Dan Atau

Setelah reformasi, ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir, desentralisasi pun dipacu. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang, digantikan dengan keseragaman dari pusat, kembali dihidupkan. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan.

Dalam alenia di atas, “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama, tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan.

Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Di dalamnya terkandung kiat, resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Tetapi berbeda dengan norma, kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama, kearifan lokal tidak mengandung sanksi. .Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan.

Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja, tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan, sampai ke masa yang akan datang.

Kearifan lokal yang unggul, menjadi semacam falsafah kehidupan. Misalnya saja, apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali, yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktup-suasana. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal, dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan.

Kearifan yang yang tidak unggul, tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan, atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya, sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan, tetapi justru penggganggu. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal.

Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Sementara kearifan lebih pada akal saja.

“Dan atau” di alenia pertama tulisan ini, menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan.

Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, timbul perdebatan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak.

“Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat, juga awam pada umumnya, terhadap pertanyaan tersebut, memang hanya dua. Satu pihak tegas menolak, pihak lain tegas minta diteruskan. Ya dan tidak, ya atau tidak. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas.

Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense), tidak membedakan jenis kelamin pelaku , dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak, “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum.

Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum, tetapi juga secara hukum, dipastikan berstatus tertentu, tak bisa diperdebatkan lagi, “dan atau” dipakai. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian.

Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu, membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Di alam resensi sebuah pertunjukan, misalnya, sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan ; cukup baik sekali; masih belum sempurna sekali; sering sekali masih kurang siap.

Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Atau tidak mampu menilai, sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan?

Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan.

Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia, tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Kalau ini benar, maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap.

Dalam alenia di atas, “dan atau” mengandung keraguan. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia, yang saling bertentangan. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja.

Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu, sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. Karena keterbatasan juga berarti lentur, supel “dan atau” fleksibel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s