya sastra “yang benar-benar mati” apabila pembacanya melempem. Sebaliknya, dengan pembaca yang “bermodal”, satu kata dalam sebuah karya bisa berarti sangat banyak.

Menghadapi mesin ketik dan kertas putih, kadangkala seperti peristiwa melahirkan bayi, meregang nyawa, menahan sembilu yang menghujam tubuh. Kadangkala seperti muntah, berak, kentut, menguap, meludah. Kadangkala juga seperti mesem, tersenyum, tertawa ngakak dan orgasme.

Bahkan tak jarang seperti kuli kontrakan, budak, tukang, dan seorang pelacur. Itu semuanya tidak penting. Barangkali memang ada pengaruhnya, tetapi itu lebih merupakan bumbu, warna yang akan menghias cerita rekonstruksi dari seorang kritikus.

Memilih tokoh, lokasi, jalan cerita, tema adalah seperti menyabet barang dalam keadaan yang terdesak untuk bertahan, melindungi, menyerang, pendeknya bertindak. Apa saja. Asal ia kebetulan ada di sekitar kita. Asal dia dapat dipegang. Asal dia tidak menambah beban. Karena yang penting bukan apa yang kita pergunakan, tetapi bagaimana kita mempergunakannya.

Ketepatan mempergunakannya akan menyebabkan segala apa saja yang terpegang menjadi prima. Kejituan akan menyebabkan segala yang klise yang gombal yang sepele menjadi besar dan ampuh. Ini adalah mikroskop rahasia yang ada di mana-mana, setiap saat pada apa saja.

Mikroskop inilah yang ingin saya cangkok, jadi milik sehari-hari dan bukannya asesoris elit. Bukan semacam dasi, jas, kondom,gincu, senjata, obat dan sebagainya yang hanya disentuh untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Ia harus jadi ketrampilan umum bukan usaha bukan juga kecerdasan, ia harus jadi naluri.

Hidup 24 jam pakai kacamata, pakai mikroskop, pakai asesoris pasti tidak akan bebas, karena terlalu banyak yang teringat, terlihat, terpikirkan, sama dengan siksaan. Seperti membiarkan diri terpanggang jadi sate dalam hidup panjang ini, sementara kenikmatan yang lebih gampang dengan mudah dapat diraih, tersedia di mana-mana.

Pada akhirnya tidak ada yang akan tertarik, setelah beberapa kali mencoba mungkin hanya orang-orang gila, orang-orang putus asa, orang-orang yang tak mempunyai kesempatan yang mau bertahan terus.

Dan kesenian, hasil-hasil sastra dalam hal ini termasuk teater, akan terpencil dengan sendirinya, melenting ke atas dinding. Bergantung jadi hiasan, etalase, barang antik, elit dan praktis mubazir. Dan dalam prakteknya meneruskan menghasilkan barang-barang seperti itu, apa pun pertanggungan jawabnya adalah menelorkan lebih banyak bintang di langit, dewa di awang-awang dan mimpi-mimpi yang membusuk.

Bertolak dari kenyataan tersebut, saya belajar dari para pedagang, tengkulak, tukang tadah, tukang copet, pembual, politikus, pencuri, perampok, teroris, diktator, orator, tirani dan badut. Menulis akhirnya tak beda dengan tindakan kriminal terhadap pribadi-pribadi pembaca. Membadut, menipu, goblog-goblogan, mabok, edan dan menteror orang lain adalah gaya, untuk menjual dagangan.

Saya percaya ada zat terkatung di udara, menempel di mana-mana, pada siapa saja, pada apa saja dan kapan saja, yang sama. Dan ada semacam keluhuran yang mengatur semuanya itu. Keluhuran yang kadangkala tak teraba, tak tergapai tapi terus menerus ada.

Keluhuran yang mestinya juga bisa ditempel atau menempeli manusia sehingga ada satu arus yang mendesak kita untuk berkumpul dan menjadi satu monumen yang besar. Dan saya mengkhayal tentang satu keluarga besar, satu kerajaan besar, satu perdamaian besar, satu dongeng besar tentang cinta kasih yang luruh, satu harmoni besar yang menyebabkan semua makhluk berkomunikasi satu sama lain, seperti cerita-cerita wayang, Tantri atau Nabi Sulaiman. Tentang perdamaian yang abadi.

Kenyataan sehari-hari selalu menghajar kerinduan itu sebagai mimpi, sehingga setiap kali dengan mudah saja kita bisa terkecoh untuk menganggap hidup ini sia-sia. Bahwa seakan-akan apa pun yang dikerjakan semuanya tak akan ada artinya, kecuali sebagai sebuah sejarah panjang gagalan manusia.

Untuk mencegah hal tersebut atau katakanlah untuk melupakannya, saya memilih untuk bekerja secara maksimal berdasarkan apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, kelemahan yang disulap menjadi kekuatan – apa adanya dari saya.

Bekerja secara total dan kerangsukan. Sehingga peristiwa “bekerja” jadi heroik, berkobar-kobar hampir menyerupai pertempuran, revolusi atau perang saudara di dalam diri. Peristiwa yang gegap-gempita dan berdarah, tetapi diam-diam dan tanpa etalase bagi orang lain. Sebuah petualangan yang sunyi.

Itulah semua kecap saya.