Category Archives: wawancara

Yumelda Chaniago: FFI 2007

Wawancara oleh Yumelda Chaniago (Suara Pembaruan) melalui email.

1. Dalam list nominee kategori tata musik 4 di antaranya merupakan musisi yg telah dikenal, hanya satu yaitu Bobby Surjadi yg kurang dikenal.

Dgn komposisi spt itu terkesan juri ffi thn ini berusaha mencari jalan aman, agar tdk tertipu spt juri thn lalu dlm kasus ekskul, shg lebih memilih musisi2 yg punya nama. Bagaimana tanggapan mas Putu?

JAWAB:

Juri dalam menilai film-film itu di Studio 5 , XXI, Planet Hollywood, tidak membedakan jenis film, tidak melihat siapa produsernya dan tidak melihat latar belakang personal dari pendukungnya.

Setelah kami sepakat pada pilihan kami, yang kami lakukan dengan terus-menerus berdiskusi, baru kami lihat siapa-siapa pilihan kami itu untuk membuat laporan.

2. Boleh tau mas pertimbangannya apa, juri memilih para nominee di tata musik tersebut?

JAWAB:

Pertimbangan untuk unsur film, termasuk musik, dalam pemilihan nominasi, adalah seberapa jauh unsur-unsur itu mendukung film itu, sehingga menjadi bagian yang integral dengan film, bukan berdiri sendiri.

Untuk musik khususnya, walaupun materinya bagus sebagai musik yang berdiri sendiri, tetapi kalau kaitannya dengan film bila tidak mendukung, malah mengganggu, kami sisihkan.

3. Apa langkah antisipasi yg telah dilakukan juri untuk menghindari kembali terjadinya kasus ekskul?

JAWAB:

Panitia Festival, dalam menerima film untuk diikutsertakan dalam festival memberi persyaratan, adanya pernyataan tertulis bahwa itu karya asli. Itu pun ditambah dengan kemungkinan bila ada keraguan atau ada bukti bahwa itu bukan karya asli, tidak akan dinilai.

4. Panitia penyelenggara ffi thn ini bertekad akan menyelenggarakan ffi thn ini scr ideal, krn ffi merupakan penghargaan film tertua di Indonesia. Ideal yg spt apa yg diinginkan penyelenggara khususnya dlm penjurian thn ini?

JAWAB:

Itu mesti Anda tanyakan pada panitia. Bagi kami para juri, ini adalah tugas kehormatan. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memilih yang terbaik. Alhamdulillah, ternyata kelima juri tidak menemukan banyak kesulitan dalam memilih nominasi.

5. Bedanya dgn penjurian ffi di thn2 sebelumnya apa mas?

JAWAB:

Setahu saya bedanya, karena FFI 07 pesertanya kurang dari 40, menurut peraturan (Bab II Mekanisme Penjurian FFI, Pasal 3, Komite Seleksi) , tidak diadakan babak selesi. Jadi kami Dewan Juri langsung memilih nominasi (sudah diumumkan) dan kemudian memilih yang terbaik yang nanti diumumkan di Pekanbaru.

6. Katanya akan ada kategori film berbhs indonesia terbaik?

JAWAB:

Itu sebaiknya Anda tanyakan pada panitia. Yang saya tahu, itu akan merupakan pilihan dari penyelenggara setempat, bukan kami juri.

7. Apa aja nominasinya? Kok ga ada di pengumuman.

JAWAB:

Tugas itu tidak diberikan kepada kami.

8. Apa wewenangnya di pemda riau? Bagaimana ceritanya mas?

JAWAB:

Sebaiknya Anda tayakan ke Panitia: Mas Labbes Widar atau Mas Wina Armada

Iklan

Zoom dan Zero

Veronita Agnez telah menulis pertanyaan mewawancarai saya lewat email dalam rangka penulisan skripsi. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya, seperti tidak menyimak wawancara langusng sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu tipikal pertanyaan mahasiswa yang malas, yang menyuruh orang lain menceritakan segalanya. Akhirnya saya minta dia menyimak dulu hasil wawancaranya sendiri sebelumnya serta melihat VCD pertunjukan, lalu beropini dan kemudian baru bertanya sehingga terjadi dialog. Syukurlah dia mengerti maksud saya.

Lalu dia memperbaiki pertanyaannya dan memberikan daftar pertanyaanbaru yang membuat saya gembira. (Vero, sekarang pertanyaannmu sudahbagus. Oke kemajuan pesat.

Kalau menulis skripsi, khususnya tentangsaya, jangan takut berpendapat, karena saya merayakan perbedaan).Banyak kejadian yang saya alami, para mahasiswa sudah dibikin sepertirobot oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpola, khususnya bagiyang ingin cepat-cepat lulus saja (termasuk yang saya lakukan sendiri waktu mahasiswa) – mudah-mudahan di masa mendatang hal tersebut bisakita musnahkan.


Vero:
Bagaimana pola penyutradaraannya Zoom dan Zero? Yang saya perhatikan dalam pertunjukan Zero dan Zoom, pertunjukannya selalu mengunakan layar, gerak, eksplorasi tubuh dan sangat minim sekali dialog yang keluar dari pemain, kalau pun ada hanya bahasa-bahasa simbol yang ingin menyatakan sesuatu. Seperti dalam zero para pemainnya hanya mengeluarkan suara yang mengeram seperti binatang.

Yang saya ingin tanyakan karena mas putu dalam setiap pertunjukantidak pernah memakai konsepsi dramaturgi, bagaimana cara mas putumengatur pemain yang ada di panggung, sehingga para pemain itu bisa menampilkan sebuah pertunjukan yang utuh, dan tidak terlihat sekali adanya kesalahan walaupun mungkin dari para pemain banyak melakukan improvisasi.

Apakah dalam setiap pertunjukan yang mas lakukan, mas Putu membebaskan pemain untuk mengeksplorasi apa saja, tanpa adabatasan?

PW:
Saya memberikan kebebasan pemain saya dengan satu pesan: Jangan merusak Kebebasan, dengan cara mengormati Kebebasan Orang lain. Dalam latihan-latihan saya selalu mengajak pemain menerima, menghargai dan kemudian memanfaatkan kehadiran orang lain, sehingga mereka menjadisebuah komplotan, bagaikan jari-jari yang semula terpisah lalu mengepal dalam tinju, dalam sebuah tim kerja. Kekompakan, kepaduan buat saya penting sekali.

Mandiri kalau sudah di atas panggung tidak hanya main, tetapi mereka melakukan apa saja untuk menyelamatkan pertunjukan. Mereka adalah prajurit sekaligus jendral. Setiap pemainmenjadi sutradara/pemimpin yang harus bisa membuat keputusan dalam keadaan apa pun juga. Saya selalu mengajak mereka melihat pentas sebagai sebuah pertempuran.


Vero:
Dalam pertunjukan Zero dan Zoom, khususnya, saya kurang bisamemahami pola pengadeganan dari pertunjukan mas. Karena waktu sayamenonton Zero di dvd, saya tidak menangkap alur cerita yang pasti,jalinan ceritanya tidak lurus, tapi patah-patah., misalnya habisa dengan perempuan yang sedang menari, ditarik masuk kedalam layar, semua pemain bergumul didalam layar, kemudian tiba-tiba perempuanmengeluarkan kepalanya dan tubuhnya seperti raksasa, diamenjerit-jerit, merintih kesakitan, sperti meminta pertolongan.

Semua apa yang saya lihat membuat saya tercengang, hampir bisa dibilang kaget, karena belum mengerti maksud dari adegan itu., ketika saya jadikembali teringat apa yang mas Putu katakan, bahwa mas selalu melakukan pembelokan-pembelokan, yang seakan-akan ingin mematahkan suatu empatiyang sudah terbangun. Yang saya ingin tanyakan bagaimana alur penceritaan dan pola pengadeganan dari Zero dan Zoom?

PW:
Tidak ada cerita dalam pertunjukan ZOOM dan ZERO. Yang adahanya rasa. Jadi jangan mencari arti dan sambungan, semuanya mengaliruntuk menyentuh rasa. Apa yang kamu rasakan itulah dia.

Pertunjukansaya tidak penting, yang penting adalah apa yang kemudian terjadi didalam dirimu (penonton) sesudah menonton. Teater seperti itu (terormental) , konsepnya sudah lain sekali dengan teater realis (mapan)yang ingin meniru atau menampilkan kehidupan nyata. Kami ingin mengajak penonton masuk ke dalam roh kenyataan kasat mata itu.


Vero:
Kemudian mas Putu sendiri selalu melakukan pengembangan terhadap semua pertunjukan, sehingga dari pertunjukan yang satu danyang lainnya selalu berbeda.

Apakah hal itu tidak menyulitkan mas Putu sebagai sutradara untuk mempertahankan konsep pertunjukan yang sudah jadi, dan juga apakah hal itu tidak menyulitkan pemain, karena dari setiap pertunjukan yang dilakukan semuanya berbeda-beda?

PW:
Kesulitan adalah berkah. Bahaya adalah tantangan. Kegagal;anadalah janji dan kesempatan. Itu bagian dari pelafalan konsepBERTOLAK DARI YANG ADA. Takut? Ya, siapa yang tidak takut.

Tetapi ituberarti manusiawi sekali. Dengan takut dan cemas, kita akan terangsang/termotivikasi/terstimulasi untuk berbuat lebih jauh. Hidup adalah upaya yang tak habis-habisnya menyelamatkan diri dari berbagai ketakutan yang mengejar-ngejar kita. Pertunjukan saya tidak pernah selesai, tumbuh dan memang dibiarkan berkembang terus.


Vero:
Dalam setiap Pertunjukan itu sendiri, kalau yang sayainterpretasikan, mas kemas dalam bentuk teater seni rupa. Saya mengirabahwa layar mempunyai substansi sebagai idiom mas Putu dalamberekspresi.

Layar sendiri dijadikan seperti kanvas dan media visual yang berupa cahaya, slide proyektor, gelombang kain, mas jadikan sebagai media atau alat untuk membuat sebuah lukisan di atas layar,yang akan membuat bentuk, garis, warna, tekstur, dan lain-lain.

Seperti dalam hasil wawancara kemarin mas mangatakan bahwa peranan ligthing, make-up, kostum, properti dan artistik seperti cat dalam lukisan dan seperti peranan sinar dalam lukisan impresionis. Saya mengira bahwa mas ingin melukiskan panggung teater atau sebuah peristiwa teater dengan media tersebut, dan mas Putulah pelukisnya,yang dengan idiom yang mas Putu pakai membuat sebuah lukisan hasildari ekspresi mas, dan maslah sang pemegang kuas, yang mempunyai peranan sangat penting (sutradara) dalam membentuk lukisan tersebutingin dibuat seperti apa. Apakah hal ini sudah menjadi teater yang masinginkan?

PW:
Benar. Pentas adalah kanvas saya. Kadangkala ya memuaskan,kadangkala tidak. Saya memang membuat lukisan dan patung-patung yang bergerak. Jadi teater adalah gabungan antara seni rupa dan seni sastra,tetapi bukan tempelan, sudah meluruh dalam sebuah kesatuan yang hidup.

Bagi saya teater bukan peniruan pada kehidupan, tetapi kehidupan itusendiri. Ia tumbuh, bergerak, liar dan kadangkala tak terkuasai olehbahkan kami para pelakunya.

Kadangkala saya berdialog, berdiskusi dan bantah-bantahan sendiri dengan apa yang sedang tercipta di atas pentas/layar. Jadi seakan-akan pertunjukan itu sendiri berjiwa,berekemaiuan dan mau memilih jalannya sendiri.

Kadang-kadang padasuatu malam, terjadi sesuatu yang sangat berbeda. Kalau kebetulan terlibat di pentas (sejak tahun 2000 saya aktif ikut main) saya bisa langsung mengarahkan.

Kalau tidak, pemain sendiri harus mengambilkeputusan. Tetapi sering berakhir berbeda/di luar dari apa yang sudahdirencanakan (meskipun selamanya bagus). Itu sebabnya saya berani bahwa sutradara/kreator/saya bukan dewa, bukan dictator.

Sutradara/kreator hanya salah satu partisipan. Sutradara hanya sebagaistarternya/pencerusnya, kemudian semuanya mengalir sendiri. Pementasan sering berjalan liar dan bisa tak terkendali lagi.

Namun karena kamisudah terbiasa oleh perilaku itu, semuanya akhirnya selesai denganbaik. Kalau direnungkan dalam, sebenarnya keliaran itu karena tontonan tumbuh.

Khususnya bentuknya berkembang, tetapi nhyawanyatetap datang dari hati kami yang paling dalam. Itu sebabnya sayabilang teater itu adalah peristiwa spiritual. Namun, pendapat lainyang percaya teater itu hiburan, atau apa pun, saya hormati, saya tidak ingin membuat idiologi teater.


Vero:
Mas Putu saya masih bermasalah dengan makna dari penggunaan bandot “boneka besar” yang selalu dipakai dalam setiap pertunjukan? Karena bandot besar itu kadang-kadang menganggu pikiran saya, saya mengira bahwa penggunaan bandot besar itu selain bisa menyimbolkan pada suatu tokoh penguasa yang besar yang bisa menindas rakyat kecil dengan kekuasaannya, bisa juga menjadi monster aneh yang besar, yang mengganggu pikiran dari penonton yang melihatnya, terkadang bisamenjadi sebuah boneka biasa, kadang bisa jadi alien, atau boneka wayang apabila tangannya di beri tongkat… saya jadi binggung mas…

PW:
Bandot itu anggota kelompok kami. Kedudukannya sama dengan anggota Mandiri yang lain. Ia ikut bermain. Ia memainkan salah satuperan. Ia sama dengan Alung atau Wendy. Kadang dapat peranan besar,kadang peranan kecil. Kadang hanya bengong jadi pajangan, tidakkebagian peran.

Ia hanya menjadi set, barang mati, properti yang dipergunakan untuk apa saja. Kadang-kadang hanya untuk komposisi. Bukan hanya bandot. Semua properti saya yang lain juga posisinyaseperti itu.

Ia sudah menjadi keluarga teater Mandiri. Kadang-kadangsaya tidak mau memakainya lagi, tapi ada saja pemain yang membawannya masuk. Dan begitu dia masuk, langusng dilibatkan oleh semua pemian.

Anehnya peristiwa masuknya kembali prop yang sudah lama, selalukemudian ada alasannya di kemudian hari. Hal itu menyebabkan saya bersikap terbuka dalam proses latihan.

Seringkali saya/kamimenggelinding dulu tanpa konsep, belakangan baru kami renungkan lagi,seleksoi dan susun lalu dikembalikan pada konsep pertunjukan/ide pokok pertunjukan sehingga pernik-pernik itu tidak berserakan — itulah peran sutradara. Sutradara bukan saja mencipta, tetapi adakalanya/pada saatnya dia berhenti menumbuhkan dan hanya menajamkan pertunjukan supaya siap menusuk penonton — walhasil mengemas.Pengemasan di dalam berekspresi (baca:teater ) sangat penting.


Vero:
Mas Putu, yang saya lihat dari pertunjukan Zero, adabeberapa adengan yang pemainnya menggunakan topeng, ada juga pada saattopeng itu di simbolkan sebagai wajah yang diapit oleh layar atau kainmenjadi seperti roh atau arwah penasaran yang membuat bulu kuduk saya merinding, kalau yang saya tangkap dari pertunjukan itu arwah ituingin mencari tempat atau keberadaannya, arwah itu seperti inginmembalas dendam.

Lebih-lebih pada saat perempuan yang menari dan dibelakangnya diikuti oleh dua orang yang dibalut dengan kain dan menggunakan topeng, hal itu seperti menunjukan sesuatu, seperti suatu upacara ritual pemanggilan roh….yang saya ingin tanyakan sebenarnya topeng itu bermakna apa ya mas, apakah untuk menandakan wajah-wajah seseorang yang teraniyaya, yang ingin mencari kebenaran, atau sepotong wajah mengawang kemana-mana menjadi roh penasaran…? dan juga kenapa make-up yang digunakan seperti orang yang ingin melakukan pantomim,yaitu hanya flat putih, seperti wajah yang hanya dimake-up dengan pidi putih?

PW:
Properti dan khususnya topeng yang kami pakai, dibuat sendiri olehpara pemain. Ada yang bagus, ada yang jelek. Saya tidak peduli bentuknya, asal itu dibuat oleh mereka sendiri. Jadi kami tidak pernah menyerahkannya kepada art director yang canggih.

Justru kesederhanaannya sering menjadi kelebihan. Penggunaannya juga tidak sama dengan cara penggunaan topeng pada pertunjukan orang lain. Kamitidak membuat topeng itu jadi karakter lalu pemain menghidupkannya.Tidak.

Tetapi topeng itu, didekati secara personal, oleh setiappemain. Setelah lama berkenalan, pemain dan topeng akan bersatu dan menunjukkan kehidupannya sendiri, menurut yang dia yakini, yang diciptakan oleh pemainnya.

Jadi bukan hanya sutradara, pemian jugapencipta dalam Teater Mandiri. Tentu saja sebagai sutradara sayamengarahkan dan menempatkan ciptaan-ciptaan itu agar tidakberseliweran sehingga menjadi satu jurus yang ampuh.

Itu dilakukan langusng di dalam latiahn. Artinya proses latihan menentukan. Ketika sedang berlatih saya dan semua partisipan melakukan penciptaan.Tentang artinya, pada setiap orang bisa beda-beda.

Latar belakangpenonton, akan mewarnai apa yang terlihat. Jadi kalau mau menikmati ZERO, nikmati saja apa yang terjadi dalam dirimu, itulah dia. Tentangkonsep saya, sebagaimana saya ceritakan dalam wawancara langsung anggap sebagai bandingan.


Vero:
Dalam hasil wawancara yang kemarin mas Putu mengatakan bahwadi teater Mandiri hanya mas Kribo dan mas Wendy yang dapat disebut sebagai aktor, sedangakan yang lainnya hanya orang biasa. Kalaupertunjukan Zoom dan Zero, yang saya tonton memang hanya segelintir orang saja yang mendapatkan peran yang cukup besar. Tetapi saya merasa bahwa karakter pemain pemain yang lain jadi tidak jelas bermain sebagai apa, kadang-kadang bisa dikatakan terlihat sebagai crew.

Apalagi pertunjukan Zoom yang banyak memakai banyak pemain. Saya ingin menanyakan bagaimana cara mas Putu menciptakan watak para pemain dalam pertunjukan Zero dan Zoom, dengan kondisi yang seperti itu, apakah penciptakan karakter watak itu hanya merupakan proses kreativitaspemain yang melakukan pencariannya sendiri, atau mas Putu juga turut berperan dalam penciptaan karakter watak tersebut?

PW:
Dalam “tontonan” seperti yang saya lakukan, tidak ada karakter.Yang ada adalah suasana. Kadang-kadang seseorang pemain memainkan sesuatu, tetapi kemudian dia keluar dan memainkan yang lain di saat penonton sedang asyik. Patahan itu bagi penonton teater realis yang snang “empathi” memang akan terasa menyakitkan. Tapi biasanya, kalausudah terbiasa, akan jadi kenikmatan. pertunjukan Mandiri adalah peristiwa, bukan tuturan.

Tidak ada cerita. Yang ada hanya kesan-kesan, imij dll seperti kalau kamu mimpi. Mimpi umumnya tidak bisa diartikan. Kalau mau diartikan boleh saja. Kasrena meloncat-loncat, mimpi lebih kaya bila dinikmati dengan rasa.Interpretasi sangat penting untuk memahmi mimpi.

Dengan teater saya mengajak – ingin mengajak penonton untuk mengembara ke dalam imajinasi dan melakukan penafsiran-penafsiran. Itu akan membawa mereka ke dalam dirinya sendiri. Jadi teater sebenarnya adalah sebuah pertualangan untuk mengenal lebih mendalam diri sendiri.

Karena itulah, di sekolah teater tidak harus diartikan sebagai usaha untyuk mencetak murid jadi pemain drama. Teater membelajarkan manusia untuk mengenal dirinyasendiri, agar lebih sempurna dalam menghadapi orang lain.


Vero:
Dalam setiap pertunjukan saya selalu merasa bahwa ritme pertunjukannya, dan ketukan dari para pemain dan musik sangat cepat,kadang-kadang membuat shock jantung, saya menyimpulkan bahwa inilah yang disebut mas Putu sebagai teror mental.

Menteror setiap orang darimusik dan kecepatan bermain aktor-aktor teater Mandiri. Tetapi apakah mas Putu tidak pernah mencoba menurunkan ritme itu? Agar para penontonbisa menarik nafas dulu…

PW:
Betul. Saya berguru dari tukang copet, tukang obat di pinggirjalan dan tukang sulap. Dalam sulapan, pesulap harus cepat. Kecepatan itulah yang membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Jadi apayang ada dipentaskan bukan tiruan hidup sehari-hari, tetapi adalah pancingan, adalah teror saja, yang membuat orang kembali kepadakehidupan nyata lewat pengaman batinnya.

Itu sebabnya saya tidak takutkalau penonton tidak percaya dengan apa yang terjadi di pentas –hubungkan dengan empathi berarti keterlibatan emosional. Bagi kamipenonton bahkan selalu diingatkan untuk melihat apa yang di pentas ituhanya “fake” bohong . Namun kebohongan itu justru mengajak merekamengintai lebih dekat kebenaran.


Vero:
Mas Putu, Musik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesly, dalam hasil skiripsi Mba Lousy yang saya baca, sudah mengiringi setiap pertunjukan yang mas lakukan, sejak tahun 1980-an.

Saya belum memperhatikan secara detail mengenai musik itu mas, dan saya juga belum tahu nadanya seperti apa. Tapi yang ingin saya tanyakan apakah musik itu juga mengiringi atau digunakan dalam pertunjukan zoom dan Zero?

PW:
Lagu Jangan Menangis Indonesia, seperti Bandot, juga salah seorang anggota Mandiri. Lagu itu salah seorang pemain saya. Kalau Harry ada, lagu itu pasti dimainkan. Saya tidak tahu kenapa kenapa dia katut terus. Saya tidak merasa lengkap kalau tidak memberinya peran.

Waktu Zero main tanpa Harry di Taipeh (2003), lagu itu juga tidak iokut main. Dan setelah 2004 (sesudah pertunjukan ZOOM) dia pergi bersama Harry Roesly.


Vero:
Mas Putu, saya sudah bertemu dengan mba Lousy, di dalam skripsinya, tertulis bahwa dalam pertunjukan JMI, penciptaan naskah JMI terdiri dari beberapa proses, seperti adanya naskah awal, yang hanya berupa konsep-konsep seperti sinopsis, ada naskah proses, dan terakhir naskah utuh sebuah naskah yang ada setelah pertunjukan.

Apakah dalam Zero dan Zoom, juga terdapat pembagian penciptaan skenario atau naskah seperti yang terjadi dalam JMI, ataukah pertunjukan Zero dan Zoom hanya memiliki konsep/fragmen saja, dan tidak memiliki naskah seperti JMI ?

PW:
Sebenarnya hampir sama. Ada proses latihan phisik. Ada proses pencarian. Ada proses pembentukan. Kemudian ada proses pemantapan. Kemudian tinggal pengembangan dan pertumbuhan dalam setiap pementasan.

Tetapi ZERO dan ZOOM tidak memakai dialog seperti JMI jadi tidak ada dokumen tertulisnya. Setiap saat bisa kami mainkan kembali tetapi sudah beda-beda. ZERO yang di TUK lain dengan yang di TIM dan lain dengan yang di GOETHE, lain dengan yang di Taipeh, juga lain dengan yang di CAIRO.


Vero:
Saya melihat dalam pertunjukan Zero lebih banyak bergumul di kain, para pemain lebih banyak mengeksplor gerak-gerak tubuh mereka, sedangkan pada Zoom yang saya tonton dulu, para pemain juga ada yang bergumul di layar besar yang sama persis dengan di Zero.

Kalau diperhatikan secara sepintas pertunjukan Zero dan Zoom hampir sama, misalnya tetap menggunakan layar besar, musik keras, efek-efek pencahayaan yang mendukung situasi pengadeganan dan untuk membangun emosi, ada juga adegan perempuan yang diperkosa, dan disiksa. Hanya pada pertunjukan Zoom lebih banyak dialognya meskipun hanya berupa kata-kata yang diulang-ulang seperti war is war, fredom is fredom.. Yang mau saya tanyakan apa yang membedakan pertunjukan Zero dan Zoom selain dari ide cerita yang ingin disampaikan?

PW:
Layar itu juga salah seorang anggota Teater Mandiri sejak 1991. Jadi ia selalu ikut main. Pada ZOOM layar masih digantung, tetapi dalam ZERO layar turun dan bergerak horisontal ke mana-mana di seluruh pentas – Perbedaan itu konsekuensinya sangat banyak dalam kinerja pemain.

Sdetiap pemain, termasuk pembawa lampu harus belajar bagaimana caranya jkeluar masuk layar. Ukuran layar sangat penting – harus pas dengan jumnlah pemain. Bahan layar juga harus tepat, karena kami pernah terjebak memakai bahan parasut yang menyebabkan pemain di dalam layar bisa semaput karena kurang O2. Dalam ZERO lampu mulai menjadi PEMAIN.


Vero:
Mas Putu, setelah saya membaca beberapa artikel koran yang meliput pertunjukan Zero dan Zoom, saya melihat adanya hubungan yang terkait atau persamaan mengenai tema yang coba diangkat oleh mas Putu. Zoom adalah sebuah esai visual yang mengambarkan mengenai perang dan permusuhan yang terjadi di antara manusia, yang tidak pernah ada habisnya.

Sedangkan Zero adalah sebuah esai visual mengenai gagasan yang coba mas Putu tawarkan untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dari kedua karya tersebut, secara tidak langsung, mas Putu ingin mengatakan menolak pada peperangan dan permusuhan, dan kemudian mas Putu mencoba untuk mencari jalan keluar dari pemasalahan tersebut, tanpa membuat suatu permasalahan yang baru. Zoom dan Zero, merupakan karya yang mampu mencerminkan keadaan sosial-politik yang sedang terjadi di dunia sekarang ini.

Dimana Chaos (kekacauan), sedang melanda dunia.Apakah kedua pertunjukan itu benar memiliki hubungan terkait, apa seperti mata rantai pertunjukan yang saling menyambung, Kalau saya bisa dikatakan seperti trilogi, mulai dari War, ke Zero, lalu ke Zoom?

PW:
Kamu betul. Dalam konsep ZOOM DAN ZERO adalah esei tentang perang dan usaha untuk menjawabnya, walaupun saya tahu itu bukan jawaban yang paling tepat bahkan mungkin jawaban yang gagal. Minimal lami sudah berusaha menjawabnya agar ada jawaban lain datang


Vero:
Mas Putu sebenarnya apa yang melatar belakangi sehingga memilih judul Zero dan Zoom, kenapa tidak memilih judul lain yang bisa lebih menarik perhatian masyarakat awam misalnya seperti…. aduh mas saya jadi binggung mau kasih contoh apa, soalnya saya ngga jago bikin judul, ya tapi maksud saya itu ?

PW:
Bagi saya kata yang pendek itu mengandung misteri dan kepadatan arti, sehingga bila dia menjadi judul, maka yang saya lakukan baik dengan tulisan atau pementasan terhadap kata itu adalah membuat disertasi.

ZOOM berarti penggandaan ukuran. Bila kamu melihat kulit kamu dengan mikroskop maka kulit kamu menjadi gambar yang mengerikan, penuh lubang dsbnya. ZERO adalah nol adalah kosong. tetapi dalam tradisi Bali disebutkan bahwa kosong itu penuh dan penuh itu kosong.

Bagi saya itu sebuah gua pertapaan yang akan mengantarkan kita kepada makna yang beragam dan dalam. Judul satu kata buat saya jauh lebih seksi dan menteror dari judul yang puitis yang sudah biasa dipakai orang.


Vero:
Mas Putu, singkat saja pertunjukan Zero dan Zoom pernah dimainkan dimana saja mas, dan siapa saja pemainnya yang terlibat didalamnya selain mas Wendy, mas Kribo, Mr. Chung, mas Bei?

PW:
Pemain (jumlahnya tergantung desa-kala-patra) yang sering terlibat: Chandra, Kardi, Rino, Kleng, kadang-kadang Diyas (sekarang jadi istri bei), Fien (istri Wendy), Agung (pegang proyektor slide) dan Ucok (pegang lampu – dulu anak IKJ). Di Goethe pernah 125 peserta workshop ikut main (2004) .


Vero:
Mas Putu, kalau saya boleh tahu, berapa jam durasi tiap kali mas putu latihan, dan apakah pada saat mas Putu ingin memainkan Zero dan Zoom, mas Putu mempunyai schedule latihan yang pasti, dan latihan untuk itu bertempat dimana ya mas, selain di rumah mas Putu

PW:
Saya berlatih sekitar 3 atau 4 jam. Jam 10 malam atau sebelumnya sudah selesai, sebab kami latihan di dalam kompleks perumahan, di samping itu khawatir anak-anak ketinggalan bus. Kami latihan di Cirendeu di rumah saya sekarang, setiap kali produksi ada uang transport 10 ribu per kepala plus makan sebelum atau sesudah latihan.

Kalau sudah perlu tempat luas, kami menyewa di Jl. Kimia. Sekarang gedung milik departremen Budpar itu sudah terlalu tua, berbahaya dipakai. (Salah satu ruangan latihan yang kami pakai menyiapkan NGEH pada 1998, sempat runtuh, menghancurkan ptroperti kami). Jadi saya latihan di rumah.


Vero:
Mas Putu kalau saya boleh tahu, bagaimana dengan budget produksi dalam pertunjukan Zoom dan Zero, kira-kira berapa dana yang dikeluarkan untuk produksi pertunjukan Zero dan Zoom? dan berapa harga tiket untuk masing-masing pertunjukannya ya mas?

PW:
Dengan konsep Bertolak Dari Yang ADA, produksi saya selalu dimulai dengan melihat berapa uang yang ada. Setelah itu saya pisahkan untuk transport dan pembuatan properti. Sekitar 80 persen untuk honor pemain. Honor pemain Mandiri antara 750 (anak baru) sampai 3 juta (senior). Karcis urusan TIM biasanya 30 dan 50 ribu


Vero:
Mas Putu, saya kalau yang saya perhatikan pemain dari teater Mandiri hanya yang itu-itu saja, dan usia mereka juga sudah cukup tua, padahal sepengetahuan saya teater Mandiri sangat mengutamakan Fisik dari para pemain, dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk dapat melakukan semua hal yang ada di panggung, apalagi setiap teater Mandiri mentas, semua pemainnya kan harus berada dipanggung semua.

Saya saja yang masih muda kadang-kadang kelelahan atau capek kalau melakukan hal yang seperti olah tubuh. Sebenarnya bagaimana dengan energi dari para pemain di Teater Mandiri? Dan bagaimana dengan regenerasi dari pemain teater Mandiri. Apakah tidak terjadi regenerasi pemain dalam teater Mandiri, apa alasannya ya mas?

PW:
Pertanyaanmu pernah ditanyakan okleh seorang professor di Taipeh setelah melihat pertunjukan ZERO. Saya jawab memang mengherankan, pada kami usia tidak menjadi ukuran. Kribo misalnya yang ikut Mandiri sejak tahun 1974, sampai sekarang tetap bisa melakukan apa yang saya minta.

Bahkan dia jauh lebih kuat sekarang dibandingkan dengan 34 tahun yang lalu. Pengalaman dan kematangannya membuat ia tetap kuat. Sedangkan anak-anak muda jarang yang mau bergabung, jadi saya tidak bisa memaksa,. Dalam Mandiri sekarang ada generasi KRIBO sejak tahun 1974, ada generasi WENDY dan UCOK, sejak tahun 1980 dan generasi Chandra 1991, lalu generasi Bei (1995) Kemudian generasi Agung, Kleng dan Diyas (2004). Pada Mandiri regenerasi itu tidak bisa dibuat/dipacu, mereka melahirkan dirinya sendiri.


Vero:
Mas Putu, hanya untuk menambah informasi saya saja, dalam setahun mas Putu bisa menghasilkan berapa karya, baik dalam drama, teater, maupun novel?

PW:
Minimal satu atau dua untuk masing-masing jenis. Tapi saya menulis setiap hari. Saya punya kolom setiap minggu di berbagai penerbitan yang merupakan gabungan esei dan cerpen. Menulis buat saya sudah pekerjaan.


Vero:
Mas Putu, apakah pertunjukan Zero yang mas Putu lakukan di GBB sama dengan apa yang dilakukan di TUK? Karena menurut informasi yang saya dapatkan dari mba Lousy pertunjukan yang di GBB menggunakan bandot, menunjukan gambar-gambar dari beberapa tokoh politik yang teraniyaya seperti Munir dan Marsinah, sedangkan apa yang saya tonton dari hasil dokumentasi yang di TUK, sangat berbeda sekali, meskipun dalam segi penceritaan dan makna yang diusung hampir sama.

Apakah mas Putu punya dokumentasi pertunjukan Zero yang di GBB. Kalau ada saya mau minta dicopykan untuk bahan perbandingan saya dalam menulis nanti. Kemudian saya juga belum mendapatkan hasil pertunjukan Zoom.

PW:
Beda. Pementasan itu tumbuh. ZERO yang di GBB itu hanya demo untuk membuka Festival Teater 2006, dokumentasinya ada di DKJ dibuat oleh ZOEL.


Vero:
Mas Putu bolehkan saya meminjam Booklet pertunjukan Zero dan zoom, dan beberapa foto-foto latihan teater mandiri, yang memuat tentang pertunjukan Zoom dan zero, sebagai referensi saya….

PW:
Dalam dokumentasi kami brengsek. Coba lihat di DVD yang saya berikan.

Wawancara Veronita dari IKJ

VERO: Mas Putu sejak kapan mengenal teater?


PW:Di Tabanan, Bali, kota kelahiran saya ada 2 gedung bioskop. Nusantara dan Bali Teater. Nusantara kadang-kadang diubah jadi gedung pertunjukan amal untuk mencari dana. Yang dipertunjukan adalah sandiwara yang berlatar perjuangan revolusi. Latihannya kadang di dekat rumah saya, sehingga waktu kecil saya sudah mulai melihat orang berlatih bersandiwara. Saya senang sekali. Tetapi setiap kali TK saya mengadakan pertunjukan, saya tidak pernah terpilih ikut main.Di gedung NUSANTARA (sekarang jadi took swalayan) itu juga pernah main rombongan sandiwara dari Persari Jakarta, dengan artis-artis seperti raden Mochtar (terkenal
dalam film Bengawan Solo).


VERO: Mas Putu belajar dari mana mengenai teater?


PW:Di SMP saya semakin senang mihat pertunjukan teater, tetapi dalam perpisahan sekolah tidak pernah ditunjuk/terpilih ikut. Baru di SMS Singaraja, Kesempatan pertama datang ketika Gde Dharna, sastrawan terkenal di SIngaraja diminta sekolah menyutradarai dramanya untuk perpisahan sekolah. Tapi kemudian gagal karma saya sakit dan irawat di Rumah Sakit terserang malaria.Kesempatan kedua waktu kelas duua SMS ketika Kirjomulyo yang diminta oleh Kepala Sekolah Ibu Gedong Bagoes Oka) untuk menyutradarai pertunjukan perpisahan sekolah, memilih saya untuk main. Saya dipilih, karena waktu itu saya Juara Deklamasi seluruh Singaraja (kemudian juga Bali). Itu pertama kali saya main. Dramanya Badak- terjemahan Nasyah Djamin dari Rhe Boor karya Anton Chekov (Rendra menerjemahkannya dengan Orang Kasar)


VERO: Apa yang melatar belakangi mas Putu untuk mengeluti dunia teater?


PW: Sejak kecil saya sudah suka nonton wayang. Saya sering menyuruh orang membuat wayang dari karton dan kemudian meminta memainkannya. Saya yang mengarang ceritan ya. Pernah saya mengajhak teman-teman memainkan adegan di dalam komik. Baru di SMA saya benar-benar menggeluti Teater. Setelah disutradarai oleh Kirjomulyo, kemudian saya mementaskan sendiri Wanita Itu Bernama Barabah karya Motinggo Boesye, main dan sekaligus menyutradarai.


VERO: Mas Putu dulu pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, dan pernah ikut bermain dengan Teater ‘Mini Kata”-nya Rendra, apakah hal itu memberikan suatu inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang sama atau tidak?


PW:Di Bengkel Teater, waktu pertunjukan pertama Mini Kata, yang terdiri dari nomor-nomor, saya memnyumbangkan tiga nomor yang saya buat dan mainkan sendiri. Judulnya: SSSSSSSTTTTTT, Pedang Topi Dan Tertawa, dan satu lagi saya lupa. Yang lebih punya pengaruh pada saya ketika di Bengkel Teater ( ikut menditikan Bengkel pada 1967 bersama: Chairil Umam, Moortri Putnomo, Aswar, Bakdi Soemanto dll) casra Rendra memberikan suduyt pandang/reinterptretasin terhadap sesuatu. Main sebagai POZZO dalam Waiting for Godot ( 1969) sangat mengesankan saya. Saya begitu suka pada Beckett. Saya merasa cocok dengan Beckett.


VERO: Alasan apa yang melatar belakangi mas Putu mendirikan Teater Mandiri?


PW: Pada 1967, saya diajak Rendra ke Jakarta. Pertama kali lihat Jakarta, saya langusng jatuh cinta. Pada 1969, setelah tamat Fakultas Hukumj, saya langusng pindah ke Jakarta Di Yogya selain ikut Bengkel teater, saya juga punya kelompok teater sendiri yang sedianya dinamakan Teater Mandiri, tetapi tidak kesampaian.Setelah pindah ke Jakarta saya bergabung dengan teater Kecil, lalu sekali pernah ikut pmentasan teater Populer (Djajaprana). Keinginan untuk membuat pementasan sendiri sudah menggebu-gebu. Saya hanya membuat worshop bersama Tizsar Putbaya di gereja Santa (Kebayotan).Pada suatu kali Tizar Purbaya datang menawarkan kesempatan membuat pertunjukan di televise (masih hitam-putih). Dengan gembira saya sambut. Tapi perlu sebuah nama. Lalu saya cari nama apa sebaiknya. Mula-mula terpikir Teater Kita. Kemudian saya memilih Teater Mandii.


VERO: Kenapa memilih nama teater ‘Mandiri’?


PW: Kata Mandii saya kenal ketika kmuliah sosiologi pada Prof. Djojodigoeno. Beliau dosen hukum adat dan sosiologi yang banyak menyalin istilah asing (Belanda) dengan bahasa Jawa. Antara lain kata mandiri (dari bahasa Jawa) adalah pada kata untuk independent. Mampu berdiri sendiri tetapi juga bisa bekerjasama.Saya sanbgat jatuh cinta pada makna kata itu. Akhirnya saya jadikan nama, karena saya kira itulah yang saat itu kurang pada bangasa Indonesia. Tak kurang dari Arifin C Noer sendiri geli mendengar kata itu, sebab kedengarannya masih aneh. Sekatang kata mandiri sudah milik umum.


VERO: Sejak kapan teater Mandiri berdiri, dan dimana tempatnya?


PW: Saya bekerja di majalah TEMPO sejak berdirinya (saya ikut sebagai pendidi) pada 1971. Kantor kami di Senen Raya 83, sekarang Atrium. Saya juga tidur di kantor di atas meja atau kursi hampir 2 tahun pertama. Setelah jam kantor tutup, di gedung berlantai dua itu saya mengadakan latihan-latihan gerak di lantai bawah.Mula-mula yang ikut hanya para pegawai yang tidur di kantor seperti: Ali Said, Sutarno SK (sutradara Teater Kail), Mustafa, Zubaidi. kemudian bergabung Muthalin dan Soegeng (keduanya Dari TIM). Lalu Etu Asa. Di situlah saya menyiapkan pertunjukan pertama untuk TV, judulnya ORANG-ORANG MANDIRI. Tahun itu saya anggap sebagai lahirnya Mandiri.


VERO: Siapa saja yang pertama kali bergabung dengan Teater Mandiri?


PWI: Generasi pertama Mandiri, nama-nama yang saya sebut tadi.


VERO: Teater Mandiri pertama kali mementaskan lakon apa?


PW: di TV: Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Aduh, Kasak-Kusuk ( dua yang terakhir ini tidak disiarkan karena dianggap SARA). Pementasan pertama di TIM: Aduh (judulnya sama tapi lain dengan Aduh untuk TV)


VERO: Mas Putu dulu pernah menulis naskah yang konvensional seperti Bila Malam bertambah Malam, alasan apa yang melatar belakangi mas Putu untuk berubah memainkan drama yang in-konvensional?


PW:Bila Malam Bertambah Malam saya tulis pada 1964/65, saat saya berusia 20 tahun saya dedikasi8kan untuk pacar saya Nelly yang berbeda kasta dnegna saya dan khawatir kasta itu akan menjadi halangan hubungan kami. Sesudah itu saya menulis Lautan Bernyanyi, Dalam Cahaya Bulan, Orang-Orang Malam, Tak Sampai Tiga Bulan, Matahari Yang Terakhir – semuanya puitis.Pada 1969, hidup saya mulai pahit karena ditinggal olejh Nelly dan kemudian Pier begitu saja. Saya mulai menulis naskah Dap-Dap yang kemudian disemputnakan menjadi ADUH. Setelah itu saya selalu menulis judul dengan satu huruf.


VERO: Sejak kapan mas Putu melakukan pementasan dengan tidak menggunakan naskah?


PW: Sejak 1991, karena harus membuat pertunjukan keliling Amerika, mewakili Indonesia pada KIAS (lihat wawancara dengan LIES di ATT)


VERO: Dalam teater mas Putu, apakah mengikuti suatu bentuk aliran tertentu atau tidak?


PW: Saya memanfaatkan semuanya. Realisme (Stanbilavsky, Bolelavsky), surealis (sperti lukiosan-lukisan Chagall), absurditas (Beckett) dan segala yang berguna saya pakai, tetapi tidak menganutnya sebagai aliran.


VERO: Menurut mas Putu, apa itu teater eksperimental?


PW: Saya menulis esei tentang teater eksperimental.


VERO: Mas Putu, sejak kapan mencoba melakukan eksperimentasi dalam teater mas Putu?


PW: Seluruh proses saya adalah sebuah eksprimen – sebuah usaha mencari yang tak pernah selesai – karena itu pertun jukan kami setiap malam berbeda, berkembang, tumbuh danb berubah – tetapi saya memberikan label eksperimen sebab itu akan menjadi artificial/dibuat-buat.


VERO: Apa yang melatar belakangi eksperimen itu, dan kenapa mas Putu tertarik melakukan berbagai eksperimen dalam pementasan teater mas Putu?


PW: Esperimen pada hakekatnya adalah teror. Teror (saya membatasinya pada Teror Mental) ada;ah upaya untuk mengganggu/mengusik/mengajak orang mempertimbangkan kembali/sekali lagi keputusannya.Dalamm keadaan bimbnag orang akan berpikir sekali lagi, karena itu kebimbangan buat saya adalah suci. Teror itu juga bisa dilakukan kepada diri sendiri untuk mendapatkan penyegaran dan keseimbangan batin Distorsi batin kita perlukan untuk lahir berkali-kali dalam menghadapi banyak perubahan/perkembangan, sesuai dengan konsep hidup Desa-kala-patra (tempat -wakti-keadaan)


VERO: Mas Putu mendapatkan ide atau pengaruh dari mana untuk melakukan eksperimentasi itu?


PW: Nggak tahu saya. Tapi sejak kecil saya selalu ingin melakukan sesuatu dengan cara lain. Itu saya amati terjadi juga pada anak saya (Taksu) sekarang.


VERO: Dalam setiap pementasan mas Putu, bentuk teater yang ditampilkan sangat dominan sekali dengan visualisasi seperti penggunaan slide proyektor, layar besar, dan lain-lain. Apakah itu merupakan gaya yang menjadi ciri khas mas Putu dalam membuat pementasan teater?


PW: Lebih baik jangan memakai kata “gaya”, sebab itu akan berarti pengulangan. Saya menamakannya sebagai “idiom”, ungkapan. Hal-hal yang visual, seperti layar itu adalah idiom saya dalam berekspressi.Saya suka senirupa dan dulu sebenarnya ingin men jadi pelukis.Saya mengagumi Van Gogh, Afandi dan senirupa impresionis Prancis, kemudian saya suka surelisme Chagall. Dengan pertunjukan dan sastra saya juga ingin menggambar suasana. Drama-drama saya yang pakai dialog juga adalah suasana-suasana, periostiwa-peristiwa.


VERO: Mas Putu, kenapa menyebutkan teater mas Putu sebagai Teater Seni Rupa, apa alasannya?


PW: Saya menghentikan ambisi saya untuk menjadi pelukis ketika saya tak mampu menegrjakan tugas saya untuk bisa naik kelas ketika di ASRI. Tetapi kemudian saya tak mampu menahan dorongan “setan rupa” itu, sehingga saya terpaksa membocorkannya pada sastra dan teater. Pada tahun 1975 ketiak mementaskan LHO, ENTAH, NOL dan pada 1991 memainkan YEL, saya benar-benar melukis dengan pertunjukan.


VERO: Siapa saja orang-orang yang memberikan pengaruh atau inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang seperti itu?


PW: Pertunjukan Mini Kata. Bengkel Teater ( 1967) kemudian pertunjukan Sardono, Dongeng Dari Dirah (1974) membuat saya gelisah dan kemudian memberikan saya inspkirasi untuk percaya kepada kekuatan bentuk – bukan hanya kata-kata.


VERO: Apakah gaya yang mas Putu geluti sudah paten ataukah masih dalam pencarian (proses)?


PW: Bagi saya hidup adalah sebuah proses yang tak ada hentinya. Saya malah berpikir bahwa saya hanya membuat sebuah pertunjukan, sebuah novel, sebuah cerpen dan sebuah esei yang tak pernah selesai


VERO:Dalam setiap pertunjukan teater Mandiri, mas Putu selalu menggunakan properti yang besar-besar seperti penggunaan boneka, layar, kardus, dan lain-lain.


PW: Saya suka kepada kartun. Sesuatu yang dilebih-lebihkan. Saya tidak ingin mengajak penonton percaya bahwa apa yang terjadi di pentas itu benar-benar kejadian, Saya menjauhi empati seperti itu. Semua yang terjadi dipentas adalah palsu.Tetapi bagaimahna kelapsuan itu kemudian berubah menjadi semacam alcohol (wine) yang membuat orang fly dan memikirkan yang lain, itulah yang istimewa. Jadi pertunjukan semacam minuman anggur (di Bali berem) bukan anggutnya yang penting, tetapi sensasi yang diakinatkan oleh anggur itu.

Bukan pertunjukannya yang penting (saya serintg sehabis membaca cerpen lalu menginjak-nginjak buku saya yang saya baca) tetapi apa yang terjadi dalam batin orang itu. Bagi9 saya itu empati, itu empati yang saya tawarkan.


VERO: Apakah hal itu ada hubungannya dengan karakterisasi teater Mandiri?


PW: Ya. Di Mandiri, semua orang mengekspresikan dirinya, hanya saya yang berpikir (teater4b sutradara)


VERO: Mas Putu pemimpin sekaligus sutradara dalam Teater Mandiri, menurut mas Putu apa pentingnya peranan seorang sutradara dalam pertunjukan teater?


PW: Sutradara itu seperti Panglima Perang, Jendral lapangan, dia yang menentaukan apa yang harus terjadi. Saya selalu mengajak para pemain untuk melihat setiap pementasn adalah sebuah medan pertempuran.


VERO : Ada suatu istilah ‘Teater Sutradara’, bagaimana tanggapan mas Putu mangenai hal itu?


PW: Teater Mandiri adalah teater sutradara. Hanya Kribo dan Wendy di mandiri yang aktor, lainnya orang biasa. Mr Chung dari Taiwan yang ikut main dalam ZERO mengatakan Teater Mandiri adalah “People Theatre”.


VERO: Seberapa pentingnya penggunaan lighting, musik, sound efek, kostum, make-up, artistik, properti dalam pertunjukan Teater Mandiri?


PW: Sangat penting. Seperti peranan cat dalam lukisan dan seperti peranan sinar dalam lukisan impresionis.


VERO: Apakah para pemain teater Mandiri berkualitas atau profesional dibidangnya, misalnya apakah para pemain Teater Mandiri harus anak teater, atau tidak?


PW: Anggota Teater Mandiri ada yang aktor ada yang tukang sapu, maling, tukang ojek, bintang film, guru, dosen, pengangguran, pegawai, pengusaha. Siapa saja bisa menjadi anggota Mandiri. Siap-a saja bisa ikut main dalam Mandiri asal “bersedia” dan punya “komitmen”. Saya suka orang yang “total” bekerja sepenuhnya.


VERO: Bagaimana cara mas Putu mengkoordinir teman-teman teater Mandiri untuk membuat suatu pementasan?


PW: Biasanya kami latihan phisik lebih dahulu selama 2 Minggu. Kadang lebih. Dari sana kemudian akan terbuka jalan ke mana kami akan pergi. Kadangkala ada saat berbulan-bulan berlatih tetaopi tidak terjadi sesuatu (NGEH pada 1998 untuk Art Summit) Tapi menjelang bulan keempat, pada suati malam, setelah lelah, nosan dan hampit muak, tiba-tiba terjadi sesuatu dan selanjutnya sangat mudah.


VERO: Bagaimana proses kreatif mas Putu dalam Teater Mandiri (dari pemunculan ide sampai dengan pementasan)?


PW: Bervariasi. Tetapi setiap pementasan selalu dimulai dengan adanya gagasan apa yang mau dibicarakan. Misalnya Perang. Lalu diadakan latihan. Setelah itu ketemu bentuk-bentuk. Sering saya menyusun naskah sambil berlatih.Kalau pun mempergunakan naskah yang sudah dalam latihan, naskah disempurnakan disesuaikan dengan para pendukung – jadi bukan sebaliknya. Itu terjadi karena saya memainkan naskah saya sendiri, jadi tidak ada masalah hak cipyta.


VERO: Dalam setiap penggarapan teater, mas Putu selalu menggunakan istilah “bertolak dari yang ada”, apa maksudnya mas?


PW: Mulai dari apa yang kita miliki. Memanfaatkan, mengoptimalkan apa yang ada pda kita, untuk mencapai apa yang kita inginkan. BERTOLAK DARI YANG ADA sudah diterangkan dalam buku kumpulan konsep teater yang diterbitkan DKJ.


VERO: Mas Putu, dalam tulisannya mas Putu di buku Teater Indonesia, mas Putu menulis tentang Teater Spiritual, apa maksudnya ya mas?


PW: Bagi saya seni (sastra – teater) bukan hiburan, meskipun punya potensi menghur, tetapi adalah pengalaman batin yang dimaksudkan untuk menciptakan pengalaman batin pada pembaca atau pen onton. Karena itu teater bagi saya membidik wilayah-wilayah jiwa.


VERO: Kenapa dalam setiap pertunjukan teater, Mas Putu tidak pernah menggunakan apa yang di sebut dengan konvensi dramaturgi?


PW: Sebenarnya saya memakainya, tapi orang tak melihatnya. Saya tahu kadiahnya, tetapi saya melupakannya. Saya tidak terikat kepadanbya, karena saya sudah mmpergunakannya. Kaidah realisme misalnya, saya paham. Belum lama ini saya memainkan naskah Beckett: Krapp Last Tape (rekamannya juga boleh diminta pada DKJ – Joel), dosen akting kamu juga melihat saya main waktu di GKH (rekaman Joel diobuat di Utan Kayu). Jadi realisme, misalnya, kalau perlu saya pakai, kalau tidak ya saya lupakan. Tetapi mskiopun dilupakan, karena saya tahu, tidak akan pernah hilang.


VERO: Menurut mas Putu, bagaimana posisi seorang aktor dalam pertunjukan teater Mandiri?


PW: Semua pemain dalam Teater Mandirim pada hakekatnya dalah seorangf sutradara. Dia sangat bebas dan bisa berbuat apa saja. Tapi itu hganya bisa terjadi sesudah mengikuti latihan yang panjang.


VERO:Bagaimana cara mas Putu, untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan teater Mandiri supaya tetap solid, hingga dapat bertahan sampai dengan sekarang?


PW: Dengan menolak organisasi. Teater Mandiri bukan organisasi. Kami tidak punya aturan. Keberadaan seriap orang atas dasar kesenangan saja. Kami sebuah keluarga. Pemain saya seperti Irianto Kribo, misalnya, sudah ikut saya sejak 1974 (33 tahun). Sekarang anaknya ikut membantu setiap kali pertunjukan. Ucok Hutagaol ikut sejak 1979. Sekarang anaknya ikut main.


VERO: Apa yang membedakan teater Mandiri dengan jenis teater yang lainnya mas?


PW: Saya kira kamu yang harus menjawabnya. Mengartikan apa itu teater, emngatikan apa itu gtip, mengartikan apa itu akting, emngatikan apa itu proses, mengartikan apa itu enersi dsbnya saya kira itulah secara umum yang membedakan kita dengan yang lain. Dengan perbedaan itu kita lihat kelebihan dan kekurangan kita. Perbedaan itulah yang men yebabkan kita saling membutuhkan agar bisa lengkap.


VERO: Kenapa dalam setiap pementasan, mas Putu selalu mengusung teror?


PW: Tujuan pementasan bagi saya adalah ,menciptakan teror mental. Termasuk teror mental kepada diri sendiri. Pada 2004, saya mengajak 125 peserta lokakarya tedater yang kami selenggarakan sehari penuh di Goethe Institut, naik kem pentas ikut memainkan ZERO.Para pemain saya klhawatir, tetapi saya memerlukan itu sebagai teror. Pertunjukan kemudian berjalan mulus, karena pemain saya yang semula bermain cenderung ceroboh – karena merasa sudah rutin – terpaksa awas.


VERO: Apa yang dimaksud dengan teror mental itu sendiri, dan apa yang melatar belakangi konsep teror mental tersebut?


PW: Fanatisme sering berakhir dengan kekejaman, karena mereka yang fanatik pasti akan melihat orang yang tidak sepaham dengan dia sebagai musuh. Dikotomi musuh dan kawan itu membuat perbedaan menjadi berbahaya. Padahal kita hidup dalam keberagaman yang luar biasa komplesknya di Indonesia ini. Teror mental adalah upaya untuk mengganggu agar fanatisme itu tidak menjadi garang dan keberagaman disyukuri sebagai kekayaan.


VERO: Bagaimana proses penciptaan atau proses kreatif (penggarapan) dari pertunjukan Zero dan Zoom?


PW: Zero alah langkah lanjut pertunjukan WAR. Kami mencoba menawarkan kemungkinan bagaimana untuk mencegah bentutan yang terjadi karena perbedaan cara dalam mengejar perdamaian, tidak menjadi perang y6ang membuat dunuia panas. ZOOM adalah usaha melihat lebih mendetail pada apa yang ada di baloik perang. Itu idenya.


VERO: Apakah kedua pertunjukan tersebut memiliki naskah atau tidak?


PW: Tidak. Hanya konsep.


VERO: Apa ide, gagasan dan tema yang ingin diangkat dari pertunjukan Zero dan Zoom?


PW: Bagaimana menciptakan damai tanpa menyulut perang.


VERO: Mas Putu mendapatkan inspirasi dari mana, sehingga dapat membuat Zero dan Zoom?


PW: Dari peristiwa hangat sehari-hari.


VETRO: Dalam setiap pementasan mas yang bersifat eksperimental, para penonton atau publik kadang-kadang sulit untuk menangkap inti, pesan atau maksud dari pertunjukan yang mas Putu angkat seperti Zero dan Zoom. Apa tanggapan mas Putu mengenai hal itu?


PW: Itu sudah resiko yang saya terima. Menjadi tidak popular, tidak laku, sudah bagian dari nasib kalau menyuguhkan sesuatu yang tidak menghibur. Tapi kalau dihentikan akan lebih rugi lagi. Jadi saya jalan saja.Pernah kejadian setelah menyaksikan pertunjukan AUM pada 1981, ada yang menonton pertunjukan AUm yang kami ulang pada 1995. Saya terkejut ketika dia mengatakan, bahwa dia kini baru mengerti apa yang sudah ditontonnya 14 tahun lalu. Itu membuat saya percaya bahwa investasi kultural tidak akan pernah sia-sia.


VERO: Mas Putu, bagaimana dengan penggarapan blocking (movement), lighting, musik (sound efek), slide proyektor, kostum, make-up, kostum, artistik, dan properti dalam pertunjukan Zero dan Zoom?


PW: Setelah bersama-sama bekerja puluhan tahun, semua berjalan dengan sendirinya. Para pemain saya mengatur dirinya sendiri dan mengatur kebersamaannya. Kami hampit setiap kali melakukan improvisasi.


VERO: Bagaimana dengan proses latihan pertunjukan Zero dan Zoom?


PW: Karena biaya, saya sekarang membatasi produksi disiapkan masimal 2 bulan, bagusnya 1 bulan. Dewngan demikian, uang bisa dihemat untuk honor pemain.


VERO: Menurut mas Putu, pementasan yang mas Putu lakukan dapat dikategorikan sebagai pertunjukan tragedi, komedi, satire, atau apa?


PW: Campuran. Seperti teater tradisi kita, komedi dan tragedi datang sekaligus, silih berganti dan datang bayang-membayangi. Pertunjukan saya adalah TONTONAN. Sebuah DONGENG. Kadang-kadanh “MIMPI BURUK”.


VERO: Mas Putu, bagaimana cara mas Putu dalam menghadirkan konflik, dalam setiap pertunjukan mas Putu, khususnya pertunjukan Zero dan Zoom?


PW: Dengan bentuk, irama, tempo, kecepatan gerak dan lampu yang dimainkan secara manual oleh pemain sendiri..


VERO: Kenapa mas Putu dalam setiap pementasan, khususnya pertunjukan Zero dan Zoom, selalu menghadirkan tema-tema sosial – politik? Apa yang melatar belakangi hal itu ?


PW: Sebenarfnya itu tergantung dari interpretasi yang menonton. Situasi di Indonesia memang penuh kegawatan politik, mungkin itu sebabnya kau merasa itu sebagai bernuansa politis. Ada yang melihat pertunjukan saya sebagai peristiwa reinkarnasi (baca wawancara dengan Lies di ATT)


VERO: Mas, saya sudah menonton pertunjukan Zero. Mas saya mau nanya apakah inti dari pertunjukan Zero. Yang saya lihat peran dari seorang wanita yang menari sangat menonjol, apakah wanita itu merupakan peran utama dalam pementasan Zero?


PW: Zero adalah tawaran/ajakan untuk mengehntikan perang dengan kembali ke zero, masuk ke dalam diri sendiri, nol dan kemudian melangkah bersama-sama. Tokoh perempuan dalam Zero bisa dimaknbakan sebagai subyek yang sedang kita bicarakan, bisa juga sebagai tawaran iytu sendii, atau taka pa kalau mengingatkan kep[ada nasib perempuan di In donesia yang masih terpuruk.


VERO: Setelah saya melihat pertunjukan Zero apakah ada hubungannya dengan kasus para wanita yang menjadi pelacur, dan melahirkan anak haram?


PW: Bisa dibawa ke situ. Tontonjan senirupa ZERO ini multi interpretable.


VERO: Mas Putu, maaf ya sebelumnya kalau pertanyaannya kebanyakan. Mas Putu saya boleh minta foto-foto pementasan mas Putu nggak, sama dokumentasi proses latihannya mas, dan dokumentasi pertunjukan Zoom, karena saya sudah ke DKJ, tapi dewan tidak mempunyai dokumentasi pertunjukan Zoom, yang ada hanya pertunjukan Zero.


PW: Bawalah DVD ke rumah saya, nanti saya copy kan.


VERO: Sebelumnya terima kasih ya mas. Saya tunggu jawabannya…

Pertunjukan ZERO

ZeroERLIS:Saya, bu Melani, dan Pak Sapardi sedang menyusun sebuah penelitian mengenai teater eksperimental, saya diminta untuk membaca dan memahami naskah-naskah drama eksperimental.

Saya sudah menonton teater Zero di Cd, saya tidak terlalu puas karena saya tidak dapat merasakan totalitas sebuah pertunjukan teater. Suasana magis yang dicoba dibangunkan lewat pertunjukan tersebut.

Saya membayangkan kalau saya benar-benar ada di arena saya mungkin akan mencium bau dupa atau apa pun bentuk bau lainnya yang membawa kita semua, penonton, ke suasana magis, apakah itu benar?

Saya dulu sekitar tahun 1970-an, saat saya masih di sekolah, SMP dan SMA, pernah beberapa kali menonton teater pak Arifin C. Noer, “Kapai-Kapai” dan “Tengul”, sayang memang saya tidak sempat menonton “Aduh” dan “Lho”, maklum masih anak sekolah.


PW: Menonton langsung dan menonton rekaman pertunjukan memang berbeda sekali. Ketika menonton langsung memang benar bukan tontonan itu, saja yang tertangkap tetapi juga suasana dalam pertunjukan. Enersi dari penonton lain juga ikut menggetarkan saraf-saraf.Sementara rekaman kamera sudah amat dipengarugi oleh potensi kamera itu ( yang kepekaannya beda dengan mata telanjang) juga oleh “selera” juru kameranya. Jadi rekaman seperti juga terjemahan puisi bisa lebih bagus atau lebih buruk dari aslinya.Namun minimal dari sebuah rekaman akan dapat dilihat ide-ide yang mungkin akan terlewatkan dalam pertunjukan langsung, karena rekaman dapat dilihat berkali-kali. Jadi rekaman mesti dilihat berkali-kali dan didiskusikan.


ERLIS:Menonton Zero sedikit mengingatkan saya pada suasana itu, tetapi jauh berbeda. Saya pernah membaca tulisan Goenawan mengenai Teater Indonesia Mutakhir: Sebuah Catatan.Di dalam tulisan itu disebutkan bahwa teater Mutakhir konsepnya adalah sebuah teater puisi, teater puisi yang sesungguhnya, karena semuanya berawal dari sebuah pengalaman berteater, seperti yang saya baca dari artikel-artikel mengenai pertunjukan “Lho” di tahun 1970-an yang semuanya berawal dari sebuah pengalaman “latihan mengolah tubuh”.Apabila “Lho” merupakan sebuah hasil pengalaman berteater Pak Putu di tahun 1970-an, bagaimana proses terjadinya “Zero”, apa perkembangannya dari “Lho”, saya melihat kalau dulu mungkin baru sampai pada tahap pengolahan tubuh, tetapi untuk tahun 2004 pak Putu sudah sampai pada tahap pengolahan warna, bentuk panggung, dan suara yang lebih optimal.


PW: LHO saya buat pada tahun 1975, ketika baru pulang dari International; Writing Program di Iowa dan kemudian singgah main di Festival Nancy. Tidak didasari oleh konsep atau keinginan apa pun.Hanya latihan saja tanpa target. Kami lakukan setiap malam, sesudah TIM sepi dan tidak ada kegiatan. Pesertanya siapa saja. Mereka tidak diundang, tapi bergabung semdiri. Kebanyakan para mahasiswa teater LPKJ (sekarang IKJ) yang waktu itu banyak tidur di kampus yang kerika itu belum dibangun gedung seperti sekarang.Pelukis Nashar tertaruk oleh latihan kami. Dia terus nongkrongin kami dan akhirnya ikut terlibar dalam proses kami. Kami berelatih merespon benda-beneda yang ada di sekitar kamui. Misalnya gerobak samaph, roda pedati, boneka, bambu, topeng. Perlahan-lahan muncul bentuk-bentuk.

Akhirnya setelah 4 buklan berlatih muncul keinginan untuk mementaskan hasil latihan itu di teater Arena TIM. Selama 3 hari pertunjukan dengan dukungan musik oleh Kompyang Raka juga ditambah dengan kehadiran Wayan Diya, pertunjukan berlangusng 3 hari dan padat pengunjung.

Di akhir pertunjukan saya minta penonton keluar, karena pertunjukan akan duilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta siapa saja yang bersedia, naik ke gerobak dengan telanjang bulat. Kemudian gerobak ditarik ke kolam. Orang-orang telanjang itu dibuang ke kolam seperti sampah.

Sementara di kolah yang lain, beberapa orang jongkok dengan pakai sarung, seperti kebiasaan orang berak di kali, sambil bicara masalah-masalah politik.

Sesudah LHO saya meneruskan dengan pementasan ENTAH dan NOL, keduanya juga tanpa memakai kata-kata. Tetapi penontonnya susut dan pada NOL nyaris habis. Setelah itu saya memutuskan untuk berhenti, karena merasa penonton memetrlukan cerita dan kata-kata.

Pada 1991, dalam rangka KIAS, pameran kebudayaan Indonesia di Amerika selama setahun penbuh, Teater Mandiri mementaskan pertunjukan di 4 kota Amerika. Waktu itu saya memutuskan untuk kembali kepada LHO dan membawa pertunjukan tanpa kata dan tanpa cerita. Kami mementaskan YEL dengan musik Harry Roesly dan mendapat sambutan bagus sekali.

Pulang dari KIAS saya mulai menekuni pertunjukan tanpa kata-kata itu. Dengan memakai layar besar (15 X 9 meter) saya memainkan bayangan-bayangan, karena tergugah oleh bayangan di air yang tertiup angin.

Dengan melalukan distorsi pada bentuk, muncul sensasi yang fantastis dan mengagetkan. Teater Mandiri kemudian mementaskan YEl II, BOR, NGEH (Art Summit 2).

Pada thn 2000 untuk pertama kalinya kami memainkan naskah orang lain (Kuo Pao Kun dari Singapura: The Coffin is too Big for the Hole) dalam festival di Tokyo.

Atras izin Pao Kun, kami memainkan naskah itu secara visual. Pada 2001 Festival Asia Meets Asia di Jepang, mengundang Mandiri dan Mandiri datang dengan mementaskan WAR.

Ide War adalah kenyataan bahwa dengan dalih mengejar perdamaian, manusia menempuh jalan yang berbeda-beda bahkan bertentangan, sehingga bukan perdamaian yang tercipta tetapi perang.

Pada 2003 Asia Meets Asia berlangusng di Taipe, kembali kami diundang. Saya meneruskan obsessi saya tentang perang. Kalau dalam WAR kami menontonkan bagaimana perdamaian membawa orang untuk berperang, lalu timbul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk sampai pada damai.

Waktu itu saya pikir, sesuai dengan konteks Indonesia yang carut-marut karen reformasi, untuk menghentikan perang, semua orang harus kembali kem zone ZERO. Kita harus sama-sama nol, kosong. Barangkali dengan cara itu baru kitra bisa melangkah bersama-sama.

Dari Taipeh dikabarkan bahwa kami akan main dalam tenda sirkus dengan areal panggung yang relative sempit. Karena tak mungkion menggantung layar lagi, layar kami lepas, dan kami main di dalam layar, sehingga idiom bayangf tetap bisa terpakai.

Walhasil, sebenarnya kami tidak pernah melakukan eksperimen. Semua langkah kami adalah jawaban dari situasi yang ada. ZERO pun adalah sebuah jawaban dari tempat, waktu dan situasi ( dalam pemahaman orang Bali disebut : Desa-Kala-Patra)

Khusus untuk musik. Dalam bekerjasama dengan Harry Roesly, yang sering ter4jadi adalah jam session. Harry membaca gambar-gambar di lantai pentas sebagai partitur dan menciptakan musiknya.

Kami sendiri mencoba merespons musik itu sambil mengusung bentuk-bentuk yang sudah kami rencanakan. Jadi pertunjukan bisa berubah setiap saat. Dalam ZERO, karena orang yang bisa dibawa ke Taipeh terbatas, kami terpaksa hanya membawa rekaman musik Harry.

Mas Roedjito juga tidak dibawa karena sudah tak ada. Itulah awalnya kami bermain tanpa Harry dan DKSB. Sesudah ZERO, kami masih sempat main ZOOM dengan HARRY. Tapi setelah itu Harry meninggal dan saya merasa ZERO seperti semacam persiapan bekerja tanpa Harry dan tanpa Roedjito

LHO, ENTAH dan NOL, saya masih ditemani oleh Kompyang raka dengan musik Bali. Target saya masih hanya penonton di Jakarta. ZERO saya ditemani oleh musik Harry Roesly yang memanfaatkan unsur Sunda, Bali dan musik digital. Targetnya sudah mencakup penonton asing (bukan hanya Indonesia)


ERLIS: Saya menonton “Zero” saya merasa dibawa ke suasana sedih, saya seperti melihat sebuah pertarungan untuk menghadapi kelahiran. Bagaimana pergulatan janin untuk “menjadi”.Munculnya seorang Taiwan di awal pertunjukan membuat suasana menjadi magis karena suara yang dikeluarkannya dalam bahasa Taiwan atau bukan saya tidak tahu membawa kita ke dunia antah berantah, tapi saya ingat suasana “mungkin” ya Pak suasana pemujaan di dalam agama Hindu atau Budha, itu bayangan saya.

Kemudian muncul warna-warna dan bentuk-bentuk tak jelas, yang jelas justru kesan sebuah “pergulatan”. bayangan seorang perempuan muncul dengan mungkin liang rahim. kain-kain transparan yang menutupi membawa pada suasana atau mengingatkan pada bayangan plasenta.

Sebagai seorang ibu saya dapat merasakan dan mengingat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Benar pak, saya menjadi teringat kembali saat-saat melahirkan, bayangan itu sudah agak kabur bagi saya karena saya sudah melampaui saat-saat itu enam tahun yang lalu, anak saya terkecil umur 6 tahun, tetapi saat-saat itu tidak terlupakan bagi seorang ibu pak, nah, saya rasakan selanjutnya adalah rasa ketakutan dan rasa kesakitan yang mendalam dari seorang janin yang akan menghadapi dunia yang carut marut, secara fisik saja seorang janin sudah harus berjuang, apalagi secara moral.

Itu yang saya rasakan Pak, saya “merasakan” pak, bukan “memahami” atau “menonton” kalau saya sekadar “menonton” mungkin saya tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang dipertunjukkan, hanya saja sayang sekali yang dapat saya rasakan itu tidak terlalu optimal karena saya tidak hadir secara langsung saat pertunjukan. .


PW: Orang Taiwan yang ada dalam rekaman Zero itu adalah Mr. Chung, sutradara dan aktor terkenal di Taipeh. Ia menjadi tuan rumah saya di Taipe dan sengaja datang untuk ikut main.

Dia memberi komentar pada Teater Mandii sebagai People Theatre – teater orang kebanyakan, sebab kami memang tidak “memulyakan” aktor. Semua orang yang bukan aktor bisa/boleh ikut main.

Apa yang dilakukan Chung dalam ZERO adalah keterlibatan yang l;ebih banyak improvisasinya. Saya hanya memberikan sedikit arahan, sesudah itu terserah dia. Kami memang biasa berjalan seperti itu, meneror dan sekalian diteror.

Apa yang tertangkap dan terasa oleh Erlis ketika melihat rekaman ZERO tidak harus dicari pembenarannya pada orang lain atau pada saya atau pada Teater Mandiri. Setiap latar belakang memang akan memiliki reaksi atau penagkapan masing-masing pada imij-imij liar yang kami lemparkan.

Itu menjadi bagian dari kekayaan pementasan itu sendiri. Penonton ikut mencipta. Dan saya ikut menonton apa yang diterima setiap penontin tatkala menonton. Kebenaran dengan demikian jadi bertumpuk dan berlapis-lapis.


ERLIS:Pak, boleh saya bertanya mungkin seorang penonton dapat menafsirkan apa pun mengenai apa yang Bapak pertunjukan, tetapi mungkin Bapak dapat bercerita mengenai bagaimana melakukan pertunjukan tersebut, apa yang membawa Bapak ke sebuah pertunjukan yang demikian, saya menonton dengan seorang Bali, kami berdiskusi apa yang menjadi dasar pertunjukan ini, ternyata di dalamnya ada banyak sekali dasar, Pak Putu tidak saja mendasarkan diri pada budaya Bali, karena teman saya yang orang Bali itu tidak dapat mengenali dengan baik budaya Bali yang “mungkin” muncul dalam pertunjukan tersebut.Saya justru menemukan suara-suara seperti gamelan Jawa dan teman saya yang orang Sunda seperti mendengar suling Sunda. saya jadi curiga bahwa apa yang dipertunjukkan sudah bersifat minimal mengindonesia, kita singkirkan dulu orang Taiwan, kalau dihitung mungkin sudah juga menginternasional.

Pak Putu yang hidup di Jakarta dan bergaul dengan berbagai macam orang membaca berbagai hal, mungkin menjadikan pertunjukan ini menjadi semakin kaya.


PW: Saya orang Bali. Orang tua saya Bali dan saya lahir di Bali dan besar di Bali sajmpai tamat SMA. Tapi seluruh hidup saya lebih banyak di luat Bali. Bila diukurkan dengan orang Bali yang lain, saya mungkin orang Bali yang sudah terkontaminasi. Orang Bali yang sudah salah format.Orang Bali yang sudah eror. Orang Bali yang sudah murtad. Tetapi dengan semua itu, saya jadi memiliki jarak dengan Bali, sehingga saya berpikir tidak sebagaimana orang Bali umumnya. Bali yang Anda lihat dalam garapan saya bukan hanya teater, juga sastra, sudah lain.

Jadi kalau ada orang Bali yang tidak mengenal saya, itu wajar sekali. Namun saya percaya, apa pun saya sekarang, bahkan tidak mengaku pun, saya tetap saja orang Bali. Saya sudah terkutuk sebagai Bali, sehingga walau memakai jean dan makan McDonald dan “bergaya” seperti orang jajasahan jawa dan SUnda (istri saya duklu jawa, sekarang Sunda) saya tetap otang Bali, saya sudah dikutuk jadi orang Balim dan tidak bisa lain lagi.

Dengan berpikir seperti itu, saya selalu bebas dalam bekerja, sama sekali tidak ada keingionan untuk membali-balikan diri.


ERLIS: Satu hal lagi suara angin yang terus menerus mengikuti selama pertunjukan memberi kesan suasana genting.Boleh saya bertanya mengenai konsep reinkarnasi dalam proses “penjadian” manusia dalam budaya Bali yang mungkin menjadi dasar pertunjukan ini. dengan konsep ini sang janin (dalam konsep reinkarnasi yang saya pahami) yang sudah pernah ada di dunia, tentunya akan mengalami banyak sekali ketakutan untuk “hadir” kembali ke dunia.

Pergulatan fisik dan moral pasti akan terjadi, apakah ini yang menjadi konsep dasar pertunjukan ini, atau mungkin yang lain, apa pun sebenarnya tidak menjadi soal, menurut saya hadir di pertunjukan Zero adalah menyediakan diri untuk mendapatkan efek-efek kreativitas seni yang seutuhnya.


PW: Saya suka pada reinterpretasi dan reposisi. Reinkarnasi, tidak harus terjadi dengan kematian terlebih dahulu. Bagi saya pergantian hari, bahkan helaan nafas adalah ptoses bernafas adalah miniature dari reinkarnasi.Kita bisa lahir kembali setiap saat, belajar kembali, mulai dari nol kembali, asal saja kita bersedia dan bertekad untuk layhir kembali setiap saat. Saya memnganggap desa-kala-patra juga semacap fotmula yang menyebabkan manusia bis berreinkarnasi seriap saat asal mau dan bertekad.

Dan itu memang sakit. Karena itu berarti meruntuhkann, menendang, membalik semua yang sudah ada menjadi nol kembali dan baru.


ERLIS: Maaf Pak Putu terlalu panjang ya, mudah-mudahan tidak bosan.Saya akhiri dulu Pak, terima kasih sekali.


PW: Saya sengaja menjawab panjang lebar, sebab saya juga ingin mendokumentasikan tanya-jawab ini, bagi beberapa orang, siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang perjalanan Teater mandiri.Seorang mahasiswi IKJ misalnya kiemaren datang dan menyatakan keingihnannya untuk membuat skripsi tentang gaya pementasan Teater Mandiri sesudah tahun 2000, khusunya ZOOM dan ZERO.