Kembang Api

Hujan yang mengguyur Ibukota tak membuat pesta kembang api mati angin. Begitu jam menunjuk ke waktu 00, langit malam yang suram ditoreh oleh ekor kembang api yang berhamburan dari rumah penduduk. Jakarta gemuruh bagai memasuki pertempuran. Dan itu berlangsung lama.

Entah berapa ratus juta yang sudah hangus oleh pesta itu. Orang boleh saja mengeluh bahwa biaya itu kalau dialihkan untuk membantu kemiskinan, mungkin akan jauh lebih berguna. Namun Kleng, seorang penduduk di wilayah Ciputat, mengajak teman-temannya melihat itu sebagai pengurasan emosi yang sudah terlalu menjejali batin masyarakat Jakarta.

“Belum pernah ada malam tahun baru yang sebising ini,”kata Kleng berkoar di jalanan, “dulu paling banter hanya suara terompet memekakkan telinga.. Ini adalah pelampiasan kejengkelan dan ketidakpuasan rakyat jelata. Ini usaha menyembuhkan diri sendiri. Masyarakat marah melihat para pemimpin, wakil rakyat lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan, daripada membela kebutuhan rakyat!”

Esok harinya, Kleng dipanggil ke pos polisi.

“Kami mendapat laporan saudara semalam berteriak-teriak!”

“Betul. Tapi itu bukan teriakan-teriak, Pak.”

“Jadi apa?”

“Itu suara hati!”

“Suara hati?”

“Bahasa populernya protes.”

Petugas mencatat.

“Memprotes apa?”

“Perlakuan kepada rakyat!”

“Perlakuan yang mana?”

“Rakyat dibiarkan menanggung banyak persoalan sendiri sementaram para pemimpin sibuk mengurus kepentingannya sendiri!”

“Pemimpin yang mana?”

“Semua.”

“Tapi pemimpin itu bukannya pilihan rakyat sendiri?”

“Betul.”

“Kalau begitu kenapa tidak memprotes rakyat yang memilihnya?”

“Tidak bisa!”

“Kenapa?”

“Rakyat tidak bisa memprotes rakyat!”

“Jadi para pemimpin hanya dijadikan kambing hitam?”

“Ya!”

“Kenapa?”

“Karena itu bagian tugas pemimpin. Kalau ada kesalahan, bukan rakyat yang salah, tapi pemimpin yang harus mempertanggungjawabkannya! Kalau tidak mau, siapa suruh jadi pemimpin?!”

Petugas mencatat.

“Ada yang perlu saya jawab lagi?”

Petugas berpikir. Kemudian dia berbicara dengan temannya.

“Ada yang mau ditanyakan lagi kepada saya?”

“Tidak. Sudah cukup.”

“Bapak tidak mau menanyakan apa isi protes saya?”

Petugas itu menoleh kepada rekannya. Kemudian dia menggeleng.

“Tidak, sudah cukup.”

“Tapi saya semalam sudah mengatakan bahwa kemeriahan kemaren sebenarnya adalah luapan ketidakpuasan dari seluruh rakyat yang selama ini ditahan-tahan sebab, rakyat sudah dipaksa untuk menghadapi sendiri bencana banjir, kemacatatn jalan raya setiap hari, kenaikan harga dengan berbagai alasan yang sebenarnya harus menjadi PR pejabat, kejahatan birokrasi yang semakin licin, korupsi, keanehan perilaku para wakil rakyat dan … ”

“Itu kami sudah tahu.”

“O ya?”

Petugas itu mengangguk.

“Ya. Kecuali kalau ada yang lain.”.

Kleng bingung. Apalagi kemudian ketika ia dipersilakan pulang..

“Lho saya boleh pulang?”

“Ya.”

“Berarti saya bebas?”

“Memang.”

“Saya tidak ditangkap?”

“Kenapa msti ditangkap?”

“Kan saya sudah protes!”

“Tapi saudara kan tadi sudah mengatakan itu hanya suara hati? Ya kan!”

“Betul. Tapi saya kira saya dipanggil untuk ditangkap!”

“Tidak. Saudara dipanggil untuk menjelaskan apa yang sudah saudara perbuat, agar kalau ada pertanyaan, kami bisa menjelaskannya. Sekarang karena sudah jelas, Saudara boleh pulang.”

Kleng tak bergerak. Ia nampak bengong.

“Silakan.”

Kleng menggeleng.

“Saudara boleh pulang.”

“Ya saya tahu. Tapi saya tidak mau.”

“Tidak mau? Kenapa?”

“Karena semua orang tahu, saya dipanggil, pasti akan ditangkap dan dijebloskan. Kalau sekarang saya keluar nanti saya dikira menyuap petugas.”

Petugas mau mencatat, tapi Kleng cepat-cepat mencegah.

“Jangan! Jangan! Itu hanya pikiran kotor saya, ampas kebencian dari masa lalu!”

One response to “Kembang Api

  1. hahahaha menggelitik. yoi banged dah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s