Catatan Dewan Juri FTJ 07

Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota), Jajang C Noer, Radhar Panca Dahana, Danarto. Seno Joko Suyono, mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang.

Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006, telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Penataan panggung, pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah.

Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini, kembali berkobar, sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta.

Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ), baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan, nampak menyelenggarakannya dengan sungguh-sungguh. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan, disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater.

Yang pasti, dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ, antara tanggal 21 s/d 30 Desember, kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta, tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk.

Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007, adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hati-hati. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam.

Kelompok yang sudah hadir gemilang, ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang, tetapi tak urung menjadi tantangan.

Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan, akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta?

Walhasil Jakarta mesti beringas, para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final, harus bertekad untuk tampil maksimal, sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta.

Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan.

DANARTO:

Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”, agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ, agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008

JAJANG C NOER:

Bila sutradara kurang mendalami lakon, tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks, para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi.

Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya, sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. Yang akan tersaji hanya bentuk semata, gesture yang salah, ekspressi yang datar, phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak.

Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk, artikulasi kata-kata tidak jelas, volume suara tidak memadai, keras bahkan berteriak namun tidak jelas.

Pemahaman terhadap naskah, apakah itu naskah realis atau non realis, apakah itu komedi atau tragedi, akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan.

SENO:

Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing.

Realisme ternyata tak pernah mati. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskah-naskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik.

RADHAR PANCA DAHANA:

Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater, dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan, yang antara lain menyangkut pemilihan naskah, pilihan bentuk artistik, pola pemeranan, penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik, sangat menentukan hasil akhir pementasan.

Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai, pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget, kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi, dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni.

Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasar-dasar dramaturgi yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater.

PUTU WIJAYA:

“Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya.

Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan.

Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat

Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok.

Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah.

Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan.

Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival.

Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu.

Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008.

Jakarta, 30 Desember 2007

DEWAN JURI FTJ 07

  • Jajang C. Noer
  • Seno Joko Suyono
  • Radhar Panca Dahana
  • Danarto
  • Putu Wijaya

6 responses to “Catatan Dewan Juri FTJ 07

  1. Om Putu Yang Baik;

    Ada resensi buku Nora di Media Indonesia hari ini (Sabtu, 12 Januari 2008). Judul resensinya “Dangdut Kata-Kata ala Putu Wijaya”.

    Sukses terus ya, Om…

    salam takzim;

    denny ardiansyah

  2. Festival tahun ini beda dari tahun-tahun lalu dimana Teater memang selalu menunjukkan sesuatu yang baru.Untuk para juri saya ucapkan sukses dan terima kasih atas pikiran dan tenaganya demi perkembangan Teater di Nusantara.

  3. mbah dukun,kayaknya maya masih perlu banyak belajar lagi jadi masih belum siap utk mengirimkan tulisan ” Gerobak”ke Horison.makasih semangatnya.

  4. Festival tahun in oke,kalau bisa tolong kabarkan kalau ada festival lagi ke alamat email saya,terima kasih

  5. Pengumuman dilaksanakannya FTJ agar disosialisasikan lebih lama lagi dan lebihterbuka.
    Tha’x.

  6. saya dengar ada desas sesus bahwa FTJ 2008 tidak jadi diselenggarakan, benarkah itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s