Pahlawan

Setelah membaca berita, Amat termenung sehari penuh. Makannya kurang. Suaranya hilang. Ia tidak membalas senyum, walau pun Bu Amat sudah cengar-cengir mengajak berbaikan setelah semalam agak tegang. Bahkan ketika tetangga mengundangnya untuk makan duren, ia menolak.

Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak.

“Bapak kelihatannya keki ya. Kenapa?”

Amat terkejut. Tetapi kemudian berterimakasih.

“Kok terimakasih?”

“Habis itu berarti kamu memperhatikan Bapak. Bapak memang kesal sekali.”

“Jangan begitu Pak, Ibu kan kelihatannya sudah mau ngajak baikan. Dimasakin segala macam. Hargai dong!”

“O, ini bukan masalah aku dan ibumu.”

“Lalu masalah apa lagi?”

Amat memandang Ami tajam-tajam.

“Denger Ami, ini serius. Bapak senang sekali sebab kamu sudah bertanya. Bapak tidak usah capek-cepak lagi mencari kesempatan bicara. Begini. Nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih, pokoknya kalau Bapak sudah tidak ada, jangan sama sekali kamu biarkan ada orang yang berbicara tidak benar tentang Bapak.”

“Ah itu sudah pasti! Kalau ada yang menjelek-jelekkan Bapak, Ami akan langsung saja jawab tidak peduli di mana tempatnya. Maksud Bapak tetangga kita yang pernah menuduh Bapak itu korupsi, kan?”

“Bukan!”

“Lalu siapa?”

“Kalau ada yang mau menjelek-jelekkan Bapak biarkan saja. Kalau kamu bela, malah nanti orang akan semakin percaya. Biarkan kenyataan itu berbicara sendiri. Tapi kalau ada yang berbicara tidak benar tentang Bapak, kamu harus bertindak dan menolak!”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mengatakan aku ini pahlawan, bahkan kalau pemerintah mengangkat aku menjadi pahlawan, kamu harus cepat, tegas dan berani menolak. Sebab aku bukan pahlawan!”

“Lho, tapi kan Bapak sudah berjuang dulu waktu revolusi?”

“Ah mengantongi lencana merah-putih dan bersimpati pada para pejuang itu, namanya belum berjuang. Bahkan membantu para gerilya dengan ketupat waktu mereka masuk hutan juga belum bisa dikatakan berjuang. Kalau sampai memanggul senjata, tertembak dan gugur, seperti Letkol IGN Rai itu baru pejuang. Kalau hanya salah tangkap dan dipukuli atau dimaki-maki, itu belum pejuang. Bapak bukan pejuang. Jadi tidak pantas menerima sebutan pahlawan, mengerti?”

Ami tak menjawab.

“Kok tidak menjawab?”

“Habis Bapak egois! Buat bapak sebutan pahlawan itu mungkin tidak penting, tapi buat Ami dan buat Ibu penting sekali. Kemungkinan untuk dapat posisi akan lebih gampang sebagai anak pahlawan. Apalagi kalau nantinya ada santunan uang, rumah dan sebagainya.

Masak kita terus-terusan harus tinggal di rumah tua seperti ini, sementara semua teman-teman Ami sudah pindah ke real estate? Boleh dong Ami dan Ibu merasakan kenikmatan. Masak berjuang dan menderita terus. Kita kan sudah merdeka?!”

Amat kontan mau menjawab, tetapi Ami sudah berdiri.

“Bapak boleh merasa kepahlawanan Bapak itu bukan apa-apa, tapi jangan memaksa saya berbohong. Itu namanya penggelapan sejarah!” kata Ami sambil pergi.

Amat termenung. Ia teringat masa-masa perjuangan. Puluhan teman-teman sekolahnya lenyap di dalam rimba. Mereka pejuang-pejuang sejati. Tetapi ia sendiri, hanya memainkan peran kecil yang tidak penting. Ia malu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berjuang. Tetapi ia tak sanggup menolak ketika teman-temannya mendaulat agar ia menjadi ketua perhimpunan bekas pejuang.

Bu Amat mendekat, lalu menyapa.

“Bapak masih marah?”

Amat mengangguk.

“Ya. Tapi bukan karena yang tadi malam.”

“Karena apa?”

“Karena sekarang semakin rancu mana yang pahlawan, mana yang tidak. Aku jadi bingung, sejarah kok bisa ditulis lagi. Tadi aku bilang pada Ami, kelak kalau ada yang mau mengangkatku sebagai pahlawan, dia harus berani mengatakan tidak. Sebab aku bukan pahlawan.”

Bu Amat kaget.

“Jadi kalau begitu, semua cerita itu tidak betul?”

“Cerita yang mana?”

“Bapak kan dulu mengatakan bahwa Bapak pernah tertembak dua kali. Bapakku dulu sangat kagum dan hormat melihat bekas luka peluru itu. Ami juga selalu mencantumkan dalam riwayat hidupnya, bahwa Bapak pernah berjuang. Itu di dalam lamaran untuk menjadi asisten dosen, dia juga bilang bahwa dia adalah putri pejuang kemerdekaan, putri seorang pahlawan.”

“O ya?”

“Ya! Tapi apa semua itu bohong? Apa semua itu hanya cerita yang Bapak karang-karang supaya Bapakku mengizinkan aku kawin dengan Bapak dulu?”

Amat terkejut. Ia hampit saja hendak berterus-terang bilang ya, tetapi mata istrinya begitu serius. Bahkan terlalu serius.

“Jadi semua itu bohong, Pak????”

“Bukan bohong! Tapi untuk apa sih menceritakan soal-soal kepahlawanan yang sudah lewat,. Yang penting kan apa yang kita perbuat hari ini.”

“Tapi sejarah itu tidak boleh dihapuskan, Pak. Pahlawan harus tetap pahlawan. Apa salahnya orang jadi pahlawan. Ya tidak? Itu kan membuat keluarga jadi bangga dan kita dihormati? Ya tidak!”

Amat mengangguk.

“Lho ya tidak?!!!!”

“Ya.”

Malam-malam setelah istrinya tidur, Amat mendekati Ami.

“Ami, soal pahlawan tadi ada perubahan.”

“Maksud Bapak?”

“Kalau ada yang mau menjadikan Bapak pahlawan, biar sajalah.”

Ami tertegun.

“Tidak keberatan kan?”

“Sangat keberatan. Kalau ada yang hendak menjadikan Bapak pahlawan, padahal Bapak bukan pahlawan, Ami yang pertama akan mengatakan: bohong!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s