Wawancara Veronita dari IKJ

VERO: Mas Putu sejak kapan mengenal teater?


PW:Di Tabanan, Bali, kota kelahiran saya ada 2 gedung bioskop. Nusantara dan Bali Teater. Nusantara kadang-kadang diubah jadi gedung pertunjukan amal untuk mencari dana. Yang dipertunjukan adalah sandiwara yang berlatar perjuangan revolusi. Latihannya kadang di dekat rumah saya, sehingga waktu kecil saya sudah mulai melihat orang berlatih bersandiwara. Saya senang sekali. Tetapi setiap kali TK saya mengadakan pertunjukan, saya tidak pernah terpilih ikut main.Di gedung NUSANTARA (sekarang jadi took swalayan) itu juga pernah main rombongan sandiwara dari Persari Jakarta, dengan artis-artis seperti raden Mochtar (terkenal
dalam film Bengawan Solo).


VERO: Mas Putu belajar dari mana mengenai teater?

PW:Di SMP saya semakin senang mihat pertunjukan teater, tetapi dalam perpisahan sekolah tidak pernah ditunjuk/terpilih ikut. Baru di SMS Singaraja, Kesempatan pertama datang ketika Gde Dharna, sastrawan terkenal di SIngaraja diminta sekolah menyutradarai dramanya untuk perpisahan sekolah. Tapi kemudian gagal karma saya sakit dan irawat di Rumah Sakit terserang malaria.Kesempatan kedua waktu kelas duua SMS ketika Kirjomulyo yang diminta oleh Kepala Sekolah Ibu Gedong Bagoes Oka) untuk menyutradarai pertunjukan perpisahan sekolah, memilih saya untuk main. Saya dipilih, karena waktu itu saya Juara Deklamasi seluruh Singaraja (kemudian juga Bali). Itu pertama kali saya main. Dramanya Badak- terjemahan Nasyah Djamin dari Rhe Boor karya Anton Chekov (Rendra menerjemahkannya dengan Orang Kasar)

VERO: Apa yang melatar belakangi mas Putu untuk mengeluti dunia teater?

PW: Sejak kecil saya sudah suka nonton wayang. Saya sering menyuruh orang membuat wayang dari karton dan kemudian meminta memainkannya. Saya yang mengarang ceritan ya. Pernah saya mengajhak teman-teman memainkan adegan di dalam komik. Baru di SMA saya benar-benar menggeluti Teater. Setelah disutradarai oleh Kirjomulyo, kemudian saya mementaskan sendiri Wanita Itu Bernama Barabah karya Motinggo Boesye, main dan sekaligus menyutradarai.

VERO: Mas Putu dulu pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, dan pernah ikut bermain dengan Teater ‘Mini Kata”-nya Rendra, apakah hal itu memberikan suatu inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang sama atau tidak?

PW:Di Bengkel Teater, waktu pertunjukan pertama Mini Kata, yang terdiri dari nomor-nomor, saya memnyumbangkan tiga nomor yang saya buat dan mainkan sendiri. Judulnya: SSSSSSSTTTTTT, Pedang Topi Dan Tertawa, dan satu lagi saya lupa. Yang lebih punya pengaruh pada saya ketika di Bengkel Teater ( ikut menditikan Bengkel pada 1967 bersama: Chairil Umam, Moortri Putnomo, Aswar, Bakdi Soemanto dll) casra Rendra memberikan suduyt pandang/reinterptretasin terhadap sesuatu. Main sebagai POZZO dalam Waiting for Godot ( 1969) sangat mengesankan saya. Saya begitu suka pada Beckett. Saya merasa cocok dengan Beckett.

VERO: Alasan apa yang melatar belakangi mas Putu mendirikan Teater Mandiri?

PW: Pada 1967, saya diajak Rendra ke Jakarta. Pertama kali lihat Jakarta, saya langusng jatuh cinta. Pada 1969, setelah tamat Fakultas Hukumj, saya langusng pindah ke Jakarta Di Yogya selain ikut Bengkel teater, saya juga punya kelompok teater sendiri yang sedianya dinamakan Teater Mandiri, tetapi tidak kesampaian.Setelah pindah ke Jakarta saya bergabung dengan teater Kecil, lalu sekali pernah ikut pmentasan teater Populer (Djajaprana). Keinginan untuk membuat pementasan sendiri sudah menggebu-gebu. Saya hanya membuat worshop bersama Tizsar Putbaya di gereja Santa (Kebayotan).Pada suatu kali Tizar Purbaya datang menawarkan kesempatan membuat pertunjukan di televise (masih hitam-putih). Dengan gembira saya sambut. Tapi perlu sebuah nama. Lalu saya cari nama apa sebaiknya. Mula-mula terpikir Teater Kita. Kemudian saya memilih Teater Mandii.


VERO: Kenapa memilih nama teater ‘Mandiri’?

PW: Kata Mandii saya kenal ketika kmuliah sosiologi pada Prof. Djojodigoeno. Beliau dosen hukum adat dan sosiologi yang banyak menyalin istilah asing (Belanda) dengan bahasa Jawa. Antara lain kata mandiri (dari bahasa Jawa) adalah pada kata untuk independent. Mampu berdiri sendiri tetapi juga bisa bekerjasama.Saya sanbgat jatuh cinta pada makna kata itu. Akhirnya saya jadikan nama, karena saya kira itulah yang saat itu kurang pada bangasa Indonesia. Tak kurang dari Arifin C Noer sendiri geli mendengar kata itu, sebab kedengarannya masih aneh. Sekatang kata mandiri sudah milik umum.

VERO: Sejak kapan teater Mandiri berdiri, dan dimana tempatnya?

PW: Saya bekerja di majalah TEMPO sejak berdirinya (saya ikut sebagai pendidi) pada 1971. Kantor kami di Senen Raya 83, sekarang Atrium. Saya juga tidur di kantor di atas meja atau kursi hampir 2 tahun pertama. Setelah jam kantor tutup, di gedung berlantai dua itu saya mengadakan latihan-latihan gerak di lantai bawah.Mula-mula yang ikut hanya para pegawai yang tidur di kantor seperti: Ali Said, Sutarno SK (sutradara Teater Kail), Mustafa, Zubaidi. kemudian bergabung Muthalin dan Soegeng (keduanya Dari TIM). Lalu Etu Asa. Di situlah saya menyiapkan pertunjukan pertama untuk TV, judulnya ORANG-ORANG MANDIRI. Tahun itu saya anggap sebagai lahirnya Mandiri.

VERO: Siapa saja yang pertama kali bergabung dengan Teater Mandiri?

PWI: Generasi pertama Mandiri, nama-nama yang saya sebut tadi.

VERO: Teater Mandiri pertama kali mementaskan lakon apa?

PW: di TV: Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Aduh, Kasak-Kusuk ( dua yang terakhir ini tidak disiarkan karena dianggap SARA). Pementasan pertama di TIM: Aduh (judulnya sama tapi lain dengan Aduh untuk TV)

VERO: Mas Putu dulu pernah menulis naskah yang konvensional seperti Bila Malam bertambah Malam, alasan apa yang melatar belakangi mas Putu untuk berubah memainkan drama yang in-konvensional?

PW:Bila Malam Bertambah Malam saya tulis pada 1964/65, saat saya berusia 20 tahun saya dedikasi8kan untuk pacar saya Nelly yang berbeda kasta dnegna saya dan khawatir kasta itu akan menjadi halangan hubungan kami. Sesudah itu saya menulis Lautan Bernyanyi, Dalam Cahaya Bulan, Orang-Orang Malam, Tak Sampai Tiga Bulan, Matahari Yang Terakhir – semuanya puitis.Pada 1969, hidup saya mulai pahit karena ditinggal olejh Nelly dan kemudian Pier begitu saja. Saya mulai menulis naskah Dap-Dap yang kemudian disemputnakan menjadi ADUH. Setelah itu saya selalu menulis judul dengan satu huruf.

VERO: Sejak kapan mas Putu melakukan pementasan dengan tidak menggunakan naskah?

PW: Sejak 1991, karena harus membuat pertunjukan keliling Amerika, mewakili Indonesia pada KIAS (lihat wawancara dengan LIES di ATT)

VERO: Dalam teater mas Putu, apakah mengikuti suatu bentuk aliran tertentu atau tidak?

PW: Saya memanfaatkan semuanya. Realisme (Stanbilavsky, Bolelavsky), surealis (sperti lukiosan-lukisan Chagall), absurditas (Beckett) dan segala yang berguna saya pakai, tetapi tidak menganutnya sebagai aliran.

VERO: Menurut mas Putu, apa itu teater eksperimental?

PW: Saya menulis esei tentang teater eksperimental.


VERO: Mas Putu, sejak kapan mencoba melakukan eksperimentasi dalam teater mas Putu?

PW: Seluruh proses saya adalah sebuah eksprimen – sebuah usaha mencari yang tak pernah selesai – karena itu pertun jukan kami setiap malam berbeda, berkembang, tumbuh danb berubah – tetapi saya memberikan label eksperimen sebab itu akan menjadi artificial/dibuat-buat.

VERO: Apa yang melatar belakangi eksperimen itu, dan kenapa mas Putu tertarik melakukan berbagai eksperimen dalam pementasan teater mas Putu?

PW: Esperimen pada hakekatnya adalah teror. Teror (saya membatasinya pada Teror Mental) ada;ah upaya untuk mengganggu/mengusik/mengajak orang mempertimbangkan kembali/sekali lagi keputusannya.Dalamm keadaan bimbnag orang akan berpikir sekali lagi, karena itu kebimbangan buat saya adalah suci. Teror itu juga bisa dilakukan kepada diri sendiri untuk mendapatkan penyegaran dan keseimbangan batin Distorsi batin kita perlukan untuk lahir berkali-kali dalam menghadapi banyak perubahan/perkembangan, sesuai dengan konsep hidup Desa-kala-patra (tempat -wakti-keadaan)


VERO: Mas Putu mendapatkan ide atau pengaruh dari mana untuk melakukan eksperimentasi itu?

PW: Nggak tahu saya. Tapi sejak kecil saya selalu ingin melakukan sesuatu dengan cara lain. Itu saya amati terjadi juga pada anak saya (Taksu) sekarang.

VERO: Dalam setiap pementasan mas Putu, bentuk teater yang ditampilkan sangat dominan sekali dengan visualisasi seperti penggunaan slide proyektor, layar besar, dan lain-lain. Apakah itu merupakan gaya yang menjadi ciri khas mas Putu dalam membuat pementasan teater?

PW: Lebih baik jangan memakai kata “gaya”, sebab itu akan berarti pengulangan. Saya menamakannya sebagai “idiom”, ungkapan. Hal-hal yang visual, seperti layar itu adalah idiom saya dalam berekspressi.Saya suka senirupa dan dulu sebenarnya ingin men jadi pelukis.Saya mengagumi Van Gogh, Afandi dan senirupa impresionis Prancis, kemudian saya suka surelisme Chagall. Dengan pertunjukan dan sastra saya juga ingin menggambar suasana. Drama-drama saya yang pakai dialog juga adalah suasana-suasana, periostiwa-peristiwa.


VERO: Mas Putu, kenapa menyebutkan teater mas Putu sebagai Teater Seni Rupa, apa alasannya?

PW: Saya menghentikan ambisi saya untuk menjadi pelukis ketika saya tak mampu menegrjakan tugas saya untuk bisa naik kelas ketika di ASRI. Tetapi kemudian saya tak mampu menahan dorongan “setan rupa” itu, sehingga saya terpaksa membocorkannya pada sastra dan teater. Pada tahun 1975 ketiak mementaskan LHO, ENTAH, NOL dan pada 1991 memainkan YEL, saya benar-benar melukis dengan pertunjukan.

VERO: Siapa saja orang-orang yang memberikan pengaruh atau inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang seperti itu?

PW: Pertunjukan Mini Kata. Bengkel Teater ( 1967) kemudian pertunjukan Sardono, Dongeng Dari Dirah (1974) membuat saya gelisah dan kemudian memberikan saya inspkirasi untuk percaya kepada kekuatan bentuk – bukan hanya kata-kata.

VERO: Apakah gaya yang mas Putu geluti sudah paten ataukah masih dalam pencarian (proses)?

PW: Bagi saya hidup adalah sebuah proses yang tak ada hentinya. Saya malah berpikir bahwa saya hanya membuat sebuah pertunjukan, sebuah novel, sebuah cerpen dan sebuah esei yang tak pernah selesai

VERO:Dalam setiap pertunjukan teater Mandiri, mas Putu selalu menggunakan properti yang besar-besar seperti penggunaan boneka, layar, kardus, dan lain-lain.

PW: Saya suka kepada kartun. Sesuatu yang dilebih-lebihkan. Saya tidak ingin mengajak penonton percaya bahwa apa yang terjadi di pentas itu benar-benar kejadian, Saya menjauhi empati seperti itu. Semua yang terjadi dipentas adalah palsu.Tetapi bagaimahna kelapsuan itu kemudian berubah menjadi semacam alcohol (wine) yang membuat orang fly dan memikirkan yang lain, itulah yang istimewa. Jadi pertunjukan semacam minuman anggur (di Bali berem) bukan anggutnya yang penting, tetapi sensasi yang diakinatkan oleh anggur itu.

Bukan pertunjukannya yang penting (saya serintg sehabis membaca cerpen lalu menginjak-nginjak buku saya yang saya baca) tetapi apa yang terjadi dalam batin orang itu. Bagi9 saya itu empati, itu empati yang saya tawarkan.


VERO: Apakah hal itu ada hubungannya dengan karakterisasi teater Mandiri?

PW: Ya. Di Mandiri, semua orang mengekspresikan dirinya, hanya saya yang berpikir (teater4b sutradara)

VERO: Mas Putu pemimpin sekaligus sutradara dalam Teater Mandiri, menurut mas Putu apa pentingnya peranan seorang sutradara dalam pertunjukan teater?

PW: Sutradara itu seperti Panglima Perang, Jendral lapangan, dia yang menentaukan apa yang harus terjadi. Saya selalu mengajak para pemain untuk melihat setiap pementasn adalah sebuah medan pertempuran.

VERO : Ada suatu istilah ‘Teater Sutradara’, bagaimana tanggapan mas Putu mangenai hal itu?

PW: Teater Mandiri adalah teater sutradara. Hanya Kribo dan Wendy di mandiri yang aktor, lainnya orang biasa. Mr Chung dari Taiwan yang ikut main dalam ZERO mengatakan Teater Mandiri adalah “People Theatre”.

VERO: Seberapa pentingnya penggunaan lighting, musik, sound efek, kostum, make-up, artistik, properti dalam pertunjukan Teater Mandiri?

PW: Sangat penting. Seperti peranan cat dalam lukisan dan seperti peranan sinar dalam lukisan impresionis.

VERO: Apakah para pemain teater Mandiri berkualitas atau profesional dibidangnya, misalnya apakah para pemain Teater Mandiri harus anak teater, atau tidak?

PW: Anggota Teater Mandiri ada yang aktor ada yang tukang sapu, maling, tukang ojek, bintang film, guru, dosen, pengangguran, pegawai, pengusaha. Siapa saja bisa menjadi anggota Mandiri. Siap-a saja bisa ikut main dalam Mandiri asal “bersedia” dan punya “komitmen”. Saya suka orang yang “total” bekerja sepenuhnya.

VERO: Bagaimana cara mas Putu mengkoordinir teman-teman teater Mandiri untuk membuat suatu pementasan?

PW: Biasanya kami latihan phisik lebih dahulu selama 2 Minggu. Kadang lebih. Dari sana kemudian akan terbuka jalan ke mana kami akan pergi. Kadangkala ada saat berbulan-bulan berlatih tetaopi tidak terjadi sesuatu (NGEH pada 1998 untuk Art Summit) Tapi menjelang bulan keempat, pada suati malam, setelah lelah, nosan dan hampit muak, tiba-tiba terjadi sesuatu dan selanjutnya sangat mudah.

VERO: Bagaimana proses kreatif mas Putu dalam Teater Mandiri (dari pemunculan ide sampai dengan pementasan)?

PW: Bervariasi. Tetapi setiap pementasan selalu dimulai dengan adanya gagasan apa yang mau dibicarakan. Misalnya Perang. Lalu diadakan latihan. Setelah itu ketemu bentuk-bentuk. Sering saya menyusun naskah sambil berlatih.Kalau pun mempergunakan naskah yang sudah dalam latihan, naskah disempurnakan disesuaikan dengan para pendukung – jadi bukan sebaliknya. Itu terjadi karena saya memainkan naskah saya sendiri, jadi tidak ada masalah hak cipyta.


VERO: Dalam setiap penggarapan teater, mas Putu selalu menggunakan istilah “bertolak dari yang ada”, apa maksudnya mas?

PW: Mulai dari apa yang kita miliki. Memanfaatkan, mengoptimalkan apa yang ada pda kita, untuk mencapai apa yang kita inginkan. BERTOLAK DARI YANG ADA sudah diterangkan dalam buku kumpulan konsep teater yang diterbitkan DKJ.

VERO: Mas Putu, dalam tulisannya mas Putu di buku Teater Indonesia, mas Putu menulis tentang Teater Spiritual, apa maksudnya ya mas?

PW: Bagi saya seni (sastra – teater) bukan hiburan, meskipun punya potensi menghur, tetapi adalah pengalaman batin yang dimaksudkan untuk menciptakan pengalaman batin pada pembaca atau pen onton. Karena itu teater bagi saya membidik wilayah-wilayah jiwa.

VERO: Kenapa dalam setiap pertunjukan teater, Mas Putu tidak pernah menggunakan apa yang di sebut dengan konvensi dramaturgi?

PW: Sebenarnya saya memakainya, tapi orang tak melihatnya. Saya tahu kadiahnya, tetapi saya melupakannya. Saya tidak terikat kepadanbya, karena saya sudah mmpergunakannya. Kaidah realisme misalnya, saya paham. Belum lama ini saya memainkan naskah Beckett: Krapp Last Tape (rekamannya juga boleh diminta pada DKJ – Joel), dosen akting kamu juga melihat saya main waktu di GKH (rekaman Joel diobuat di Utan Kayu). Jadi realisme, misalnya, kalau perlu saya pakai, kalau tidak ya saya lupakan. Tetapi mskiopun dilupakan, karena saya tahu, tidak akan pernah hilang.

VERO: Menurut mas Putu, bagaimana posisi seorang aktor dalam pertunjukan teater Mandiri?

PW: Semua pemain dalam Teater Mandirim pada hakekatnya dalah seorangf sutradara. Dia sangat bebas dan bisa berbuat apa saja. Tapi itu hganya bisa terjadi sesudah mengikuti latihan yang panjang.

VERO:Bagaimana cara mas Putu, untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan teater Mandiri supaya tetap solid, hingga dapat bertahan sampai dengan sekarang?

PW: Dengan menolak organisasi. Teater Mandiri bukan organisasi. Kami tidak punya aturan. Keberadaan seriap orang atas dasar kesenangan saja. Kami sebuah keluarga. Pemain saya seperti Irianto Kribo, misalnya, sudah ikut saya sejak 1974 (33 tahun). Sekarang anaknya ikut membantu setiap kali pertunjukan. Ucok Hutagaol ikut sejak 1979. Sekarang anaknya ikut main.

VERO: Apa yang membedakan teater Mandiri dengan jenis teater yang lainnya mas?

PW: Saya kira kamu yang harus menjawabnya. Mengartikan apa itu teater, emngatikan apa itu gtip, mengartikan apa itu akting, emngatikan apa itu proses, mengartikan apa itu enersi dsbnya saya kira itulah secara umum yang membedakan kita dengan yang lain. Dengan perbedaan itu kita lihat kelebihan dan kekurangan kita. Perbedaan itulah yang men yebabkan kita saling membutuhkan agar bisa lengkap.

VERO: Kenapa dalam setiap pementasan, mas Putu selalu mengusung teror?

PW: Tujuan pementasan bagi saya adalah ,menciptakan teror mental. Termasuk teror mental kepada diri sendiri. Pada 2004, saya mengajak 125 peserta lokakarya tedater yang kami selenggarakan sehari penuh di Goethe Institut, naik kem pentas ikut memainkan ZERO.Para pemain saya klhawatir, tetapi saya memerlukan itu sebagai teror. Pertunjukan kemudian berjalan mulus, karena pemain saya yang semula bermain cenderung ceroboh – karena merasa sudah rutin – terpaksa awas.


VERO: Apa yang dimaksud dengan teror mental itu sendiri, dan apa yang melatar belakangi konsep teror mental tersebut?

PW: Fanatisme sering berakhir dengan kekejaman, karena mereka yang fanatik pasti akan melihat orang yang tidak sepaham dengan dia sebagai musuh. Dikotomi musuh dan kawan itu membuat perbedaan menjadi berbahaya. Padahal kita hidup dalam keberagaman yang luar biasa komplesknya di Indonesia ini. Teror mental adalah upaya untuk mengganggu agar fanatisme itu tidak menjadi garang dan keberagaman disyukuri sebagai kekayaan.

VERO: Bagaimana proses penciptaan atau proses kreatif (penggarapan) dari pertunjukan Zero dan Zoom?

PW: Zero alah langkah lanjut pertunjukan WAR. Kami mencoba menawarkan kemungkinan bagaimana untuk mencegah bentutan yang terjadi karena perbedaan cara dalam mengejar perdamaian, tidak menjadi perang y6ang membuat dunuia panas. ZOOM adalah usaha melihat lebih mendetail pada apa yang ada di baloik perang. Itu idenya.

VERO: Apakah kedua pertunjukan tersebut memiliki naskah atau tidak?

PW: Tidak. Hanya konsep.

VERO: Apa ide, gagasan dan tema yang ingin diangkat dari pertunjukan Zero dan Zoom?

PW: Bagaimana menciptakan damai tanpa menyulut perang.

VERO: Mas Putu mendapatkan inspirasi dari mana, sehingga dapat membuat Zero dan Zoom?

PW: Dari peristiwa hangat sehari-hari.

VETRO: Dalam setiap pementasan mas yang bersifat eksperimental, para penonton atau publik kadang-kadang sulit untuk menangkap inti, pesan atau maksud dari pertunjukan yang mas Putu angkat seperti Zero dan Zoom. Apa tanggapan mas Putu mengenai hal itu?

PW: Itu sudah resiko yang saya terima. Menjadi tidak popular, tidak laku, sudah bagian dari nasib kalau menyuguhkan sesuatu yang tidak menghibur. Tapi kalau dihentikan akan lebih rugi lagi. Jadi saya jalan saja.Pernah kejadian setelah menyaksikan pertunjukan AUM pada 1981, ada yang menonton pertunjukan AUm yang kami ulang pada 1995. Saya terkejut ketika dia mengatakan, bahwa dia kini baru mengerti apa yang sudah ditontonnya 14 tahun lalu. Itu membuat saya percaya bahwa investasi kultural tidak akan pernah sia-sia.


VERO: Mas Putu, bagaimana dengan penggarapan blocking (movement), lighting, musik (sound efek), slide proyektor, kostum, make-up, kostum, artistik, dan properti dalam pertunjukan Zero dan Zoom?

PW: Setelah bersama-sama bekerja puluhan tahun, semua berjalan dengan sendirinya. Para pemain saya mengatur dirinya sendiri dan mengatur kebersamaannya. Kami hampit setiap kali melakukan improvisasi.

VERO: Bagaimana dengan proses latihan pertunjukan Zero dan Zoom?

PW: Karena biaya, saya sekarang membatasi produksi disiapkan masimal 2 bulan, bagusnya 1 bulan. Dewngan demikian, uang bisa dihemat untuk honor pemain.

VERO: Menurut mas Putu, pementasan yang mas Putu lakukan dapat dikategorikan sebagai pertunjukan tragedi, komedi, satire, atau apa?

PW: Campuran. Seperti teater tradisi kita, komedi dan tragedi datang sekaligus, silih berganti dan datang bayang-membayangi. Pertunjukan saya adalah TONTONAN. Sebuah DONGENG. Kadang-kadanh “MIMPI BURUK”.

VERO: Mas Putu, bagaimana cara mas Putu dalam menghadirkan konflik, dalam setiap pertunjukan mas Putu, khususnya pertunjukan Zero dan Zoom?

PW: Dengan bentuk, irama, tempo, kecepatan gerak dan lampu yang dimainkan secara manual oleh pemain sendiri..

VERO: Kenapa mas Putu dalam setiap pementasan, khususnya pertunjukan Zero dan Zoom, selalu menghadirkan tema-tema sosial – politik? Apa yang melatar belakangi hal itu ?

PW: Sebenarfnya itu tergantung dari interpretasi yang menonton. Situasi di Indonesia memang penuh kegawatan politik, mungkin itu sebabnya kau merasa itu sebagai bernuansa politis. Ada yang melihat pertunjukan saya sebagai peristiwa reinkarnasi (baca wawancara dengan Lies di ATT)

VERO: Mas, saya sudah menonton pertunjukan Zero. Mas saya mau nanya apakah inti dari pertunjukan Zero. Yang saya lihat peran dari seorang wanita yang menari sangat menonjol, apakah wanita itu merupakan peran utama dalam pementasan Zero?

PW: Zero adalah tawaran/ajakan untuk mengehntikan perang dengan kembali ke zero, masuk ke dalam diri sendiri, nol dan kemudian melangkah bersama-sama. Tokoh perempuan dalam Zero bisa dimaknbakan sebagai subyek yang sedang kita bicarakan, bisa juga sebagai tawaran iytu sendii, atau taka pa kalau mengingatkan kep[ada nasib perempuan di In donesia yang masih terpuruk.

VERO: Setelah saya melihat pertunjukan Zero apakah ada hubungannya dengan kasus para wanita yang menjadi pelacur, dan melahirkan anak haram?

PW: Bisa dibawa ke situ. Tontonjan senirupa ZERO ini multi interpretable.

VERO: Mas Putu, maaf ya sebelumnya kalau pertanyaannya kebanyakan. Mas Putu saya boleh minta foto-foto pementasan mas Putu nggak, sama dokumentasi proses latihannya mas, dan dokumentasi pertunjukan Zoom, karena saya sudah ke DKJ, tapi dewan tidak mempunyai dokumentasi pertunjukan Zoom, yang ada hanya pertunjukan Zero.

PW: Bawalah DVD ke rumah saya, nanti saya copy kan.

VERO: Sebelumnya terima kasih ya mas. Saya tunggu jawabannya…

3 responses to “Wawancara Veronita dari IKJ

  1. bapak tiap kali melihat penampilan bapak saya sangat tercrngang apa ya rahasianya .

  2. Bagaimana kalau publik sudah terbiasa diteror oleh keadaan?

  3. Ketika tercengang itulah jendela pikir terbuka dan masukan baru memberikan pertimbangan. Kalau publik sudah terbiasa, cari celah baru. Trims udah baca. pw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s