Komunitas Budaya

Ketika seseorang mulai kaya, nampak perubahan pada rumah dan kendaraan yang dipakainya. Rumah idandani, iperbesar, diperlebar, ditingkatkan. Dibikin kerean dan kemudian dikelilingi oleh pagar. Kendaraan juga sama, jumlahnya bertambah, jenisnya meningkat dan diperkapi dengan sopir.

Bila sebuah komunitas mulai meningkat kesejahteraannya, juga muncul berbagai ciri. Hubungan antara anggota masyarakat mulai merenggang. Setiap orang lebih cenderung lekat dengan para relasi dan teman kerjanya. Kehadirannya juga semakin jarang. Rumah hanya untuk tidur dan alamat surat. Sosoknya lebih sering di tempat lain, hotel, restoran, mall, tempat peristirahatan dan kota-kota wisata.

Jadi apa sebenarnya yang meningkat dalam sebuah kemajuan.

“Pendapatan, “kata Edy seorang pengusaha muda yang sedang melejit. ” Uang lebih sering datang dan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan uang sagalanya bisa didapatkan. Fasilitas, kesejahteraan, perlindungan, kesenangan dan segala macam kemudahan termasuk cinta.!”

Ia menikah dengan seorang super model.

“Tapi uang yang sekarang dikeluarkan oleh Edy sejuta lebih banyak dari ketika ia masih hidup pas-pasan. Pendapatannya memang seringkali bisa 20 juta kali pendapatan sebelumnya. Namun dengan begitu banyak urusan yang harus diselesaikannya sekarang, apakah ia masih memiliki waktu untuk menikmati segala kemajuan yang diperolehnya itu. Bayangkan ada 10 rumah, tapi hampir tidak pernah ditempati karena dia selalu melakukan perjalanan dari hotel ke hotel. Yang menikmati justru sopir dan para pembantu. Istri cantik dan terkenal, tapi satu minggu belum tentu bisa bersama-sama sebab keduanya punya jadwal ketat. Apakah sebuah kemajuan berarti minus kebahagiaan?”

Edy tertawa.

“Itu matematika kuno. Jawabannya juga sangat ketinggalan. Bukan begitu caranya bertanya sekarang. Bukan begitu caranya membuat ukuran sekarang. Bukan begitu caranya berbahagia sekarang. Dan bukan bahagia yang sekarang dikejar sebagai sasaran utama.”

“Lalu apa?”

“Pencapaian. Prestasi.”

“Ukurannya?”

“Ukurannya adalah rata-rata orang lain. Aku tidak mau menjadi orang rata-rata. Apa artinya kebahagiaan kalau kita sama saja dengan orang lain. Aku ingin di atas. Aku baru merasasenang, puas kalau sudah paling atas. Itu berarti kita berarti. Apa itu kebahagiaan atau bukan, tai kucing. Yang konkrit saja. Nomor satu dan paling depan!”

Pada suatu kali, Edy kedatangan lima orang pemuda yang mengaku ingin membuat komunitas budaya. Penasaran karena kelima pemuda itu sangat getol, Edy sengaja membatalkan beberapa acaranya, untuk menghajar para pemuda itu.

Mula-mula ia pura-pura bertanya.

“Apa sebenarnya tujuan Anda semua memilih saya untuk diajak membuat komunitas budaya?”

Salah satu dari kelima pemuda itu menjawab.

“Karena Bapak orang yang sukses, bahkan sangat sukses. Kalau Bapak bisa membantu kami, kami yakin mereka yang sukses-sukses akan mengikuti. Selama ini, kesuksesan seperti dipisahkan dari komunitas budaya. Seakan-akan orang yang sukses adalah mereka yang memasang jarak dengan aktivitas budaya. Karena itu bapak menjadi sangat strategis untuk memulai budaya baru, yakni ikut membangun budaya kita yang dari segala aspeknya sedang mengalami kemerosotan. Ini sebuah investasi yang memang tidak bisa dinilai dengan angka, sebab keuntungannya tidak kelihatan, namun justru apabila berhasil akan membawa kita kepada tata nilai yang baru yang memperjelas apa sebenarnya sukses itu. Apa sebenarnya nomor satu itu. Apa sebenarnya menang itu. Dan pada akhirnya, apa sebenarnya bahagia itu.”

Edy tertawa.

‘ Saudara-saudara kalau begitu mau membuat sebuah revolusi kebudayaan?”

Kelima pemuda itu tersenyum.

“Wah, jangan memakai kata-kata itu, Pak Edy, sebab konotasinya dengan revolusi kebudyaan di China yang penuh darah. Ini bukan revolusi, Pak. Ini hanya kebangkitan, yang membuat mereka yang mampu untuk memalingkan perhatiannya untuk membangun negeri dengan cara lain. Bukan dengan gedung, mobil tetapi dengan buah-budi, dengan budaya. Kita sedang mengalami kemerosotan budaya, karena itu kita memerlukan komunitas-komunitas yang mencegah erosi dan abrasi itu berjalan dengan drastis. Minimal kita tidak akan runtuh dengan cara yang begitu konyol.”

Edy ketawa lagi

“Saya ketawa sebab saudara mengartikan pembangunan phisik itu sebagai kehancuran budaya. Kenapa saudara membenci kemewahan? Tunggu, jangan dijawab dulu, saya belum selesai. Orang bilang mobil satu itu cukup. Saya bilang keliru. Mobil sepuluh juga belum cukup. Sebab ada seratus urusan yang memerlukan 200 mobil yang bisa saling menggantikian satu sama lain kalau ada yang macat. Jadi segala kemajuan phisik yang Anda anggap kemajuan ini nampak berkelebihan, karena saudara-saudara mengukurnya dari gunung, dari dusun, dari gubuk-gubuk kumuh di pinggir sungai. Baru kalau Anda bisa mengukur dari Paris, London, New Yotk, Tokyo Anda akan setuju dengan saya bahwa kita masih primitif, meskipun sudah bangun jangan layang, mono rel, dan punya bus way. Kita masih kurang kerangsukan membangun. Gedung tinggi kita belum cukup tinggi. Kita harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan duit dan jangan membelanjakan duit untuk menahan pembangunan. Terus-terang, saya tidak tertarik. Komunita budaya Anda membuat orang berhenti bekerja, berhenti berambisi. Padahal kerja yang kita perlukan sekatang. Maaf, selamat siang.”

Pertemuan berakhir.

Kelima pemuda idialis itu ditinggalkan begitu saja. Kwintasi yang sudah mereka siapkan karena menyangka akan bisa mengucurkan dana sedikitnya 100 juta dari Edy kalau bersedia menjadi pelindung komunitas budaya itu, gagal. Tetapi mereka tidak menyerah.

Kelimanya lalu meninggalkan istana Edy yang dijaga oleh 20 orang satpam. Mereka lalu turun ke rumah penduduk. Mengetuk hati anggota masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Menyumbangkan apa saja, untuk melahirkan komunitas budaya agar bisa menahan erosi dan abrasi moral yang sedang deras-derasnya terjadi.

‘Terimakasih, penolakan pak Edy justru membuat kami semakin yakin, teguh dan percaya, komunitas budaya ini harus dilahirkan,”kata mereka ketika membuat selamatan lahirnya komunitas budaya itu.

3 responses to “Komunitas Budaya

  1. mas putu, saya itu semakin bingung dan terkadang semakin ngeri melihat budaya masyarakat kita. ..atau memang sudah menjadi sifat manusia jika mereka tidak akan pernah merasa cukup..banyak orang miskin yang teraniaya ole kekuasaan..yang terpikir adalah bagaimana dengan budaya dimasa datang dengan perubahan yang semakin cepat…

  2. asik, mas! aku salah satu orang yang setia ngikutin karya terormu…..serius!

  3. Waduh, Mas jenis Pak Edy semakin banyak dong saat ini. Oh iya, kira-kira kalau revolusi kebudayaan yang menggunakan darah orang seperti pak edy yang kelenger duluan. Makasih banyak idenya mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s