Nguping

Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.

“Sudah tinggal saja!” kata Ami, “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Tampangnya juga jelek, miskin lagi. Kamu kok mau-maunya sama dia. Tinggal saja. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Cinta boleh, tapi terlalu cinta itu berbahaya. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!”

Bu Amat langsung kaporan pada suaminya.

“Bapak harus mengambil tindakan tegas!”

“Tindakan apa?”

“Ami tidak boleh bicara begitu!”

“Kenapa?”

“Itu kan bukan urusan Ami!”

“Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?”

“Itu bukan nasehat, itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?”

“Ya itu hukum alam!”

“Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.”

“Ya apa salahnya?”

“Salahnya, kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah, nanti Ami juga yang kena getahnya. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!”

Amat ketawa.

“Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!”

“Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Bapak juga dulu begitu kan?”

“Tapi buktinya, Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Coba dengan lelaki bejat itu, entah bagaimana nasibmu sekarang!”

“Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!”

“Biarin. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. Kalau tidak, nanti kita yang akan dikejami sama dia. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Lihat saja, bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Kalau teleponnya tidak disadap , bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. Jadi mesti dipancaing, dipergoki biar kapok, biar tahu rasa!”

Bu Amat termenung. Ia nampak tak senang.

Malam hari Ami menyapa ibunya.

“Kenapa Bu?”

“Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang.”

“Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?”

“Bukan. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Tapi Ibu tidak setuju. Menurut Ibu, perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Baik kepada orang baik, maupun kepada orang jahat.”

Ami mengangguk.

“Ibu lembut sekali.”

“Bukan begitu. Kalau kita mau melawan kejahatan, tidak boleh dengan kejahatan. Itu sama saja,”

‘Maksud Ibu?”

“Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Kejahatan itu akan gagal. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan.”

Ami bingung.

“Aku tidak mengerti, sebenarnya maksud Ibu apa?”

Bu Amat tidak menjawab.

Ami penasaran, lalu mengadu kepada Amat.

“Ada apa dengan Ibu, Pak?”

Amat berpikir.

“Ada apa?”

“Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.”

“O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun, bahkan kepada penjahat pun tidak boleh.”

“Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?”

Amat terdiam.

“Kenapa?”

“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya.”

Ami terkejut.

“Ah yang benar?”

“Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya, meskipun orang itu jahat. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran, sebab demi kebaikan, orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .. .”

Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam, lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.

“Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba.

Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk.

“Ya. Maafkan Ibu Ami, tapi Ibu minta, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Tak baik.”

“Tapi itu bukan urusan pribadi.”

“Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng.”

“Kejahatan apa?”

“Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik.”

“Tapi memang harus begitu!”

“Jangan!”

“Harus!”

“Jangan, Ami!”

“Lho ibu ini bagaimana, naskahnya memang begitu!”

Bu Amat tertegun.

“Naskah? Naskah apa?”

Ami tertawa.

“Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Karena waktunya tidak ada, kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!”

5 responses to “Nguping

  1. ha ha ha ha jadi itu toh endingnya mas putu, MANTEP, kepikiran gituh yah

  2. Bang putu, anda adalah guru saya dalam sastra, kalau berkenan kunjungi blog saya dan beri komentar dan kriikan. Thanks

  3. hahaha…

    lucu banget
    ceritanya seru sampai akhir dan punya pesan sendiri. endingnya juga mengejutkan. jenaka

    salam kenal

  4. Salam

    hahahahahaha
    bagus sekali…..
    dibelokan menjadi lucu.

    saya jadi nguping tulisan bpk eh malah terpacing.

  5. selalu tak terduga,,,, sederhana. trimakasih bang! sastra sampean menggurah selera! hahahahahahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s