Kebun

Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Ibunya setuju.

“Untuk apa lapangan badminton, dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England, hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!” katanya sinis.

“Kita harus mendukung program melawan pemanasan global, Pak, dengan cara menghijaukan rumah kita!”kata Ami sambil mencari-cari cangkul.

Amat marah sekali. Tetapi ia hanya bisa melakukannya di dalam hati. Kalau Bu Amat sudah mendukung, apa pun suaranya akan tenggelam. Istrinya memang sudah lama benci pada lapangan badminton yang sering dipakai oleh anak-anak tetangga main bola. Bola suka terlepas masuk ke dapur menghantam barang pecah belah.

“Padahal maksud dari lapangan badminton itu adalahn untuk bersosialisasi pada tetangga,”kata Amat berkali-kali, “Sebelum kita punya uang untuk membangun rumah buat Ami, ya kita manfaatkan jadi tempat main tetangga karena lingkungan kita ini memang sudah tidak punya tempat olahraga bersama. Dengan berolahraga bersama-sama, tidak berarti kita mau jadi juara All England tapi belajar hidup bermasyarakat !”

“Ayo Pak! Bantu Ami!”

Amat terpaksa turun tangan. Dengan berat ia mengayunkan pacul. Sementara Ami mencabut tiang pancang net. Bu Amat pergi ke tetangga minta beberapa potong cabang kembang sepatu untuk memulai penghijauan itu.

Tak sampai satu jam, setelah keringat membasah ketiak dan jidat Ami, wanita muda itu menegak soft drink terlalu rakus. Ia terduduk kelelahan. Mukanya nampak pucat karena tidak biasa kerja berat.

Bu Amat sendiri setelah menancapkan dua tiga batang cabang kembang sepatu, lalu masuk ke dapur. Katanya mau menyiapkan masakan istimewa bagi Amat yang sedang melawan pemanasan global. Lalu beberapa rekan mahasiswi Ami muncul dan mengajak Ami ke kampus. Akhirnya tinggal Amat dan paculnya.

Dengan sedih Amat memandang lapangan yang sudah membuatnya dekat dengan para pemuda. Lapangan itu telah berjasa mempertemukan ia dengan anak-anak muda. Lapangan itu jadi tempat gaul yang sering dilupakan dalam pembangunan. Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan jadi salintg diketahui dengan cepat. Sekarang semuanya itu akan berakhir.

“mau dibangun berapa tingkat Pak Amat?” sindir seorang tetangga.

Amat hanya tersenyum.

“Jadi mau melawan pemanasan global?” tanya seorang anak muda.

Sebelum Amat menjawan, anak muda itu mengangguk.

“Bagus Pak. Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Semua orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Jadinya kita sesak tidak punya paru-paru untuk bernafas. Mudah-mudahan yang lain-lain mengikuti jejak Pak Amat.”

Anak muda yang lain, memandang dengan kecewa.

“Yah, Pak Amat, padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Sekarang batal dah!”

Amat tak berusaha menanggapi. Ia hanya menjadi tambah sedih. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul, karena sudah terlanjur. Sampai sore, ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit.

Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Lebih banyak karena kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga, ketika ia mengalah, anak-istrinya bukannya tahu diri, malahan tambah menjajah.

“Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat, tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri, padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun, kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati.

Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas.

Esoknya, pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Heran sekali, kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan, sekarang dalam tempo dua jam, hampir separuh lapangan sudah tergarap.

“Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan.

Amat pura-pura tak mendengar, malah menambah cepat ayunan cangkulnya.

“Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya.. “Sudah, sudah Pak, jadi rusak dah lapangannya!”

Amat berhenti dann tercengang.

“Apa?”

“Jadi rusak lapangannya!”

“Memang dirusak, kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!”

“Itu nanti saja!”

“Nanti bagaimana?”

“Apa artinya kebun seupil beginji, kalau Amerika, Jepang, Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Dia yang bikin rusak ozon, kita yang disuruh kerja. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!”

“Apa?”

“Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!”

Pak Amat bengong.

“Bapak kembalikan lagi jadi lapangan, sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Kalau tidak, kita bisa malu!”

Amat takjub. Dia tidak bisa ngomong. Tapi mukanya menahan marah. Lalu datang istrinya.

“Sudah Pak, tidak apa. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Tentang pemanasan global, kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Itu lihat aku sudah mulai!”

Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe, tomat, seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga.

“Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita, tetapi di d alam pikiran kita. Kalau pikiran kita hijau, dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!”

Amat melempar pacul, lalu istirahat. Sehariann ia termenung. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi, Amat mengangguk.

“Ya sudah. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Silakan main di situ dengan sepuasnya!”

7 responses to “Kebun

  1. Ah, kenapa Amat harus menyerah?
    Bukankah satu pohon raksasa bisa tumbuh dari pohon kecambah yang kecil.

    Ah, aku jadi melihat dan menembus dedaunan yang tinggal sedikit di hutan itu. Lalu, beberapa awan putih berjalan perlahan mengiringi birunya langit yang menutup pikiranku yang tidak bisa beriak saat ini.

  2. Cerita yang hebat dan menggugah, seperti biasa Pak 0_o

  3. Sungguh menggugah! Daripada lahan olahraga dijadikan pusat perbelanjaan seperti di senayan.
    Omong2, bagaimana perkembangan kasus pusat perbelanjaan di Senayan yang berdiri di atas lahan olahraga? Seperti banjir Jakarta yang sangat hebat kemarin, hari ini sudah menguap tanpa bekas. Terima kasih, Matahari nan terik!

  4. cerpen yang bagus.. realis dan aktual.. tentang pemanasan global, ketiadaan ruang publik, dll..

  5. Akhirnya karya Putu Wijaya ini bisa muncul di blog juga.😛
    Semoga semakin giat menularkan ilmunya di sini.😀
    Salam:mrgreen: BERTOLAK DARI YANG ADA.

  6. Kalau bisa, nulis lebih banyak di blog dong-Pak Put-dunia maya memerlukanmu, terlalu banyak huruf yang seret dibaca-pengen ini lebih enjoy lagi-lepas dari penjajahan makna(loh, ini kata2 siapa yah-keluar dr tanganku-tiba2?), mengelana ke alam yang lebih mentolerir keedanan, kesantaian, kebimbangan, kekonyolan, ketidakseriusan, kemain-mainan, ketidakkonsistenan, kekanakan, keanehan, ketidaklogisan, kekacauan, kesemrawutan, dll-tp juga dengan itu malah secara sendiri menohok, menggoncang, meneror, mematuk, mencokot, menggigit, menendang kesadaran kita….-perasaan Pak Put perlu olahbatin lagi deh-bertapa-soalnya saya jarang liat lagi ente menyihir kami dengan telak-berkali2-kayak beberapa puluh tahun lalu…-jadi kangen, ketagihan, asyiknya baca karangan you yg dulu2…-nostalgia….

    sukses Pak Put!!!

  7. kasihan pak amat
    *komentar ngawur hihihi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s