Kekerasan

Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.

“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”

Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.

“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”

“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”

“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”

“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”

“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”

“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”

“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”

“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”

“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”

“Nah makanya!”

“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”

“Betul?”

“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”

“Bagaimana dengan poligami?”

“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”

“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”

“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”

“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”

Amat termenung.

“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”

“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”

“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”

“Salah!”

“Salahnya di mana?”

“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”

Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.

“Kok diam saja,”tanya Amat.

“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”

“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”

“Kekerasan apa?”

“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”

“Foto apa?”

“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”

Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.

“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”

Ami menjawab polos.

“Betul.”

“Kenapa?”

“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”

“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”

“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”

Bu Amat menggeleng-geleng.

“Ami kamu salah!”

“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”

“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”

“Bagaimana?”

“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”

Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.

“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”

Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s