Surat Pada Gubernur

“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.

Surat itu diperlihatkan pada tetangga.

“Bagaimana?”

Tetangga manggut-manggut.

“Hebat.”

“Hebatnya apa?”

“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”

“Lho, apa salahnya?”

“Pak Amat kenal dengan beliau?”

“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”

“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”

“Apa?’

“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”

Amat ketawa.

“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”

“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!””

Amat tesenyum.

“Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!”

“Kalau itu benar.”

“Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segala-galanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat.”

Amat ketawa.

“Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!”

“Kenapa tidak?”

“Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!”

“Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?”

“Ya mau!”

“Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!”

Amat tertawa.

“Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin!”

“Ya, ya, nanti ditambahin,”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang.

Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.

“Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!”

“Jadi usulan itu ditolak?”

“Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?”

“Apa salahnya?”

Amat tercengang.

“Itu kan tugas bawahan Bu?”

“Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang!”

“Jadi Ibu setuju?”

“Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?”

“Ya tidak .”

“Makanya!”

“Makanya apa?”

“Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!”

Amat ketawa.

“Ya sudah, nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan.

Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi.

Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki, jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar.

Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.

“Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!”

“Kenapa?”

“Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak!”

“Kenapa?”

“Mereka mau nitip.”

“Nitip apa?”

“Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang …. “Su

8 responses to “Surat Pada Gubernur

  1. waduh, bagaimana ini pak. lagi seru bacanya, cerpennya terpotong. yah, baiknya pak Amat tak usah kirim surat itu. pasti tak dibaca gubernur.

  2. hehehe… baru ketemu. selamat siang, bli.

  3. Iya nih, om Putu.. kepotong ya?? Dikirim aja… kali iseng2 berhadiah… hehehe

  4. Saya rasa terpotongnya kalimat diatas..karena Surat Pada Gubernurnya salah alamat …😀

  5. Hmm, barangkali ada ajudan gubernur yang kebetulan liwat dan mendengar dialog warga di situ. Surat itu direbutnya, dan warga yang hendak ikut menitipkan tercekat, tak jadi meneruskan permintaannya… Barangkali.

  6. lho kok putus?
    mungkin pak gubernur lagi berkunjung ke kampung pak amat…jd warga gak jadi nitip, karena mereka mau langsung ngomong sama gubernur..kapan ya kita punya gubernur yang mau mendengar nasib orang kecil?

  7. hm….
    saat mata nikmat meraup untaian kalimatmu.
    entah kenapa akhir curahanmu terputus.
    ada apa?
    apa kau takut gubernur kita yang gendut2 memakan harta rakyat membacanya?
    tidak perlu takut.
    mereka lah yang takut kan keadilan .
    kau lihat .
    saking malunya, ia makan cerpen mu ini hingga terpenggal.
    mungkin cerpen mu ini benar2 membuat mereka khawatir.
    kalau2 anak dan istri mereka membacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s