Damai

“Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur, Renon Sabtu lalu.

Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu, menjawab dengan pertanyaan.

“Kalau tidak perlu kenapa?’

Amat terkejut.

“Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian.”

“Jadi sebaiknya bagaimana?”

“Damai itu tidak dideklarasikan, tetapi dilaksanakan saja.”

“Caranya?”

Amat berpikir.

“Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai, bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak, karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Karena mau melindungi ketakutannya, lalu mereka ikut berteriak, untuk mengatasi rasa cemasnya. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!”

“Masak?”

“Habis, meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?”

Amat tiba-tiba berteriak.

“Damai! Damia! Damai!!!!!!”

Bahkan kewmudian mengaum.

“Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”

“Stttt! Bapak!”

“Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Kalau sudah begitu, nanti yang terjadi bukan damai, tetapi perang, dengan dalih damai. Jadi karena dideklarasikan, damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!”

“Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?”

“Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?”

“Karena Bapak tidak ikut?”

“Betul. Aku berada di luar, jadi aku bisa melihat apa jeleknya!”

Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar.

“Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya.

Amat dan Ami tercengang.

“Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!”

“Cepat tolong, Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!”

Ami terlebih dahulu keluar. Amat masih berpikir.

“Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!”

Karena Amat masih bengong, Bu Amat menyeret suaminya keluar. Benar saja. Di rumah tetangga, sudah banyak orang berkerumun. Tapi hanya menonton. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Ketika melihat Amat datang, Para tetangga menyisih memberikan jalan. Amat jadi gentar. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Alangkah sialnya jadi orang tua. Kalau lagi senang-senang disisihkan, dianggap sudah jadi besi tua. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah.

“Ayo Pak Amat, suruh mereka damai!” bisik para tetangga.

“Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol,”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut.

Perlahan-lahan Amat maju. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Kalau salah satu bergerak, akan terjadi pertempuran segitiga. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Mungkin keris atau pisau. Yang jelas, itu saat yang amat sulit.

Amat maju setapak-setapak, agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya, karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Kelewangnya berkelebat. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat.

“Maaf, Bapak tidak ikut campur.”

Ketiganya mundur, tetapi mengangkat kelewang, seperti siap menebas. Sekujur badan Amat gemetar. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian, membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan.

“Bapak hanya mengingatkan bahwa, kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Rumah ini tidak bisa dibagi. Rumah ini memang milik kalian bertiga. Tapi kalau dibagi akan hancur. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama, tempat kita semuanya berkumpul. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi, sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga, karena kalian mau memakainya sendiri. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela, karena kalian juga adalah warga kami …….”

Suara Amat hilang. Pikirannya sudah mengatakan, tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Beberapa detik lagi, ia akan roboh. Tetapi aneh. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar.

Disaksikan oleh seluruh tetangga, ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Mereka mundur, lalu berbalik dan pergi. Waktu Amat nyaris hambruk.

Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Tetapi situasii sudah terkendali.

“Untung polisi cepat datang, kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada.

Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga.

“Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat, ” Tadi bukannya memberikan peneduhan, malah membuat mereka tadi tambah marah. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi, kalau tidak, entah apa jadinya tadi. Bapak sih tadi ngomong begitu, ketiga-tiganya malah mengangkat kelewang!”

Di rumah esoknya, setelah pikirannya tenang, Amat baru menjawab.

“Bukan karena polisi itu, tiga bersaudara itu berhenti berkelahi, Bu.”

“Karena apa?”

“Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s