Merdeka

Di penghujung 2007 Amat bingung. Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancauan kebenaran, ketidakadilan dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan?

Amat terkenang pada peringatan hari kemerdekaan yang lalu. Memang sudah usang karena sudah 62 kali diulang-ulang dengan jawaban yang juga bulukan. Merdeka berarti tidak lagi disuapi, dilindungi, dijaga dan diasuh oleh negara penjajah.

Merdeka berarti harus cari makan dan bertahan hidup di atas kaki sendiri. Merdeka sama dengan tidak lagi ditindas, tidak diinjak-injak, tidak lagi dikadali oleh sang penjajah di bawah ancaman senjata, tetapi atas kemauan kita sendiri.

Amat terkejut.

Dengan kemauan sendiri? Kemauan siapa? Siapa yang masih mau diinjak, ditindas, dikadali hari gini?

Ya kalau sudah merdeka, berarti seluruh perbuatan adalah atas kehendak diri sendiri. Atas pilihan yang bersangkutan. Tidak karena diperintah. Bukan akibat tekanan. Bahkan mana mungkin akibat disuruh-suruh oleh orang lain. Pastilah itu kehendak sendiri yang sudah bebas bersuara, lepas bertindak, yang sudah merdeka dalam merasa dan berpikir.

Jadi kemiskinan. Keterpurukan. Perpecahan. Gontok-gontokan dan kemerosotan moral yang terjadi di sekitar kita sekarang itu, adalah kehendak sendiri? Gila!

Habis kehendak siapa lagi, kan kamu sudah merdeka?!

Amat kaget.

Mana mungkin! Tidak ada orang yang ingin membuat dirinya miskin, terpuruk apalagi bejat moral. Itu semua pemutar-balikkan fakta!

Terserah, kamu sudah merdeka jadi bebas untuk menuduh dan mencari kambing hitam! Kamu juga boleh seenak perut kamu mengeluarkan apa saja dari mulutmu yang merdeka. Tapi ingat, yang tidak benar walau pun keluar dari mulut yang merdeka tetap saja salah.

Amat marah sama renungannya sendiri. Tapi waktu ia hendak membentak,
istrinya muncul.

“Kok ngomong sendiri, Pak?”
“Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.”
“Mikiran apa? Mau kawin lagi?”

Amat tertawa.

“Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.”
“O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!”
“Bukan begitu!”

“Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!”

Amat tertegun.

“Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini!”

Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.

“Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada?”
“Itu warnanya sudah belel!”
“Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!”
“Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!”

Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di
depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti
yang baru.

Seorang tetangga menghampiri.

“Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.”

Amat menggeleng.

“Kan tidak dipakai?”
“Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru.”
“Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.”

Amat menolak tegas.

“Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.”

Tetangga ketawa.

“Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!!”

Amat tersenyum.

“Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!”

“Ah bilang saja pelit!

Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir.

Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat!

Amat kaget.

Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami.

Memahami apa?

Memahami apakah kita benar sudah merdeka?

Apakah kita sudah merdeka?

Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s