Merdeka

Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63, karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar.

Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu, karena ia hanya ingin ada dua warna, merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi.

“Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Bendera-bendera lain, kecuali bendera-bendera negeri sahabat, mesti tahu diri, mundur dulu. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas.

Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Karena kalau itu dibiatkan lepas, bisa menimbulkan perkara.

“Kita mesti sadar kepada situasi sekarang, Pak,”kata Bu Amat, “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!”

Amat mengerti.

“Memang, aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik, tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama, perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu, karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!”

Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat, menghampiri.

“Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh..

Amat terpesona. Ia memandang Ami tajam.

“Kamu bilang apa?”

“Saya dengar Bapak sudah menyerah!”

“Siapa bilang?”

“Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik.”

“Betul!”

“Kalau betul, kenapa sekarang adem ayem?”

“Adem ayem bagaimana maksudmu?”

“Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?”

“Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?”

“Ya.”

“Ya itu hak dia.”

‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah, sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!”

“Masak?”

“Coba Bapak lihar!”

Amat tergugah. Meskipun sudah hampir jam 10 malam, ia keluar dari rumah. Dengan bernafsu ia pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Dan betul. Di depannya nampak bendera partai. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Warnanya pun sudah lusuh.

Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Darahnya mendidih. Tanpa perhitungan lagi, lalu dia memujit bel di gerbang.

“Selamat malam, pak Amat.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah.

Amat memasang muka seribu.

“Selamat malam.”

“Silakan masuk, Pak Amat.”

“Terimakmasih, saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malam-malam begini, tetapi hanya mau bertanya.”

Orang itu tertegun.

“Menanyakan apa Pak Amat?”

“Ini bukan protes. Bukan juga kritik. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak, sebab kita hidup di alam demokrasi. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan.”

Orang kaya itu tersenyum.

“Tentu saja pak Amat.”

“Saya tidak bermaksud untuk merecoki, tapi hanya sekedar bertanya saja. Sama sekali bukjan menyindir. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh?”

Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti.

“Tentu saja boleh, Pak Amat.”

“Bapak jangan tersinggung.”

“Kenapa mesti tersinggung, kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya.”

“Persis, hanya sekedar bertanya. Saya penasaran, saja ingin tahu. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan, atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Betul tidak?”

Orang kaya itu terdiam. Lalu menarik nafas dalam. Kemudian mengubah suaranya lembut.

“Pak Amay, begini. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Tetapi karena waktunya semakin mendesak, momentumnya nanti bisa hilang, saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Tetapi Pak Amat harap mengerti, segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Tidak ada motivasi apa-apa. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur.”

Amat terkejut.

“Ikhlas dan jujur? Masak?”

“Betul.”

“Maaf, saya tidak percaya!”

“Betul Pak Amat. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar, agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. Jadi begitu. Tak ada maksud apa-apa. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Begitu, Pak Amat.”

Amat tertegun. Kepalanya pusing. Ia melirik ke samping. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Ia menoleh ke samping yang lain. Terlihat sang saka, meskipun kecil, belel, tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Ia mati langkah.

Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:.

“Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.”

One response to “Merdeka

  1. Wah ini cerpen yang belum dipublikasikan yah Pak. Kapan mau diterbitkanšŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s