Pemakaman Bekas Presiden

Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.

Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.

Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.

Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”

Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”

Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.

Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.

Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.

“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”

Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.

“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.

Ibunya hanya menjawab.

“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”

Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.

“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”

Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.

“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”

Istri Franki melotot.

“Maksud Abang apa?”

“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”

“Itu karena Abang tidak setuju!”

“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”

“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”

Franki terkejut.

“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”

Istri Franki melotot.

“Kenapa jadi menuduh begitu?”

“Habis kamu membela!”

“Siapa yang membela? Membela apa?”

“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”

“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s