FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan

Dalam peringatan ulang tahun ke-2 FTI (Federasi Teater Indonesia) di Teater Studio TIM, di atas panggung, Didi Petet bertanya, apa gunanya teater, apa gunanya gedung pertunjukan ini? Slamet Raharjo kemudian melanjutkan dengan gugatan, mengapa teater tidak lagi seberingas seperti masa-masa Rendra di tahun 70-80an, menyuarakan hati nurani rakyat?

Saya ingin berdiri dan menjawab. Datanglah ke Festival Teater Jakarta 2006 dan 2007. Lihat apa yang dilakukan oleh Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode. Tengoklah ratusan pengunjung memadati ruangan pertunjukan, terlibat tanpa memikirkan untung-rugi dan lebih-kurang teater. Walau Jakarta lagi banjir, macat dan barangkali banyak di antara pengunjung yang hanya pas-pasan ongkos transport, mereka hadir. Mereka menunjukkan teater – sebagaimana juga film Indonesia — masih ada dan mereka mencintainya dengan cara mengunjunginya.

Tetapi ternyata kemudian saya hanya memilih terpaku saja. Tak berani ngomong apa-apa. Bukan saja karena takut, sebab kedua mereka itu adalah orang-orang hebat di dalam teater, tetapi juga karena ada kemungkinan, jangan-jangan mereka benar. Meskipun sudah terasa tak akrab lagi dengan teater, karena waktu keduanya tersita untuk mengabdi film, ucapan mereka sebenarnya mengandung rasa. Di dalamnya ada kekecewaan bahkan sinisme yang sebenarnya bisa dikenali bersumber dari sayang.

Cintalah yang membuat orang sayang, tetapi juga sekaligus benci. Kedua emosi itu adalah dinamika dari sebuah pertumbuhan, tanda sesuatu itu masih bergerak, mengalami pasang-surut, berdegup, walhasil hidup.

Saya terus tak menjawab setelah pertemuan berakhir, karena percaya cinta mereka pada teater sebenarnya tak pernah luntur. Hanya saja mereka sedang memainkan sebuah peran karena di depannya mencorong ratusan pasang mata. Insting mereka sebagai pemain pasti berbisik, mesti ada sesuatu yang memikat untuk menyekap perhatian penonton. Itu sudah seni laku.

Atau semua itu terucap karena memang kurang pandangan. Mereka begituj sibuk di tempat lain, tak ada waktu lagi untuk elihat semua yang terjadi. Padahal tak hanya langkah-langkah besar yang menentukan. Langkah kecil pun menjadi kunci. Apalagi ketika teater sudah mulai mencoba memasuki pasar.

Sebelum TIM berdiri pada 1968, teater adalah benda asing dalam tontonan Indonesia. Teater tradisi, teater rakyat, memiliki seluruh wilayah tontonan. Teater yang dieknal sebagai sandiwara hanya terselip dalam malam perpisahan sekolah atau peringatan hari-hari bersejarah. Ada memang usaha untuk membuat teater menjadi hadir sebagai sebuah cabang kesenian yang utuh, tetapi banyak kendala yang harus dihadapi.

Tak ada gedung khusus untuk teater. Naskah-naskah teater sangat sedikit ditulis. Tak ada orang yang ingin melihat teater sebagai sebuah profesi. Teater hanya hobi. Sampai kemudian ATNI berdiri. Teater mulai dilihat sebagai ilmu. Sesuatu yang harus dipelajari dan menjanjikan masa depan (minimal waktu itu sebagai pemain film). Kemudian TIM berdiri. Ada gedung pementasan teater. Ada fasilitas. Dan DKJ menyelenggarakan sayembara penulisan naskah. Naskah-naskah teater mulai lahir. Semuanya itu langkah besar.

Tetapi ketika Bengkel Teater menampilkan bentuk teater yang baru seperti mini kata. Ketika Rujito mengolah set panggung tidak dengan membangun set tapi cukup dengan kain-kain, level dan tata lampu. Ketika Teater Populer membangun p;ublik teater. Ketika Teater Kecil memasukkan surealisme dan rejiusitas. Ketika STB menggali idiom Sunda. Ketika Teater Mandiri, Teater Sae, Teater Kubur, mengganti kata-kata dengan idiom-idiom visual. Ketika Teater Saja memakai teater untuk statemen politik. Ketika Teater Koma menegakkan teater yang musikal. Ketika Teater Gandrik, mengangkat citra ketoprak. Ketika Teater Payung Hitam, Teater Garasi membawa pendekatan dengan cara resort sebelum melakukan pementasan. Dan sebagainya.

Ketika semua langkah-langkah itu terjadi dalam saat yang bersamaan, perhatian masyarakat pun terpecah. Semuanya menjadi pernik-pernik yang tidak terawasi lagi, apalagi tidak dilaporkan dengan rajin dan akurat, bahkan sering keliru oleh para pengamat yang tidak benar-benar menguasai medianya. Maka langkah-langkah itu menjadi langkah-langkah kecil yang nyelimet. Penonton yang ingin menikmati pertunjukan tak mau pusing.

Langkah-langkah itu baru akan kelihatan, kalau orang memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Itu memerlukan waktu. Memerlukan kesabaran. Tapi lihatlah apa yang terjadi pada penonton ketika daua orang actor itu, satu lulusan IKJ dan satu lagi karbitan ATNI berbicara. Setuju atau tidak pada apa yang mereka katakan, semua penonton terpukau. Mereka tidak melihatnya sebagai sebuah opini, karena itu memang bukan diskusi.

Penampilan Didi dan Slamet dalam ultah FTI itu menjadi tontonan memikat, sebuah pertunjukan sendiri padahal konon tidak dirancang sebelumya. Didi mengaku ditodong tampil memngisi acara. Tapi walau tanpa persiapan, keduanya melakukannya dengan bagus. Keduanya sudah berhasil menciptakan teater paling tidak sekitar 15 menit. Bukan saja karena keduanya tampil bagus, tetapi karena penonton sendiri sudi mendukung dengan seluruh perhatian. Penonton nampak terlatih untuk menonton. Apa lagi namanya itu kalau bukan apresiasi.

Membina apresiasi penonton adalah bagian dari kerja besar teater. Itu adalah salah satu hasil konkrit. Orang berdebat tentang bagaimana menumbuhkan apfresiasi masyarakat. Tetapi ketika itu sudah terlaksana, orang lupa menilainya. Saya merasa berkewajiban untuk memamerkan itu sebagai sebuah upaya teater yang dilupakan, karena orang terlalu sibuk bicara tentang bagaimana meningkatkan apresiasi. Sudah waktunya untuk menghhentikan kezaliman itu.

Siapa bilang teater sudah tidak beringas lagi. Tiga dasa warsa yang lalu, dua orang yang diminta untuk membuat sambutan, mungkin akan berbicara formal sehingga yang terjadi bukan pertunjukan tetapi ceramah yang menyebalkan. Dari mana datangnya kepiawian Didi dan Slamet, kalau bukan dari sebuah dapur penggodokan yang suah bekerja keras. Didi di IKJ dan Teater Koma serta Didi Sena Mime. Slamet dari ATNI dan Teater Populer. Dua tungku yang pernah menyala dengan kobaran hebat di masa lalu. Tetapi kini masih berkobar walau tak banyak terlihat karena tertutup oleh peristiwa lain.

Saya mungkin sudah mendramatisir. Tetapi bagaimana tidak, agar yang tidak terlihat bisa kelihatan. Yang terlewati menjadi keluar benang merahnya. Teater membuat segala sesuatu terdramatisir agar terproyeksi hingga penampakannya lebih nyata pada seluruh penonton. Tetapi sebaliknya, teater juga bisa membuat segala penampakan menjadi samara alias tak kelihatan, yang sangat berguna untuk menghindari berbagai penjegalan.

Dalam keadaan yang tak kelihatan, ekpspressi lewat teater memang tak semua orang dapat langsung mengidentivikasinya. Karenanya perlu perhatin, referensik dan interpretasi. Teater sering memberikan PR. Kebetulan bidang pengamatan/telaah yang seharusnya dijaga dijaga oleh kritik, pada kehidupan tater kita lemah. Maka mata masyarakat setengah buta dalam teater – bahkan pada umumnya di semua bidang kesenian. Banyak hal di dalam teater menjadi tidak nampak.

Tetapi rasa cinta, tak harus dimulai dengan penampakan. Dia adalah rasa. Dan itu suka tidak suka, disadari atau tidak, akan terus tumbuh di luar kekuasaan kesadaran. Entah orang itu bernama Didi atau Slamet, atau setiap orang yang hadir pada malam itu. Kalau tidak, tak mungkin malam ulangn tahun Federasi Teater Indonesia itu kursi terisi penuh.

Teater masih terasa menyala di dalam dada semua yang hadir malam itu. Juga masih kenyal mengendap pada para pendukung dan penonton FTJ yang belum lama berlangsung di tempat yang sama. Itu membuktikan teater masih memiliki harga. Walau pun kursnya pada setiap pribadi berbeda-beda.

Harga itulah yang menjadi penanda bahwa teater masih sama dengan yang dulu. Hanya sudut memandang saja yang membuat kesimpulannya jadi bisa bertentangan. Masing-masing orang, kembali kepada selera yang dibentuk oleh lingkungan dan fokusnya.

Seperti terhadap makanan, pandangan pada teater pun diwarnai oleh selera. Sehingga wajar saja seorang pecandu ketoprak akan muntah kalau disuguh dengan spageti. Dan sebaliknya. Jadi wajar saja penonton yang mengharapkan teater memiliki komitmen sosial ala Rendra di tahun 70-an kecewa melihat teater-teater visual seperti Yel (Teater Mandiri, 1990), misalnya. Melihat Yel di Washington State, seorang professor ahli politik Indonesia bertanya heran, apa pertunjukan itu dapat izin keluar dari pemerintah.

Bicara tentang tiga dasa warsa yang lalu, perbedaan selera itu sudah ada. Teater Populer dengan Teguh Karya, sudah meracik realisme yang membuat lingkaran penonton setia khususnya di Hotel Indonesia. Sementara Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer menebarkan selera sangat berbeda yang dengan lingkaran penonton yang juga setia. Apalagi Bengkel Teater dengan W.S. Rendra, membetuk model selera yang lain lagi. Paling tidak ada 3 “restoran” teater pada masa itu di Jakarta. Belum lagi hidangan STB (Suyatna Anitun) dan Teater Lembaga (Wahyu Sihombing, Pramana Pmd, Djajakusuma). Serta berbagai kelompok teater dari Medan, Surabaya, Banjarmasin.

Komitmen sosial pada teater yang pada tahun 70-an memang sangat dimulyakan. Waktu itu seni umumnya memang menjadi seperti ujung tombak. Situasi tertekan, langkanya kebebasan berekspresi, menyebabkan luapan emosi mengalir ke wilayah-wilayah bawah tanah. Dan teater sebagaimana juga yang sudah ditemukan oleh berbagai pengamatan mendalam, memang menampung seluruh ledakan emosional yang terlarang diekspresikan secara biasa. Konon teater bawah tanah selalu berkembang subur justru pada situasi yang penuh tekanan.

Gerakan moral reformasi untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Orde Baru yang dimulai 1998 sudah dilakukan secara begitu spektakuler dan teateral. Itu sebuah peristiwa yang luar biasa di dalam sejarah Indonesia sesudah revolusi, penumbangan Orde Lama dan persitiwa Malari. Tak hanya kegaduhan, ketegangan, tetapi juga terselip penjarahan, kekejian dan korban nyawa manusia.

Apa lagi yang bisa dilakukan teater agar bisa lebih dahsyat lebih teateral dari seluruh rentetan kejadian yang masih berbuntut panjang sampai 10 tahun sekarang ini, demikian tulis salah seorang pengamat. Teater yang keras, kasar, frontal dan konkrit menyuarakan kebutuhan rakyat kecil, kini sudah muncul di jalanan dalam berbagai demo. Bukan hanya di TIM dan GKJ, di mana-mana, di media massa, televisi, radio, ceramah, diskusi, peradilan, olahraga, kehidupan selebriti lewat infoteinmen, sidang-sidang wakil rakyat, bahkan dalam renungan-tenungan relejius dan out bond, teater sudah digelar.

Karena perannya sudah diambil-alih gerakan masa, di samping tak punya penyandang dana, teater kembali kepada hiburan, perenungan, penjelajahan dan pencarian-pencarian idiom baru. Suaranya pun kemudian kalah bising dibanding dengan berbagai teriakan para politikus. Tetapi bukan berarti teater tidak bicara. Suaranya pun masih ada. Hanya untuk itu diperlukan sedikit keringat untuk kesudaian mengarahkan mata, menajamkan telinga dan memberikan dalam tanda kutip: cinta.

Festival Teater Jakarta yang sudah 2 kali penyelenggaraan ini (2006 dan 2007) direbut kembali oleh DKJ, adalah sebuah suara. Sebagai sebuah suara, memang bila harus diukur dari kehebohannya, teater jelas kalah. Bersaingan dengan suara kepanikan kenaikan harga bensin dan kedele, teater akan keok Melawan ramainya ekspressi kebencian menghujat pencaplokan hak cipta batik, angklung dan reog yang dicaplok, teater tak akan berdaya. Apalagi berita sakit dan meninggalnya Pak Harto, tak akan mampu disaingi oleh teater.

Tapi jangan lupa, semua yang membungkam teater itu, adalah juga sebuah peristiwa spektakuler. Walhasil sebuah teater juga. Apa yang dulu hanya bisa terjadi di atas pentas, kini menular dan terproyeksikan secara konkrit dalam kehidupan. Khususnya sesudah reformasi, ketika hukum tak berdaya lagi menghadapi berbagai gejolak di dalam masyarakat yang semakin tak terkendali bahkan nyaris “liar”. Apa yang mendorong itu terjadi, kalau bukan hasil “pelatihan” teater? Teater punya andil untuk membuat masyarakat lebih vokal dan ekspresif.

Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 70-an mencetuskan sikap baru dalam penciptaan, pemaknaan dan penikmatan seni rupa. Galeri bukan satu-satunya lagi tempat untuk memajang karya. Jalanan pun bisa. Di mana-mana bahkan apa pun bisa. Anda boleh menunjuk pada batu dan berkata, itu karyaku, asal Anda mampu meyakinkan orang. Konsep tentang apa itu karya, telah merangkul seni pertukangan, sehinggga seniman bisa/cukup menelorkan konsep, kemudian dengan tukang-tukang sebagai pelaksana karyanya. Revolusi/evolusi tersebut secara simultan juga terjadi pada bidang seni lain (tari, musik). Saya menyebutnya sebagai: “tradisi baru”.

Tradisi baru adalah usaha (yang kemudian menjadi tradisi) untuk memetakan/menilai karya seni Indonesia tidak lagi pada hanya referensi Barat. Tetapi mengembalikannya pada seluruh pencapaian yang sudah terjadi di Indonesia . Untuk teater khususnya sesudah berdiri TIM, 1968.

Di dalam teater, menilai karya teater tidak lagi mutlak satu-satunya tanpa ampunan dari referensi teater Barat. Barat dengan seluruh pencapaiannya, tetap hanya sebagai salah satu referensi saja. Yang utama kiblatnya adalah seluruh puncak-puncak pencapaian teater yang terjadi di Indonesia. Karena itu berasal dari sebuah pencapaian penggalian sukma teater tradisi dan persentuhannya dengan kenyataan masa kini.

Sebagai contoh: pementasan Mini Kata, Odipus, Barjanji, Hamlet dari Bengkel Teater; pementasan Kapai-Kapai, Mega-Mega dari Teater Kecil; pementasan Jayaprana, Perkawinan Darah, Machbet dari Teater Populer; pementasan STB, pementasan Dongeng Dari Dirah, Metha Ekologi oleh Sardono W. Kusumo, pementasan Aduh, Lho, Ngeh dari Teater Mandiri, pementasan Bom Waktu, Opera Kecoak, Sampek Engtai dari Teater Koma, pementasan dari Teater Kubur, Teater Sae, Teater Payung Hitam, Teater Garasi, Teater Gandrik dan lain sebagainya. Itu semua bukan hanya sekedar pementasan, tetapi referensi.

Memang sayang sekali, dalam soal dokumentasi teater Indonesia sangat lemah. Para pengamat pun tidak mencatat dengan lengkap pencapaian mendasar apa saja yang sudah ada di balik karya-karya tersebut. Sebagai akibatnya, segala yang pernah dicapai, tidak menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya.

Tak sedikit kejadian apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah detemukan, jatuh-bangun dicari lagi untuk kemudian dirayakan kembali sebagai temuan baru. Inilah salah satu penyebab mengapa teater seperti berjalan di tempat bahkan mungkin mundur (kalau boleh memberi interpretasi bebas pada apa yang dikemukakan oleh Didi dan Slamet). Keadaan itu itu akan berbeda bila cara atau sudut pandangnya diubah.

Fakta menunjukkan bahwa FTJ telah berlangsung 35 tahun tanpa sekali pun pernah alpa. Itu sejarah yang tidak mudah dicapai. Tapi apa pentingnya sebuah sejarah? Hanya untuk sekedar tumpukan data? Atau kebanggaan barangkali. Kebanggaan apa lagi? Indonesia yang memiliki teater tradisi sebagai gelontongannya warisan budaya di berbagai wilayah saja, terbengkalai. Hidup tak hendak, mati tak ingin. Apakah teater modern Indonesia ingin menambah beban?

Wahyu Sihombing, dedengkot DKJ yang menjadi bidan lahirnya FTRJ (Festival Teater Remaja Jakarta) , mungkin tak membayangkan bahwa festival yang dimulainya itu akan berlangsung hingga 3 dasa warsa. Tujuan awalnya hanya menambah kelompok teater pemasok pertunjukan rutin di TIM selain yang sudah ada: Teater Populer, Teater Kecil, Bengkel Teater. Bagi pemenang 3 kali festival diberikan kesempatan menyandang predikat senior yang berhak main di TIM dengan mendapat subsidi biaya produksi dari DKJ. Pada masa itu mutlak DKJ merancang seluruh program TIM. PKJ TIM hanya pelaksana, kalau pun mau membuat program harus dengan persetujuan DKJ.

Dalam kenyataan, lulusan FTRJ pamornya tak setara dengan kelompok senior terdahulu. Hidupnya sebagai kelompok pun tidak segigih kelompok senior yang dipimpin oleh tokoh sentral yang begitu perkasa sehingga nyaris seorang pemimpin spiritual. Belakangan FTRJ merasa perlu melepaskan predikat “remaja”, lalu menjadi FTJ. Tetapi pelaksanaannya menjadi rutin, karena biaya menipis dan diserahkan kepada Dinas Kesenian yang sepenuhnya ditangani Gelanggang-Gelanggang Remaja.

Ketika ada pertemuan memperdebatkan apakah FTJ harus dibubarkan, lalu diganti dengan kegiatan baru, saya melakukan pembelaan. FTJ harus direbut dan dipertahankan. Sebagai sebuah sejarah, FTJ bukan hanya sekedar seremoni rutin untuk menghabiskan anggaran dana. FTJ telah menjadi kantong yang menampung mula-mula ribuan remaja di seluruh Jakarta untuk berekspresi dengan wadah yang sehat. Teater tidak sekedar melatih remaja itu menjadi seniman, tetapi mengajarkan kiat-kiat hidup yang sangat berguna bagi mereka nanti kalau terjun ke masyarakat. Antara lain yang amat penting, bagaimana belajar bekerja sebagai sebuah tim.

Setelah 35 tahun, banyak partisipan FTJ tidak remaja lagi, tetapi mereka terus setia mengikuti festival. FTJ menjadi semacam komunitas besar untuk bertemu, bergaul dan berbagi pengalaman. Sebagai hakekat dari semua festival kesenian, festival menjadi sebuah investasi kultural yang hasilnya tidak bisa ditakar dengan waktu, volume dan angka. Bagaikan sebuah oase yang tetap menyediakan harapan, ada maupun tak ada musafir yang akan lewat, festival adalah sebuah uluran tangan sekaligus therapi sosial dalam masyarakat yang sudah semangkin kompleks seperti Jakarta, yang konon dipenuhi oleh berbagai jenis orang “gila”.

Jakarta memerlukan banyak kantong-kantong penggembosan, pengembangan, pembelajaran, perenungan, selain berbagai institusi formal yang sudah ada. Dan saya mengucapkan syukur ketika DKJ yang baru, dengan tidak ragu-ragu merebut kembali FTJ. Dalam dua kali gebrakan, hasilnya konkrit. Dari hampir 60 peserta di tahun 2006, meningkat menjadi hampir 90 peserta di tahun 2007.

Orang selalu melecehkan kwantitas dan memulyakan kwalitas. Dalam sebuah keramaian festival, kwalitas dan kwalitas saling tunjangp-menunjang. Tak mungkin hanya kwalitas. Kwantitas akan membawa kesemarakan dan melahirkan iklim berkompetisi yang lebih seru. Perimbangan keduanya akan menciptakan bukan saja pesta tetapi juga peristiwa kesenian. Dan sebuah peristiwa kesenian yang menjadi pesta adalah tanda apresiasi kesenian – dalam hal ini teater, tidak hanya untuk kesemarakan teater sendiri, tetapi berguna juga bagi kehidupan pada umumnya.

Penyelenggaraan FTJ oleh DKJ nampak jauh lebih serius dan professional. Di samping ada kompetis, juga ada diskusi dengan tema yang sudah dipilih oleh steering commeety. Ada pameran dan kemudian workshop disertai dengan pemutaran-pemutaran video pertunjukan.

Pedoman festival yang sudah berusia 35 tahun, diolah kembali. Festival tidak lagi menempatkan dirinya sebagai lembaga pembibitan, tetapi kompetisi yang terbuka. Pemenangnya hanya satu kelompok terbaik. Dimungkinkan juga diikuti oleh kelompok dari luar Jakarta (bahkan mancanegara) dengan melalui seleksi oleh kurator yang ditunjuk DKJ. Di Jakarta sendiri, festival tetap dimulai dengan seleksi di Gelanggang. Pemenang tahun sebelumnya bisa langsung ikut pada babak final.

Dengan peraturan yang yang disempurnakan itu, FTJ menjadi kantong budaya yang melebar. Kelompok teater di Jakarta juga akan tertantang untuk lebih berbenah, karena untuk menang tidak cukup hanya jadi macan kandang. Ini sebuah langkah yang sangat penting, untuk mengubah ekses psikologis yang terbawa oleh adanya tempelan kata “remaja” dalam festival.

Istilah remaja mengandung makna pengampunan. Secara tak disadarai istilah itu mendorong pada situasi, akan-akan karena masih remaja, kelompok teater itu dimaklumi untuk belum professional. Ditolerir untuk masih membuat banyak kesalahan. Diperbolehkan untuk tetap berjiwa remaja. Walhasil teater oleh anak-anak remaja dan untuk kalangan remaja. Padahal sejak awal festival, Teater Ibukota pimpinan Abdi Wijono, misalnya, telah menunjukkan kematangan dengan menampilkan pertunjukan Aduh.

Kata remaja kemudian menjadi racun yang, sadar tidak sadar, menghambat penjelajahan. Kedalaman pun tak terjadi. Komitmen ala kadarnya. Teater diseret untuk setia pada batasan umur tertentu. Apalagi pada kenyataannya banyak sekali kelompok teater yang pemainnya adalah anak-anak sekolah. Teater pun seperti dipatok pada eksplorasi sekitar anak sekolah.

Walaupun banyak peserta festival yang usianya sudah tua-tua, tuntutannya berkelanjutan masih tercekoki remaja. Usahanya pun menjadi terbatas. Masalah-masalah elementer di dalam pementasan, seperti interpretasi, pengemasan pertunjukan, pengemasan produksi, menjadi terus remaja.

Di dalam FTJ yang sudah direbut oleh DKJ, masih ada riak-riak suasana tersebut. Kendati kehadiran Teater Indonesia, Study Teater 24 dan Teater Mode, sudah menunjukkan kecendrungan professional, ancaman penyakit itu masih terasa menghambat. Dalam kelanjutan FTJ yang sudah mulai terbuka, kompetisi akan lebih keras. Bila kelompok teater di Jakarta tidak segera berbenah, kemenangan akan direbut oleh kelompok luar Jakarta.

Karena festival sudah meningkatkan hadiah yang diberikan kepada pemenang, festival dapat berlangsung lebih kompetitif dan menarik. Kelompok-kelompok teater yang selama ini dianggap senior, tidak kecil kemungkinan akan ikut berkompetisi. Bila itu terjadi dan sebaiknya dimulai, FTJ benar-benar akan memulai sebuah babakan baru. Tinggal pertanyaan siapkah DKJ sendiri, para pendukung teater sendiri dan kemudian para penyelenggara festival untuk tampil professional.

Menjadi professional berarti melangkah pada satu pijakan yang sama sekali baru. Dalam kualitas, puncak-puncak pencapaian teater di Indonesia tak diragukan lagi adalah benar-benar hasil kerja yang professional. Tetapi dalam kenyataannya, belum ada satu kelompok teater pun di Indonesia yang professional. Semuanya masih bertumpu pada semangat berkelompok sebagai sebuah peguyuban. Dan tak seorang pun yang sudah bisa hidup dari teater di Indonesia.

Teater Koma dan Bengkel Teater, dua kelompok yang memiliki penonton ribuan, dan sanggup main berhari-hari, namun tetap sebuah peguyuban. Organisai dan menejemen produksi Teater Koma, misalnya, sudah terselenggara sangat professional (minimal bila dibandingkan dengan kelompok teater yang lain). Tetapi tidak sebagaimana yang sudah terjadi di dalam produksi film, produksi tidak mulai dengan kontrak. Produksi teater di Indonesia masih merupakan kerja gotong-royong dari seluruh anggota kelompok (dengan ada kemungkinan plus bintang tamu) yang memang disudahi dengan amplop honorarium.

Profesionalitas akan memberikan efek psikologis yang baru. Solidaritas, rasa kekelompokan, gotong-royong yang dibelajarkan oleh teater selama ini, mungkin tidak lagi akan terjadi. Yang ada adalah pekerjaan. Teater akan hadir sebagai professi. Tantangan itu akan membawa suasana baru, yang memerlukan pembelajaran. Sebuah bahan diskusi yang bisa diagendakan di dalam FTJ.

FTJ mungkin akan bertemu nanti dengan sebuah persimpangan yang akan merupakan langkah besar teater Indonesian yang baru. Di satu sisi, akann hadir sebuah mekanisme pasar yang mau tak mau harus didekati dengan pendekatan professional. Di sana teater suka tak suka akan menjadi barang komoditi. Uang akan menjadi sangat penting. Penonton menjadi raja. Dan teater akan menjadi sumber penghdipan yang akan membuat orang tidak segan-segan lagi menyerahkan hidupnya pada teater.

Di sisi lain, teater tetap sebagai sebuah penjelajahan untuk berekspresi secara pribadi. Ini akan menampung semangat pembaruan dan meneruskan kehidupan peguyuban yang membuat teater tetap sebagai tempat pembelajaran kehidupan. Uang bukan tujuan. Dan teater hanya buat mereka yan g bersedia untuk berkorban, mengabdi dan mungkin dimaki-maki.

Dalam kepala saya FTJ adalah sebuah roket yang dapat mengantar teater pada situasi persimpangan tersebut. Tanpa harus memberikan anjuran jalan mana yang lebih baik ditempuh. Dipulangkan mana yang baik pada yang berkepentingan saja.Tetapi untuk itu diberikan persiapan untuk memahami bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan (hiburan), juga gagasan dan wawasan (ilmu), sebuah seni pengelolaan (menejemen), sebuah kehidupan organisasi dan pencarian dana yang harus produktif agar dapat terus menghidupi dirinya sendiri.

Untuk kerja besar dan berat itu, FTJ tak cukup hanya mengandalkan dana dari pemerintah. Bahkan kalau perlu menghindarkannya, apabila itu menghambat. Jadi sebagaimana yang sudah terselenggrakan sekarang, FTJ sedikit demi sedikit menjadi sebuah badan yang mandiri, kendati tetap dikelola DKJ sehingga kebebasannya dalam berekspressi tidak terhambat. FTJ memerlukan lingkaran maecenas atau bapak angkat, tanpa suatu ikatan yang ketat, agar gerakannya semakin lincah, jitu, bebas tetapi terkendali.

2 responses to “FTJ Roket Ke Persimpangan Jalan

  1. Saya berharap seni teater di Indonesia bisa berkembang terus. Dengan inovasi dan kreatifitas insan teater, mudah-mudahan teater tidak lagi hanya sebagai hobi tetapi dapat ditekuni secara profesional shg bisa menjadi sumber nafkah bagi keluarganya sama seperti layaknya para bintang sinetron/film yg bisa mencapai sukses dari segi materi.

  2. Perkembangan dunia digital yang mengglobal di satu sisi memudahkan komunikasi antar pihak dengan mengkompress ruang-waktu. Namun di sisi lain kelimpahan informasi yang diterima oleh perkembangan teknologi komunikasi tersebut justru memisahkan dan mengasingkan manusia dari manusia lain dan sekitarnya.
    Kasus perdebatan teater dan film mungkin sedikit banyak dapat juga dipandang dari sudut tersebut.
    Perkenankan kami memperkenalkan IACI (www.budaya-indonesia.org), sebagai sebuah upaya mencintai dan melindungi budaya nusantara (seni pertunjukan salah satunya) dengan memanfaatkan teknologi yang ‘tidak tradisional’ sehingga diharapkan dapat menjadi ‘open encyclopedia nusantara heritage’ yang terbuka bagi publik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s