TEATER KAMPUS

Pengantar diskusi 23 Oktober 08 di UNNES

Membaca 42 naskah dan menonton 42 VCD  peserta Festamasio IV  2008 – yang nanti akan berlangsung di Jakarta — bagi saya adalah sebuah kesempatan melihat, bagaimana peta teater di kampus dewasa ini. Sudah lama saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu dirembug dalam kehidupan teater di kampus.

Dalam sebuah pertemuan teater kampus di Solo beberapa tahun yang lalu, saya menyarankan agar teater kampus, tidak hanya menjadi “permainan” anak kampus yang sibuk dengan persoalan kampus saja, tetapi kehidupan teater yang bebas. Saya menulis kredo untuk teater kampus. Jangan sampai teater kampus merasa leluasa membuat kesalahan dan pertunjukan yang di bawah kualitas, dengan alasan bahwa teater bagi mereka hanya sekedar selingan/hobi di samping kesibukan akademinya.

Sebagai gudang pengetahuan dan pusat penggodokan intelektual muda, kampus lewat teater seharusnya memberi lampu terang pada kehidupan teater Indonesia. Harus menjadi pelopor, sebagaimana yang terjadi juga di beberapa kampus mancanegara. Teater kampus ditonton dengan penuh penghormatan dari masyarakat, bahkan sering memberikan langkah besar dan inovasi.

Kesan saya selama menyaksikan 42 VCD dari berbagai kampus di seluruh Indonesia tersebut adalah: besarnya pengaruh teater tradisi pada persembahan masing-masing teater. Unsur-unsur visual dalam semua VCD sangat menonjol, lebih dari unsur verbal-nya. Bagi saya ini hal yang positip.

Musik, tari ditampilkan kadangkala lebih besar porsinya dari seni akting. Ini adalah ciri-ciri tontonan. Kekuatan teater tradisi kita memang bukan pada realisme tetapi pada stilisasi. Kalau ini disadari dan dikembangkan secara terarah, benar-benar akan menjadi kekuatan dan keunikan. Tetapi kalau ditanggapi keliru, apalagi kalau teater dipetakan kepada teater Barat, akan terjadi konflik yang tidak hanya membingungkan tetapi menyesatkan sehingga perkembangan teater di kampus akan selalu gagap.

Penyutradaraan, penataan adegan dan set, seni laku atara teater yang realis dan teater tontonan  berbeda. Yang pertama mengacu pada teori-teori realisme yang memang sudah berkembang pada teater Barat. Yang kedua pada upacara bersama di mana tidak batas lagi antara penonton dan tontonan. Yang kedua juga dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh para dramawan Barat, tetapi yang kemudian lebih diarahkan pada eksperimentasi sehingga terpisah dari kehidupan nyata. Sementara hal tersebut masih hidup dalam kenyataan kehidupan kita. Ini memerlukan pemahaman yang jernih, kalau tidak, kita akan mempelajari jatidiri kita lewat cermin Barat. Hasilnya adalah kegagapan. Teater tradisi yang asli bagus, tetapi ketika kita mencoba menempelkan-nempelkannya, akan terjadi sesuatu yang kosong, kehilangan jiwa.

Aspek penulisan lakon dal;am Festasimo IV masih rawan. Kebanyakan naskah tidak ditulis oleh orang yang trampil dan menguasai media teater. Titik pusat jadi hanya pada cerita. Tetapi cerita pun tidak menarik karena tidak ada ide yang segar, unik dan orisinal. Itu terjadi karena nampaknya naskah tidak ditulis oleh pengarang, tetapi oleh orang lapangan yang punya kebutuhan mendesak pada adanya naskah.

Aspek pemeranan – seni akting – kurang didasari pengetahuan tentang seni laku yang khusus panggung, Proyeksi yang merupakan salah beda antara seni laku di panggung dan seni laku di layar kaca/layar perak kurang dipahami. Kadang muncul gaya permainan yang benar-benar mencontoh gaya bermain di sinetron yang sok wajar tetapi kemudian ternyata tidak wajar. Kadang ada usaha memproyeksikan laku begitu teateral sehingga over acting. Sesuatu yang harusnya disampaikan secara realis menjadi amat teateral (baca berlebihan) sehingga tontonannya sama sekali tidak menarik.

Aspek penyutradaraan juga menunjukkan kelemahan. Sebuah naskah yang buruk, di tangan sutradara yang baik, bisa menjadi menarik. Dan sebaliknya naskah yang punya kemungkinan bagus bila dioleh dengan tanpa ketrampilan ( interpretasi, kreasi, sudut pandang) akan jadi tontonan yang gagal. Tidak selamanya di kampus ada sutradara. Untuk itu kampus harus membuka diri. Rela mengundang sutradara tamu dari kampus lain atau dari kelompok teater di luar kampus. Sebuah pertunjukan yang tidak dipersiapkan oleh seorang sutradara yang benar-benar sutradara, akan membuat pertunjukan tak punya arah.

Hanya penataan set dan musik yang  mulai menunjukkan kemajuan. Ini mungkin karena pasokan dari musik tradisi yang memang amat kaya dan dari mereka-mereka yang benar-benar menguasai bidangnya. Ini menjelaskan kembali bahwa teater memang memerlukan partisipasi dari berbagai bidang, karena teater memang cabang kesenian yang merangkum hampir semua bidang kesenian. Selama ini yang sering terjadi, banyak bidang ditangani oleh mereka yang tak punya keahlian sehingga hasilnya menjadi amatiran.

Sudah waktunya kini untuk melihat teater sebagai sebuah ilmu. Karenanya memerlukan pembelajaran. Banyak sekali buku-buku teater yang dapat menjelaskan seluk-beluk teater. Masing-masing jenis teater memiliki langkah, acuan dan bahkan cara pendekatan yang berbeda. Apabila teater kampus memperhatikan semua itu, akan ada usaha memilih jenis teater yang mana yang paling sesuai dengan materi mau pun sarana yang ada di dalam kampus. Ketepatan memilih jenis teater itu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai.

Tontonan adalah sebuah istilah yang berasal dari pertunjukan teater tradisi/rakyat. Kata yang sederhana itu menjelaskan sesuatu yang sangat luas dan mendasar. Selama ini yang sering hilang dari berbagai pertunjukan teater adalah unsur tontonannya. Sesuatu menjadi tontonan karena sesuatu itu menarik, membuat penasaran, menghibur, komunikarif, memberikan pengetahuan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan sebuah perencanaan. Dan untuk membuat perencanaan, harus ada studi dan strategi. Bertambah jelas lagi bahwa teater adalah sebuah proyek yang mencakup banyak hal, tak hanya seni akting. Inilah yang sering diabaikan dalam produksi teater, khususnya teater kampus.

10 responses to “TEATER KAMPUS

  1. adi dari teater amoeba UMB-Jakarta

    sebuah kritisi yang sangat mendasar memang tentang perkembangan teater kampus. dan menurut saya memang krisis ini bila tidak diobati maka akan berdiam diri dan mengendap lama di teater kampus.
    hemat saya haruslah selalu ada tentang temu teater atau sekedar diskusi perkembangan teater kampus.
    atau mungkin kerelaan dari para orang tua teater di tanah air ini untuk meluangkan waktunya untuk berbagi dan berdiskusi dengan kami ini.
    bagaimana pun masa depan teater Indonesua tidak bisa lepas dari teater kampus.

  2. Saya sangat senang sekali ketika bisa mulai menjelajah blog dari idola saya, bapak “Putu Wijaya’.
    Saya adalah seorang pemuda yang menaruh minat besar pada dunia tulis menulis. Namun sayang belum mendapatkan seseorang yang patut menjadi teladan untuk memberikan bimbingan.Mungkin dengan membaca blog dari org yg sudah profesional dapat membantu saya untuk maju.
    Mengenai topik bapak. ttng ‘teater’ sehubungan dengan dipengaruhi oleh tradisi barat, saya mungkin dapat menyangkutkan dengan tulisan di blog saya tentang ‘oksidentalisme’.

  3. wah, kok gak ada tulisan baru..
    padahal pada mnunggu2 nih..

  4. Saya dari Teater Awal Bandung. Saya salah satu peserta dari Festamasio lV 2009 kemarin… siLaturahmi ke rumah mas putu adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya, menyenangkan dan menambah gairah baru dalam berkesenian…
    BRAVO TEATER!!!

  5. Mas, selama saya terlibat dengan teater kampus banyak yang menyebut teater kampus sama dengan teater tujubelasan dalam artian dalam penggarapan maupun dalam proses latihan tidaklah maksimal.
    Sesungguhnya seperti kata Mas Putu Teater adalah bekerja… bekerja… bekerja… berkarya
    atau kata alm. Mba’ Rudjito teater bukan hanya ada unsur menarik tetapi haruslah mengibur dan memberikan manfaat bagi penikmat teater itu sendiri
    atau kata Mas Dindon WS Teater Latihan… latihan… latihan…

  6. ibrahim massidenreng

    teater bisa jadi salah satu laboratorium dalam kampus,,,
    eksperimentasi teater diharuskan dalam teater kampus.
    mari seliar mungkin..

  7. Sejak tahun 1974 saya meninggalkan Indonesia, senang sekali membaca kata “teater kampus”, Selamat berkarya, berpikir, membayang, berdiskusi BERSAMA dan BERSATU.
    Salam kangen buat Putu,
    rahajeng buat mbah Rudjito yang sudah mengudara ..
    Bila kata “teater” disertai, diikuti, dilengkapi oleh kata-kata yang menjelas terangkan apa isi teater ter”sebut”, tujuannya dan kriteria baik-buruknya, maka teater ter”sebut” akan menemukan kenyataan dan hak hidupnya; Para penilai yang bijaksana pun akan ter-rangka olah cernaannya dan pendapatnya.
    Kalau teater dianggap permata intan kehidupan, maka pengolahan dan peng-kristalannya akan memerlukan … misalnya: fakultas teater. Lewat teater kita mengolah dan menginti-sarikan kehidupan. Semoga teater bisa memberi cahaya hidup, pengolahan watak dan bisa menjadi barometer masyarakat/semesta, nah ini tergantung pada …. (silahkan menabung pandangan dan pendapat bersama)

  8. rahmie_SANGGAR BAHANA ANTASARI

    beri aq satu kata,,
    TEATER…………
    aq kn berCINTA dengan_nya

  9. saya pernah merasakan nikmatnya berteater kampus ria . apalagi sejak saya menjadi dewan presidium KOTEKA (komunitas teater sejakarta) sepuluh tahun silam. seperti ada yang diperjuangkan. menggeluti dunia teater kampus tidak akan pernah mampu merambah kepada perkembangan yang memuaskan selama para pekerja teaternya hanya ‘mendekam’ di kampus, tidak mau ‘soan’ ke dunia luar. tapi bagaimanapun idealisme berteater dan hobi berteater adalah manusiawi. lumrah.

  10. turut berduka untuk KLeng…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s