2008

Memasuki 80 tahun Soempah Pemoeda, Pak Amat ingin menyepi. Ia mencoba merenungi makna Indonesia. Untuk itu ia sudah merencanakan tidak akan bicara, tidak tidur dan tidak makan dan minum, pendeknya melakukan tapa selama satu hari.

Yang pertama protes adalah Bu Amat.

“Kalau Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, itu karena ia ingin mendapatkan panah Pasupati, untuk membunuh Niwatakawaca. Bapak bertapa untuk mendapatkan apa?”

“Ya, menghayati kembali apa itu Indonesia.”

“Untuk apa?”

“Ya dong! Karena sekarang kita sudah mengalami erosi kebangsaan. Kita perlu mengingat cita-cita para pejuang kita yang ingin membangun satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yang bernama Indonesia.”

“Hanya itu?”

Amat berpikir.

“Juga untuk melihat apa sebenarnya yang menjadi kesalahan …….. .”

Bu Amat tak sabar.

“Ah kalau cuma maunya itu, tidak usah susah-susah bertapa, lebih baik Bapak antar aku ke pesta perkawinan, ada tiga sekaligus hari ini. Nanti jawaban satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa itu aku akan jelaskan di jalan, sebab aku masih ingat, itu kan pelajaran sejarah biasa di kelas 6 SD.”

Amat tak bisa membantah, akhirnya ia mengomel pada Ami.

“Lihat itu ibumu tambah tua tambah egois. Begitulah manusia, sama saja dengan kendaraan. Makin lama, meskipun dipelihara, tetap saja makin tua makin merongrong.”

“Iiih kebangetan, masak Bapak menyamakan Ibu dengan kendaraan.”

“Lho ini kenyataan. Ya bukan hanya Ibu kamu, kita semua manusia begitu, Bapak juga.”

“Bapak terlalu sinis!”

“Habis, masak nengok orang kawin itu lebih penting dari menyimak rasa kebangsaan. Kita kan sedang mengalami erosi dan abrasi nasionalisme. Kalau semua orang seperti ibumu itu, nasionalisme kita akan pudar dan kita akan menjadi bangsa yang tidak punya karakter.

Tanpa kepribadian. Dan tanpa kepribadian kita akan selalu terombang-ambing dan akhirnya akan mengalami disintegrasi, perpecahan. Ya nggak? Kamu harus bisa berpikir rasional dan obyektif, Ami. Kamu sendiri sering bilang, perempuan-perempuan zaman sekarang tidak hanya emosional dan impulsif. Benar tidak?”

“Kalau itu memang, tapi …….”

“Tidak ada tetapi, kehilangan rasa kebangsaan itu sangat berbahaya ! Ya tidak?!”

“Ya.”

“Kita sekarang sudah kehilangan patriotisme Ami!?

“Ah masak! Itu kan kata Bapak!”

“Yakin. Lihat saja ketika hak cipta batik, tempe, keroncong, Rasa Sayange, reog Ponorogo dan sebagainya diambil orang, pejabat-pekabat kita tidak peduli, seakan-akan itu bukan urusan mereka. Nanti kepala kita diambil mereka juga akan menyalahkan yang punya kepala teledor, kurang waspada. Baru kalau kepalenya sendiri digondol, langsung mencak-mencak mengerahkan massa!”

“Itu pejabatnya saja yang geblek, bukan semua kita!’

“Ah sama juga, pejabat itu kan cerminan watak rakyatnya dan rakyat itu imbas dari perilaku petingginya. Coba kritik Ibumu, supaya bangkit sedikit rasa nasionalismenya!”

“Maksud Bapak, supaya Bapak tidak usah mengantarkan Ibu ke orang kawin?”

Amat nyengir.

“Ya itu juga! Kan Bapak sudah lama merencanakan untuk bertapa dalam menyambut tahun 2008!”

“Bertapa? Kok seperti Arjuna dalam wayang Niwatakawaca!”

“Lho memang, untuk mendapatkan pencerahan batin!”

“Pencerahan batin atau kenikmatan batin waktu digoda?”

“Maksudmu?”

“Kata Ibu, Arjuna waktu bertapa di Gunung Indrakila itu digoda oleh 7 bidadari dengan tanpa selembar busana menutup tubuhnya. Bapak kali mau menikmati itu?”

“Ah dasar, kamu sudah dilobi oleh ibu kamu!”

Ami tertawa. Begitulah kemudian Amat terpaksa membatalkan tapa untuk mengantar istrinya ke perhelatan kawin. Tapi ternyata bukan tiga, ada empat acara pernikahan. Tempatnya berjauhan. Dari pagi hingga malam , seperti kambing congek Amat salam-salaman. Pulang ke rumah, badannya rasa hancur digiling. Perutnya gembung karena kebanyakan makan, tetapi kakinya hampir copot.

Sampai di rumah, baru hendak melepas baju batik, tiba-tiba datang tamu. Terpaksa Amat berbasa-basi melayani, karena istrinya pusing akinat telat minum kopi. Sampai jam 10 malam tamu itu asyik menceritakan tetek-bengek keluarganya. Dalam hati Amat mengumpat-umpat karena semua itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia dikunjungi untuk jadi pendengar. Itu bukan silaturahmi lagi, tetapi siksaan.

Begitu tamu pulang, Amat mematikan lampu dan mengunci pintu. Tapi ketika merebahkan badannya di kursi, terdengar pertengkaran keras suami-istri di tetangga.

“Buka pintu! Buka pintu! Kalau tidak aku pecahin kaca!”

Amat kesal. Pertengkaran itu sudah terlalu sering terjadi. Masalahnya sama, kata-katanya juga sama. Orang bilang si Suami sedang datang puber ketiga, jadi lebih sering ngelayap. Sementara istrinya yang menjadi tiang rumah tangga dengan menerima cucian, mulai kesal. Sore hari dia tidak urung mengunci rumah, karena kesal melihat ulah suaminya..

Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela pecah dan batu menghajar daun pintu. Bu Amat tersentak bangun, langsung minta Amat keluar, untuk melerai. Mula-mula Amat tidak mau, tapi ketika terdengar suara perkelahian, apalagi pintu rumah diketok tetangga, Amat mau tak kembali mengenakan sandalnya, lalu keluar.

Amat memang dikenal sebagai tukang damai. Kalau ada masalah-masalah yang menyangkut lingkungan pemukiman, Amat selalu dianggap sebagai kunci. Karena Amat satu-satunya bekas pejuang yang masih hidup di lingkungan itu. Walau pun Amat sangat kesal dengan kedudukannya yang sama sekali tanpa imbalan itu, ia terpaksa mnjalankannya dengan hati berat.

Biasanya kalau Amat datang, cepat atau lambat segalanya bisa teratasi. Tetapi kali ini hampir saja terjadi perkelahian sengit. Ternyata di dalam rumah ada seorang lelaki menginap yang mengaku saudara perempuan itu. Hampir saja suami yang sedang puber ketiga itu kalap. Ia sudah menghunus parang.

Untung Amat tidak terlambat. Setelah mengusir lelaki tak dukenal itu, sang suami terus kalap hendak memotong tangan istrinya karena cemburu. Amat dengan sabar melerai. Ia dengarkan keluhan keduanya. Ia seret supaya kedunya menumpahkan unek-unek. Tiga jam semuanya baru terkuras. Masing-masing sesudah melampiaskan emosi, gembos dengan sendirinya, kemudian perdamaian dimulai. Amat baru bisa pulang setelah yakin tidak bakal terjadi apa-apa.

Sudah lewat tengah malam, ketika Amat masuk ke dalam rumah. Ia ingin sekali disambut oleh istrinya sebagai pahlawan. Tetapi ternyata Bu Amat sudah tidur. Ami juga sudah pulas. Tinggal Amat sendirian.

Enersi Amat yang terkuras karena menyelesaikan pertengkaran tetangga membangkitkan rasa kosong. Walau pun di pesta kawin ia sudah makan banyak, sekarang perutnya keroncongan. Tetapi sial, begitu membuka tutup nasi di meja makan, Amat kecewa lagi. Tidak ada apa-apa di situ. Air matang pun habis.

Amat menganggap dirinya sudah diabaikan. Ia marah. Rasanya ia sudah melakukan berbagai kebaikan untuk rumah. Ia manjakan istri dan anaknya. Ia tidak pernah marah. Ia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kekurangan dan kesalahannya sendiri, sehingga ia tidak pernah menyalahkan keadaan. Tidak pernah menuding orang lain. Ia lebih banyak menyesali kekurangannya sendiri. Tetapi ternyata balasannya tak ada.

Amat duduk terhenyak.

“Tidak ada seorang pun yang mencintaiku. Aku ternyata sendirian,”keluh Amat.

Amat berusaha memejamkan matanya sambil menselonjorkan kaki ke atas kursi. Tapi tak bisa. Segala macam hal-hal yang jelek teringat. Semua kegagalan-kegagalannya di masa lalu kembali mengejek-ejek. Ia semakin percaya dirinya orang yang sial.

Tiba-tiba mendesak rasa haru. Ia menjadi seorang anak kecil kembali. Seorang anak yang selalu mengurus diri sendiri. Tidak seperti anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tuanya. Bahkan ketika mulai punya pacar, semua bekas pacarnya sibuk mengurus kepentingannya sendiri dan akhirnya kabur. Amat sekan-akan memang sudah ditakdirkan hanya jadi bulaan-bulanan.

Kasihan pada dirinya sendiri, Amat menangis. Air mata mengucur deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Tangis yang puluhan tahun tertunda dari masa lalu yang tak akan kembali. Tangis yang kadang-kadang baru dilepaskannya kalau ia yakin benar-benar sedang sendirian. Tanpa seorang penonton, air mata itu benar-benar menjadi tampungan kepedihan.

Setelah menangis dalam, Amat merasa lebih lega. Kemudian datang malu, sebagaimana biasanya. Setua sekarang usianya, ia masih saja cengeng. Lalu dihapusnya matanya sampai benar-benar kering. Seluruh kesedihan itu digasaknya lagi masuk ke dalam kantung simpanan, untuk dikeluarkan lagi nanti, kalau ada kesempatan lain yang benar-benar pas.

Amat bangkit dari kursi, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Lampu kamar belum dimatikan. Nampak istrinya tergoleh tergolek di tempat tidur, seperti seonggok kayu yang tumbang. Ia memandangi istrinya lama. Nafas perempuan itu dalam dan lelap. Kelihatannya sangat nikmat. Ia tidur mati, terhanyut begitu jauh. Sama sekali tidak peduli suaminya yang sedang lapar, kesal, sunyi dan barusan tersedu-sedu mewek.

Tiba-tiba kembali Amat merasa tersinggung. Talk ada sama sekali orang yang memperhatikan perasaannya. Lalu dengan kecewa ia menutupkan kembali pintu kamar, keluar ke teras.

Udara sejuk tanda subuh akan datang menyentuh tubuhnya. Sekeliling sepi sekali. Hanya kesunyian yang masih terjaga. Sepi itu seakan-akan menegur dan menemaninya. Lalu Amat tersenyum.

“Ya hanya kamu temanku, sepi. Kamu telah mengembara melewati tahun demi tahun. Usiamu bertambah, pengalamanmu semakin banyak. Tetapi setiap kali tahun baru, kau tidak pernah tidak lupa datang dan menegurku. Setidak-tidaknya sapamu menyebabkan aku masih punya teman. Biarlah tak ada yang mencintaiku, biarlah anak dan istriku lebih mencintai dirinya, asal masih ada kamu yang menyapa, aku sudah merasa cukup lega, ” bisik Amat dalam hati.

Malam bagai mendengar. Ia melenguh dan mengusap kepala Amat. Lembaran tahun baru muncul bagai sepasang tangan yang membelai. Amat merasa dinina-bobokkan. Baru beberapa menit duduk, ia langsung pulas dan terseret ke dalam mimpi yang tak bertepi.

Pagi-pagi Bu Amat dan Ami menemukan Amat masih tertancap dalam dalam mimpinya di teras rumah.

“Kasihan Bapak, seharian dari pagi sampai tengah malam kemaren terpaksa bertapa, menahan perasannya, “kata Ami.

“Ya, Ibu juga tak sampai hati melihat Bapakmu kelimpungan sendiri semalam,” jawab Bu Amat, ” tapi apa boleh buat, bapakmu kan memang maunya bertapa, jadi waktu semalam ia masuk kamar, Ibu terus saja pura-pura tidur.”

Amat membuka mata.

“Apa?”

“Ah nggak, Bapak kok tidur di luar. Tidak dingin?”

Amat menggeliat, merentang-rentangkan tubuhnya yang terasa kaku.

“Aku bertapa.”

“O ya? Dapat panah Pasopatinya?”

Amat menggeleng.

“Aku tidak lulus. Waktu bidadari-bidadari itu menggoda dengan tidak memakai selembar pakaian pun di tubuhnya perasaanku aku terbawa.”

“Kenapa!”

Amat tertawa.

“Sebab aku bukan Arjuna. Aku tidak mencari panah Pasopati. Aku manusia biasa saja yang lebih penting mengantar istri ke empat upacara perkawinan dalam satu hari, mendengarkan ocehan tamu bawel selama 3 jam dan menjadi hakim yang mendamaikan tetangga yang berkelahi karena cemburu buta.”

Bu Amat nyengir karena merasa tersindir.

“Aku untung kalau begitu.”

“Untung?”

“Ya, karena Bapak bukan Arjuna. Arjuna kan doyan kawin.”

“Ya syukurlah kalau Ibu merasa beruntung. Ibu memang beruntung. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa tidur selelap itu semalam.”

“Ya?”

“Lama aku perhatikan kamu tidur. Orang yang tidak bahagia tidurnya pasti tidak karuan. Kamu nampak lelap sekali. Jadi karena takut mengganggu, aku tidur di luar.”

“O jadi begitu?”celetuk Ami nimbrung sambil mendekat.

“Ya. Banyak orang berbahagia tidak menyadari dia itu tidak bahagia. Itu yang menyebabkan kita tidak mensyukuri keadaan. Itu sebabnya kita sudah kehilangan rasa kebangsaan, bukan karena kita tidak mendapatkan apa-apa dalam kemerdekaan, tetapi karena kita tidak tahu, tidak mampu menikmati apa yang sudah diberikan oleh kemerdekaan itu.

Itu yang sudah menyebabkan kita mengalami erosi dan abrasi kebangsaan sekarang. Kita tidak mampu menikmati hasil usaha kita sendiri, kita sibuk menjumlahkan kekurangan dan keluhan, akibatnya kita jadi tidak peka, buta dan merindukan yang lain, padahal semuanya itu sudah kita miliki!”

Bu Amat tak menjawab. Ia hanya main kedip-kedipan mata dengan Ami. Amat lalu masuk ke dalam rumah. Ia kelihatan puas karena sudah melampiaskan unek-uneknya. Tetapi begitu sampai di dalam, ia terkejut. Rumah nampaj berdandan. Meja makan memakai taplak baru, di atasnya ada vas dan bunga soka yang dipetik dari halaman belakang. Kopi panas, pisang goreng dan hidangan makan pagi yang mengepulkan bau sedap. Juga ada buah-buahan.

“Mau ada tamu siapa lagi?”tanya Amat ketus.

Bu Amat yang mengikuti suaminya menggeleng.

“Tidak ada.”

“Itu untuk siapa?”

Ami menjawab.

“Untuk Bapak kan?!”

“Aku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”

“Apa?”

“Karena Bapak kemaren sudah bertapa.”

Amat ketawa malu.

“Ah sudahlah, itu tidak penting lagi. Untuk apa bertapa, kalau jawaban permasalahan kebangsaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. Bertapa itu kan dalih lelaki yang tidak mau mengantarkan istrinya pergi ke kawinan. Untung saja Ibu memaksa aku kemaren, kalau tidak aku sudah jadi orang yang paling egois di dunia.”

Amat hendak terus ke kamar mandi. Tapi kepulan asap kopi itu terlalu menggoda. Akhirnya ia menghampiri meja, menarik kursi lalu duduk. Bu Amat dan Ami nimbrung.

“Minum saja dulu, Pak.”

“Tapi aku belum mandi.”

“Bapak lupa, bangun tidur, mulut kita banyak mengandung ensym yang sangat diperlukan tubuh untuk kekebaklan, justru bangun-tidur minum itu sehat.”

“Ya, aku ingat.”

Amat lalu mengangkat gelas kopi dan menegaknya. Matanya terpejam karena nikmat.

“Cukup gulanya, Pak?”

Amat mengangguk dan mengecapkan bibirnya tanda nikmat. Kemudian ia meraih pisang goreng.

“Bapak mau makan sekalian?”kata Bu Amat sambil menyiapkan piring.

“Boleh.”

Lalu mereka bersama-sama mulai makan. Sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga yang semalam bertengkar, suara radio membawakan lagu yang lagi ngetop “Kamu ketahuan, pacaran lagi……. .”

Amat bersenandung mengikuti lagu. Bu Amat dan Ami tersenyum saling melirik.

“Hari ini kamu bukannya ada janji mau camping dengan kawan-kawan kamu Ami?”

Ami menggeleng.

“Sudah dibatalkan.”

“Kenapa?”

“Ya dibatalkan saja.”

Amat menggeleng tak mengerti. Tiba-tiba ia melihat pada istrinya.

“Lho bukannya, kita harus pergi mengunjungi keponakanmu yang tunangan itu?”

Bu Amat menggeleng.

“Kan sudah kemaren.”

Amat terkejut.

“Bukannya hari ini?”

“Kalau sudah kemaren, hari ini tidak usah.”

Amat mengernyitkan dahinya.

“Tapi kenapa?”

“Ya nggak apa-apa.”

Tiba-tiba Amat terpagut. Lintasan pikiran itu mengagetkannya..

“Astaga,”kata Amat seperti disambar petir, “kalian sengaja melakukan itu, supaya kita bisa kumpul makan dan merayakan tahun baru sama-sama hari ini?”

Baik Bu Amat maupun Ami tidak menanggapi.

“Ya? Kalian sengaja menumpuk acara kemaren supaya bisa berkumpul hari ini?”

“Kalau toh ya, apa salahnya?” kata Bu Amat seakanp-akan itu sesuatu yang ringan dan sepele.

Tetapi Amat jadi begitu terpukul.

“Ya Tuhan! Ada dua orang perempuan yang sudah bertahun-tahun serumah denganku. Tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti, apa yang mereka lakukan,”bisik Amat.

Amat menatap anak istrinya dengan takjub.

“Kenapa aku tidak tahu semua itu? Kenapa kalian tidak suka menceritakan bahwa kalian melakukan semua itu untuk kita, untuk aku? Untuk membahagiakan lelaki tua yang bulikan dan egois ini? Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu?”

BuAmat dan Ami diam-diam saja sekan-akan tidak terjadi apa-apa.

Amat terpesona. Ia menjadi begitu malu karena baru ngeh, betapa cantiknya hari itu. Entah berapa banyak sudah hari-hari indah yang berlalu begitu saja yang tidak diketahuinya. Betapa tidak mampunya ia menikmati kerunia yang sampai ke tangannya. Seakan-akan ia adalah miniatur dari bangsa ini, yang bebal, buta, tidak mampu menilai hasil-hasil yang tercapai, sebagaimana tadi diucapkannya dengan pedih pada istrinya.

Dengan menyesal Amat lalu memandangi istri dan anaknya dengan cara yang sangat berbeda. Menatapnya dengan perasan orang yang sangat bersalah. Ia merasa sekarang air matanya semalam benar-benar sebuah kekonyolan.

“Terimakasih,”kata Amat kemudian dengan suara lirih, “terimakasih, kalian sudah menolongku kemaren bertapa.”

One response to “2008

  1. aku iki rodo goblok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s