Ayat Ayat Cinta

Film Ayat-Ayat Cinta meledak.

“Film ini diramalkan bisa mencapai 7 juta penonton,”kata seorang pengamat. “jauh melangkahi prestasi film Indonesia lain, termasuk mengalahkan sukses Naga Bonar. Tapi angka itu masih terlalu kecil kalau diingat penduduk Indonesia sekarang yang katakanlah sudah 220 juta.”

“Jadi?”

“Jadi jumlah penontonnya belum perlu dirayakan. Yang perlu dirayakan adalah bahwa Ayat-Ayat Cinta sudah membuat orang yang tidak pernah menonton film jadi nonton film!”

“Bagaimana pula itu?”

“Lihat saja siapa penontonnya. Mereka bukan penonton yang biasa nonton film-film setan dan hantu itu. Mereka adalah lapisan penonton baru, orang-orang yang ingin menikmati pesan dan moralitas yang hendak disampaikanoleh film itu, walau pun banyak yang kecewa karena novelnya konon lebih asyik!”

“Begitu ya?”

“Begitulah komentar yang pernah aku dengar dari para wanita yang beberapa kali baca novel itu, tetapi jugta sudah beberapa kali menonton filmnya.”

“Memang apa yang baik dibaca, tidak selamanya baik ditonton. Apalagi banyak kendala dalam pembuatannya. Kendala waktu, biaya, lokasi, seperti yang diakui oleh pembuatnya.”

“Kemilau air sungai Nil yang begitu indah di buku tidak muncul. Kata-katanya yang indah, niknat, sejuk, tidak keluar dalam gambar.”

“Itu mungkin karena bukunya keluar duluan. Apa yang datang belakangan selalu terasa lebih jelek.”

“Tidak. Itu tidak betul. Meskipun bukunya keluar duluan, kalau lebih jelek akan tetap lebih jelek. Kau jangan mengecilkan kecerdasan penonton. Mereka cukup mampu untuk mengatakan bagus dan jelek. Para penonton kita sudah cerdas sekarang. Mereka sudah lebih kritis. Mereka ingin yang terbaik.”

“Kebanyakan film yang diambil dari buku tidak lebih bagus dari bukunya sendiri. Ya tidak?”

“Ya.”

“Nah, pendapat itu sendiri sudah mempengaruhi penonton. Semua orang akan langsung mengopy itu, meskipun jelas ia melihat sendiri filmnya lebih yahud.”

“Tapi gua bukan jenis itu.”

“Kalau begitu apa yang keberatanmu terhadap film Ayat-Ayat Cinta?”

“Tidak suka saja.”

“Karena kamu lebih senang membaca dan mengikuti khayalanmu sendiri? Itu sama dengan orang yang menikmati setan dan hantu lewat radio. Mereka lebih takut dibandingkan dengan menyaksikan film hantu dan setan. Membayangkan sendiri itu bisa tidak terbatas. Ah, itu kan masalah kejiwaan kamu sendiri, nggak bisa dipakai ukuran menilai.”

“Lho aku juga tidak suka novelnya!’

“Apa?”

“Biar berjuta-juta orang memuja, biar puluhan kali cetak ulang, tapi aku bilang novel itu tidak ada apa-apanya.”

“Gile lhu!”

“Gile apaa. Semua bilang itu novel hebat, makanya dibuat film. Coba kasih satu alasan saja kenapa elhu tidak suka novel Ayat-Ayat Cinta! Apa?”

“Karena gua tidak doyan!”

“Kenapa? Lhu jangan sok menentang arus!”

“Bukan sok. Memang nggak doyan aja. Bukan mau menentang arus. Apa salahnya nggak demen?”

Mereka berpandangan.

“Gua nggak ngerti! Okelah ada yang bilang filmnya tidak sebagus novelnya, tapi menurut gue, novelnya bagus dan filmnya juga bagus! Medianya lain, tak bisa dibandingkan!”

‘Terserah!”

“Lho jangan terserah, kita lagi diskusi ini!”

“Memang! Kita sedang diskusi!”

“Makanya kasih alasan dong! Kamu tidak bisa bilang tidak suka, tanpa alasan!”

“Kenapa tidak?”

“Ya itu dia yang namanya diskusi, elhu mesti beri alasan kalau elhu punya opini Jangan-jangan alasan elhu salah, gua bisa benerin sekarang! Itu baru diskusi.”

“Soal selera tidak bisa didiskusi kan.”

“Bukan soal selera! Lagu keroncong memang bukan lagu jazz, tapi kita bisa bandingkan mana di antaranya lebih baik menurut jenisnya. Mesti pakai otak dalam menilai!”

“Aku tidak menilai pakai otak tapi rasa!”

“Apalagi rasa!”

“Maksud lhu?”

“Perasaan lhu itu pasti ada sebab-sebabnya. Kalau tidak ada sebbnya, kamu tidak bakalan punya rasa. Orang bilang bir itu manis, karena dia sudah biasa minum. Bagi gua bir itu rasa kencing kuda. Jadi rasa tidak begitu saja ada, tetapi didorong kebiasaan. Nah elhu bilang film Ayat-Ayat cinta dan novelnya jelek, kenapa?”

Yang ditanya tidak menjawab.

“Jawab dong. Ntar lagi pintu biokop 4 dibuka, gua mau nonton Ayat-Ayat Cinta. Untuk kelima kalinya!”

“Kelima?”

“Yes! Bahkan besok untuk keenam kalinya, sebab aku diajak oleh bekas pacarku!”

“Gila! Bekas pacarmu? Mau rujuk?”

“Nggaklah. Doi juga ikutan. Kita ini kan generasi X yang tidak perlu musuhan sama mantan. Biasa-biasa saja. Tapi kenapa lhu nggak suka sama novel dan film Ayat-Ayat Cinta? Kasih satu alasan saja. Kalau tidak bisa satu, setengah okelah! Gua penasaran! Kenapa? Kapan lhu baca? Di mana lhu nonton?”

“Gua belum pernah baca dan belum pernah nonton!”

“Sialan! Lhu memang ‘indonesia’ banget!”

15 responses to “Ayat Ayat Cinta

  1. Doh, kita kok bisa sama2 nggak suka AAC dengan alasan yang sama sih? Belum baca, belum nonton, dan nggak menyempatkan diri untuk baca & nonton, karena lebih memilih banyak buku lain. Tak kenal maka tak sayang, tapi biarlah.

  2. “sialan, lhu memang indonesia banget”

…kalimat yg sarat akan makna….Tentu saja bisa posif ato negatif…

  3. ini yang berdialog putu wijaya sendiri yah?

  4. too much hype, banyaknya perhatian kepada film/buku ini dari media tidak mencocoki kualitas filmnya sendiri.

  5. Cerita (pendek?) yang dahsyat. Dialognya punya metafora tersendiri. Dengan ending yang tak terduga. Mantap!

  6. Ehm. Suka novel A2C atau Film A2C adalah pilihan. kalau saya mensyukuri karena baik di novel dan filmnya tidak saja memberi edukasi tapi juga pesan moral. Salam pak.

  7. wah Pak Putu,,,pertama kali liat judulnya,,,, udah males buka,, tapi waktu baca isinya…tertohok saya,,, cuma tambahannya,,, saya memang tidak begitu suka dengan novel2 roman,,, karena yah,,, banyak alasan…
    dan juga,,, sebenarnya udah baca setengah,, tapi memang rasanya jadi bosen, jadi nggak diterusin,,, nonton? juga belum hem,,, Salam juga ya Pak,,,

  8. wah Pak Putu,,,pertama kali liat judulnya,,,, udah males buka,, tapi waktu baca isinya…tertohok saya,,, cuma tambahannya,,, saya memang tidak begitu suka dengan novel2 roman,,, karena yah,,, banyak alasan…
    dan juga,,, sebenarnya udah baca setengah,, tapi memang rasanya jadi bosen, jadi nggak diterusin,,, nonton? juga belum hem,,, ,,,

  9. jadi malu…[pas baca cerpen ini]

  10. “Cerita (pendek?) yang dahsyat. Dialognya punya metafora tersendiri. Dengan ending yang tak terduga. Mantap!” -> itulah keahlian pak putu wijaya😀

  11. wah, bagus banget!
    endingnya juga bagus. rasanya pengen langsung meledak ketawanya (iya, cuma ‘rasanya’, soalnya kalo ketawa kenceng-kenceng nggak mungkin karena sedang di kantor)

  12. Ahahhahaha.. kirain. ya ampun pak, nice story!!

  13. Pak Putu.. tidak sia-sia saya baca tulisan2 bapak… penuh dengan kritik2 sosial! Keren, pak!!! Dinner bareng yok, pak.. supaya bisa diskusi hehehehe..

  14. kalo saya termasuk yg suka bangeeettt dengan novelnya dan agak kecewaaaaa dengan filmnya. hehe…
    ya bukan bermaksud ngga’ menghargai hasil kerja Mas Hanung dkk, tapi ya gimana lagi… wong saya lebih menikmati ketika baca novelnya dibanding ketika nonton filmnya.

    oiya, ato mungkin gara2 waktu baca novelnya, saya baca dengan cara legal, dan waktu nonton filmnya saya ngopy bajakannya dari temen. aduu.. maap ya mas Hanung. hehe –>Ghua memang Indonesia banget. hahaha..

  15. menurut saya, novelnya bagus kok. filmnya juga bagus, cuma kalo dibandingin, masih menurut saya, bukunya tentu lebih keren. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s