Surga

Pemakaman Jendral Besar Soeharto, bekas presiden Indonesia selama 32 tahun, berlangsung spektakuler. Seperti layaknya pemakaman orang penting dan kehilangan besar negara – mengutip yang dinyatakan oleh beberapa petinggi mancanegara – upacara yang dihadiri 2000 orang itu menjadi lembar terakhir almarhum yang sempurna.

“Semua presiden Indonesia kalau meninggal pemakamannya harus seperti ini,”kata Amat selesai menonton pandangan mata peristiwa itu di layar televisi.

“Apakah upacara pemakaman akan menjadi jaminan almarhum akan masuk surga?” tanya Ami menggoda.

Amat tertegun.

“Maksudmu siapa? Pak Harto?”

Ami mengulang pertanyaannya.

“Apakah upacara menjamin perjalanan almarhum, siapa saja, sampai ke tempat yang semestinya di sana?”

“O kalau itu, jawabnya, tidak. Upacara di dunia ini hanya usaha kita untuk menempatkan almarhum sebaik-baiknya di dunia. Di sana, urusan di sana. Kita tidak mungkin ikut campur. Tapi sudah pasti semua almarhum akan mendapat tempat yang semestinya. Tidak akan mungkin bisa terjadi salah kamar. Besar kecil upakara, tidak menjadi ukuran. Karma almarhum adalah ukurannya. Dan urusan karma …”

Bu Amat memotong.

“Bapak ini suka bertele-tele. Pak Harto itu akan masuk surga atau tidak? Itu pertanyaan anakmu! Ya kan Ami?”

Ami tertawa.

“Bukan Bu, jangan salah sangka. Ami tidak menanyakan itu. Dia hanya ingin mengatakan bahwa upacara itu tidak menjamin apa-apa. Dan aku menegaskan, karma yang akan menjadi ukuran. Jadi … . ”

“Jadi masuk surga atau tidak?”

“Ya tidak tahu, itu kan urusan di sana.”

Bu Amat kecewa.

“Bapak ini selalu mutar-mutar kalau diajak ngomong. Bilang ya atau tidak apa susahnya? Ya atau tidak? Masuk surga atau tidak?”

Amat tertegun, lalu menjawab lirih.

“Aku tidak tahu.”

“Ya sudah kalau tidak tahu, jawab tidak tahu, tidak usah ke sana-ke mari!”

Amat tak menjawab. Setelah istrinya masuk kamar lagi, ia baru menoleh paa Ami.

“Ami, di dalam pewayangan diceritakan, setelah perang Bharatayudha, ternyata Pandawa Lima yang selalu kita anggap tempatnya di kanan mewakili kebaikan, tidak masuk surga semua. Hanya Yudhistira yang masuk serta diikuti oleh seekor anjing. Jadi aturan di sana dengan di sini itu memang lain sama sekali. Kita hanya bisa menebak-nebak dan berusaha. Yak kan?”

Ami berpikir.

“Kenapa Bapak gugup waktu Ibu nanya Pak Harto masuk surga atau tidak?”

“Ya karena aku tidak tahu.”

“Bohong!”

Amat terkejut, tetapi kemudian senyum.

“Betul. Sebenarnya aku punya pendapat. Hanya saja belum tentu pendapatku itu benar.”

“Apa?”

“Menurutku Pak Harto akan masuk surga.”

Ami kaget.

“O ya? Dengan segala karmanya itu almarhum akan masuk surga? Kenapa?”

“Karena begitulah pendapatku.”

“Jadi Bapak mendukung Pak Harto?”

“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang beliau akan masuk surga. Kenapa kamu jadi marah kalau Bapak bilang almarhum akan masuk surga?”

“Karena itu tidak adil!”

Ami langsung bangun, lalu masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu keras-keras, sehingga Bu Amat kaget, lalu keluar.

“Ada apa Pak?”

“Anakmu marah-marah lagi!”

“Kenapa?”

“Karena aku bilang Pak Harto akan masuk surga.”

Bu Amat yang sekarang tercengang.

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Kenapa Pak Harto akan masuk surga?”

Amat tertawa.

“Kenapa tidak?”

Bu Amat tercengang. Dia lalu masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. Amat hanya tertawa.

“Begitulah kita di dunia ini,”kata Amat kemudian ngungsi ke pos keamanan bergabung dengan para petugas , karena tidak dibukakan pintu kamar, “Kita lupa, jangankan dunia sana, yang ada di dunia ini saja, tidak semuanya kita ketahui. Kok mau bertengkar tentang apa yang terjadi di sana. Apa yang di sana akan berubah kalau, kita memenangkan pertengkaran di sini? Omong kosong! Sudahlah percaya saja, yang di sana nanti pasti akan adil seadil-adilnya. Pasti tepat. Nggak usah berusaha untuk main sogok segala! Itu kan kebiasaan kita di sini saja, kalau mau cari jabatan! Besar umpannya besar dapatnya!”

“Kecil umpannya, kecil ikannya!”, sambung para petugas spontan, meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan Amat.

“Lha ya nggak?? Memangnya mancing!!”

Para petugas ketawa.

“Jadi sebaiknya bagaimana Pak Amat?”

“Ya sudah, yang tak perlu dipikirkan jangan dibicarakan, yang tidak usah dibahas jangan dipertengkarkan! Kerja saja yang santai!”

“Setuju pak Amat.”

“Harus setuju. Mau betengkar bagaimana lagi, kita sama-sama tidak tahu, surga itu di mana?!”

Para petugas berhenti ketawa dan salah seorang menjawab sambil lalu.

“Kata orang tua saya, surga itu di dalam hati orang lain, Pak.”

Amat terkejut.

“Orang lain bagaimana?”

“Bila kita bisa membahagiakan orang lain, itu surga.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s