Tag Archives: jurus satu

Konsep Menulis

Ini tentang bagaimana saya menulis. Bukan tentang bagaimana seseorang sebaiknya, apalagi seharusnya menulis. Tidak mudah menulis bimbingan menulis yang umum, karena itu segera akan menjadi kiat yang kedaluwarsa.

Perkembangan dalam banyak hal sudah begitu cepat dan dahsyat. Manusia berubah dan sastra pun selalu menjadi baru. Bidang penulisan terus menemukan kiat-kiat terkini, meskipun yang lama tidak dengan sendirinya musnah.

Memang ada yang umum dan mungkin akan masih berlaku. Misalnya teknik menulis. Buku “Teknik Mengarang” yang ditulis oleh Muchtar Lubis sampai sekarang tetap saya anggap sebagai pedoman menulis yang terbaik.

Pertama sarannya untuk membuang dua atau tiga alenia pertama (bahkan mungkin lembar pertama) dari yang sudah kita tulis. Karena itu biasanya bagian-bagian emosional yang tak terkendali.

Kemudian anjurannya untuk pembukaan tulisan yang langsung menggedor dengan masalah. Di dalam buku itu diberi contoh bagaimana Anton Chekov, sudah menabur pertanyaan dalam kalimat pertama. Pembaca jadi penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Dan Chekov memang seorang master dalam “plot” yang selalu memberikan kejutan yang mempesona di akhir cerita.

Yang ketiga, Mochtar Lubis menyarankan untuk tidak berhenti menulis kalau sedang buntu. Kalau itu dilakukan, besar kemungkinan penulis tidak akan pernah kembali melanjutkan. Setiap hendak melanjutkan sudah langsung mumet melihat jalan buntu yang menunggunya.

Berhenti sebaiknya dilakukan justru saat sedang lancar dan berapi-api. Di samping membantu mengendapkan emosi, itu sercara psikologis akan menjaga semangat untuk meneruskan bekerja.

Unsur cerita secara umum juga masih berlaku, walau kehadirannya sudah teracak-acak. Bahkan ada yang sama sekali menjungkir-balik dan memperlakukan berbeda. Dulu cerita memerlukan tokoh, riwayat, alur dan penuturan. Sekarang cerita masih terpakai, tetapi diacak hancur dan tidak harus memakai unsur-unsur tadi.

Pernah keindahan bahasa menjadi tujuan utama. Mengarang jadi kehebohan memberi gincu , memoles dan memasang berbagai asesoris, sehingga yang mau disampaikan jadi berdandan keren. Bahasa Indonesia dalam masa Pujangga Baru, misalnya, seperti menari-nari melakukan gerak indah.

Tetapi kemudian digeser oleh Angkatan 45 yang ceplas-ceplos, kasar kadang cenderung kurang-ajar (Surabaya oleh Idrus), tapi terasa lebih menggigit dan konkrit. Kekenesan dan kegenitan pun ditinggal. Bahasa penulisan menjadi lebih dinamis, padat dan berdarah. Bahasa Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontany dan Mochtar Lubis membuat sastra Indonesia memasuki babak baru.

Mohtar Lubis adalah wartawan terkenal yang menulis dengan mempergunakan kiat dan pengalamannya sebagai wartawan. Bahasa pers yang dulu dianggap bahasa berita yang kering, menjadi lain ketika penulis “Jalan Tak Ada Ujung” ini memberinya muatan.

Tak pernah dipersoalkan sebagai cela lagi, kalau ada pengarang yang menulis fiksi dengan ketrampilan wartawan. Majalah TEMPO yang didirikan pada tahun 70-an bahkan kemudian menggabungkan bahasa sastra ke dalam pemberitaan, sehingga bukan hanya bahasa sastra berkembang, bahasa pers juga berubah, keduanya saling menghampiri.

Pernah tema besar menjadi primadona. Tulisan yang mengangkat tentang nasib manusia, perang, revolusi dan sebagainya menjadi tiket untuk dianggap sebagai karya bergengsi. Kita masih terus mengagumi War And Peace karya Tolstoy dan Dokter Zhivago Boris Pasternak dan Hamlet Shakespearre.

Tetapi cerita kemalangan seorang nelayan kecil dalam The Old Man and The Sea dari Hemingway pun dianggap luar biasa. Juga penantian Didi dan Gogo dalam Waiting for Godot karya Beckett dianggap sebagai sebuah fenomena, setelah pernah lama hanya ditoleh dengan sebelah mata karena seperti dagelan

Pada suatu siang (tahun 70-an) di kantor majalah TEMPO di bilangan Senen Raya, saya pernah bertanya pada Goenawan Mohamad. Apakah tema besar besar itu menentukan nilai sebuah karya. Artinya sebuah karya tulisan tidak akan pernah besar kalau temanya tidak besar. Pemimpin Redaksi Tempo yang juga salah seorang penyair dan eseis Indonesia kelas satu itu dengan tak ragu-ragu menjawab: “Tidak.”

Saat itu saya sedang menulis novel “Telegram” dan naskah drama “Aduh”. Keduanya tidak punya tema besar. Hanya tentang perasaan individu kecil yang gagap dan kebingungan menghadapi komplekasi kehidupan yang semakin jumpalitan.

Rasa kerdil bahkan nyaris “bersalah” (karena tidak seperti Pramudya Ananta Toer yang banyak bicara tentang revolusi) segera mendapat angin segar. Perlahan saya yakini, karya sastra jadinya bukan hanya “tentang apa”, tapi “bagaimana memaparkan apa itu”.

Menceritakan apa yang ada di sekitar, yang mudah diceritakan, karena kita menguasainya, tidak lagi terasa tercela. Lebih dari itu menceritakan dengan sepenuh keberadaan diri kita, dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya, juga bukan sesuatu yang tercela.

Dalam Telegram saya numpang bertanya lewat tokoh utamanya. “Apakah yang berhak bercerita itu hanya para pahlawan dengan tindakan-tindakan besarnya. Apa orang yang bodoh dan tidak tahu, tidak boleh ikut bicara membagikan pikiran-pikirannya?”

Dalam sebuah Telegram, tokoh utama mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya dalam bahasa Arab. Saya tertegun waktu itu. Apakah saya harus menunda tulisan itu sampai saya dapat menuliskan dalam bahasa Arab apa yang diucapkan oleh yang nelpon? Atau tak perlu menyembunyikan kekurangpengetahuan saya, karena seorang penulis tak harus orang yang serba tahu.

Saya mengambil resiko, tidak perlu menunggu. Saya tulis ucapan bahasa Arab itu dengan deretan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca, karena bagi telinga pelaku cerita, dia tidak menangkap makna tapi hanya bunyi.

Dari proses itu saya belajar, menulis adalah “mengambil resiko” . Tanpa keberanian mengambil resiko hasilnya hanya akan menjadi rata-rata saja. Memenuhi persyaratan, tetapi tidak orisinal apalagi unik. Dua hal itulah kemudian yang selalu saya kejar dalam menulis.

Keberanian mengambil resiko tidak datang begitu saja. Pendidikan orang tua untuk menghormati desiplin membuat saya berwatak patuh. Tak berani melawan aturan. Itu membuat saya jadi penakut dan pengecut. Tetapi pengalaman keras di lapangan perlahan-lahan menyeret saya untuk belajar bersikap.

Pada tahun 60-an, saya menulis drama “Dalam Cahaya Bulan” di Yogya. Dalam drama itu ada yang tidak logis. Pelaku utamanya memberikan pengakuan yang menyalahi cerita. Pemain yang memainkan tokoh itu protes, mengatakan ucapan tokoh itu salah. Saya hampir saja tergoda.untuk mengoreksinya.

Tapi kemudian saya bertahan, karena ucapan tokoh tidak harus semuanya benar. Tokoh utama pun bisa saja tidak jujur. Dia hidup dan merdeka mengutarakan pikirannya, tak hanya menjadi corong dari penulis.

Mempertimbangkan pembaca dalam menulis selalu mendua. Bisa menjadi kelemahan, karena itu akan membatasi kebebasan. Tapi dalam keadaan tidak terlalu bebas, kreativitas akan tertantang, lalu kita terpacu meloncat seperti dalam lari gawang sehingga hasilnya bisa mengejutkan. Pada awalnya pembaca menjadi beban, tetapi kemudian ketika beban itu sudah terbiasa, menjadi hikmah.

Saya percaya setiap penulis adalah sebuah dunia mandiri yang menempuh jalannya sendiri. Ia memiliki banyak persamaan dengan orang lain, tetapi itu tidak penting. Yang menentukan adalah perbedaan-perbedaannya.

Keunikannyalah yang akan menjadikan produknya menonjol di tengah karya orang lain. Penulis bukan sebuah pabrik, meskipun produktif. Berbeda dengan kerajinan yang berulang-ulang dibuat, produk tulisan selalu berbeda karena ia menyangkut ekspressi..

Setiap penulis akan menyusun teorinya sendiri. Proses kreatif itu tidak untuk ditiru apalagi diberhalakan, meskipun boleh saja dicoba oleh orang lain. Pengalaman bekerja penulis lain, dapat jadi perimbangan yang mempercepat proses pembelajaran menulis. Tetapi bisa juga jadi bumerang kalau kemudian diterima sebagai sebuah idiologi.

Sastra punya potensi untuk menghibur, namun bukan hiburan. Novel, cerpen, puisi, esei dan sebagainya adalah kesaksian, perenungan, pemikiran dan pencarian-pencarian pribadi tetapi menjadi obyektif ketika berhasil menyangkut kebenaran banyak orang. Akibatnya sastra tidak bedanya dengan bidang yang lain, sastra adalah ilmu pengetahuan. Tak selamanya upaya pencarian sastra berhasil. tetapi setiap kegagalan adalah sebuah janji.

Karenanya “menulis” bukan sesuatu yang mudah. Tidak seperti yang dikatakan oleh Arswendo: Mengarang Itu Gampang, juga tidak sama dengan apa yang dikatakan dosen penulisan di UI, Ismail Marahimin, bahwa “mengarang itu fun”.

Mengarang – bagi saya – adalah sebuah peristiwa yang khusuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi indah dan sakral.

Menulis selalu menjadi sebuah pengembaraan baru yang membuat saya tertantang sehingga tak ada saat untuk tidak menyala. Meskipun saya tak pernah melihat nyala itu, tetapi dari apa yang dilakukan para penulis sebelumnya, jelas betapa jilatan pikiran mereka tetap mengibas ke masa-zaman yang akan datang hingga membuat kehadiran berarti.

Buat saya, menulis adalah menciptakan “teror mental”. Tetapi konsep itu akan saya tinggalkan setiap saat kalau ada kebenaran lain yang membuktikannya salah.

Konsep

Kesenian adalah salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas. Seperti sebuah baskom ia menampung darah yang keluar dari leher seniman yang menggorok dirinya, menggorok orang lain, situasi, problematik, lingkungan, misteri, makna-makna yang berserak, menempel, terapung, bersembunyi di mana-mana.

Ia menolong memaketkan, memberi pigura kadangkala menyamarkan, menggelapkan, menyandi, mengawetkan, membebaskan dari kurun waktu dan ruang, memberikan potensi untuk menembus segala kesulitan, perbedaan, jarak, intelegensia, intelektual, latar belakang, perbedaan ras, bahasa, bangsa dan ideologi.

Sebagai akibatnya makna yang hendak disemprotkan itu mengalami proses, mengembang dan mengempis, masuk ke dalam satu kehidupan yang memungkinkan dia tumbuh, mandiri dan menelorkan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir dan terasakan oleh manusia yang menggarapnya.

Kesenian dengan demikian tidak hanya bentuk-bentuk, bukan hanya satu wadah mati, bukan hanya saluran mati, tetapi adalah tanah untuk menanam, menyimpan, membudidayakan makna-makna untuk diwariskan kepada manusia lain. Ia dapat merupakan ladang, sawah, kebon, tegalan, padang liar, rimba belantara, gurun pasir, bukit, gunung, lembah, ngarai, danau, laut, sumur, bahkan mungkin juga kuburan.

Proses yang terjadi di atas tanah itu selanjutnya sangat menentukan. Lingkungannya, saatnya dan orang-orang yang menyentuhnya, mempergunakannya atau menerimanya merupakan bagian-bagian yang bisa menyebabkan makna semula memiliki kemungkinan yang tak terduga.

Menulis bagi saya adalah menggorok leher. Leher sendiri atau milik siapa saja, tetapi tanpa menyakiti yang bersangkutan, bahkan kalau bisa tanpa diketahui. Ini semacam pencurian, kucing-kucingan, akal-akalan, kadangkala dengan ngumpet-ngumpet, bila perlu menghapus jejak sama sekali.

Sama sekali tidak memiliki pretensi untuk memberikan resep, apalagi melahirkan pahlawan. Hanya menyeret orang untuk melihat begitu banyak alternatif yang ada di sekitar yang bertumpuk, cakar-cakaran dan memecah manusia menjadi individu-individu atau kelompok-kelompok.

Saya memilih anekdot. Hal-hal lucu, remeh, aneh kadangkala tak masuk akal, untuk mengagetkan, mencubit, menarik perhatian, mengganggu, menteror orang supaya terhenti sebentar, lalu berpikir dan mungkin ingat kembali bahwa dia juga manusia seperti orang lain. Dia bukan alat, sistem, aliran, jalan pikiran, tentara, polisi, pedagang, dan sebagainya, tapi jiwa dan raga.

Bahwa terlepas dari kelompok, tingkat kecerdasan, tingkat sosial dan kepentingan, ia juga manusia seperti orang lain yang secara eementer sama. Rata-rata punya rasa suka-duka, cinta, bahagia dan seterusnya.

Pada akhirnya apa yang saya tulis itu, baik merupakan cerpen, novel, esei, resensi, drama, skenario dan sebagainya tidaklah lebih penting dari apa yang kemudian terjadi dalam diri orang. Dengan kecenderungan dan pelbagai latar belakang, setiap orang akan memiliki tanggapan lain, kesan yang lain, reaksi yang lain lalu kesimpulannya sendiri.

Sebagian besar mereka mungkin sekali akan mengatakan bahwa apa yang saya tulis adalah gombal. Menulis tiba-tiba menjadi usaha untuk mengingatkan kepada orang lain yang akan menjadi pembaca, bahwa dia manusia. Mengembalikan ia kembali pada harkat manusianya kalau ia sudah menjadi barang, binatang, dewa atau mayat.

Semacam usaha untuk menyulut, menghidupkan, tapi bukan untuk mengabdi kepada sesuatu apalagi menjadi budak dari suatu tirani pikiran, baik bernama ideologi, kepercayaan bahkan juga agama.

Sebuah karangan dengan demikian menjadi alat saja yang tak pernah lebih penting dari manusia pembaca yang akan dihubungi. Tetapi sebagai alat yang sempurna ia harus memenuhi persyaratan yang bisa menembus ruang dan waktu sehingga dapat dipakai oleh manusia segala zaman, manusia segala tingkatan, manusia dari segala paham, dari segala jenis manusia, yang luhur maupun yang bejat. Dan ia juga mestinya tidak hanya mengandung satu kemungkinan. Ia harus penuh, sesak bagai rimba, bagai Arjuna Sasrabahu dengan seribu muka yang bisa menerjang ke segala arah dengan serentak.

Sebuah tulisan seringkali juga bagaikan bom.

Semua tulisan saya tidak gamblang menunjukkan apa yang sebenarnya sasarannya. Judul, gaya, jalan cerita, lingkungan yang menjadi setting cerita, bahkan juga persoalan yang kelihatannya menjadi benang merah pembahasan, tokoh-tokoh dan sebagainya hanya dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk menangkap apa sebenarnya yang ada. Apalagi saya sendiri sering juga tidak tahu dengan pasti sasarannya itu, karena memang tidak bermaksud untuk mengikat diri pada satu sasaran.

Selama ini pembaca karya sastra sudah sedemikian hormatnya pada para pengarang, sehingga setiap karya dirasa perlu untuk diselidiki apa manfaatnya. Seakan-akan karya memang sudah langsung mengandung arti besar, berguna dan tidak mungkin tidak ada artinya.

Dengan cara begini setiap pengarang sudah dinobatkan menjadi pemikir, cendekiawan, intelektual yang mungkin satu atau beberapa strip di atas derajat orang banyak yang sudah disebut orang awam. Seakan-akan setiap karangan menyimpan suatu misteri yang harus ditelusuri seperti orang mengorek-orek tanah untuk menemukan peninggalan kuno – yang pasti bernilai.

Sekarang sudah masanya untuk berhenti memanjakan para pengarang. Buku dan karya sastra semakin banyak. Yang tak bermutu juga kadangkala sedemikian banyaknya menyemprotkan kebodohan, ketidakarifan atau kesalahan-kesalahan yang lebih tolol dari apa yang bisa dihasilkan oleh yang menyebut dirinya awam.

Usaha menggali dengan rasa khidmat, luhur dan percaya akan menemukan paling sedikit sebutir mutiara, harus diubah, dihentikan. Mungkin sekali sebuah karya sastra tak lebih dari tumpukan kata-kata usang yang merupakan tumpukan pikiran-pikiran rombengan di dalam gudang. Dan ini juga tidak harus disesalkan, karena adalah haknya untuk menjadi apa adanya, kalau memang kualitasnya hanya setingkat itu. Harapan yang terlalu banyaklah yang salah.

Lamunan harus dimatikan. Karya sastra harus dikembalikan sebagai barang biasa yang “mati”. Setumpukan kata-kata yang mungkin sekali telah disusun dengan disiplin keindahan seorang penyair atau penulis fiksi. Mungkin ada beberapa yang memang tiba-tiba memberikan pengalaman, penyegaran, pencarian dan sebagainya yang meningkatkan budi pembaca.

Mungkin ada yang benar-benar merupakan bunyi yang hidup dan memiliki relevansi yang hebat dengan kehidupan kita dan masa kita. Tapi itu pun tetap masih membutuhkan manusia sebagai embacanya, untuk kemudian “mempergunakannya”.

Para pembaca harus kembali kepada kehadirannya sebagai manusia yang lengkap dengan pikiran, perasaan dan kepribadiannya. Dengan cara begini maka bukan karya sastra yang dihidup-hidupkan, tetapi manusia/pembacanya. Mereka yang akan menyentuh karya-karya itu, menerimanya secara gelontongan, menyaringnya, menggemakannya, melanjutkannya dengan pikiran-pikiran lanjutan.

Menyambungnya dengan imajinasi dan asosiasi. Mereka punya peluang untuk menghidupkannya sebebas mungkin, bila perlu tak mempedulikan apa yang sudah diprogandakan atau dikecapkan sebelumnya oleh pengarangnya.

Cara memperlakukan karya sastra seperti ini akan menyebabkan karya itu jadi lahir kembali menjadi karya-karya baru pada setiap orang. Manfaatnya pun segera muncul. Latar belakang dan kecenderungan pembacanya ikut menjadi bagian dari karya itu dan menghasilkan sesuatu yang setidak-tidaknya berguna bagi orang itu. Dengan begini sebuah sajak, atau sebuah cerita pendek dan sebagainya bisa saja menjadi motivasi sebuah tindakan konkrit yang satu sama lain bisa berbeda hasilnya.

Sebuah sajak atau cerita cinta misalnya, bisa saja kemudian dianggap sebagai usaha untuk mengingatkan orang untuk menghargai manusia lain. Dan usaha untuk menghargai orang lain, bisa saja menelorkan tindakan kekerasan untuk menghancurkan segala penghalang yang telah menjebak orang untuk tidak mencintai sesamanya.

Dengan cara berfikir seperti ini, pertanyaan tentang apakah sastra mampu mengubah atau mempengaruhi masyarakat, apakah sastra memiliki peranan untuk perubahan-perubahan sosial – menjadi tidak penting. Pertanyaan itu tidak bisa ditanyakan kepada karya itu sendiri. Karena ia adalah barang “mati”. Jawabannya ada pada manusia pembacanya.

Pertanyaan yang mestinya diucapkan adalah apakah satu masyarakat tertentu, apakah pembaca, sudah dapat memanfaatkan karya sastra ? Pertanyaan yang senada dengan, apakah orang yang sudah bisa memanfaatkan pacul atau tanah ?

Pembaca yang kreatif akan bisa melihat tambang emas di dalam karya sastra jenis sampah. Apalagi kalau ia berjumpa dengan karya-karya kelas satu, hasilnya mungkin lebih hebat lagi. Saya mengatakan kelas satu dan sampah.

Bagaimana saya bisa sampai pada penggolongan kelas, kalau sebelumnya saya menganjurkan untuk menilai semua karya sastra itu sebagai barang mati pasif yang potensinya relatif sama – yakni tergantung dari pada pembacanya ? Dan apa artinya kelas satu kemudian kalau pembacanya mendapat kesulitan untuk memanfaatkan karya sastra itu padahal ia bukannya tidak ingin membuatnya bermanfaat ?

Ini barangkali menyebabkan kita akan sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa kendati pun semua karya sastra itu sama dalam arti membutuhkan partisipasi pemanfaatan dari pembacanya, memang pada akhirnya ada yang kelas satu dan kelas lainnya.

Kelas tersebut dengan gampang akan terbentuk setelah melalui perjalanan yang panjang, melihat banyaknya ia berhasil menarik orang untuk memanfaatkannya maupun karena arah pemanfaatannya sedemikian rupa sehingga menyangkut kepentingan orang banyak atau nilai-nilai universal yang sedang dibutuhkan pada masa hidup manusia.

Usaha memanfaatkan karya sastra apabila dapat menggantikan usaha lama, yakni memuja karya sastra di atas menara gading, alam pertumbuhannya mungkin akan sampai pada saat yang berbahaya. Yakni manakala pemanfaatan itu sudah sedemikian gencar dan luasnya sehingga di luar batas-batas kemampuan karya itu sendiri.

Di sini sebenarnya manusia pembaca sudah menulis karya sastra yang lain. Di sini karya sastra itu dengan sendirinya telah mati tapi serentak waktu itu bertelor dan menetaskan sesuatu. Secara historis ia memiliki kaitan, meskipun secara intrinsik mungkin ia sudah terlepas sama sekali. Tapi ini justru segera membuktikan, bahwa karya sastra merupakan salah satu bagian dari mata rantai yang telah menciptakan sesuatu. Tentang bermanfaat atau tidak itu boleh diperdebatkan.

Karya sastra yang segede apa pun akan tetap menjadi karya sastra “yang benar-benar mati” apabila pembacanya melempem. Sebaliknya, dengan pembaca yang “bermodal”, satu kata dalam sebuah karya bisa berarti sangat banyak.

Menghadapi mesin ketik dan kertas putih, kadangkala seperti peristiwa melahirkan bayi, meregang nyawa, menahan sembilu yang menghujam tubuh. Kadangkala seperti muntah, berak, kentut, menguap, meludah. Kadangkala juga seperti mesem, tersenyum, tertawa ngakak dan orgasme.

Bahkan tak jarang seperti kuli kontrakan, budak, tukang, dan seorang pelacur. Itu semuanya tidak penting. Barangkali memang ada pengaruhnya, tetapi itu lebih merupakan bumbu, warna yang akan menghias cerita rekonstruksi dari seorang kritikus.

Memilih tokoh, lokasi, jalan cerita, tema adalah seperti menyabet barang dalam keadaan yang terdesak untuk bertahan, melindungi, menyerang, pendeknya bertindak. Apa saja. Asal ia kebetulan ada di sekitar kita. Asal dia dapat dipegang. Asal dia tidak menambah beban. Karena yang penting bukan apa yang kita pergunakan, tetapi bagaimana kita mempergunakannya.

Ketepatan mempergunakannya akan menyebabkan segala apa saja yang terpegang menjadi prima. Kejituan akan menyebabkan segala yang klise yang gombal yang sepele menjadi besar dan ampuh. Ini adalah mikroskop rahasia yang ada di mana-mana, setiap saat pada apa saja.

Mikroskop inilah yang ingin saya cangkok, jadi milik sehari-hari dan bukannya asesoris elit. Bukan semacam dasi, jas, kondom,gincu, senjata, obat dan sebagainya yang hanya disentuh untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu. Ia harus jadi ketrampilan umum bukan usaha bukan juga kecerdasan, ia harus jadi naluri.

Hidup 24 jam pakai kacamata, pakai mikroskop, pakai asesoris pasti tidak akan bebas, karena terlalu banyak yang teringat, terlihat, terpikirkan, sama dengan siksaan. Seperti membiarkan diri terpanggang jadi sate dalam hidup panjang ini, sementara kenikmatan yang lebih gampang dengan mudah dapat diraih, tersedia di mana-mana.

Pada akhirnya tidak ada yang akan tertarik, setelah beberapa kali mencoba mungkin hanya orang-orang gila, orang-orang putus asa, orang-orang yang tak mempunyai kesempatan yang mau bertahan terus.

Dan kesenian, hasil-hasil sastra dalam hal ini termasuk teater, akan terpencil dengan sendirinya, melenting ke atas dinding. Bergantung jadi hiasan, etalase, barang antik, elit dan praktis mubazir. Dan dalam prakteknya meneruskan menghasilkan barang-barang seperti itu, apa pun pertanggungan jawabnya adalah menelorkan lebih banyak bintang di langit, dewa di awang-awang dan mimpi-mimpi yang membusuk.

Bertolak dari kenyataan tersebut, saya belajar dari para pedagang, tengkulak, tukang tadah, tukang copet, pembual, politikus, pencuri, perampok, teroris, diktator, orator, tirani dan badut. Menulis akhirnya tak beda dengan tindakan kriminal terhadap pribadi-pribadi pembaca. Membadut, menipu, goblog-goblogan, mabok, edan dan menteror orang lain adalah gaya, untuk menjual dagangan.

Saya percaya ada zat terkatung di udara, menempel di mana-mana, pada siapa saja, pada apa saja dan kapan saja, yang sama. Dan ada semacam keluhuran yang mengatur semuanya itu. Keluhuran yang kadangkala tak teraba, tak tergapai tapi terus menerus ada.

Keluhuran yang mestinya juga bisa ditempel atau menempeli manusia sehingga ada satu arus yang mendesak kita untuk berkumpul dan menjadi satu monumen yang besar. Dan saya mengkhayal tentang satu keluarga besar, satu kerajaan besar, satu perdamaian besar, satu dongeng besar tentang cinta kasih yang luruh, satu harmoni besar yang menyebabkan semua makhluk berkomunikasi satu sama lain, seperti cerita-cerita wayang, Tantri atau Nabi Sulaiman. Tentang perdamaian yang abadi.

Kenyataan sehari-hari selalu menghajar kerinduan itu sebagai mimpi, sehingga setiap kali dengan mudah saja kita bisa terkecoh untuk menganggap hidup ini sia-sia. Bahwa seakan-akan apa pun yang dikerjakan semuanya tak akan ada artinya, kecuali sebagai sebuah sejarah panjang gagalan manusia.

Untuk mencegah hal tersebut atau katakanlah untuk melupakannya, saya memilih untuk bekerja secara maksimal berdasarkan apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, kelemahan yang disulap menjadi kekuatan – apa adanya dari saya.

Bekerja secara total dan kerangsukan. Sehingga peristiwa “bekerja” jadi heroik, berkobar-kobar hampir menyerupai pertempuran, revolusi atau perang saudara di dalam diri. Peristiwa yang gegap-gempita dan berdarah, tetapi diam-diam dan tanpa etalase bagi orang lain. Sebuah petualangan yang sunyi.

Itulah semua kecap saya.