Sepi

Ketika ayahnya meninggal, Merdeka mendapat inspirasi.

“Papa adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri,” kata Merdeka menimbang-nimbang.

Setelah tiga jam berpikir terus menerus, akhirnya ia memutuskan untuk memotong kedua tangan bapaknya dan kemudian memasangnya di tubuhnya sendiri. Ia juga hampir saja hendak memotong kedua kaki papanya, tetapi dokter yang memasang memprotes, sebab ia melihat ada penyakit di kaki orang tua itu. “Tangannya saja cukup, kau cukup mewarisi ringan tangannya, tidak perlu darah petualangan di kakinya, jangan nanti kamu keluyuran ke sana-ke mari seperti gombal,” kata dokter.

Merdeka sebenarnya merasa menyesal sekali, tapi terpaksa manut. Walaupun begitu ia masih punya usul kecil.

“Bagaimana kalau anunya saja, kelihatannya masih bagus,” kata Merdeka malu-malu kucing sambil menunjuk alat kelamin bapaknya.

Dokter merenung sejenak, kemudian mengambil mikroskop, lalu memeriksa dengan teliti. Akhirnya dengan sebuah alat ia mencoba ngetes alat vital itu. Ternyata kalau ada enerji, ia masih berfungsi dengan baik. Apalagi ukurannya termasuk gagah.

Merdeka hampir saja tertawa ngakak dan bangga, tetapi dokter kemudian menggelengkan kepala.

“Tidak mungkin,” katanya dengan tegas, “secara ethis ini akan menimbulkan skandal, secara praktis pasti akan mengakibatkan krisis moral dan dari segi hukum bisa diancam sebagai mengkampanyekan Oedipus Kompleks, karena termasuk barang import yang tidak sesuai dengan politik kepribadian kita. Dus resikonya sangat berat.”

“Lho tidak apa, itu malah bagus, ini kan eksperimen, makin banyak tantangannya, akan makin tinggi nilainya sebagai pencarian. Ini adalah sebuah revolusi yang tak berdarah dan murah. Sebuah kebangkitan nasional tanpa pembunuhan, kecuali memanfaatkan orang yang sudah dibunuh oleh Tuhan.”

Dokter tetap menggeleng.

“Tidak, aku tidak berambisi bikin revolusi, tidak mau ikut menanggung resikonya. Meskipun aku edan, aku belum gendeng. Jadi aku tidak bisa selalu mengatakan bisa-bisa, meskipun memang bisa, karena masih ada faktor-faktor X yang selalu aku perhitungkan di dalam pengembaraanku mencari kebahagiaan di dunia fana ini,” katanya.

“Sudah, sudah, dokter kok jadi sentimentil sekarang. Sudah kerjakan saja, biar nanti saya yang menanggung akibatnya,” kata Merdeka dengan kesal. “Dokter tinggal menyumbangkan ke trampilan, tanggungjawabnya urusan saya, anda harus bisa berpikir sederhana. Cobalah sedikit revolusioner dokter.”

“Saya revolusioner, jiwa saya cukup revolusioner.”

“Tetapi dalam hati tok. Itu tidak cukup. Ayo pasang saja alat vital itu, kan mubazir kalau dibusukkan di tanah. Coba apa lagi yang bisa kita manfaakan. Matanya? Jantungnya? Buah pinggangnya? Atau giginya?”

Dokter menggeleng.

“Masalahnya begini, organ-organ tubuh ini memang kelihatannya baik, tetapi dia sudah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu, pola berpikir almarhum. Ideologinya, filsafat hidupnya, gayanya, aksinya dan kebiasaan-kebiasaannya sudah terbina. Sulit untuk mengubahnya lagi.

Saya bisa mencangkokkan ini di tubuh saudara, saudara Merdeka, tetapi saya tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia tunduk di bawah perintah saudara. Bayangkan kalau terjadi sebaliknya, kalau seandainya kemudian anda sendiri yang diperintahnya. Bayangkan, buat apa anda bernama Merdeka kalau pada akhirnya tidak merdeka? Ini baru satu resiko saja, yang lain ….?”

Merdeka tertawa.

“Kalau saya bodoh, memang bisa saja alat vital papa memerintah saya, tetapi saya kan tidak sebodoh itu. Percuma dong kita lahir belakangan kalau tidak lebih pinter dari papa-papa kita. Ini dialektika kehidupan seorang Merdeka. Jadi dokter, kecemasan anda manusiawi tetapi sebenarnya tidak rasional. Dus pasang sajalah!”

“Apanya yang dipasang?”

“Alat vital itu.”

Dokter bingung.

“Jadi anda ingin punya dua?”

“Bukan hanya dua. Kalau bisa sepuluh juga saya mau. Dan dengar, saya tidak mau dipasang di tempat yang sama. Itu namanya tidak kreatif. Saya ingin anda berimprovisasi sedikit. Pasang saja di sini!”

Merdeka dengan tidak ragu-ragu kemudian menunjuk ke tengah-tengah dahinya. “Di sini, tepat, seakan-akan ia menjadi pipa penyalur langsung dari apa yang dikerjakan oleh otak, jadi bukan penyalur apa yang dihasilkan oleh perut!”

Dokter bengong dan menggelengkan kembali kepalanya. Merdeka langsung marah.

“Apa sih ini, apa sih? Dokter kok lamban sekali, dari tadi cuma bengong dan menggeleng-menggeleng. Langsung saja pasang sebelum dia busuk. Ayo. Saya tidak perlu membentak bukan?”

Dokter menggeleng lagi, lalu mendekatkan mulutnya berbisik. “Begini Merdeka, soalnya bukan apa-apa. Eksperimen begini juga sudah pernah dicoba, cuma kemudian tidak diteruskan karena hasilnya kurang memuaskan.

Maksud saya setelah dipasang, karena organ ini biasa terletak di bagian bawah, dekat dengan tanah, ia menolak untuk diletakkan di atas. Lalu ia berontak sedemikian rupa, sehingga kita terpaksa berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”

“Bagaimana dokter tahu itu?”

“Ya karena, karena eksperimen itu pernah saya coba sendiri,” kata dokter dengan tersipu-sipu.

“Hebat-hebat!” teriak Merdeka, “Sayang dokter tidak punya darah revolusioner yang sejati. Justru itu yang saya inginkan. Jalan dengan kepala terbalik dengan mengingkari hukum gravitasi bumi, jailah, apa itu tidak sedep. Ayo dokter, jangan buang waktu, tancep saja sekarang!”

Walhasil, setelah digertak, akhirnya dokter mau juga memasang alat vital itu di kening Merdeka. Dan sebagaimana yang dikatakannya, begitu selesai pemasangan, Merdeka langsung tidak bisa lagi tegak di atas kakinya sendiri, karena kepalanya jadi terlalu berat. Terpaksa kemudian ia berjalan dengan kedua tangannya.

“Bagaimana rasanya,” tanya dokter dengan cemas.

Merdeka tertawa cekakakan.

“Hebat-hebat dokter. Bukan hanya dunia jadi terbalik, tapi segala nilai-nilai juga terbalik. Yang buruk jadi indah. Yang keras jadi lembut. Yang tidak cinta jadi cinta. Yang tidak adil jadi adil dan yang salah jadi betul. Fantastis. Saya puas dengan akrobatik ini!” teriak Merdeka.

Dokter heran tapi terpaksa ikut bergembira melihat langganannya puas.

Hanya saja sebulan kemudian Merdeka muncul lagi dengan

tergesa-gesa. Dari luar kamar praktek ia sudah berteriak seperti orang histeris.

“Dokteerrrrrrrrr!”

Dokter meloncat dan memeluk Merdeka.

“Ada apa?”

“Aku kesepiannnnnnnn! Kenapa tidak kamu bilang aku bisa kesepian berjalan terbalik sendirian. Kenapa tidak kamu bilang dulu!”

Dokter menggeleng.

“Maaf aku lupa Ka, aku lupa Merdeka.”

“Copot lagi-copot lagi, aku tidak mau kesepiannnnn! Hayo!”

Dokter menggeleng.

“Kenapa?”

“Aku bisa memasangnya, tapi aku tidak bisa mencopotnya.”

“Bohong! Kamu bisa. Kamu hanya tidak mau!”

Dokter terus menggeleng.

“Kenapa kamu tidak mau?”

Tiba-tiba dokter itu menangis. Matanya yang tua masih bisa mengeluarkan air mata. Tubuhnya gemetar.

“Sudahlah, sudahlah Merdeka, tetap saja begitu. Tetap saja begini berjalan dengan kepala di bawah, biar kesepian, tahan saja, itu baik, itu akan lebih mudah, maksudku itu akan lebih bermanfaat.

Aku sudah tua, aku sudah capek ngomong sama orang, mereka tidak akan percaya, lebih gampang buatku kalau ngomong pakai contoh. Sudahlah, biar saja, bijaksanalah, kuatkan imanmu, jadi pahlawan, jadilah contoh, supaya yang lain-lain tidak perlu mengulangi keedananmu!”

Dokter tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia jatuh pingsan. Merdeka tinggal sendirian di antara alat-alat yang ajaib dalam dekapan bau obat-obatan yang telah mencapai taraf kemajuan yang begitu tinggi.

Hatinya bertambah kosong, makin sepi, makin sepi saja tanpa titik henti.

One response to “Sepi

  1. Ping-balik: Peranan Sastra « Putu Wijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s