Tag Archives: bali

Kota Seribu Pahlawan

Pada tahun 50-an, Indira Gandhi, putri Nehru berkunjung ke Bali. Ia bersikeras ingin pergi ke Tabanan. Di Makam Pahlawan Pancaka Thirta Tabanan, ia tertegun melihat 1000 buah nisan. Dalam pidatonya kemudian ia berterus-terang menyatakan rasa kagum dan haru, tak menyangka dalam sebuah kota kecil ada begitu banyak pahlawan.

Saya merinding mendengar langsung pidatonya itu di antara ribuan pendengar. Puluhan tahun berlalu, kata-kata itu terus mengendap dalam hati. Membuat saya merasa malu. Begitu dahsyat perjuangan Tabanan dalam mengusung kemerdekaan.

Termasuk di antaranya Puputan Margarana yang menewaskan habis ratusan pejuang yang dipimpin oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai (sekarang menjadi nama bandara internasional Tuban). Tapi saya sendiri, apa yang sudah saya perbuat?

Ketika Makam Pahlawan didirikan di Tabanan, terjadi pemindahan besar-besaran jenazah yang ditanam dikuburan ke makam. Sekolah saya di SR 1 (sekarang jadi pasar Tabanan) di tempat yang ketinggian memberikan sudut pandang yang bagus untuk menonton upacara di setra Tabanan yang juga tinggi lokasinya di sebelah Timur. Setiap hari kami para murid duduk berjajar dan menyaksikan prosesi pemindahan itu sebagai sebuah tontonan yang menggetarkan.

Kemudian setiap 17 Agustus, sebagai murid SMP, bersama ribuan warga lain, saya juga ikut menabur bunga ke makam. Dari nisan ke nisan saya terpesona melihat nama-nama yang berasal dari berbagai pelosok wilayah Tabanan. Mereka kebanyakan bukan kasta kesatria, tetapi telah menunjukkan perbuatan yang mulia.

Ada perasaan “bersyukur” karena saya tidak hidup di zaman mereka. Saya yakin apabila saya ada dalam pergolakan revolusi, tubuh saya tidak akan terbaring bersama mereka, sebab saya seorang penakut. Hal itu membuat saya mersa semakin malu.

Kadang-kadang saya kembali ke makam bersama teman-teman sekolah, tetapi bukan untuk menyatakan rasa hormat. Saya hanya berburu burung puyuh yang jinak dan mudah ditangkap di antara tanaman peneduh di antara makam itu. Hanya yang tidak bisa saya lupakan adalah perasaan tenteram dan tanpa sama sekali rasa takut di antara seribu nisan itu.

Sangat berbeda dengan rasa ngeri kalau lewat di pekuburan biasa. Saya maknakan itu sebagai bukti kebesaran jiwa kepahlawanan itu tidak lenyap karena hancurnya jasad, tetapi tetap hidup bersama yang tinggal. Saya semakin merasa tak berarti.

Kemudian kalau harus memperkenalkan diri di mancanegara, setelah mengidentivikasi diri sebagai orang Bali (terus-terang saja, banyak orang lebih kenal Bali daripada Indonesia), saya sulit untuk menggambarkan lokasi Tabanan. Umumnya orang hanya mengenal Denpasar.

Akhirnya saya akan menjelaskan kota saya adalah kota seribu pahlawan yang pernah membuat seorang Indira Gandhi terpana. Tetapi sebelum orang itu berdecak kagum, saya cepat menambahkan bahwa saya sendiri bukan keturunan pahlawan.

Tapi pahlawan agaknya tidak lagi menjadi “penanda” yang mujarab lagi. Sejarah sudah dipenuhi oleh begitu banyak pahlawan dari berbagai peperangan di seluruh dunia. Di masa damai pun sudah berderet-deret pahlawan-pahlawan baru. Bahkan di antaranya juga banyak kemudian yang terbukti pahlawan gadungan, pahlawan karbitan dan pahlawan kesiangan.

Dalam keadaan seperti itu, saya masih punya andalan untuk mengenalkan Tabanan. Saya akan bilang bahwa Tabanan adalah wilayah Bali yang belum terjamah turis, tetapi sesungguhnya adalah kerajaan “subak” dengan sebuah museum subak di Sanggulan.

Tabanan terkenal sebagai gudang beras yang berkualitas tinggi. Perempuan Tabanan tersohor cantik-cantik (malangnya tak seorang pun yang sudi menikah dengan saya). Ada pantai Tanah Lot dengan sebuah pura di atas karang dengan “sun-set” yang termasuk salah satu paling cantik di Bali. Dan kalau itu masih belum juga mengesankan, saya akhirnya akan mengatakan bahwa, Tabanan telah menjadi kota kelahiran I Mario, penari kebyar duduk yang telah menciptakan tari Oleg Tamulilingan yang menjadi salah satu legenda dalam seni tari Bali.

Namun terus-terang, semua itu hanya cerita masa lalu. Bagaimana nyatanya sekarang? Apa yang bisa saya katakan tentang Tabanan. Mario hanya tinggal sebuah nama gedung yang juga tidak representatif sebagai Gedung Kesenian. Kemasyuran beras Tabanan sudah lampau sejak aturan pemerintah di masa Orde Baru, yang mewajibkan petani menanam varitas yang tahan hama.

Kota Tabanan yang beberapakali mendapat hadiah adhipura ini, memang masih bersih, tenang dan nyaman. Banyak pengunjung yang mengatakan cocok untuk dihuni setelah masa pensiun. Ada beringin raksasa di jantung kota yang menjadi salah satu ciri Tabanan yang membedakannya dengan Denpasar yang sudah terpolusi oleh semangat “pembangun gedung, wilayah pertokoan dan hotel”. Tabanan masih alami. Wilayah Tabanan di lereng Gunung Batukau masih sejuk.

Tetapi cepat atau lambat berbagai perubahan yang membetot Bali, nanti pada akhirnya juga akan menggerus Tabanan. Petak-petak sawah dengan subak yang masih molek di wilayah Pupuan mungkin tak lama lagi hanyan tinggal cerita, sebab Bali perlahan-lahan sudah mulai ingin bercerai dengan pertanian.

Rakyat semuanya lebih senang menunggang motor di jalanan daripada bergaul dengan lintah di sawah. Tabanan tak akan mungkin bisa bertahan dengan sawah, apalagi tidak didukung oleh pemerintah, sementara wilayah lain bergelimang dollar oleh arus wisatawan.

Kalau semua itu akan terjadi, yang bisa saya lakukan tinggal satu. Tabanan adalah saya. Akulah Tabanan.

Bila Adat Dilindas

“Dalam hubungannya dengan hukum pidana, harus diakui banyak aturan adat Bali yang “dilindas” oleh hukum nasional. Menurut Peneliti dan Konsultan Adat Bali Wayan P. Windia, fenomena ini mencuat sejak pengadilan adat ditiadakan pada 1951 silam, “tulis Bali Post pada 10 Oktober.

Amat langsung menggunting tulisan itu. Dengan bernafsu menggaris bawahi alenia yang menyebutkan:

“Apabila proses pelindasan aturan adat oleh hukum nasional ini terus berlanjut, kata dia, jelas akan sangat mempengaruhi eksistensi desa pakraman yang notabene merupakan salah satu kekuatan Bali. Desa pakraman menjadi makin lemah dan tak berdaya. Ketika desa pakraman sudah lemah dan tidak lagi memiliki kekuatan, maka dia tinggal menunggu terjadinya ‘ngaben massal’ lantaran tidak lagi punya posisi tawar,” tegasnya.

Lalu dengan menggebu-gebu mengirimkan kepada sahabatnya. Tak tersangka-sangka datang jawaban panjang lebar,

“Pak Amat, saya kira bukan hanya di Bali, juga di berbagai wilayah, seperti Sumatra Barat,, Kalimantan, Batak, Sulawesi, Papua, hukum adat sering berhadapan dan dilindas oleh hukum nasional. Apalagi sekarang di masa kebangkitan daerah dengan adanya otonomi daerah, maka semua orang berpikir yang terbaik bagi daerahnya adalah segala yang berbau lokal. Bila ini berlanjut memang negara federasi pada akhirnya yang akan memberikan penyelesaian. Di tiap wilayah berlaku hukum daerah meskipun ada ketentuan federal. Sesudah itu setiap wilayah mungkin akan merasa lebih mantap kalau menjadi negara sendiri dan meminta kerelaan boleh melepaskan diri dari NKRI. Sementara itu di setiap daerah juga akan muncul berbagai perbedaan. Bali Utara dan Bali Selatan saja misalnya, tinggal menunggu waktu kapan mau berpisah. Saya sangat takut pada perpisahan. Pada masa hari raya saja, ketika semua orang ke rumah masing-masing, saya sering merasa kosong, pedih, karena ternyata kebersamaan kita tetap kalah oleh solidaritas asal/daerah/wilayah bukan kenyataan sehari-hari. ”

“Pak Amat, saya kira banyak orang lupa bahwa perubahan sedang terjadi dan akan terus terjadi. Seandainya Indonesia belum ada dan apa yang disebut hukum nasional oleh Pak Windia utu belum ada, hukum adat akan tetap mengalami perubahan, karena kita tidak akan mungkin hidup seperti di masa lalu. Berbagai perubahan yang begitu radikal di dalam citra manusia, baik mengenai keadilan, kebenaran maupun ukuran kebahagiaan, tidak akan mungkin dipuaskan oleh adat yang mengatur manusia dalam kelompok kecil di masa lalu. Saya kira kita semua pada hakekatnya tidak siap berubah. Dan memang tidak harus siap. Sebagaimana juga perpisahan, perubahan menimbulkan rasa sedih, karena ada yang tercerabut. Tetapi langkah dunia sudah kian bergegas, lompatannya tambah besar. Dan kita selalu lupa bahwa kita dibekali senjata yang mandraguna yang kita selalu sebut-sebut yakni: desa-kala-patra — hanya saja kita tak selamanya mau di-covert untuk bisa ngigel agar bisa ngibing dengan berbagai perubahan.”

“Pak Amat, saya sungguh sedih menerima surat Pak Amat. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, sebab Pak Windia pasti menyampaikan itu dengan maksud baik. Saya hanya semakin bingung, karena berbagai maksud baik kini semakin bertentangan, sehingga bukan kejahatan dan niat buruk lagi yang membuat kita berkelahi tetapi apa yang kita namakan kebenaran dan keadilan. Karena kita semua mengejar maksud baikm kita masing-masing yang sama-sama kita yakini itu dengan mengacungkan pengrupak.”

“Pak Amat, kapan hidup ini akan bisa damai? Kapan kita berani menerima bahwa kita wajib menerima perubahan dan meninggalkan yang lama? Atau kapan kita harus mempertahankan segala warisan budaya kita yang lama, namun tak perlu menentang langkah zaman yang membawa kita menjadi sebuah bangsa yang Indonesia yang baru dan satu. Saya bingung. Sungguh bingung dan sedih sekali!”

Amat terhenyak menerima jawaban itu. Lalu ia memanggil Ami, menyuruhnya membaca surat itu dan minta pertimbangan.

“Apa pendapatmu Ami?”

Setelah membaca, Ami balik bertanya.

“Sahabat Bapak ini orang Bali?”

“Jelas. Dari namanya saja sudah kelihatan dia orang Bali. Pakai I Gusti begitu!”

“Ya saya tahu. Tapi dia kan sudah lama tidak tinggal di Bali!”

“Memang. Dia hanya 20 tahun di Bali dan 40 tahun hidup di luar Bali.”

“Kalau begitu apa dia masih orang Bali?”

“O iya dong! Orang Bali di mana pun tinggal tetap saja orang bali Seperti juga orang Amerika di mana saja tinggal dia tetap Amerika.”

“Bukan itu maksud saya. Apa secara rasa dia tetap Bali? Apa emosinya masih tetap emosi orang Bali setelah lama tidak tinggal di Bali?”

Amat tertegun.

“Menurut pendapatmu bagaimana?”

“Menurut Ami, karena dia sudah hidup di luar Bali dua kali lebih lama dari dia hidup di Bali , I Gusti teman Bapak ini sebenarnya secara emosional dia bukan orang Bali lagi.”

“Kalau begitu semua komentarnya itu bukan komentar orang Bali?”

“Bukan.”

Amat tersenyum.

“Bagus! Jadi tidak usah dipikirin?”

Sekarang Ami yang tersenyum.

“Nah di sini persoalannya. Bapak perlu komentar orang Bali yang emosional atau komentar orang yang sudah berjarak dengan Bali tetapi obyektif?”

Amat tercengang.

“O kalau begitu kamu setuju dengan pendapat I Gusti yang sudah luntur kebaliannya itu Ami?! Berarti kamu sendiri sudah bukan orang Bali!”

Ami tertawa lagi lalu pergi. Amat jadi penasaran. Ia muring-muring, lalu mencoba menumpahkan unek-unek pada tetangga.

“Anak-anak zaman sekarang ini kebaliannya sudah luntur. Mereka bukan orang Bali lagi seperti kita-kita ini. Betul tidak Pak Made?”

Pak Made yang tidak punya anak mengangguk setuju. Amat jadi merasa lebih nyaman. Tetapi begitu sampai di rumah, Bu Amat yang sudah lama menunggu, langsung bertanya.

“Bapak tahu kenapa tadi Ami tertawa lalu pergi meninggalkan Bapak?”

“Kenapa?”

Bu Amat tertawa.

“Kenapa?!!!!”

“Karena yang membuat I Gusti itu sedih, ternyata Bapak!”