Category Archives: catatan

Menguji Uji Coba RUU Pornografi

Yang semula bernama RUU APP (Rencana Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) dan kini bernama RUU P (Rencana Undang-Undang Tentang Pornogragi) telah menjadi bahan pertengkaran. Di tengah berbagai kesulitan hidup yang menerpa tak putus-putusnya, RUU tersebut sudah ikut membelah masyarakat dan bangsa Indonesia.

Demo dari yang pro dan yang kontra terjadi di seluruh kawasan Nusantara. Tetapi seperti pelari marathon yang tangguh, RUU itu terus meluncur hendak menyarangkan dirinya di gawang pengesahan dari orang nomor satu Indonesia.

Mengambil tempat di Ruang Kartini, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan, Rebo 17 September, diadakaj Uji Publik yang dibanjiri oleh para peminat yang tak semua diperkenankan masuk.

Dimulai dengan penjelasan bagaimana perjalanan panjang RUU itu sampai ke draft ketiga, kini ditanggung tidak lagi akan menjegal kebebasan seniman, tidak akan menodai kebhinekaan adat dan tradisi, berpihak pada perempuan dan membela anak-anak.

Saran-saran dan kritik sudah diserap dengan mengubah redaksi dan memperbaiki pasal-pasal yang kini dapat dianggap sebagai sudah menampung baik suara yang pro maupun yang kontra.

Penyair dan budayawan Taufiq Ismail kemudian membuka acara tanya jawab dengan dua lembar pendapatnya yang menjelaskan bagaiman bahayanya pornografi dan betapa rawannya sudah masyarakat Indonesia diobrak-abrik oleh jaringan yang memakai lokomotif neo-liberalisme itu.

Aliran SMS (Sastra Mashab Selangkang), angkatan FAK (Fiksi Alat Kelamin) dalam Gerakan Syahwat Merdeka telah membuat “anak-anak kita jadi sasaran dan korban dalam skala sangat besar”. Empat koma dua juta situs porno dunia dan seratus ribu situs porno Indonesia di internet adalah bagian air bah pornografi yang merajalela karena adanya dukungan dari kelompok permisif dan adiktif.

“Seniman tidak perlu mengeluh bila merasa terkekang karenanya”, tulis penyair penulis lirik lagu Panggung Sandiwara itu. Tuangkan kreativitas menggarap tema kemiskinan, kebodohan dan ketidak-adilan di negeri kita. Ketiga tema besar ini jauh lebih urgen digarap bersama dan bermanfaat bagi bangsa, ketimbang tema syahwat yang destruksinya (bersama komponen-komponen lain) ternyata luar biasa.

Pembicara berikutnya mengeritik cara-cara melakukan uji coba yang dianggapnya tidak layak itu. Materi RUU yang hendak dibicarakan tidak dibagikan secukupnya sehingga mayorits yang hadir tak memiliki apa yang mau dibicarakan.

Definisi pornografi yang sejak awal sudah dianggap cacad dan biang pertikaian, masih belum sempurna. Pasal-pasal yang kabur dan mengandung kemungkinan banyak interpretasi yang diancam dengan berbagai hukuman.

Kemungkinan masyarakat berperan-serta di dalam pencegahan pornografi akan membuat pembenaran beberapa kalangan melakukan tindakan main hakim sendiri, sebagai selama ini sudah kerap terjadi. “RUU yang belum naik kelas ini mestinya dibicarakan secara terbuka bukannya buru-buru diresmikan,” ujarnya.

Kesan yang muncul dari pertemuan Uji Coba itu adalah bahwa pornografi memang harus dilawan,.dibendung dan dihabisi karena sangat berbahaya. Tapi satu pihak menganggap bahwa jalan yang terbaik ke arah itu adalah dengan cepat-cepat mengesahkan RUU Pornografi yang sudah panjang perjalanannya itu.

Pihak lain menyambut bahwa tidak seorang pun yang membela pornografi. Tetapi tanpa adanya RUU Pornografi pun, tindakan tegas pemberantasan pornografi sudah memiliki landasan hukuman, tinggal eksekusi yang belum sungguh-sungguh secara jelas dan berkesinambungan dilakukan. Bagi mereka, masalahnya bukan RUU-nya, tetapi rumusasn RUU itu menjebak dan menggiring ke arah mono kultur yang bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika.

Persoalan pro dan kontra pornografi tidak sama dengan persoalan pro dan kontra RUU Pornografi. Yang pertama adalah masalah moral. Ini menyangkut ruang privat. Bila negara sudah ikut mengurusi ruang privat, sementara begitu banyak persoalan ruang publik yang terbengkalai, itu hanya akan berarti mengelakkan diri dari tanggungjawab yang sebenarnya.

Ruang privat sudah ada pengaturnya sendiri yakni agama dan pendidikan. Mari kita percayakan kepada para pemukanya untuk membereskan iman dari para warganya. Kalau memang sudah terjadi kebejatan, baru kalau ulah pribadi itu sampai mengganggu ruang publik, negara bertindak. Dan sudah ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan landasan hukum untuk tindakan mengayomi rakyat itu. Kalau toh mau menambah dengan yang baru (RUU P) penambahan itu tidak boleh melempas isinya.

Sementara RUU Pornografi adalah taktik dan strategi negara dalam mengeksekusi tindakan pengamanan. Bila dalam hajat itu terjadi perbedaan pendapat, harus dibicarakan secara proposional dan kepala dingin di mana letak perbedaannya.

Tak ada kaitannya lagi dengan pro dan kontra pornografi, sebab pornografi memang sepakat mau dilawan. Jangan sampai kita salah pukul atau sengaja salah memukul. Apalagi digiring orang untuk bukan memukul yang hendak kita pukul, tetapi sesuatu yang seharusnya kita hormati bersama, misalnya keberagaman.

Uji coba mestinya diartikan duduk bersama dan saling mendengarkan. Mengupas satu per satu pasal-pasal RUU Pornografi di samping mengevaluasi mengapa kita masih memerlukan sebuah undang-undang lagi. Kalau memang kuat alasannya untuk membuat undang-undang, mengapa tidak. Untuk itu masyarakat berhak untuk diyakinkan.

Tetapi kalau memang tidak perlu, karena, masalahnya bukan belum ada atau kurang undang-undang, tetapi hanya tidak ada tindakan pelaksanaan (memberantas pornografi), kenapa mesti membuat undang-undang baru? Jangan-jangan ada udang di balik baru. Seperti ada penumpang gelap di dalam kasus RUU Pornografi ini. Untuk itu harus ada investigasi.

Selaku pribadi, saya sangat berterimakasih pada Taufiq Ismail yang mengingatkan serta menyadarkan kita bahwa pornografi adalah kejahatan yang terorganisir secara rapih sehingga bukan saja harus dilawan dengan keras tetapi juga cerdas, taktis dan lihai.

Untuk itu jangan sampai langkah kita terbelokkan menjadi saling menikam, sehingga kita lalai bagaikan Niwatakawaca yang akhirnya terbunuh saat ketawa terbahak-bahak karena menang. Betul sekali, seniman tak perlu merasa terkengkang, jangankan selangkangan dan syahwat yang dilarang, kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan tak boleh dibicarakan seperti di masa Orde Baru pun, para seniman yang kreatif masih tetap bisa menghasikan master piece. Untuk itu mari kita buat definisi pornografi yang afdol.

Juga saya ingin berterimakasih pada mereka, saudara-saudara saya yang menentang RUU Pornografi dan melakukan demo di Bali, Papua dan sebagainya. Mereka mengingatkan saya bahwa kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya jangan sampai menjarah ruang privat.

Apalagi memberi peluang orang bertindak main hakim sendiri terhadap apa yang tidak berkenan pada adat dan tradisi serta keyakinannya, karena itu menodai kesepakatan hidup damai berdampingan dalam perbedaan dan melanggar hukum. Walhasil, mari kita waspadai dan usir semua penumpang gelap yang ingin menyelusuf di seluruh aspek/gerbong kehidupan kita, kedok apa pun yang dipakainya.

RUU Pornografi generasi ketiga yang diuji coba masih memerlukan pembahasan.

Tiada Lagi Bang Ali

Mantan Gubernur Jakarta yang tampan dan gagah itu sudah tidak ada lagi. Ia pergi dengan meninggalkan dua torehan yang tak terlupakan. Pertama, dia menunjukkan dengan jelas bagaimana seharusnya seorang Gubernur menjalankan tugasnya. Kedua, almarhumlah seorang yang berteriak dengan tindakannya mengatakan bahwa pembangunan phisik harus ditunjang oleh pembangunan kebudayaan.

Bang Ali meletakkan dasar penataan kembali kota Jakarta yang sudah mirip dusun besar — judul film Usmar Ismail – sebelum menjadi rimba mall dan sarang sepeda motor seperti sekarang. Dengan keras, tegas dan penuh desiplin, Bang Ali menyisir wilayah kumuh ibukota dan menjadikan kota nomor satu di republik ini lebih beradab. Bandit-bandit dihalau. Para janggo yang bisa bertindak langsung di tempat demi melindungi masyarakat, menyebabkan keamanan mulai pulih. Di masa Bang Ali pula para banci pun mulai mendapat tempat yang pasti dan disebut waria.

Tapi tidak sedikit yang tidak suka pada tindakannya. Lawan-lawan politiknya selalu mencemooh dan mengatakan bahwa tindakannya terlalu brutal. Usahanya untuk mendapatkan keuangan daerah dari judi dianggap perbuatan maksiat. Klab malam dan diskotek yang tumbuh di masa itu pun dianggap sebagai kemunduran moral. Ketika terbukti apa yang dilakukannya disenangi oleh rakyat, lawannya masih mencoba mengejek bahwa apa yang dilakukan oleh Ali Sadikin bukan apa-apa, karena itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang Gubernur.

Betul sekali. Membela kepentingan warga banyak sudah semestinya digenjot oleh seorang Gubernur. Tapi berapa Gubernur yang sudah berani melakukan tindakan-tindakan tegas tanpa pandang bulu untuk kepentingan warga? Hampir tak ada. Karena Bang Ali bukan hanya semata menata wajah kota. Ia juga menghidupkan kepercayaan warga pada pimpinan. Mengajak warga percaya bahwa pimpinannya bukan sedang memperkaya diri atau mau berpacu mengejar kursi yang lebih tinggi. Bang Ali menjadi sebuah contoh,

Warga ibukota di masa Bang Ali, menyanyi dan menari di jalanan menyambut tahun baru. Panggung berserakan di seluruh Jakarta. Pimpinan dan rakyat lebur. Ini bukan hanya sebuah etalase bahwa tidak ada batas antara kawula dan gusti, tapi akibat dari sikap Bang Ali pada apa yang disebut pembangunan. Dialah orangnya yang tidak melihat pembangunan hanya sebagai pertumbuhan phisik semata, tetapi dibalur juga dengan keleluasaan rohani.

Berdirinya Taman Ismail Marzuki pada 1968, adalah usaha untuk memelihara paru-paru budaya dalam kota metropolitan. Di sana ada ruang yang bebas bagi kreativitas. Tidak ada sensor dan kekangan, sehingga para seniman dan budayawan dapat bersuara, bergerak dan mencari kesempurnaan yang akan menata kemajuan-kemajuan dalam perkembangan phisik.

TIM adalah sebuah sejarah yang gemilang, karena setelah dua decade, hasilnya nyata. Dia melahirkan “tradisi baru”. Membebaskan estetika Indonesia dari peta Barat, untuk kembali membumi pada akarnya. Seluruh cabang kesenian memberikan catatan yang sangat positif. Barat masih tetap diposisikan sebagai referensi, tetapi puncak-puncak karya yang terjadi selama 2 dekade di TIM, yang merupakan interaksi antara tradisi-modernisasi, melahirkan sebuah nara sumber baru yang memberikan arah Indonesia yang pasti.

Memang keberadaan TIM kini, tidak lagi segagah dan semegah ketika berdirinya. Tetapi apa yang sudah terjadi, sudah tercatat dan akan bekerja terus. Pada setiap kesempatan yang baik, tradisi baru yang sudah lahir itu akan keluar dengan sendirinya sebagai pilar tempat para budayawan Indonesia berpegang ketika diamuk taufan globalisasi.

Bang Ali kini tiada lagi. Tapi apa yang sudah dilakukannya tetap hidup. Membangun Jakarta tak cukup hanya menambah jalan layang, melahirkan busway, bikin mono reel, mencetak mall, membanjiri jalanan dengan motor, menghitamkan udara dengan asap knalpot dan membuat hiburan-hiburan yang berani dan kurang ajar, tetapi lebih dari itu, adalah menyehatkan kehidupan budaya. Dan itu hanya dengan satu pengakuan: bahwa manusia tidak hanya memerlukan kekayaan jasmani, tetapi juga kekayaan rohani: kedamaian dan kebahagiaan.

Tidak berarti bahwa pemerintah harus membagi isi koceknya yang memang sudah kurang karena dikorupsi dari segala arah. Cukup dengan mengakui bahwa kebudayaan tak bisa ditinggalkan kalau memang mau bangkit, sebagaimana 100 tahun lalu sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan Kebangkitan Nasional.

Banyak anak-anak muda yang datang pada saat jenazah Bang Ali disemayamkan di kediamannya di Jalan Borobudur. Mereka mendengar berbagai cerita bak dongeng, tentang saat saat di masa Bang Ali yang begitu asyik. Mata mereka mengatakan, seandainya separuh saja dari semua kisah itu benar, alangkah indahnya. Itu berarti betapa parahnya sudah keadaan. Betapa tak berdayanya apa yang kita namakan budaya kalau disandingkan dengan politik, ekonomi, teknologi.

Seorang lelaki ngedumel di pinggir jalan, memandang jajaran prajurit Angkatan Laut yang berpakain putih-putih, menjelang jenazah diberangkatkan dengan upacara militer. “Baru ini kali ada Gubernur yang berani mengaku terus-ternag bahwa beliau sudah gagal menangani kemacatatan dan kebanjiran. Saya dengar sendiri semuanya itu. Saya juga menari dan berjoget dengan beliau di depan Sarinah,”katanya.

Seorang karyawan di Taman Ismail Marzuki terkenang. Bagamana suatu kali Bang Ali ditolak oleh petugas jaga karena mau masuk Teater Besar dari belakang. Itu masa ketika desiplin benar-benar tegak di TIM. Tapi karena Bang Ali sangat perlu masuk, ia menerobos saja sambil menampar penjaga itu. Tapi kemudian ia kembali dan minta maaf. Ia sadar tindakannya keliru dan bangga bahwa penjaga itu sudah menjalankan tugasnya dengan sangat bagus.

Saya sendiri sempat kena getahnya. Pada 1975, saat membuat pertunjukan teater berjudul LHO, di akhir pertunjukan di Teater Arena TIM, saya persilakan penonton keluar sebab pertunjukan akan dilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta semua pemain naik ke atas gerobak telanjang bulat. Gerobak ditarik keluar dan para pemain dicemplungkan ke kolam seperti sampah.

Koran meributkan pertunjukan itu. Bang Ali mencak-mencak dan menuding saya dengan sangat keras. Kemudian seorang wartawan (Tjahjono) mewawancarai saya saat dipanggil Komdak, bagaimana pendapat saya. Saya katakan pada waktu itu, seandainya saya Gubernur, saya juga akan melakukan persis seperti apa yang dilakukan Ali Sadikin, memaki-maki saya.

Belakangan saya ketahui bahwa Ali Sadikin dengan sengaja mendahului mengecam saya, karena dia tidak mau ada tangan lain menyentuh TIM. Saat itu TIM memang merupakan tempat bebas yang menggelisahkan penguasa, sehingga mereka gerah untuk mencekalnya. Semua itu menjelaskan bahwa cinta Ali Sadikin pada perkembangan budaya bukan hanya sekedar sedekahan dari orang yang berkuasa pada warganya yang butuh dukungan, tetapi karena sayang.

Walau kini Bang Ali sudah tak ada, tapi ia tetap hidup di hati. Kini kita sudah punya sebuah contoh. Bahwa dalam kekuasaan selalu ada beberapa orang tempat kita boleh menggantungkan harapan. Kalau belum nampak mesti kita cari. Kalau belum ada mesti kita lahirkan. Kalau tidak ada juga, mesti kita jadikan.

Dan Atau

Setelah reformasi, ketika sentralisasi yang dianggap sebagai penjajahan pusat kepada wilayah berakhir, desentralisasi pun dipacu. Otonomi daerah menyebabkan terjadi berbagai pergeseran. Peran adat dan tradisi yang di masa Orde Baru diringkes untuk dibuang, digantikan dengan keseragaman dari pusat, kembali dihidupkan. Kearifan “dan atau” kebijakan lokal pun kini banyak dipacu. Revitalisasi kearifan “dan atau” kebijakan lokal menjadi semacam harapan.

Dalam alenia di atas, “dan-atau” menunjukkan ambiguitas. Kearifan dan kebijakan sering dianggap sama, tapi juga bukan tidak mungkin dibedakan.

Kearifan lokal adalah saripati adat dan tradisi. Di dalamnya terkandung kiat, resep bahkan juga tafsiran pada kehidupan masa datang. Wujudnya berupa aturan-aturan tak tertulis yang kemudian terbiasakan secara terus-menerus hingga menjadi adat. Tetapi berbeda dengan norma, kesepakatan bersama yang apabila dilanggar akan dikenakan sanksi moral oleh kehidupan bersama, kearifan lokal tidak mengandung sanksi. .Ia hanya menolong bepikir memecahkan persoalan.

Dalam kearifan lokal ada akal dan rasa. Akal berarti kearifan lokal adalah hasil pemikiran. Rasa menunjukkan itu disesuaikan dengan keselarasan nikmat bersama yang disepakati oleh masyarakat bersangkutan. Kearifan tidak hanya dimaksudkan untuk membantu menegakkan harmoni hidup bersama saat terbentuknya saja, tetapi juga dapat terpakai sebagai perangkat kehiudpan, sampai ke masa yang akan datang.

Kearifan lokal yang unggul, menjadi semacam falsafah kehidupan. Misalnya saja, apa yang dikenal dengan: “desa-kala-patra” di Bali, yakni keselarasan segala hal pada tempat-waktup-suasana. Desa-kala-patra adalah semacam converter untuk membuat segala sesuatu menjadi selaras. Orang yang terbiasa membiasakan ketiga unsur itu selaras dalam segala hal, dijamin akan bersilaturahmi dengan baik dengan berbagai perubahan dan perkembangan.

Kearifan yang yang tidak unggul, tececer hanya menjadi perangkat kehidupan sementara. Ia ditinggalkan karena tidak merupakan resep yang tangguh lagi. Beberapa di antaranya mencoba bertahan, atau dipertahankan secara paksa oleh beberapa peminatnya, sehingga bukan menjadi perangkat kehidupan, tetapi justru penggganggu. Ia pun tak bisa lagi dipertahankan sebagai “kebijakan” lokal.

Kebijakan mengandung pengertian “aksi”. Sebuah kebijakan dimaksudkan sebagai satu tindakan yang mengandung laku. Kebijakan juga adalah akal dan rasa tetapi dengan penekanan pada kebutuhannya untuk melakukan tindakan. Sementara kearifan lebih pada akal saja.

“Dan atau” di alenia pertama tulisan ini, menunjukkan perbedaan nuansa kearifan dan kebijakan itu. Sama-sama hasil pemikiran dan endapan rasa. Tetapi yang pertama bersifat diam dan solid. Sedangkan yang kedua mengandung tenaga yang menuntut pelaksanaan yang lebih lanjut dalam mengatur kehidupan.

Ketika Pak Harto sakit di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, timbul perdebatan. Apakah kasus pengadilan Pak Harto diteruskan sampai tuntas? Jawabnya ya “dan atau” tidak.

“Dan atau” dalam alenia di atas tidak menunjukkan ambiguitas. “Ya” jelas berkebalikan arti dengan “tidak”. Jawaban para tokoh-tokoh dalam masyarakat, juga awam pada umumnya, terhadap pertanyaan tersebut, memang hanya dua. Satu pihak tegas menolak, pihak lain tegas minta diteruskan. Ya dan tidak, ya atau tidak. “Dan” maupun “atau” sama-sama menunjukkan dua yang berbeda. Penggunaan “dan atau” ingin lebih menanadaskan tidak ada ambiguitas.

Sebenarnya “dan atau” tidak umum dalam bahasa percakapan. Juga tidak umum dalam bahasa formal. Walau pun bahasa Indonesia mengandung banyak ambiguitas karena tidak mengenal perbedaan bentuk dalam kata kerja (tense), tidak membedakan jenis kelamin pelaku , dan tidak mengenal bentuk tunggal dan jamak, “dan atau” jarang dipakai karena terasa membingungkan. “Dan atau” hanya dipakai dalam bahasa hukum.

Kalau orang ingin memberi penegasan bahwa sesuatu itu bukan saja secara pengertian umum, tetapi juga secara hukum, dipastikan berstatus tertentu, tak bisa diperdebatkan lagi, “dan atau” dipakai. Maka “dan atau” pun menjadi mendua. Pertama mengandung ambiguitas dan yang lain menyatakan kepastian.

Mendua adalah peristiwa yang biasa dan boleh dikata disukai dalam bahasa Indonesia. Kenyataan yang membawa kita pada satu keadaan tanpa kepastian itu, membuat bahasa sering gagal dalam posisi ketika sedang memberikan penilaian. Di alam resensi sebuah pertunjukan, misalnya, sering terdapat penilaian: agak terlalu berlebihan ; cukup baik sekali; masih belum sempurna sekali; sering sekali masih kurang siap.

Apakah kekurangan itu disebabkan karena keseganan untuk menilai? Orang merasa kasar bila menilai secara blak-blakan. Atau tidak mampu menilai, sehingga bersembunyi dalam ketidakjelasan?

Pertanyaan tersebut boleh ditarik lebih jauh sehingga menyangkuit hal yang lebih mendasar. Selama ini kita menerima bahwa bahasa dibentuk dan dibuat oleh manusia. Bahkan bahasa juga disepakati diciptakan untuk menegakkan kekuasaan.

Tidak mungkinkah sebenarnya yang terjadi kini sebaliknya. Bukan bahasa yang diciptakan oleh manusia, tetapi bahasa yang menciptakan manusia macam apa yang mempergunakannya. Kalau ini benar, maka bahasa Indonesia adalah pahlawan yang berjasa telah mempersatukan Indonesia “dan atau” musuh bangsa Indonesia yang telah membentuk manusia Indonesia yang tidak punya kepastian sikap.

Dalam alenia di atas, “dan atau” mengandung keraguan. Kata sambung “dan” di situ menunjukkan hal yang mendua. Bahwa ada dua peran yang ditemukan dalam bahasa Indonesia, yang saling bertentangan. Sedangkan “atau” mengajak memilih hanya salah satu peran saja.

Walhasil berpulang bagi pengguna bahasa sendiri. Bahasa menyediakan kelemahan dan kekuatannya untuk dipergunakan. Manusia yang tak berdaya akan dilumat oleh bahasa yang ambigu, sedangkan manusia yang perkasa justru akan dilatih tanggap dan kreatif oleh keterbatasan bahasa. Karena keterbatasan juga berarti lentur, supel “dan atau” fleksibel.

Pemakaman Bekas Presiden

Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.

Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.

Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.

Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”

Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”

Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.

Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.

Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.

“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”

Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.

“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.

Ibunya hanya menjawab.

“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”

Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.

“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”

Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.

“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”

Istri Franki melotot.

“Maksud Abang apa?”

“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”

“Itu karena Abang tidak setuju!”

“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”

“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”

Franki terkejut.

“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”

Istri Franki melotot.

“Kenapa jadi menuduh begitu?”

“Habis kamu membela!”

“Siapa yang membela? Membela apa?”

“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”

“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”

Catatan Dewan Juri FTJ 07

Dewan Juri FTJ yang terdiri dari: Putu Wijaya (ketua merangkap anggota), Jajang C Noer, Radhar Panca Dahana, Danarto. Seno Joko Suyono, mencatat beberapa hal penting dalam FTJ 07 yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan FTJ mendatang.

Penyelenggaraan FTJ yang kembali dikelola oleh DKJ sejak 2006, telah menunjukkan penampakan yang menggembirakan. Penataan panggung, pengemasan tontonan telah mengalami kemajuan pesat. Demikian juga peningkatan hadiah yang dilambangkan dengan bentuk insentif rupiah.

Semangat berkompetisi untuk festival yang telah berusia 35 tahun ini, kembali berkobar, sehingga jumlah peserta babak penyisihan yang sekitar 50-an meningkat menjadi 80-an. Memang masih jauh dari 141 grup ketika pertama kali festival dibuka oleh almarhum Wahyu Sihombing. Namun perkembangan tersebut menunjukkan perhatian dan kepercayaan telah kembali diberikan oleh masyarakat teater Jakarta.

Kemajuan itu terjadi karena pihak penyelenggara (DKJ), baik steering committee maupun pelaksana produksi (project officer) di lapangan, nampak menyelenggarakannya dengan sungguh-sungguh. Pedoman FTJ pun sudah mulai disempurnakan, disesuaikan dengan kebutuhan dan masih akan terus dikembangkan sampai benar-benar memenuhi hasrat para pekerja teater.

Yang pasti, dalam babak final yang berlangsung di Teater Studio TIM dan Teater Luwes IKJ, antara tanggal 21 s/d 30 Desember, kendati hujan dan banjir tak henti-hentinya menggempur Jakarta, tetapi gedung pertunjukan selalu dipadati oleh penonton setiap hari. Bahkan pada hari terakhir penampilan banyak penonton berdiri dari awal sampai selesai karena tidak kebagian tempat duduk.

Bahwa secara umum kualitas pencapaian artistik yang sudah terjadi di tahun 2006 berbeda dengan apa yang kini ada dalam FTJ 2007, adalah sebuah kenyataan yang harus direnungkan secara hati-hati. Grup yang pernah muncul membawa janji ada yang tenggelam.

Kelompok yang sudah hadir gemilang, ternyata tidak lagi tampil dengan seluruh taring dan darahnya. Ada apa? Kendati itu sebuah dinamika dari kehidupan yang panjang, tetapi tak urung menjadi tantangan.

Pedoman FTJ yang sudah disempurnakan, akan memungkinkan peserta luar kota bahkan mancanegara ikut bertarung. Bersediakah pentolan-pentolan teater ibukota bila piala kemenangan akan direbut peserta luar Jakarta?

Walhasil Jakarta mesti beringas, para pemenang di babak penyisihan yang mendapat tiket ke final, harus bertekad untuk tampil maksimal, sehingga piala-pila terbaik untuk semua katagori yang dikompetisikan tidak sampai diboyong keluar Jakarta.

Berikut ini adalah pengamatan para juri dari kacamatanya masing-masing yang diharapkan akan menjadi bahan berjuang mengangkat festival di tahun depan.

DANARTO:

Lampu kuning bagi teater-teater yang mementaskan naskah “absurd”, agar tidak terkecoh dan “meleset” dalam melakukan penafsiran naskah. Acungan jari jempol bagi grup yang mementaskan naskah realis karena nampak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan pertunjukannya sukses. Lampu merah bagi Komite Teater DKJ, agar segera membuat panduan yang diperlukan bagi naskah-naskah absurd yang hendak ditampilkan dalam FTJ 2008

JAJANG C NOER:

Bila sutradara kurang mendalami lakon, tidak menguasai adegan dan tidak berusaha mencari apa yang bersembunyi di balik teks, para pemain akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah sering terjadi.

Mereka tidak akan tampil dengan penghayatan pada perannya, sehingga dialog keluar sebagai kata-kata yang tak bermakna. Yang akan tersaji hanya bentuk semata, gesture yang salah, ekspressi yang datar, phrashing kalimat dan kata yang keliru dan bloking yang tidak disertai dengan motivasi tetapi asal bergerak.

Akibatnya yang terparah adalah vokal menjadi buruk, artikulasi kata-kata tidak jelas, volume suara tidak memadai, keras bahkan berteriak namun tidak jelas.

Pemahaman terhadap naskah, apakah itu naskah realis atau non realis, apakah itu komedi atau tragedi, akan membawa sutradara pada interpretasi dan konsep yang sesuai dengan benang merah naskah yang menjamin berhasilnya pementasan.

SENO:

Ada beberapa grup yang menunjukkan keberanian untuk melakukan penafsiran panggung. Misalnya dalam lakon Macbeth dari Teater Amoeba atau Merindukan Selamat Tinggal oleh teater Gonjang-Ganjing.

Realisme ternyata tak pernah mati. Ada grup-grup yang bisa merawat dan menghidupkan naskah-naskah lama dengan interpretasi yang mendalam dan baik.

RADHAR PANCA DAHANA:

Elemen-elemen yang paling dasar dari sebuah kerja teater, dramaturgi dan mise-en scene penyutradaraan, yang antara lain menyangkut pemilihan naskah, pilihan bentuk artistik, pola pemeranan, penerjemahan set panggung hingga soal fungsi musik, sangat menentukan hasil akhir pementasan.

Kalau hal-hal tersebut tidak dicermati dan dikuasai, pertunjukan akan kehilangan tidak hanya greget, kebulatan pesan tapi konsistensi dan koherensi, dua hal yang sangat vital dari sebuah karya seni.

Untuk menghindarkan kesan stagnan di dalam FTJ diperlukan adanya “workshop” seputar dasar-dasar dramaturgi yang berkesinambungan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik dari kalangan dalam maupun luar teater.

PUTU WIJAYA:

“Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya.

Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan.

Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat

Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok.

Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah.

Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan.

Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival.

Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu.

Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008.

Jakarta, 30 Desember 2007

DEWAN JURI FTJ 07

  • Jajang C. Noer
  • Seno Joko Suyono
  • Radhar Panca Dahana
  • Danarto
  • Putu Wijaya