Tag Archives: merdeka

Merdeka

Agustus sudah berlalu..Satu dua kali hujan mulai turun. Bendera-bendera merah-putih yang berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih saja ngotot memasang. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk dikeluarkan lagi nanti tahun depan. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah orang kaya itu masih belum diturunkan.

“Ini bukan tidak ada maksudnya,” kata Amat curiga. “Mengapa dulu dia segan memasang, tetapi sekarang justru bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi dan bertanya, Ami?”

Ami menggeleng.

“Saya sudah kapok, Pak. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa Ami.”

“Kenapa?”

“Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu.”

“Apa maksudmu dengan over acting?”

“Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian kita. Tak usah diladeni. Masih masih orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita perhatikan.”

“Siapa?”

“Kami.”

“Kami siapa?”

“Ami misalnya.”

“Karena kamu anak muda?”

“Jelas!”

“Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?”

Ami terbelalak. Amat segera berpakaian. Mengenakan sepatu dan baju batik. Ami terpaksa bertanya.

“Bapak mau ngapain?”

“Ke rumah orang kaya itu.”

“Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?”

‘Tidak. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Kalau gagal, baru menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir memasuki musim hujan.”

“Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?”

“Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menytumbang 5 milyar. Kalau mau nyumbang, nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Jangan menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Itu kan membuat semua orang mimpi.”

Ami masih terus hendak mendesak, tapi Amat menutup percakapan.

“Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari sana!”

Ami geleng-geleng kepala. Dia kasihan kepada bapaknya yang sudah tua dijadikan permainan oleh orang banyak. Ditokohkan sebagai nara sumber dan panutan. Tapi giliran menagih sumbangan didaulat untuk jalan kaki sendirian bagaikan pengemis pada orang kaya yang pasti tidak akan sudi membuka dompetnya dengan selembar rupiah pun. Apalagi 5 milyar.

“Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau tidak pelit. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!” kata Ami mengadu pada ibunya.

“Biar saja Ami, daripada bapakmu ngerecokin di rumah, biar dia ke sana, siapa tahu beneran.”

“Ibu jangan begitu. Meskipun sudah pensiun, tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan orang lain, asal jangan memposisikan dirinya sudah tua.”

“Tapi Bapakmu kan memang sudah tua.”

“Memang, tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda.”

“Ya itu dia. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Kalau kejadian kan kita semua untung. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen.”

Ami terkejut.

“Sepuluh persen apa?”

“Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu..”

Ami tertegun. Andaikan benar, tak usah sepuluh, satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga Amat akan bersinar. Ami langsung bermimpi. Apa saja yang akan dia beli kalau missi bapaknya berhasil. Ia sampai terlena di kursi menunggu bapaknya pulang.

Ketika Amat masuk rumah, ia heran melihat Ami menggeletak di kursi.

“Bangun Ami, nanti kamu masuk angin.”

Ami terkejut, tapi kemudian langsung bertanya.

“Bapak berhasil?”

“Ya.”

Ami berteriak: yes!

“Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini.”

“Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?”

“Ya.”

“Sepuluh persen dari 5 milyar?”

“Tidak. Dia mengubah angkanya.”

“Berapa. Sepuluh milyar?”

“Seratus ribu.”

“Ah? Berapa?”

“Seratus ribu.”

“Lho kenapa?”

“Bapak bilang kepada dia baik-baik. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Malah nanti akan menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Di mana-mana duit biasanya membuat cekcok. Jadi Bapak bilang, daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh dengan saling curiga-mencurigai, lebih baik jangan membuat persoalan. Sumbang yang wajar saja, seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang.”

Ami ternganga.

“Aduh, Bapak kenapa jadi bego begitu?”

‘Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Daripada dia terkenal karena hisapan jempolnya itu, kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan nyumbang seratus ribu. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar, sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Itu sebabnya selama ini dia menghilang bersama keluarganya, makanya benderanya tidak pernah diturunkan. Sekarang beres, dia sudah nyumbang seratus ribu, ini duitnya. Dan benderanya sudah diturunkan. Paham?”

“Tidak.”

Amat terhenyak. Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk.

“Bapak juga tidak paham. Mengapa dia mau. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!”

Iklan

Merdeka

Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-63, karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Berbagai umbul-umbul dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Kadang di beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar.

Amat ingin sekali mencabuti bendera-bendera itu, karena ia hanya ingin ada dua warna, merah dan putih minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi.

“Kalau bisa bahkan seharusnya sebulan penuh. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi warna. Bendera-bendera lain, kecuali bendera-bendera negeri sahabat, mesti tahu diri, mundur dulu. Apalagi tahun ini genap 100 tahun kebangkitan Nasional. Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!”kata Amat gemas.

Bu Amat dengan susah payah berusaha meredam kemarahan suaminya. Karena kalau itu dibiatkan lepas, bisa menimbulkan perkara.

“Kita mesti sadar kepada situasi sekarang, Pak,”kata Bu Amat, “tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!”

Amat mengerti.

“Memang, aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera partai. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik, tetapi semangat kebangsaan di dalam paling sedikit jiwaku tidak akan pernah padam. Bahkan justru tambah menggebu-gebu. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama, perasaan berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Jadi aku justru berterimakasih pada bendera-bendera itu, karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air sementara banyak orang kian bejat!”

Malam hari Ami yang mendengar komentar Amat, menghampiri.

“Ami dengar Bapak sudah menyerah sekarang?!” kata Ami bertanya dengan nada menuduh..

Amat terpesona. Ia memandang Ami tajam.

“Kamu bilang apa?”

“Saya dengar Bapak sudah menyerah!”

“Siapa bilang?”

“Habis katanya Bapak dulu marah sebab kegairahan mengibarkan bendera merah-putih kalah dengan jor-joran pengibaran gendera partai politik.”

“Betul!”

“Kalau betul, kenapa sekarang adem ayem?”

“Adem ayem bagaimana maksudmu?”

“Bapak tidak lihat bendera yang dikibarkan rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu?”

“Maksudmu dia mengibarkan bendera partai?”

“Ya.”

“Ya itu hak dia.”

‘Tapi bendera partainya begitu besar dan megah, sementara bendera merah putihnya itu sepele sekali. Jangan-jangan itu bendera yang pernah kita buang dulu karena ukurannya terlalu kecil dan warnanya juga sudah belel!”

“Masak?”

“Coba Bapak lihar!”

Amat tergugah. Meskipun sudah hampir jam 10 malam, ia keluar dari rumah. Dengan bernafsu ia pergi ke rumah bertingkat tiga milik orang kaya itu. Dan betul. Di depannya nampak bendera partai. Lalu agak ke samping bendera merah putih yang barangkali besarnya hanya seperlima dari bendera partai. Warnanya pun sudah lusuh.

Tiba-tiba Amat merasa amat tersinggung. Darahnya mendidih. Tanpa perhitungan lagi, lalu dia memujit bel di gerbang.

“Selamat malam, pak Amat.”kata tuan rumah menyambut Amat dengan ramah.

Amat memasang muka seribu.

“Selamat malam.”

“Silakan masuk, Pak Amat.”

“Terimakmasih, saya tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan Bapak bertamu malam-malam begini, tetapi hanya mau bertanya.”

Orang itu tertegun.

“Menanyakan apa Pak Amat?”

“Ini bukan protes. Bukan juga kritik. Saya tidak mau mengganggu kebebasan Bapak, sebab kita hidup di alam demokrasi. Dan kita sama-sama mengerti apa arti kemerdekaan.”

Orang kaya itu tersenyum.

“Tentu saja pak Amat.”

“Saya tidak bermaksud untuk merecoki, tapi hanya sekedar bertanya saja. Sama sekali bukjan menyindir. Kalau pertanyaan saya tidak dijawab pun saya mengerti. Karena itu bagian dari kemerdekaan. Saya hanya tidak bisa menahan diri saya untuk bertanya. Boleh?”

Orang kaya itu tersenyum karena tidak mengerti.

“Tentu saja boleh, Pak Amat.”

“Bapak jangan tersinggung.”

“Kenapa mesti tersinggung, kan Pak Amat tadi bilang hanya bertanya.”

“Persis, hanya sekedar bertanya. Saya penasaran, saja ingin tahu. Apa sebenarnya motivasi atau tujuan, atau jangan-jangan karena ketidaksengajaan. Siapa tahu Bapak sendiri juga kurang periksa. Betul tidak?”

Orang kaya itu terdiam. Lalu menarik nafas dalam. Kemudian mengubah suaranya lembut.

“Pak Amay, begini. Saya sebenarnyta sejak awal sudah khawatir kalau akan terjadi apa-apa. Tetapi karena waktunya semakin mendesak, momentumnya nanti bisa hilang, saya terpaksa memberanikan diri saja untuk bertindak. Tetapi Pak Amat harap mengerti, segbenarnya sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Tidak ada motivasi apa-apa. Semuanya saya lakukan dengan ikhlas dan jujur.”

Amat terkejut.

“Ikhlas dan jujur? Masak?”

“Betul.”

“Maaf, saya tidak percaya!”

“Betul Pak Amat. Saya lihat komunitas kita ini dihuni oleh semua orang yang sopan-sopan dan baik. Sayang sekali kalau kita membiarkan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya jauh. Biarlah kita dirikan bukan saja TK dan SD tapi juga SMP dan SMA bahkan kalau disetujui nanti juga akademi kejuruan. Karena itu saya beranikan untuk menyumbang 5 milyar, agar pembangunan sekolah itu bisa diteruskan daripada nanti hambruk karena sudah 3 tahun terbengkalai. Jadi begitu. Tak ada maksud apa-apa. Sama sekali tak ada keinginan saya untuk menguasai atau menyinggung warga semuanya yang sudah begitu baik menerima saya sebagai anggota di sini. Begitu, Pak Amat.”

Amat tertegun. Kepalanya pusing. Ia melirik ke samping. Ia melihat bendera partai yang besar itu bergerak sedikit disentuh angin malam. Ia menoleh ke samping yang lain. Terlihat sang saka, meskipun kecil, belel, tapi berkibar lebih gesit dan gagah. Amat tak mampu mengatakan apa-apa. Ia mati langkah.

Lalu Anat mengulurkan tangannya untuk berjabatan sambil berbisik lirih:.

“Saya datang hanya untuk mengucapkan terimakmasih.”

Kemerdekaan

Seorang maestro menyerahkan karyanya yang terbaru kepada Gubernur sebagai hadiah untuk Peringatan Hari Proklamasi yang ke-63. Pelukis yang karyanya sudah menembus angka 3 milyar di Balai Lelang Singapura itu, ingin mengabadikan namanya di Gubernuran. Tentu saja semua menyambut gembira.

Gubernur menyelenggarakan resepsi khusus untuk pembukaan bungkusan lukisan dan sekaligus upacara penggantungan karya itu di ruang tamu Gubernuran. Seorang sutradara film yang yang filmnya lagi laku keras, ditarik dari tempat shooting film barunya, untuk mempimpin.

“Kalau China menyelenggarakan upacara pembukaan olimpiade begitu spektakuler, kita juga akan menandinginya dengan perayaan 17 Agustus yang tidak kalah pamornya,”kata Gubernur.

Para wartawan dikerahkan untuk hadir. Sekitar seribu orang tamu memenuhi ruang dalam dan halaman gubernuran. Di antaranya ada yang sengaja datang dari Jakarta, ingin menyaksikan peristiwa yang menelan biaya ratusan juta itu.

“Saudara-saudar hadirin, para tamu, undangan yang saya muliakan,”kata Gubernur dengan wajah berseri-seri membuka malam peringatan itu. ” Sebentar lagi kita akan memasuki genap 63 tahun merdeka. Selama ini kita tidak meragukan partisipasi semua orang di dalam merebut, menjaga dan kemudian mempertahankan kemerdekaan. Tetapi malam ini benar-benar istimewa, karena kita akan melihat bukti bahwa seorang seniman, tidak lagi hanya sibuk mengurus seni, tapi juga ngutus bangsa dan negara. Pelukis besar kita ini, menunjukkan langkah konkrit, sumbangannya pada negara dengan menyumbangkan sebuah katyanya yang berjudul Kemerdekaan. Silakan dibuka!”

Semua berkeplok tangan. Lalu sorot menyala. Seorang penari muncul. Dengan lemah gemulai dia mendekati bungkusan lukisan dan mulai membukanya perlahan-lahan. Tetapi gagal. Kemudian muncul 10 penari laki-laki. Mereka menggebrak. Tetapi bungkusan itu masih tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya muncul puluhan penari lagi. Mereka mengangkat lukisan itu. Cahaya lampur berpedar-pedar. Asap mengepul. Tapi bungkus lukisan itu masih belum terbuka. Lalu terdengar suara seorang yang menembangkan puisi:

“Tak mungkin membuka kemerdekaan sendiri. Tak bisa mengejar kebebasan terpisah-pisah. Duaratus dua puluh juta tangan harus bergerak seretak, satu hentakan untuk membuat masa depan menjadi nyata. Kemerdekaan adalah persatuan. Kemerdekaan adalah kebersamaan. Kemerdekaan adalah melupakan perbedaan dengan tulus ikhlas dan dengan cinta menempuh jalan bersama dalam damai.”

Tiba-tiba bungkus lukisan itu terurai. Nampak lukisan itu. Tetapi belum jelas. Masih terhalang oleh bungkus kertas dengan tulisan: Kemerdekaan. Semua orang lalu mengaraknya dan menggantungkannya di dinding. Sesudah itu perlahan-lahan semuanya kembali. Panggung pun sepi.

Dengan diiringi lagu Rayuan Pulau Kelapa, Gubernur maju dan merobek kertas pembungkus. Lampu menyorot. Lalu terlihat lukisan itu secara utuh. Tetapi semua orang terkejut.

Lukisan itu ternyata sebuah bendera merah-putih yang compang-camping karena tercabik-cabik angin. Di bawahnya nampak tumpukan mayat. Matahari kelihatan garang menyala menyemburkan api. Beberapa orang berdiri garang seperti hendak memotong tiang bendera dan menggantikannya dengan sebuah bendera yang lain.

“Ya Tuhan mengerikan sekali!” bisik beberapa ibu pejabat.

Gubernur pun bengong. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Para wartawan cepat bergerak mengabadikan lukisan itu dengan jepretan bertubi-tubi. Gubernur terlambar mengangkat tangan.

” Stop! Stop! Jangan dipotret!”

Para petugas muncul dan mengamankan. Terjadi keributan, karena wartawan-wartawan terus mendesak ingin memotret. Seorang petugas merebut kamera seorang wartawan. Yang punya kamera mempertahankan mati-matian. Akhirnya agar tidak menjadi kekacauan Gubernur terpaksa membiarkan lukisan itu dipotret. Tetapi kemudian ia berpidato panjang.

“Saudara-saudara, lukisan ini, adalah kesaksian dari seorang maestro yang sekarang hidupnya lebih banyak di luar negeri. Kata orang, semakin jauh orang, sebenarnya ia semakin pulang. Dari luar negeri, wajah negeri kita konon nampak lebih jelas. Inilah salah satu gambarannya. Kita boleh tidak suka,. Karena kita menginginkan wajah yang lebih baik. Tetapi atas nama kemerdekaan, inilah salah satu penglihatan tentang siapa sebenarnya kita. Apakah saudara-saudara setuju lukisan ini akan kita gantung di sini?”

Tidak ada yang menjawab. Mungkin sekali tidak berani.

“Bapak sendiri bagaimana?” tanya seorang mahasiswa.

“Selaku pribadi, saya memang ingin memajang lukisan maestro kita ini sebagai tanda penghormatan. Tetapi selaku gubernur, pejabat pilihan saudara-saudara sendiri, saya wajib menjalankan kehendak saudara-saudara. Jadi bukan perasaan saya yang penting, namun perasaan kalian semuanya. Apakah kalian setuju kalau lukisan yang melukiskan diri kita yang telanjang ini, kita gantung di sini agar semua tamu melihatnya?”

Tidak ada yang menjawab.

“Apakah saudara-saudara tidak malu telanjang bulat di depan tamu?”

“Telanjang bulat bagaimana, Pak,”tanya seorang Ibu.

“Bendera kita yang compang-camping dan sudah hampir terbakar, belum lagi ada orang hendak menggantikannya dengan bendera lain. Itu gambaran blak-blakan yang sama saja artinya kita bugil; tanpa selembar kain pun di depan orang. Betul tidak?”

“Maksud Bapak porno?”

Gubernur berpikir tapi kemudian menjawab tegas.

“Ya, porno!!”

Semua terdiam.

“Kalau saudara-saudara setuju pornographi ini digantung di sini, di ruang tamu sehingga semua tamu melihatnya, selaku Gubernurb pilihan rakyat saya tidak bisa berkata lain, ya pasang saja. Tapi kalau saudara bilang kemerdekaan itu dibatasi oleh kemerdekaan otang lain yang tidak membenarkan kita memajang hal-hal yang bersifat porno, saya akan copot sekarang juga? Bagaimana?”

Tak ada yang menjawab.

“Bapak sendiri bagaimana?”

“Lho, saya mewakili kepentingan saudara-saudara. Kalau saudara-saudara setuju, baik akan saya gantung. Tapi kalau tidak, buat apa digantung?”

Semuanya terdiam. Tiba-tiba sang maestro yang melukis Kemerdekaan itu maju..

“Lebih baik jangan dipajang, Pak Gubernur!”

Gubernur mengernyitkan dahinya.

“Kenapa? Karena porno?”

“Semula saya memang membuat lukisan Kemerdekaan ini untuk digantung di sini. Tetapi begitu tadi melihat sendiri dia sudah tergantung, hati saya berontak. Lebih baik Kemerdekaan digantung di dalam hati saja. Karena kalau sudah diobral begini, akan jadi porno, kita akan cepat sekali lupa!”