Sejarah

Amat berdebat dengan seorang penulis muda sejarah.

“Sejarah itu tidak boleh diutak-atik!”kata Amat.

Penulis itu mendebat.

“Sejarah harus diperbaiki kalau salah, Oom!”

“Sejarah tidak bisa salah!”

“Bisa Oom!”

“Tidak!”

“Bisa!”

“Tidak bisa!”

“Oom kok ngotot! Sejarah itu ditulis oleh manusia. Dan manusia tidak ada yang sempurna. Sudah banyak buktinya sejarah dibelokkan menurut kemauan yang nulis!”

“Itu bukan sejarah!”

Penulis itu tercengang.

“Sejarah itu bukan yang ditulis, tetapi apa yang sudah kejadian!”

“Memang. Tapi bagaimana kita tahu kejadiannya kalau tidak ditulis?”

Amat menggeleng.

“Pokoknya sejarah tidak boleh diutak-atik!”

Penulis muda tertawa. Dia merasa Amat belum sempat minum kopi hari itu, jadi pikirannnya sinting. Sambil senyum-senyum, Pak Amat ditinggalkan. Amat merasa keki. Ia masih penasaran.

“Sejarah itu memang ditulis,”kata Amat kemudian di rumahnya kepada Ami. ” Tetapi berdasarkan fakta. Kalau faktanya terbukti salah, penulisan harus dilakukan kembali, mengganti yang salah dengan yang betul. Tetapi kalau setiap saat ternyata fakta terbukti salah dan penulisan kembali sejarah dilangsungkan berkali-kali, pantas dicurigai, mungkin faktanya ada yang keliru. Yak an Ami?!”

Ami mengangguk.

“Atas dasar pikiran itu,” lanjut Amat,”aku berpendapat, sebelum menuliskan kembali sejarah sehingga bunyinya jadi lain, apalagi bertolak-belakang, terlebih dahulu uji kembali faktanya benar-benar sudah afdol atau tambah menyimpang? Kalau sejarah sudah terlanjur ditulis kembali dengan fakta yang salah, akan sulit untuk dikembalikan lagi. Makanya aku bilang kepada professor kepala batu itu, bahwa sejarah tidak boleh diutak-atik! Ya tidak, Ami?!”

“Betul.”

“Jadi apa aku salah? Apanya yang salah? Kenapa aku jadi disalahkan? Apa hanya karena aku tidak punya gelar, jadi aku dianggap keliru?”

“Tidak.”

“Makanya! Jadi sejarah yang sebenar-benarnya sejarah adalah apa yang sudah benar-benar kejadian. Bukan apa yang ditulis. Tulisan itu kan gampang sekali diutak-atik. Sekarang bilang begini, besok bisa bilang begitu. Semuanya tergantung dari kemauan penulisnya saja. Buat apa percaya itu. Jadi jangan bilang semua yang ditulis itu sejarah!”

Amat lalu mengambil buku sejarah Bali yang ditulis anak muda itu..

“Apa ini sejarah? Mentang-mentang dia yang nulis? Biar pun guru sejarah yang pakai gelar satu meter juga, kalau yang dia tulis ini tidak betul, ini bukan sejarah. Sejarah itu, adalah yang benar-benar kejadian, bukan yang ditulis!”

Bu Amat muncul mendengar suara suaminya berapi-api.

“Soal apa lagi ini?”

Amat langsung menurunkan suaranya, sebab guru sejarah itu ada hubungan keluarga dengan Bu Amat.

“Nggak apa-apa, hanya itu lho, keponakan kita itu, professor sejarah itu sudah menulis buku baru tentang sejarah Bali.”

Bu Amat mendekat dan mengambil buku itu.

“Ya dia rajin. Bapak sudah baca?”

“Ya sudah.”

“Bagus?”

“Ya, namanya juga sejarah. Semuanya yang itu-itu juga.”

“Masak? Tidak ada yang baru?”

Amat tertawa.

“Ibu ini bagaimana. Sejarah itu tidak ada yang baru. Semuanya sudah terjadi.”

“Tapi dia bilang katanya ini banyak yang baru. Lain dari yang sudah pernah ditulis oleh penulis sebelumnya.”

Amat langsung main mata sama Ami. Tapi ketahuan.

“Kok malah main mata. Bapak tidak setuju?”

Amat tersenyum.

“Kalau bicara tentang sejarah, kita tidak boleh setuju atau tidak setuju. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah-ubah. Kalau kita mau mengubah-ubah, itu namanya bukan sejarah, tapi mau merusak sejarah.”

Bu Amat mengernyitkan keningnya.

“Maksud Bapak, ponakanku ini sudah merusak sejarah?”

Amat tak bisa langsung menjawab. Dia mencoba minta bantuan pada Ami, tapi Ami sudah mencium akan bertiup angin buruk, dia buru-buru ke belakang pura-pura kebelet.

“Jadi menurut Bapak, buku ini bukan sejarah?”

Amat tertawa.

“Bukan begitu, Bu. Ponakan kita itu, dengan buku ini sudah mencoba melihat dengan kaca-mata lain. Siapa sebenarnya yang berjasa dan siapa yang hanya kelihatan berjasa tetapi sebenarnya bukan.”

“Bilang saja terus-terang Bapak menganggap ponakanku itu mau memutar-balik sejarah, karena dia sudah menyebut tokoh yang Bapak kritik itu pahlawan!”

“Bukan begitu, Bu. Sebagai seorang anak muda yang sudah memiliki jarak dengan Bali, dia mencoba untuk mendudukkan sejarah setepat mungkin, dia berusaha untuk mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Jadi ….. .”

“Jadi keliru?”

“Bukan keliru. Sejarah itu kan sesuatu yang sudah lewat. Kita hanya tahu separuh-separuh. Jadi setiap saat harus ditelusuri lagi sampai ketemu yang sesempur-sempurnanya. Setiap penulisan sejarah adalah sumbangan untuk kesempurnaan itu.”

“Maksud Bapak, ini pengacauan sejarah?”

“Bukan begitu .. ”

Bu Amat langsung membanting buku itu ke meja. Jantung Amat hampir copot.

“Kalau dia keliru, meskipun keponakanku sendiri, tetap saja keliru! Masak bukan pahlawan dia puji-puji di sini sebagai pahlawan yang berjasa.Malu aku! Dan lebih malu lagi aku sebab Bapak sudah ikut-ikutan latah memuji dia!”

5 responses to “Sejarah

  1. senang sekali akhirnya PTW menjadi seorang blogger. Kalau terpaksa harus jujur, mas Putu adalah salah seorang pelaku tulis yang menceburkan saya menjadi seorang penulis. Gaya penulisan lugas dan menteror sesekali masih mempengaruhi dan menteror pena saya ketika menulis. Salam kenal mas, dan silakan mencelup masuk ke dalam blog saya yang sederhana.

    Tabik!

  2. bapak ini memang luar biasa. tapi aku sedikit tersentak, jika cerpen ditulis seperti esei atau opini seperti ini (dan memang lebih sedap dibaca), apa lagikah guna esei? oh ya, ada Borges, cepernis-eseis itu.

  3. Pak Amatnya plin-plan bener nih, Pak?😆

    Atau nanti kalau Bu Amat didebat orang lain reaksinya juga sama? hehehehe

  4. Pak PTW kalau buat cerpen kayaknya ngga’ pake kening berkerut.

  5. Membaca tulisan-tulisan Mas Putu ini selalu membuatku tambah “ngaceng” dan bergairah. Salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s