Tag Archives: amat

Pilkada

Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu, dua atau tiga? Amat bimbang. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik.

“Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami..

“Itu rahasia, Ami.”

“Terus-terang saja, Bapak bingung!”

“Kenapa mesti bingung?!”

“Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai pemilih, Bapak tidak mau salah pilih, kan?!.”

“Betul!”

“Jadi?”

“Ya Bapak bingung.”

Ami tersenyum.

“Kalau begitu Bapak akan jadi golput?”

“Ya!”

Ami terkejut.

“Jadi bapak tidak akan memilih?”

Amat berpikir sebentar lalu menjawab.

“Tidak!”

Ami kontan marah.

“Bapak sadar tidak, dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Dengan mematikan satu suara, berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Itu berarti tanpa Bapak sadari, Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak, meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!”

“Maksumu apa?”

“Golongan putih itu tidak ada. Itu hanya teori. Prakteknya pasti menguntungkan suara mayoritas! Kalau mau jadi kesatria Bapak harus memilih!”

Amat tertawa.

“Bapak mau jadi orang biasa saja, Ami, ditawari lahir sekali lagi juga Bapak tidak ingin jadi kesatria!”

“Bukan itu maksud Ami. Sebagai warga yang bertanggungjawab, Bapak harus menentukan pilihan! Jangan tidak memilih! Jangan juga memilih semuanya. Pilih satu. Kenapa takut mengambil resiko? Meskipun pilihan Bapak kalah atau berbeda dengan pilihan kami, itu jauh lebih baik, daripada mengacaukan pemilihan dengan jadi golput! Jangan ikut-ikutan jadi orang apatis dan sinis pada keadaan, Pak. Separuh dari yang membuat keadaan kita bertambah buruk adalah karena orang-orang yang pintar dan pantas seperti Bapak ini, tidak mau menentukan sikap, tidak berani mengambil resiko. Itu namanya enaknya sendiri! Bapak takut kalah ya? Itu namanya pengecut! ”

Amat terdiam. Lalu dia berkonsultasi dengan Bu Amat.

“Anakmu itu menuduh aku ini pengecut.”

Bu Amat terkejut.

“Masak?”

“Karena aku belum tahu siapa yang akan aku pilih jadi Gubernur dalam Pilkada.”

Bu Amat tambah terkejut lagi.

“Masak?”

“Habis ketiga-tiganya punya kelebihan tetapi juga sama-sama punya kekurangan.”

“Ah masak?”

“Lho jelas!”

“Masak? Milih satu di antara tiga kan gampang sekali, Pak. Pilih yang paling ganteng saja!”

Amat kaget.

“Lho Ibu milih Gubernur kok seperti mau milih menantu?”

“Ya apa bedanya? Menantu yang baik itu kan menantu yang akan merawat dan memperhatikan mertuanya.”

Amat tercengang.

“Wah, itu kebangetan. Kita ini memilih petinggi yang akan memimpin pemerintahan untuk mengayomi kita semua, kalau ukurannya hanya kebagusan bisa runyam masa depan kita. Jangan begitu, Bu! Memilih pemimpin itu harus berdasarkan program apa yang dijanjikan akan dilaksanakannya kalau nanti sudah menduduki kursi kekuasaan. Kalau programnya sesuai dengan kebutuhan kita, boleh dipilih. Kalau tidak, meskipun bagus jangan dipilih. Jadi dikacaukan!”

“Itu kan pilihan Bapak. Pilihanku pokoknya yang paling bagus!”

Amat bingung.

“Coba mana yang paling bagus di antara yang tiga itu?”

“Itu rahasia!”

“Jangan begitu, Bu. Itu namanya ngawur! Jangan menilai calon pemimpin dari kebagusannya saja. Jangan hanya melihat apa yang sudah diperbuatnya. Meskipun bagus dan sudah banyak pujian atas perbuatannya, tetapi Ibu harus melihat apa orangnya tepat dan mampu untuk memimpin, melindungi dan mengayomi kita semua dengan berbagai masalah kita sekarang di depan ini. Ibu jangan hanya pakai perasaan, enaknya sendiri, harus pakai pikiran! Kalau salah pilih, berarti Ibu juga ikut menjerumuskan kita semua pada bahaya!”

Bu Amat terkejut.

“Wah kalau begitu, baiknya pilih yang mana?”

“Nah kalau sudah begitu, berarti sebelum main coblos akan mikir, jangan asal coblos, apalagi ikut-ikutan. Harus pakai perhitungan!”

Bu Amat terdiam. Malam hari dia berkonsultasi dengan Ami.

“Ami, Bapakmu mengatakan Ibu ini ngawur karena memilih calon Gubernur dengan melihat kebagusannya!”

Ami tercengang.

“Lho, memilih itu memang ukurannya bagus. Kalau tidak bagus buat apa dipilih?”

“Bapakmu bilang yang harus dipilih bukan yang bagus tetapi yang berguna.”

“Yang bagus itu, ya, yang berguna. Dan yang berguna itu, ya, yang bagus!”

“Kalau begitu yang mana? Satu atau dua atau tiga?”

“Terserah Ibu.Tapi kalau boleh menyarankan, sebaiknya yang bagus dan berguna. Yang berguna tapi bagus.”

“Yang mana?”

Ami tak menjawab. Ia langsung menghampiri Amat dan berbisik.

“Pemilihan itu bebas rahasia, Pak, Bapak jangan mempengaruhi pilihan Ibu.”

Amat menatap Ami.

“Bagaimana bisa memilih Ami, kalau tidak ada pengaruh yang membuat kita berani mengambil keputusan? Kamu juga sudah mencoba mempengaruhi Bapak, kan?”

Ami terseyum.

“Kalau begitu Bapak akan memilih?”

“Ya!”

Iklan

Nguping

Bu Amat nguping pembicaraan Ami di telepon genggam dengan temannya di kampus.

“Sudah tinggal saja!” kata Ami, “buat apa setia-setia kalau orangnya begitu. Tampangnya juga jelek, miskin lagi. Kamu kok mau-maunya sama dia. Tinggal saja. Laki-laki tidak hanya satu di dunia ini Kamu jangan buta. Itu dia yang sudah menyebabkan dia jadi berani berbuat seenaknya pada kamu. Sebab kamu terlalu sayang sama dia. Cinta boleh, tapi terlalu cinta itu berbahaya. Jangan-jangan kamu sudah kena peler!”

Bu Amat langsung kaporan pada suaminya.

“Bapak harus mengambil tindakan tegas!”

“Tindakan apa?”

“Ami tidak boleh bicara begitu!”

“Kenapa?”

“Itu kan bukan urusan Ami!”

“Tapi apa salahnya Ami memberi nasehat kepada teman baiknya?”

“Itu bukan nasehat, itu perintah! Kalau nanti hubungan mereka putus bagaimana?”

“Ya itu hukum alam!”

“Hukum alam apa! Itu berarti Ami ikut ambil bagian memutuskan hubungan orang.”

“Ya apa salahnya?”

“Salahnya, kalau ternyata pemutusan hubungan itu salah, nanti Ami juga yang kena getahnya. Dia akan menyangka bahwa Ami sengaja menghasut supaya mereka putus sebab Ami yang mau sama dia!”

Amat ketawa.

“Ibu ini kebanyakan nonton sinetron!”

“Lho itu kenyataan! Bapak jangan munafik. Bapak juga dulu begitu kan?”

“Tapi buktinya, Ibu kan jadinya kawin dengan aku. Coba dengan lelaki bejat itu, entah bagaimana nasibmu sekarang!”

“Tapi orangnya jadi benci sekali sama kita!”

“Biarin. Orang jahat itu mesti diberikan pelajaran tegas Bu. Kalau tidak, nanti kita yang akan dikejami sama dia. Berbuat kasar berbuat jahat sama bajingan itu boleh. Lihat saja, bagaimana kita menjerat koruptor dan tukantg-tukang suap itu. Kalau teleponnya tidak disadap , bagaimana kita dapat bukti kejahatannya. Mereka itu hantu-hantu semua tidak kelihatan. Jadi mesti dipancaing, dipergoki biar kapok, biar tahu rasa!”

Bu Amat termenung. Ia nampak tak senang.

Malam hari Ami menyapa ibunya.

“Kenapa Bu?”

“Ibu terganggu oleh ucapan bapakmu tadi siang.”

“Kenapa? Bapak menyinggung perasaan Ibu?”

“Bukan. Bapakmu bilang bahwa perlakuan kasar kepada orang jahat itu boleh. Tapi Ibu tidak setuju. Menurut Ibu, perlakuan kasar itu tidak boleh kepada siapa pun. Baik kepada orang baik, maupun kepada orang jahat.”

Ami mengangguk.

“Ibu lembut sekali.”

“Bukan begitu. Kalau kita mau melawan kejahatan, tidak boleh dengan kejahatan. Itu sama saja,”

‘Maksud Ibu?”

“Ya tunjukkan saja kepada orang jahat itu bahwa kejahatan itu tidak menghasilkan apa-apa. Kejahatan itu akan gagal. Dan kegagalan itu dengan cara menunjukkan bahwa kita tidak mau ikut jahat. Biar dia tahu tujuan tidak akan bisa dicapai dengan kejahatan.”

Ami bingung.

“Aku tidak mengerti, sebenarnya maksud Ibu apa?”

Bu Amat tidak menjawab.

Ami penasaran, lalu mengadu kepada Amat.

“Ada apa dengan Ibu, Pak?”

Amat berpikir.

“Ada apa?”

“Kok kelihatannya banyak pikiran sekarang? Katanya kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan.”

“O itu? Ibumu tidak setuju kalau tukang suap dan koruptor itu ditangkap dengan cara menyadap telepon mereka. Ibu menganggap penyadapan itu bukan tindakan yang bagus. Tidak baik diberlakukan kepada siapa pun, bahkan kepada penjahat pun tidak boleh.”

“Kenapa Ibu sampai pada kesimpulan itu?”

Amat terdiam.

“Kenapa?”

“Karena mungkin dia merasa bersalah sudah nguping kamu menghasut teman kamu supaya putus dengan pacarnya.”

Ami terkejut.

“Ah yang benar?”

“Ya! Ibu kamu tidak setuju kamu kok berani-beraninya menyarankan agar teman kamu itu memutuskan pacarnya, meskipun orang itu jahat. Bapak lalu menunjukkan kepada Ibumu bahwa kejahatan itu harus dihentikan dengan kekasaran, sebab demi kebaikan, orang jahat itu harus dipaksa dengan cara apa pun melihat kejahatannya sendiri. Seperti KPK menjebak para tukang suap dan para koruptor. Kejahatan itu dibenarkan untuk menegakkan keadilan. Jadi nguping itu tidak apa-apa asal .. .”

Ami tiba –tiba memberi isyarat supaya bapaknya diam, lalu bergegas mendekati ibunya di kamar yang masih melamun.

“Jadi ibu sudah nguping percakapan Ami dengan Lidia di kampus?” todong Ami tiba-tiba.

Bu Amat terkejut tetapi kemudian mengangguk.

“Ya. Maafkan Ibu Ami, tapi Ibu minta, jangan mencampuri urusan pribadi orang lain. Tak baik.”

“Tapi itu bukan urusan pribadi.”

“Kejahatan tidak usah dilawan dengan kejahatan. Kebaikan yang muncul dari kejahatan itu tidak akan langgeng.”

“Kejahatan apa?”

“Kamu menasehati orang supaya putus itu tidak baik.”

“Tapi memang harus begitu!”

“Jangan!”

“Harus!”

“Jangan, Ami!”

“Lho ibu ini bagaimana, naskahnya memang begitu!”

Bu Amat tertegun.

“Naskah? Naskah apa?”

Ami tertawa.

“Yang ibu dengar itu kan latihan saya dengan Lidia. Karena waktunya tidak ada, kami latihan drama lewat telepon! Makanya jangan suka nguping!”

Damai

“Perlukah damai dideklarasikan?” tanya Amat mengomentari Deklarasi Damai yang diselenggarakan di depan Kantor Gubernur, Renon Sabtu lalu.

Ami yang terlibat di dalam kerepotan itu, menjawab dengan pertanyaan.

“Kalau tidak perlu kenapa?’

Amat terkejut.

“Sebab deklarasi itu sendiri adalah penanda pada adanya ketidakdamaian.”

“Jadi sebaiknya bagaimana?”

“Damai itu tidak dideklarasikan, tetapi dilaksanakan saja.”

“Caranya?”

Amat berpikir.

“Dengan mengajak semua orang menghayati rasa damai, bukan meneriakkan perdamaian dengan deklarasi sehingga haungnya jadi begitu keras dan galak, karena akibatnya orang lain akan merasa bukannya damai tetapi terancam. Karena mau melindungi ketakutannya, lalu mereka ikut berteriak, untuk mengatasi rasa cemasnya. Akhirnya yang terjadi bukan damai tapi kekacauan!”

“Masak?”

“Habis, meneriakkan perdamaian dengan suara keras kan jadi serem?”

Amat tiba-tiba berteriak.

“Damai! Damia! Damai!!!!!!”

Bahkan kewmudian mengaum.

“Damaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”

“Stttt! Bapak!”

“Begitu! Kamu saja sudah pusing dengar bapak teriak apalagi orang lain! Karena dengan diteriakkan perdamaian menjadi menakutkan. Kalau sudah begitu, nanti yang terjadi bukan damai, tetapi perang, dengan dalih damai. Jadi karena dideklarasikan, damai tidak akan terjadi tetapi menghilang!”

“Kalau begitu artinya deklarasi damai salah dong?”

“Salah besar! Seperti teori pendulum yang diyakini oleh almarhum mantan Mentri Kebudayaan Fuad Hassan! Kamu sendiri Yang sudah cerita pada Bapakl. Menurut beliau bahwa bila sesuatu berayun ke depan nanti dia juga akan berayun sama besarnya ke belakang! Jadi teriakan damai akan menghasilkan gaung tidak damai! Begitu?”

“Karena Bapak tidak ikut?”

“Betul. Aku berada di luar, jadi aku bisa melihat apa jeleknya!”

Tiba-tiba Bu Amat berlari masuk. Dengan panik dia menarik Amat keluar.

“Tolong Pak! Anak tetangga kita itu akhirnya berkelahi memperebutkan warisan!” teriaknya.

Amat dan Ami tercengang.

“Lho bukannya mereka sudah sepakat untuk membagi harta orang tuanya dengan damai?!”

“Cepat tolong, Pak! Nanti mereka bunuh-bunuhan!”

Ami terlebih dahulu keluar. Amat masih berpikir.

“Ayo Pak! Jangan terlambat nanti darah tumpah!”

Karena Amat masih bengong, Bu Amat menyeret suaminya keluar. Benar saja. Di rumah tetangga, sudah banyak orang berkerumun. Tapi hanya menonton. Ttak seorang pun berani berbuat apa-apa. Ketiga bersaudara itu sudah sama-sama menghunus kelewang. Semuanya merasa berhak secara penuh untuk mewarisi rumah yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Ketika melihat Amat datang, Para tetangga menyisih memberikan jalan. Amat jadi gentar. Ternyata dia kembali menjadi kunci. Alangkah sialnya jadi orang tua. Kalau lagi senang-senang disisihkan, dianggap sudah jadi besi tua. Tapi gilitan ada masalah berbahaya langsung ditunjuk sebagai ujung panah.

“Ayo Pak Amat, suruh mereka damai!” bisik para tetangga.

“Hatu-hati mungkin ada yang bawa pistol,”bisik Bu Amat lirih membuat hati Amat semakin kecut.

Perlahan-lahan Amat maju. Ketiga bersaudara itu sudah mencapai puncak ketegangan. Tangan masing-masing sudah menggenggam gagang kelewang. Kalau salah satu bergerak, akan terjadi pertempuran segitiga. Amat melihat ada sesuatu tersembul di balik baju masing-masing. Mungkin keris atau pisau. Yang jelas, itu saat yang amat sulit.

Amat maju setapak-setapak, agar semuanya mengerti dia bukan mau berpihak. Tetapi kemudian dia terpaksa menghentikan langkahnya, karena ketiga orang itu tiba-tiba berdiri. Kelewangnya berkelebat. Sinarnya gemerlapan menyilaukan mata Amat.

“Maaf, Bapak tidak ikut campur.”

Ketiganya mundur, tetapi mengangkat kelewang, seperti siap menebas. Sekujur badan Amat gemetar. Tetapi mata masyarakat yang berharap adanya perdamaian, membuat Amat tidak bisa lain kecuali melanjutkan.

“Bapak hanya mengingatkan bahwa, kalian bertiga sudah pernah bersepakat damai. Rumah ini tidak bisa dibagi. Rumah ini memang milik kalian bertiga. Tapi kalau dibagi akan hancur. Kalian sudah sepakat untuk menyerahkannya kepada warga untuk dijadikan milik bersama, tempat kita semuanya berkumpul. Kalau sekarang mau dijadikan milik pribadi, sebenarnya kalian tidak usah saling berkelahi. Kalian cukup memintanya kembali kepada warga, karena kalian mau memakainya sendiri. Kami warga pasti akan memberikan dengan rela, karena kalian juga adalah warga kami …….”

Suara Amat hilang. Pikirannya sudah mengatakan, tetapi mulutnya tak mampu menyuarakan. Ia sudah sampai di puncak ketakutan. Beberapa detik lagi, ia akan roboh. Tetapi aneh. Ketidakberdayaannya itu justru memancarkan kekuatan dahsyar.

Disaksikan oleh seluruh tetangga, ketiga pemuda yang sudah mau bacok-bacokan itu kemudian perlahan-lahan menurunkan kelewangnya. Mereka mundur, lalu berbalik dan pergi. Waktu Amat nyaris hambruk.

Bu Amat dan Ami cepat memegang orang tua yang sudah setengah terkecing-kencing ketakutan itu. Warga mendekat lalu memberi selamat dan pujian. Amat dianggap sebagai juru selamat sekali lagi. Kemudian muncul kendaraan dari pos polisi. Para petugas dengan senjata di tangan berloncatan turun siap untuk mengamankan keadaan. Tetapi situasii sudah terkendali.

“Untung polisi cepat datang, kalau tidak?”kata seorang ibu sambil mengurut dada.

Bu Amat dan Ami memapah Amat pulang. Orang tua itu sudah kehabisan tenaga.

“Bapak bagaimana sih? Ceroboh amat!” sesal Bu Amat pada Amat, ” Tadi bukannya memberikan peneduhan, malah membuat mereka tadi tambah marah. Kok ngomongnya begitu tadi? Untung Ami nelpon polisi, kalau tidak, entah apa jadinya tadi. Bapak sih tadi ngomong begitu, ketiga-tiganya malah mengangkat kelewang!”

Di rumah esoknya, setelah pikirannya tenang, Amat baru menjawab.

“Bukan karena polisi itu, tiga bersaudara itu berhenti berkelahi, Bu.”

“Karena apa?”

“Karena mereka sudah pernah melakukan kesepakatan damai! Kalau tidak ……?”

Kekerasan

Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.

“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”

Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.

“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”

“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”

“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”

“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”

“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”

“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”

“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”

“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”

“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”

“Nah makanya!”

“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”

“Betul?”

“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”

“Bagaimana dengan poligami?”

“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”

“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”

“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”

“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”

Amat termenung.

“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”

“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”

“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”

“Salah!”

“Salahnya di mana?”

“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”

Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.

“Kok diam saja,”tanya Amat.

“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”

“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”

“Kekerasan apa?”

“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”

“Foto apa?”

“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”

Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.

“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”

Ami menjawab polos.

“Betul.”

“Kenapa?”

“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”

“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”

“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”

Bu Amat menggeleng-geleng.

“Ami kamu salah!”

“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”

“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”

“Bagaimana?”

“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”

Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.

“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”

Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.