Indah

“Jadi walau pun kita sulit makan, kita juga berkewajiban untuk ikut serta, berperan serta dalam pembudidayaan tanaman langka itu?” tanya Alung dengan sinis kepada penceramah dari kelurahan.

Petugas itu menjawab tegas.

“Betul, Pak Alung. Semua orang. Tidak laki tidak perempuan. Tidak kecil dan tidak besar, semua harus ikut!”

“Tidak kaya tidak miskin!”

“Betul, Pak Alung! Tidak kaya atau miskin, semua kita harus mendukung program ini! Dengan cara mulai sekarang, menanam pohon-pohon yang sudah langka, tidak menebang pohon yang sudah langka dan merawat pohon yang sudah langka, walau pun itu bukan milik kita. Sebab pohon itu adalah kekayaan alam kita, milik kita bersama!”

“Bagaimana dengan pohon bakau, Pak?” cecer Alung.

“Pohon apa itu?”

“Itu lho pohon yang tumbuh di rawa-rawa yang biasa ada di pantai!”

Petugas kelurahan yang masih muda itu bingung.

“Yang mana ya?”

“Ya sekarang sudah tidak ada lagi. Dulu di Ancol banyak. Tapi sekarang sudah jadi lahan hunian karena diuruk. Maka arus air berubah. Ikan-ikan pun melakukan migrasi besar-besaran. Para nelayan kehilangan nafkah. Banjir di pantai lain”

“Apa itu termasuk pohon langka?”

“Ya kalau sekarang udah tidak banyak lagi, pasti akan langka. Pohon beringin juga yang ditebangi terus karena terlalu besar dan lebih baik lahannya dipakai bangun rumah, lama-lama akan jadi pohon langka. Coba ada berapa banyak pohon beringin yang masih ada di kota ini? Lama-lama nanti Bapak akan menganjurkan kami menanam beringin. Bayangkan saja, satu pohon beringin bisa untuk hunian sepuluh keluarga. Ya kan Pak? Pohon beringinnya hidup, tapi kami nanti jadi langka, karena mati satu per satu tidak punya rumah dan tidak ada yang memelihara! Kami ini sebenarnya pohon langka yang harus dipelihara itu, Pak!!”

Semua orang tepuk tangan. Petugas kelurahan itu juga ikut tertawa.

“Terimakasih pak Alung sudah menghibur kita. Memang kalau terlalu serius tidak baik. Dengan memakai humor seperti Srimulat, segalanya bisa masuk dengan ramah. Saya kira itu yang sekarang banyak dipakai oleh para pemimpin kita. Kalau ada banjir, kedele melonjak harganya, semuanya harus ditanggapi dengan senyum bahkan penduduk ibukota sendiri yang setiap tahun kebanjiran, kata pejabat kita masih biasa tersenyum. Terimakasih Pak Amat eh Pak Alung dan terimakmasih semuanya sudah mengikuti penjelasan ini dengan tertib. Ada pertanyaan?”

Tidak ada pertanyaan. Bukan karena tak ada yang mau ditanyakan, tetapi karena ceramah itu sudah terlalu lama. Sudah banyak yang ketiduran dan bosan mendengarnya. Amat sendiri diam saja, seakan-akan sudah puas.

Tapi di rumah Alung ngamuk di meja makan.

“Terlalu! Gua diajarin oleh anak ingusan kemaren sore!” katanya marah-marah, “aku ini keturunan petani. Tanpa diajar pun aku suka tanaman. Aku berpikir seribu kali sebelum menebang pohon. Bahkan menebang pohon pisang pun aku masih mencari-cari dalam mimpi, apakah aku tidak membunuh hak hidup pisang itu. Bukankah kalau dibiarkan tumbuh akan membuahkan pisang yang bisa kita makan? Makanya waktu kebun mau dipinjam untuk dipakai pemilihan lurah dan pohon-pohon ditebangi aku marah. Sekarang gua dicekoki anak kemaren sore yang di rumahnya sendiri tidak ada satu jengkal tanah pun untuk tumbuh pohon. Ini kacau!”

Bu Ane membiarkan saja suaminya ngoceh. Karena sembari ngoceh, lelaki itu terus saja makan, sampai tambah 3 kali. Tak ada perempuan yang tidak bangga kalau suaminya melalap masakannya sampai tandas.

Ani yang pulang telat, bingung, karena tidak ada sisa makanan.

“Bu, mana makanannya kok habis, Ani lapar ini!”

Bu Ane menunjuk ke suaminya yang sudah mendengkur di kursi karena kekenyangan. Mukanya menghadap ke layar televisi, tangannya memegang koran, tetapi ia tidur pulas.

“Dihabisin babe ya?”

“Ya. Mungkin dia pikir kamu jajan di luar.”

“Jajan apaan. Ani kan lagi nabung untuk nanti ke Bali akhir semester. Biasanya Babe makannya sedikit kan!?”

“Ibu juga kira begitu. Padahal Ibu tadi masak sayur lodeh yang selalu dicacad itu. Masak sayur lodeh lagi, sayur lodeh lagi, sekali-sekali bikin burger atau spagetti kek, katanya. Ibu kesel. Akhirnya Ibu masakin sayur lodeh tok. Eh tahu-tahunya habis.”

“O jadi Ibu hanya masak sayur lodeh?”

“Ya. Kenapa?”

Ani mencibirkan bibirnya. Ibunya cepat berdiri mau ke dapur.

“Sudah jangan marah-marah. Masih ada sisanya, Ibu sembunyikan. Ayo makan, nanti masuk angin.”

Ani menggeleng.

“Wah kalau sayur lodeh sih, biarin saja habis. Ani sudah makan Kentucky Fried Chicken kok tadi ditraktir sama dosen.”

Ani langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Bu Ane ketawa.

“Nah bener kan. Begitu kelakuan anakmu itu, Pak. Kalau tidak ada ditanyakan. Kalau ada disia-sia! Sama saja dengan tanaman langka itu! Bagus dia langka, jadi terpaksa sekarang mulai dirawat lagi!”

Alung membuka matanya.

“Dan kalau aku tidak tidur, aku juga tidak akan tahu, Ani itu lebih suka makan ayam goreng penuh kolesterol itu daripada sayur lodeh ‘made in’ Bu Ane.”

“Makanya belajar mensyukuri sesuatu, jangan cepat marah!”

“Sudah jangan kasih nasehat lagi, sudah malam. Tapi ngomong-ngomong, betul Ibu masih nyimpan sayur lodehnya? Daripada basi lebih baik aku sikat saja sekarang. Ambil Bu, sayur lodehmu sekali ini enak sekali. Ayo ambil!”

Bu Ane ketawa.

“Ambil apaan, kan tadi juga sudah disikat habis!”

“Perasan tadi bilangnya ada yang disimpan.”

“Habis, tandas!”

Alung meneguk air liurnya. Dia teringat betapa nikmatnya makan sayur lodeh tadi. Sekarang dia seperti orang ngidam. Bu Ane melirik suaminya. Ia jadi kasihan.

“Ya sudah, kalau begitu besok tak masakin sayur lodeh lagi!”

“Jangan, jangan tidak usah!” potong Alung cepat, “masak tiap hari sayur lodeh. Yang bener aja! Langka itu indah!”

2 responses to “Indah

  1. Salam kunjungan.
    Saya mengkagumi tulisan-tulisan saudara.
    Semoga berjaya selalu.

  2. Salam Pak Wijaya,

    Cerpen ini mengingatkan saya kepada cerpen pak berjudul “Pohon” (11 september 1981). Walaupun tema dua cerita ini agak berbeza, tetapi saya dapat merasakan hubungan erat pak wijaya dengan alam sekitar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s