Harkitnas

Anna berdiri di depan cermin menilai wajahnya. Ternyata ia memang sudah cukup tua. Lalu ia mulai memoles. Memberi dasar tebal menutupi kerut-kerutnya. Sesudah itu dengan hati-hati membentuk alis, garis mata, hidung, bibir dan kemudian pipi.

Dua jam kemudian ia siap..Di cermin nampak muka baru. Rapih dan terkendali. Ketika Anna senyum, kemudian tertawa, melirik, terbelalak, terkejut, kaget, heran dan sebagainya, semuanya beres. Lalu ia menguji mulutnya berbicara..

Tiba-tiba anaknya muncul.

“Mama ngomong dengan siapa?”

Anna menunjuk ke wajah di atas cermin itu.

“Dengan dia.”

“Siapa dia?”

“Teman baik Mama.”

“Kenapa bibirnya merah sekali?”

“Karena baju yang dipakainya juga merah.”

“Kenapa alisnya kecil sekali?”

“Karena dia cantik.”

“Kenapa dia cantik?”

“Karena dia harus menghadiri upacara peringatan Harkitnas.”

Anak itu berpikir.

“Mama ikut?”

“Ya dong. Mama kan harus memberikan sambutan.”

“Kenapa?”

“Sebab Harkitnas itu sangat istimewa.”

“Kenapa istimewa?”

“Karena Harkitnas itu sejarah.”

“Sejarah itu apa?”

“Sejarah itu adalah sesuatu yang betul-betul terjadi.”

“Bagaimana kalau tidak betul.”

“Harus betul. Kalau tidak betul bukan sejarah.”

Anak itu lalu menunjuk lagi ke cermin.

“Dia juga betul?”

“Ya tentu saja.”

“Mana?

Anna memalingkan wajah anaknya dari cermin agar menatap kepadanya.

“Ini dia.”

Anak itu lalu menatap ibunya dengan kagum sambil berbisik.

“Kamu cantik sekali.”

“Memang.”

“Kamu teman Mamaku?”

“Ya.”

“Tapi Mamaku tidak cantik.”

“Jangan hanya lihat muka, hati Mama cantik kan?!.”

“Bibirnya tidak merah.”

“Nanti kalau Mama pakai baju merah, pasti bibir Mama juga akan merah.”

“Tidak.”

“Kok tidak?”

“Aku tidak suka bibir merah.”

“Kenapa?”

“Sebab ……. .”

Anak itu kehabisan kata, lalu berpaling untuk mengingat-ingat. Ketika ia tidak ketemu apa yang mau diingatnya, ia kembali memandangi ibunya.

“Kenapa aku tidak suka bibir merah?”

Anna mengelus kepala anaknya.

“Sebab kalau Mama pakai bibir merah mencium kamu, kamu pasti menangis sebab pipimu jadi kotor, kan?”

“Betul. Aku tidak suka pipiku kotor.”

“Makanya, kalau sudah selesai dandan, Mama tidak akan mencium kamu lagi. Memeluk juga tidak, karena nanti dadanannya bisa rontok. Ya?”

“Ya.”

“Baik, kalau begitu Mama berangkat sekarang. Jangan nakal di rumah ya?”

“Ya.”

“Kasih da-da sama teman Mama.”

Anak itu menggeleng.

“Lho kenapa?”

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Habisnya dia selalu bawa Mama pergi.”

Anna tertawa.

“O tidak. Bukan dia yang membawa Mama pergi. Dia justru yang Mama ajak pergi. Kalau tidak ada dia, nanti Mama kesepian di situ. Mama tidak sanggup di sana sendirian. Di situ orangnya suka ngomong dan suka yang cantik-cantik. Kalau Mama sendiri yang datang, mereka akan bosan. Makanya Mama selalu bawa dia, supaya pekerjaan Mama beres. Kalau pekerjaan beres, nanti Mama bisa beliin kamu …. apa?”

Anak itu menggeleng.

“Aku tidak mau dibeliin lagi.”

“Lho katanya kemaren ingin Barby lagi?”

“Nggak.”

“Donat?”

“Nggak.”

Anna terdiam.

“Habis apa dong?”

“Aku nggak mau apa-apa.”

“Masak? Sama sekali tidak mau apa-apa?”

“Nggak. Aku mau Mama di rumah.”

Anna ketawa.

“Tapi hari ini Harkitnas sayang, Mama harus ke sana memberikan sambutan.”

“Suruh dia saja. Kan orangnya cantik.”

“Tidak bisa. Dia memang cantik tapi tidak bisa apa-apa. Hanya Mama yang bisa menjelaskan apa itu Harkitnas kepada para undangan.”

“Katanya itu sejarah.”

“Memang.”

“Kenapa dia tidak tahu?”

Anna menarik nafas dalam.

“Karena dia cantik, karena dia muda dan karena dia tidak mau tahu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s